
Kinan membuka pintu kamar hotel dan terlihat seseorang yang ia kenal berdiri dengan cengengesan.
"Gue kira polisi ternyata si Kribo. Ishhh... Ah, nggak jadi di grebek deh" dengusnya, ia memanyunkan bibirnya karena merasa terganggu dengan kedatangan Rio.
"Apa lu Kitis!. Minta digrebek, dih segitunya banget biar cepet kawin" sindirnya.
"Iyalah pumpung Raffa lagi kesambet, takutnya dia berubah pikiran lagi nggak mau denganku hehehe" selorohnya, namun Rio belum mengerti arah pembicaraan Kinan sehingga ia tidak menimpali candaanya.
"Gue kesini disuruh anak Sultan, Nih... Gue bawain makanan" ia mengangkat dua kantong plastik di tangannya.
"Asyik...!, kebetulan aku lapar belum makan."
Dan Raffa hanya terlolong mendengar perkataan si gadis cerewet itu. "Bukannya tadi sudah baso dua mangkok dan lainnya. Bagaimana bisa kamu lapar lagi Kinan" ucapnya
"Tadi hanya cemilan pertama, ini cemilan selanjutnya" ucapnya sembari membuka kotak pizza yang dibawa Rio dan melahapnya dengan cepat.
"Busyet...! Lu laper Kitis, sampe blepotan gitu" ia melihat beberapa saus yang menempel di bibir Kinan.
"Sudah kubilang aku lapar." Ia terus mengunyah dan mengelap mulutnya dengan tisu. "Yo,aku akan dilamar Raffa minggu depan, hehehe"ia tersenyum dengan bahagia
" Hah...!" Rio terkejut mendengar penuturan Kinan hingga sepotong pizza yang ia makan kini jatuh di lantai. Ia menatap kearah Raffa yang hanya duduk terdiam tanpa memperdulikannya. " Kamu hutang penjelasan padaku Raff" tegasnya.
Raffa hanya membuang wajahnya kearah lain ketika Rio menatapnya dengan serius. Dan tanpa disadari Kinan melirik secara bergantian kearah mereka.
"Kamu kenapa sih Yo, nggak suka kalau Raffa melamar aku!" serunya, "Kenapa kamu tidak ucapkan selamat untukku" ia mendegus kesal.
"Ngasih selamat kalau hari H saat pertunangan, ini belum terjadi ngapain juga aku ucapin sekarang" sahut Rio
" Tapi beneran yah jangan bikin ulah di acaraku nanti, awas lho!, Kalau kamu buat kerusuhan lebih baik aku tidak mengundangmu" ancamnya
" Enak saja nggak diundang, aku culiklah si Raffa biar acaranya gagal. Dimana ada Raffa pasti ada aku, kita itu soulmate jadi bersikap baiklah padaku agar aku restui"
Kinan hanya menggerucutkan bibirnya dan memutar bola matanya malas. " Aku sudah kenyang, ini buat kamu semua."
Ia menyodorkan kotak pizza ke arah Rio.
__ADS_1
"Ya kenyanglah, kamu habiskan setengah loyang. Dasar perut empang, luas bener !" sindirnya.
"Raffa, ayo antar aku pulang. Aku malas beradu mulut dengan si kribo"
"Aku juga jengah lihat cewek cerewet dan tipis kayak lu nggak ada bentuknya!" sahutnya lagi.
Ia hanya menghela nafasnya mendengar Rio dan Kinan saling sahut menyahut. " Aku ada urusan dengan Rio, kamu pulanglah dengan pak Jenal" perintahnya
"Siapa pak Jenal?" tanyanya penasaran
" Dia itu pengawal si anak Sultan, kamu kira kita disini tidak dipantau. Setiap gerak gerik anak dari Pak Ahmad selalu diawasi" seru Rio, ia bergegas keluar kamar dan menemui kedua ajudan Raffa.
Dan beberapa saat kemudian pak Jenal dan pak Awi datang ke kamar Raffa.
"Pak, tolong antarkan Kinan pulang dan bantu dia membawa ini" ia menunjuk sebuah lukisan keluarga Kinan.
"Baik Den" ia segera membawa lukisan ke luar kamar. " Mari nona, ikut saya"
Kinan menggelengkan kepalanya, "Tapi aku ingin pulang denganmu Raff" ucapnya. Ia bergegas memeluk tubuh calon tunangannya.
"Diam lu kribo, ganggu suasana saja lu!" ketus Kinan,
"Kamu pulang dengan pak Jenal dulu,aku ada urusan. Jangan lupa bilang pada ibumu tentang pertunangan kita. " ucapnya sembari mengelus rambut Kinan agar mau menuruti permintaannya.
"Baiklah aku pulang tapi cium dulu, hehehe " godanya sembari memanyunkan bibirnya dan melepaskan pelukan
"Dih... Amit-amit lu Nan, gitu banget sama Raffa " cibir Rio, ia memutar bola matanya dengan malas.
"Iri bilang bos! makanya punya pacar. " ucapnya sembari keluar kamar dan melambaikan tangannya kearah calon tunangannya.
