Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 79


__ADS_3

Navysah pergi Inggris bersama Davian, mereka langsung menuju kota S sesuai alamat yang diberikan Ifa padanya. Orang kepercayaan Ifa mengantarkan mereka ke sebuah hotel untuk beristirahat agar esok pagi mereka bisa langsung bertemu dengan Raffa.


Awalnya Navysah menolak, ia ingin segera bertemu anaknya. Namun Davian kekeh agar istrinya istirahat mengingat kondisi kesehatan Navysah dan perjalanan belasan jam yang cukup melelahkan.


"Kita harus istirahat terlebih dahulu, tidak ada penolakan." tegas Davian, ia menggandeng istrinya masuk ke dalam lobby hotel. "Sayang kau sudah telepon mba Naysila kan untuk berbohong jika si kembar meneleponnya?" tanya Davian


"Sudah, semuanya aman terkendali." Kemarin Navysah menelepon kakaknya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan Naysila menangis serta setuju untuk berbohong jika si kembar meneleponnya.


* **


Raffa duduk di sebuah taman bersama Jihan, mereka bercanda tawa sembari mengingat kekonyolan tingkah Rio saat bersamanya.


"Nggak ada Rio sepi ya Raff" ujar Jihan, ia menatap taman bunga yang sedang bermekaran di pagi hari.


"Iya, aku juga kangen sama Rio." Raffa sembari memijit kakinya dengan lembut.


Jihan menoleh ke arah Raffa, "Masih sering sakit?"


"Terkadang masih nyeri" sahutnya, "Kalau tangan alhamdulillah sudah normal kembali."


Jihan melihat jari Raffa yang tidak menggunakan cincin pertunangannya, "Tidak dipakai lagi cincinnya?, Sudah kasih kabar dia kalau kamu disini seperti ini."


"Aku menyerah,biarkan dia bersama pria lain. Itu lebih baik." Raffa menatap nanar taman bunga, namun Jihan mencubitnya dengan kesal.


"Kamu itu ngeselin!, Jahat sama dia. Dia nungguin kamu lho Raff."


Raffa hanya tersenyum kecut.


"Aku yakin kamu bisa kembali sembuh,kamu ingat kan kata dokter. Harus rajin terapi dan tidak boleh olahraga berat." Jihan menerangkan ucapan dokter padanya


"Aku tahu." balas Raffa,


" Terima kasih kasih sudah menemaniku saat aku terpuruk seperti ini dan mengembalikan cincin pertunanganku." ucap Raffa dengan tulus


"Ahh..., kalau ingat itu inginku buang cincinnya tapi tidak jadi" dengusnya kesal, " Aku juga perempuan, tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa kepastian." ucapnya dengan senyuman kecut


" Aku yakin kamu akan menemukan pria baik." Raffa mengelus rambut Jihan.


"Seperti kamu." sahut Jihan , "Apa ada lagi pria sepertimu, aku mau" godanya sembari tersenyum


Raffa hanya menepuk tengkuknya dan tersenyum.


"Seandainya..., seandainya saja..." Jihan menghela nafas kasarnya. Ia berharap jika dia yang pertama kali bertemu dengan Raffa sejak kecil, bukan wanita lain.

__ADS_1


"Raffa....!!" teriak Navysah, ia berlari menghampiri anaknya yang duduk di taman. "Huhuhu... Raffa..." Navysah menangis dan hampir terjatuh karena ingin cepat-cepat memeluk anaknya.


"Mama..., hati-hati" ucap Raffa, ia begitu terkejut saat ibunya berlari dan hampir terjatuh. Ia menangis di pelukan ibunya.


"Raffa, anakku... Huhuhu..." isak tangis Navysah begitu keras, ia sangat bahagia bisa bertemu dengan anaknya.


"Maafkan Raffa sudah bohong sama mama dan Ayah." Raffa melihat Ayahnya yang mengusap airmatanya.


"Ayah, maafkan Raffa." ia memeluk Davian dengan erat


"Sudahlah..."


"Maaf, saya permisi dulu." Jihan terenyuh melihat pemandangan di depannya, tidak kuasa menahan airmata.


