
Alif kini berada di taman kota yang biasa dia kunjungi, ia duduk sembari melihat beberapa orang yang sedang berolahraga. Suasana pagi hari ini sangat cerah namun tidak untuk hati Alif hari ini. Pertengkaran dengan mba Kinan di pagi hari membuatnya sedikit kacau, apalagi mba Kinan terlihat sangat menyedihkan.
"Alif...!!!" teriak Khaffi,
" Bughhh..!!" satu pukulan tepat mendarat di sudut bibir Alif. Dia terkejut mendapat serangan dadakan dari Khaffi
"Brengsek kamu!, beraninya membuat kakakku menangis. Kamu kan yang melaporkan mba Kinan hingga dia putus dengan mas Raffa." seru Khaffi, ia merangsek ingin memukul Alif kembali.
"Kamu fikir aku tidak berani melawanmu" sentak Alif, hatinya merasa kesal hingga dia ingin melampiaskan juga pada Khaffi.
Mereka saling menendang dan memukul hingga beberapa orang melerai perkelahiannya.
"Kalau ada masalah selesaikan dengan baik tidak dengan kekerasan." ujar seorang pria berumur yang melerai mereka.
"Anak sekarang kalau ada masalah langsung baku hantam, tidak bisa berfikir jernih." sahut seorang pria lainnya.
"Bawa saja ke kantor polisi, biar tahu rasanya tinggal di sel tahanan." seru seorang ibu - ibu.
"Jangan...!! " ucap Alif dan Khaffi bersamaan, mereka saling melirik dan memberi kode untuk berakting.
"Ah... adikku maafkan kakakmu ini sudah merebut pacarmu" Alif berakting memeluk Khaffi dengan erat."Akting bodoh!" bisiknya di telinga Khaffi
"Ah.., iya kak. Kau memang brengsek sudah merebut pacarku. Aku sudah memaafkanmu, mungkin Mimin memang jodohmu." balas Khaffi.
"Oh..., jadi kalian kakak beradik?"tanya seorang pria
" Iya pak kami kakak beradik. Khalif dan Khaffi" Alif menunjuk dirinya dan Khaffi, "Miripkan namanya. " ia merengkuh bahu Khaffi dengan erat
Pria itu mengangguk tanda mengerti, " Yasudah, yang akur jangan berkelahi lagi" pintanya, "Bubar sekarang sudah selesai masalahnya." perintah bapak itu kembali, ia menyuruh orang yang berkerumun untuk kembali dengan kegiatannya masing-masing.
"Kau masih utang penjelasan denganku." Khaffi menatap tajam pada Alif
Setelah semua orang membubarkan diri, Alif dan Khaffi duduk di bangku taman kembali, mereka saling membersihkan luka dengan obat antiseptik.
"Siapa Mimin? tanya Alif, ia penasaran dengan nama yang Khaffi lontarkan saat mereka berakting.
" Hahaha, masih penasaran. " Khaffi tertawa sembari menggelengkan kepala," Mimin itu emak-emak yang jualan nasi uduk di sekitar kompleks."
" ****** lu..!, akting sih akting tapi nggak rebutan emak - emak juga kali! " dengus Alif,ucapan Khaffi selalu ceplas ceplos seperti Fafa
" Biasa aja, nggak usah marah kayak ikan lu bersisik"cerocos Khaffi
"Berisik bodoh, bukan bersisik." kesal Alif kembali. "Lama-lama otak lu gue swab juga Fi, ngeselin PE'A banget !!
" Tidak perlu membahas yang tidak penting, sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya dengan mas Raffa? Aku tidak percaya mas Raffa hidup dengan wanita lain disana dan kenapa kamu melaporkan mba Kinan. Apa kau ingin merusak hubungan kakakku." tanya Khaffi dengan selidik
Alif menghela nafasnya dengan kasar," Aku tidak berniat menghancurkan hubungan mba Kinan dengan mas Raffa,ada hal yang tidak bisa aku katakan padamu. Kamu tenanglah, aku akan bicara dengan mas Raffa agar mau menerima mba Kinan lagi."
"Awas saja kalau kamu ingkar janji, aku tidak ingin melihat mba Kinan menangis dan frustrasi seperti tadi pagi." ancam Khaffi, "Kamu tahu kan mba Kinan cinta banget sama mas Raffa, dia tidak pernah selingkuh lif."
"Aku tahu itu" balas Alif dengan lirih.
__ADS_1
* **
Kinan mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat pusing dan perutnya terasa lapar karena sejak semalam ia belum makan. Ia bersandar di kepala ranjang sembari mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Ishhh... pusing banget" desis Kinan, ia memijat kepalanya dengan pelan. "Kenapa aku disini?" tanyanya bermonolog
"Nan, kamu sudah sadar sayang?" Navysah dan Fafa masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa makanan.
"Makan dulu, sini mama suapin." Navysah menyendok nasi dan sayur. Ia menyuapi Kinan dengan sabar.
"Dih kayak bocah masih saja disuapin." cibir Fafa, ia menatap jengah pada Kinan yang selalu manja dengan ibunya.
"Fafa..." seru Navysah, ia melotot kearah anaknya. Fafa keluar kamar, ia tidak ingin ibunya marah dan memotong uang jajannya. Cari aman
"Habis ini minum obat" perintah Navysah, "Tidak usah sedih, nanti mama yang bicara dengan Raffa." Navysah mengelus rambut Kinan dan menyisirnya dengan jari tangan.
"Makasih mah."ucap Kinan," Aku hanya ingin Raffa mah, nggak yang lain. "
" Iya,Mama tahu. "
" Kinan... " Ifa dan Shafiq masuk ke kamar Kinan, ia melihat anaknya yang disuapi Navysah.