" Raffa, jelaskan padaku. Kenapa lu mau tunangan sama si Kitis?"tanyanya
Raffa berjalan ke arah balkon dan menatap jauh keluar, melihat suasana kota Jakarta dari lantai tiga. Kendaraan yang begitu padat dan kemacetan di sore hari yang selalu ia rasakan setiap harinya.
" Mungkin ini jalan yang terbaik "lirihnya," Dan aku tidak bisa egois " sambungnya lagi.
__ADS_1
" Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, coba jelaskan lagi bukankah kamu menganggap Kitis hanya seorang adik"serunya
Ia menghembuskan nafas kasarnya sebelum bercerita. " Kau tahu Yo, saat melihat ibuku depresi dan selalu menangis karena kepergian nenek,saat itu ujian terbesar dalam hidupku, aku tidak sanggup melihat ibuku terus menerus bersedih, tatapan mata yang kosong dan adik-adik selalu menangis.Rumah seperti neraka bagiku, bagaimana bisa aku meninggalkan Indonesia disaat ibuku terpuruk seperti itu"ia menatap sendu mengingat kejadian satu bulan yang lalu.
"Tapi sejak Kinan datang mama kembali ceria, tersenyum lagi dan mau makan.Dia bisa diandalkan untuk menjaga mama dan Aku sangat berterima kasih padanya"
"Jadi karena rasa terima kasih lu mau mengorbankan dirimu dan bertunangan dengannya?" tanyanya dengan tidak percaya. Ia menatap kesal pada Raffa karena dengan mudah mengorbankan perasaannya.
"Keluarganya sudah banyak membantu, dan aku sadari itu. Aku selalu memantaunya dari cctv dan Kinan memang perempuan yang tulus dan selalu menganggap mama Navysah ibunya sendiri. Dan kau perlu tahu, mamaku juga berharap Kinan menjadi menantunya walaupun dia tidak pernah jujur padaku." Ia menghembuskan nafas kasarnya kembali.
" Tapi kamu tidak mencintainya, ujung dari pertunangan adalah pernikahan. Kamu jangan gila Raffa! "
" Setidaknya ia yang mencintaiku, dan kau pasti tahu sikap Kinan tidak akan menyerah walaupun harus dipukul mundur, percuma saja aku menolak janji adalah janji dan itu harus ditepati. Kita lihat saja kedepannya, bisa jadi saat kuliah dia tertarik dengan pria lain dan membatalkan ikatan ini. Dan aku berharap dia akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku. Aku sudah mengajukan beberapa syarat dan dia setuju"
"Gue nggak yakin dia akan berpaling,orang modelnya begitu. Nempel terus kayak perangko" ucapnya sembari memijit kepalanya yang sedikit pusing mengingat sikap Kinan yang selalu manja terhadap Raffa.
" Jadi kamu melakukan ini semua untuk keluargamu" sambungnya lagi.
"Tidak juga, ini juga untukku agar lebih tenang kuliah di Inggris.Tidak terlalu khawatir dengan keadaan keluarga. Aku pun punya mimpi dan cita-cita dan semuanya harus kuraih"
"Jangan bilang kamu lebih memilih Inggris untuk lari dari pengawasan Ayahmu? serunya." Raffa, kamu kesana akan meneruskan animasi juga kan. Iya kan? "tanyanya dengan penasaran. Rio pernah mendengar dari curhatan Raffa bahwa Davian Ahmad pernah kuliah di Amerika dan Ia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk anak sulungnya yang akan kuliah disana. Koneksi Ayahnya di Amerika cukup banyak, dan Raffa tidak ingin setiap gerak geriknya di pantau orang tuanya.
" Apa yang ada dipikiranmu benar, aku tidak akan menyerah dengan mimpiku. Untuk itu aku butuh Kinan untuk menemani keluargaku disini agar diriku bisa fokus dengan dua fakultas yang akan aku tempuh. Dan Perkara jodoh, biar Allah yang menentukan nantinya"
" Lu tenang saja, gue akan jaga adik-adik lu. Gue akan kuliah sambil kerja disini. Dan gue harap lu pulang dengan sukses". Ia menepuk bahu Raffa.
"Terima kasih, mungkin kita akan lama nggak ketemu. Gue titip adik-adik"
"Berapa lama lu disana? Gue dan Antoni pasti kangen lu Raff" ujarnya sembari berkaca-kaca, matanya tidak mampu menahan rasa sedih karena jauh dari sahabat yang selalu ada untuknya.
"Mungkin sepuluh tahun, gue mau kerja dulu disana sebelum nerusin perusahaan Ayah. Sekalian cari modal buat studio animasi nantinya, gue nggak mau pakai uang orang tua. Gue bakal bangun studio itu dengan hasil kerja keras gue sendiri"
" Terserah lu gimana baiknya, cuma satu pesen gue. Lu harus pulang walaupun lima tahun sekali. Gue nunggu lu pulang"
"Aku tidak bisa berjanji "ucapnya dengan nanar
__ADS_1