"Jangan pergi, aku kenalkan terlebih dahulu dengan kedua orangtuaku." Raffa memegangi tangan Jihan.


"Mah, Ayah. Ini Jihan, teman Raffa. Saat aku kecelakaan, Jihan dan bu Ria yang mengurusku." ujar Raffa


"Om, tante saya Jihan." Ia mencium punggung tangan kedua orangtua Raffa


"Terima kasih Nak sudah membantu anak tante" Navysah memeluk tubuh Jihan dengan erat, "Terima kasih banyak."


"Iya tante" ucapnya, "Kalau begitu saya pamit masuk rumah terlebih dahulu." Jihan mencoba memberikan ruang untuk Raffa dan orangtuanya.


"Masih sakit Raff?" Navysah mengelus kaki Raffa dengan lembut


"Kita pulang ke Indonesia, kita akan melakukan yang terbaik disana agar kamu bisa sembuh." perintah Davian, ia menepuk bahu Raffa


"Nggak yah, Raffa ingin disini." pintanya, "Kinan tidak tahu kan kalau Raffa seperti ini."


Davian menggelengkan kepala.


"Rio sudah menceritakan semuanya" Navysah mengelus rambut anaknya dan merebahkan kepala Raffa di bahunya, "Saat kamu meminta pertunangan ini dibatalkan, mama Ifa mencari informasi tentangmu. Dan dia mau menerima keadaanmu yang seperti ini."


"Mama sudah bicara dengan Kinan, dia tidak tahu kamu sakit. Tapi dia bilang akan selalu menunggumu dan menerimamu apa adanya." sambung Navysah kembali, "Kinan sakit saat kamu mengatakan putus, dia sangat frustrasi Nak."


"Mah, keputusanku sudah bulat. Aku malu berada di sisinya dengan keadaanku yang seperti ini. Dia wanita pintar dan seorang dokter berbakat, masa depannya cerah tapi bukan denganku."


"Sayang...." Navysah mengelus rambut putranya kembali.


"Ayah cari udara segar sebentar." Davian mencoba memberi waktu untuk mereka berdua.


" Raffa juga belum ingin menikah, masih jauh dari fikiran. Raffa ingin bekerja keras mah. Sedangkan Kinan, dia perempuan. Mau sampai kapan menungguku yang belum jelas seperti ini. Aku tidak ingin menyakitinya lagi mah."

__ADS_1


"Raffa..." lirih Navysah, " Jawab pertanyaan mama dengan jujur. Apa kau benar-benar tidak mencintai Kinan?" tanya Navysah, " Walaupun sedikit" sambungnya lagi


"Entahlah..., Raffa bingung."


"Apa gadis itu yang kau cintai?" Navysah melihat Jihan bersama seorang ibu seumuran dengan dirinya kini sedang mengobrol dengan Davian di teras rumah.


" Hanya teman..." jawab Raffa dengan jujur, " Tapi saat bersama Jihan, Raffa merasa nyaman dan tenang. Dia selalu mengurus Raffa dengan baik, dan selalu bersikap dewasa tidak manja dan tidak berisik seperti Kinan."


Navysah memejamkan matanya sebentar, mencoba mencerna perkataan anaknya. " Mama mengerti sekarang." Navysah merengkuh bahu anaknya," Raffa, semuanya terserah denganmu. Apapun pilihanmu mama akan dukung.Jangan lupa salat dan berdo'a minta petunjuk Allah mana yang terbaik."


"Raffa, perlu kamu tahu juga saat kepergianmu mama sangat kehilangan dan sakit beberapa minggu. Kinanlah yang telaten merawat mama, selalu membuat mama tertawa dan melupakan kesedihan. Mama tahu dia selalu menangis di pojok kamar saat ingat denganmu tapi dia tidak pernah menampakkan kesedihannya,selalu pura-pura tertawa bahagia. Merawat adik-adik saat mama masuk rumah sakit, dia tidak pernah mengeluh. Dan kau tahu, dia selalu khawatir jika mama pergi terlalu lama. Dia lebih sayang mama daripada ibunya sendiri, lucu ya tapi itulah Kinan dengan semua kekurangan dan kelebihannya. "terang Navysah,


" Apapun pilihanmu mama akan mendukung, fikirkanlah dengan baik. "


" Terima kasih mah, Raffa sayang mama."tanpa terasa Raffa menitihkan airmatanya kembali.