" Apa yang terjadi dengan anakku Nav? "tanya Ifa, ia melihat Kinan begitu pucat dan lemah.
" Tadi pingsan" jawab Navysah
Ifa hanya menghembuskan nafas kasarnya," Ini semua karena anakmu, Kinan frustrasi seperti ini." ketus Ifa, " Untung saja mereka anakmu, kalau tidak aku sudah pasti membuat perhitungan karena berani menyakiti hati anakku yang bodoh ini." dengus Ifa,ia masih menghormati Navysah karena begitu baik terhadap keluarganya terutama pada Kinan.
"Ayo kita pulang!" ajak Ifa pada Kinan
"Tapi mah, aku ingin disini. Mama Navysah bilang, dia akan menelepon Raffa untuk menyelesaikan kesalahan pahaman ini."
"Cukup Kinan..!" sentak Ifa, "Kamu perempuan harus punya harga diri!" sambungnya lagi.
"Kamu punya rumah dan keluarga, mama nggak suka kamu terlalu mengejar Raffa seperti ini." Ifa melotot kearah Kinan, "Ada mama, ada Ayah Shafiq yang akan melindungimu. Biarkan keluarga Davian menyelesaikan masalah ini. Kalau kalian memang tidak berjodoh yasudah, jangan dipaksa. Ayo kita pulang." perintahnya lagi.
Ini pertama kalinya mama Ifa begitu marah pada Kinan,raut wajah mama Ifa yang biasa lembut kini tidak ia tampakan.
" Tapi mah.. "ucap Kinan dengan memelas. Ia mulai berkaca-kaca dan takut pada ibunya.
" Nggak ada tapi-tapian. Sekarang kita pulang. " ucap Ifa dengan tegas
" Mah... " Kinan merengek pada ibunya.
" Kinan, sekarang kamu pilih. Mama Ifa atau mama Navysah?!"
Mata Kinan membola, tentu saja dia tidak bisa memilih salah satu diantaranya. Keduanya sangat berharga,Kinan masih termenung dan diam membisu.
"Oke, mama tahu jawabanmu.Kalau kamu diam berarti lebih memilih mama Navysah." Ifa menatap sendu padanya, "Mama kecewa." Ifa menitihkan air matanya.
"Nggak mah, bukan begitu. Aku akan pulang bersama kalian. Tunggu, aku rapikan dulu rambutku." Kinan beranjak dan merapikan rambutnya dengan sisir.
__ADS_1
"Lho, Kinan mau kemana?" tanya Navysah yang baru saja masuk ke dalam kamar. Ia melihat Kinan membereskan tempat tidurnya.
"Kinan pulang dulu mah, ingin istirahat di rumah." Kinan melirik mama Ifa yang masih berwajah jutek.
"Beneran mau pulang, yasudah jangan lupa minum obat ya."
"Iya mah" balas Kinan sembari mencium punggung tangan Navysah.
"Urusan anak kita belum selesai Navysah, aku tunggu penjelasannya. Daripada anakku terus disakiti lebih baik akhiri saja!" ketus Ifa, namun Kinan yang berjalan terlebih dahulu mendengar ancaman dari ibunya. "Mama.." rengek Kinan, ia menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan keputusan sepihak dari ibunya
"Aku akan bicara dengan anakku terlebih dahulu Fa, semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku pastikan itu." janji Navysah, ia tidak ingin hubungan yang sudah terjalin dengan Ifa hancur begitu saja karena kesalahan pahaman anak-anak mereka.
* **
"Alif..." sapa Navysah, "Kamu kenapa Nak, ada apa denganmu?" tanya Navysah, ia melihat memar di sudut bibir Alif dan wajah yang memar.
"Nggak papa mah, biasa laki-laki." Alif masuk ke dalam kamar, namun diikuti oleh ibunya.
"Berantem sama siapa?" tanya Navysah kembali.
"Sama Khaffi" Alif merebahkan dirinya di ranjang." Hoaaammm" Ia pura-pura mengantuk dan membalikkan badannya ke arah samping. Alif takut diinterogasi ibunya tentang masalah mas Raffa.
"Masih sore, nggak usah pura-pura ngantuk." ketus Navysah, ia membalikkan badan Alif kearahnya.
"Alif, mama tahu kalau kamu berbohong. Anak-anak mama tidak pandai berbohong jadi katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Raffa. Kenapa dia ingin membatalkan pertunangan ini?"
"Alif beneran nggak tahu mah" balas Alif dengan singkat.
"Alif...." Navysah mengelus rambut anaknya dengan lembut, "Apa yang kau sembunyikan dari mama Nak"
Alif berkaca-kaca, ia masih terdiam tidak menjawab pertanyaan ibunya. "Maafkan aku mah, Alif tidak bisa mengatakannya" lirihnya dengan perasaan bersalah. "
* **
Selamat Hari Raya Idul Adha all reader, mohon maaf lahir batin. Jangan lupa protokol kesehatan, jaga jarak dan pake masker.
Reader: Thor, tumben up terus?
Author: Dampak PPKM, produksi banyak yang di stop jadi pengangguran sementara 😭😭
Reader:Asyyikkk, berarti bisa update setiap hari. Yessss...
Author :Nggak bisa janji, mau cus vaksin dulu
Reader : Jangan kelamaan thor, penasaran ini keburu novelmu bulukan kagak kelar-kelar
Author : Biarin, semakin buluk semakin antik.Barang antik saja mahal kalo dijual 🤣🤣
Reader :Thor, update 2x sehari biar cepat ketemu Raffa sama Kinan keburu karatan.
Author :3x sehari juga boleh kayak minum obat. Kalau karatan tinggal kiloin ke tukang rongsok. Diem-diem Author langsung kabur 🏃🏃🏃😁 (Gaje banget ya)
__ADS_1