" Mama juga sangat sayang sama Raffa, anak mama yang paling baik. "Navysah mengecup kening anaknya


" Ayo mah, aku kenalkan dengan bu Ria. Dia yang punya villa ini dan merawatku." Raffa bangkit dan menggunakan tongkatnya untuk berjalan.


" Hati-hati Nak, pelan-pelan. " Navysah mencoba untuk menuntun anaknya


Mereka saling mengenalkan diri dan saat Hanin pulang dari kampus, dia merasa takut bertemu dengan kedua orangtua Raffa karena semua ini kesalahannya.


"Maafkan saya Om, Tante. Semua ini kesalahan saya sehingga mas Raffa sakit seperti ini." Hanin menunduk, rasa malu dan menyesal melebur menjadi satu.


"Sudahlah Nak, ini cobaan dari Allah dan harus dijalani dengan ikhlas. Tante dan Om tidak marah padamu.Ini semua sudah terjadi, kita harus sabar ." Navysah mengenggam tangan Hanin dan mengelus rambutnya. Davian melirik tajam istrinya, ada sedikit rasa kesal karena Hanin anaknya sakit seperti ini. Dan istrinya dengan mudah memaafkan gadis itu.


" Om marah sama saya? " Hanin melihat Om Davian menatap tidak suka padanya. "Maaf."


Navysah menoleh ke arah suaminya yang sedang memasang wajah ketus. "Mas..."ia menyentuh lengan suaminya


Davian hanya menghembuskan nafas kasarnya, jika Navysah sudah memanggilnya seperti itu maka dia harus memasang wajah normal.


" Om Davian kalau bertemu dengan orang yang belum akrab memang seperti itu, tapi kalau sudah kenal pasti kocak kok." Navysah tersenyum menjelaskan sifat suaminya


Mereka saling bercerita, bercanda tawa serta memikirkan langkah selanjutnya untuk pengobatan Raffa agar lekas sembuh dan bu Ria mengajak Navysah ke sebuah ruangan tempat biasa Raffa melukis.


" Lihatlah bu, ini semua lukisan Raffa." Bu Ria memperlihatkan beberapa lukisan milik Raffa. "Ada beberapa yang Raffa bawa dari rumah lamanya, disetiap lukisan terdapat tanggal pembuatan bi bagian bawah." jelas bu Ria, "Anak saya si Hanin sangat bersemangat saat kuliah disini karena ada Raffa dan Rio, mereka sudah seperti kakak bagi Hanin."


Navysah tersenyum dan melihat lukisan anaknya yang begitu indah, mengingatkan dirinya pada almarhum mas Raihan, namun dia terpana pada tiga lukisan yang berada di pojok ruangan. Navysah melihat lukisan keluarganya, ia ingat saat pengambilan gambar di studio. Saat itu si kembar Alif dan Fafa berumur sembilan tahun dan si princess kembar baru masuk sekolah dasar. Gambar kedua terlihat sepasang anak kecil,gadis kecil berponi dengan rambut dikucir dan seorang anak laki-laki yang sedang cemberut karena sang gadis mengambil robotnya. Gambar ketiga, gambar seorang gadis dengan senyuman manis yang dimilikinya.Gadis yang ia kenal. Navysah melihat setiap tanggal pembuatan lukisan itu dan dia menangis menutupi wajahnya. Bu Ria merasa bingung kenapa Navysah menangis setelah melihat lukisan Raffa.


"Bu Navy, apa yang terjadi?" tanya bu Ria dengan bingung.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bu, ini hanya tangisan bahagia." Navysah mengusap airmatanya yang mengalir. "Sekarang aku tahu perasaan anakku yang sebenarnya."


"Raffa memang tidak menyadari perasaannya, dia selalu menolak dan bersikap datar." Bu Ria tersenyum melihat lukisan itu sembari merengkuh bahu Navysah


__ADS_2