Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 27


__ADS_3

Selepas salat subuh di masjid Raffa bersepeda keliling komplek,Namun baru tiga puluh menit ia sudah kembali ke rumah.


"Tumben keliling kompleknya cuma sebentar?" tanya Navysah yang sedang menyiapkan sarapan di dapur,ia melihat anaknya menggigil kedinginan.


"Hari ini diluar dingin, Raffa nggak kuat" ucapnya sembari membuat teh untuk menghangatkan tubuhnya.


"Tadi malam hujan deras jadi udara sedikit lembab, Sini mama saja kamu duduk sana"


"Terima kasih mah" ia menyesap sedikit demi sedikit teh buatan ibunya.


"Nanti siang mama ke panti asuhan seperti biasa dengan adik-adik, kamu jaga rumah ya nanti siang les kan?


" Iya mah, ada Rio, Kinan dan Tatia"


Navysah melihat anaknya dengan intens, ia pun duduk tepat di sampingnya. Ada keinginan untuk membahas masa depan anaknya kembali. Disaat seperti ini, hanya berdua tanpa di ganggu anak lainnya. Namun belum sempat ia bicara dari hati ke hati Raffa sudah menceritakan keinginannya.


"Mah, hari ini pengumuman pemenang lomba animasi. Do'ain ya mah semoga menang. Raffa ingin menjadi animator" ucapnya dengan penuh harap.


"Mama selalu do'ain yang terbaik untuk kamu Nak" ia menggigit bibir bawahnya, ada perasaan bersalah yang teramat dalam melihat anaknya begitu bercita-cita menjadi animator, namun disisi lain ada harapan besar seorang Ayah agar anak sulungnya menjadi penerus perusahaan.


Navysah menghembuskan nafas panjangnya sebelum bicara dari hati ke hati. "Raffa, kamu tahu kan mama selalu menyayangimu" ucapnya dan mendapat anggukkan dari anaknya.


"Mama ingin yang terbaik untuk kamu dan keluarga kita Nak, Apa kamu tidak ingin menjadi arsitek atau kuliah fakultas ekonomi? tanyanya.

__ADS_1


Jika kamu memilih arsitek, kamu masih bisa menggambar Nak. Desain kamu sangat bagus, mama yakin suatu saat kamu akan menjadi orang sukses. Kamu bisa kuliah di Jakarta atau di Bandung agar mama bisa selalu melihatmu. Mama tidak bisa jauh darimu Nak, jadi Raffa tidak perlu kuliah ke luar negeri." dia menjeda ucapanya.


" Setelah itu kamu bisa nerusin bisnis Ayah, hanya kamu yang bisa Ayah andalkan. Ayah dan Mama sudah tua,kami sangat berharap padamu sayang" ia mengenggam erat tangan anaknya, mencoba agar sang anak mau berubah pikiran.


"Mah, sudah berapa kali kita membahas seperti ini. Mama yakinkan Raffa akan jadi orang sukses? " tanyanya, dan ia mendapat anggukan dari ibunya. "Raffa yakin dengan pilihan Raffa, untuk bisnis Ayah kan masih ada Fafa dan Alif. Mereka pasti bisa gantiin Ayah. Raffa ingin membuat studio animasi, usaha Raffa sendiri bukan bisnis properti seperti Ayah. Raffa cuma ingin itu mah" ia menghiba agar ibunya mengerti keinginannya, mencoba untuk bernegosiasi tentang pilihan dan masa depannya. "Raffa minta maaf tidak bisa memenuhi keinginan Mama dan Ayah" ia menundukkan kepalanya merasa menyesal.


Navysah sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi anaknya cukup keras kepala seperti dirinya,memaksakan kehendaknya pun percuma.Ia pun mengingat di masa lalu, anaknya seorang Raffa Raihan bukan Raffa Ahmad.Ayahnya Raihan Akbar yang dulu gemar menggambar kaligrafi dan melukis. Bahkan, disaat dia sibuk pun ia selalu menyempatkan hobinya melukis. Bakat yang ada padanya sudah tentu turunan dari orang tuanya, Raihan Akbar yang pantang menyerah dengan keadaan.


Ia menghembuskan nafas panjangnya kembali, mengingat almarhum suaminya membuat kepalanya mendadak pusing, kejadian mengerikan belasan tahun lalu masih teringat jelas di memorinya, kecelakaan tragis yang merenggut suaminya.


"Raffa, Perlu kamu tahu Nak si princess kembar masih kecil, Fafa pola pikirnya belum matang,setelah dewasa pun Ayah tidak akan mungkin memilihnya. Alif, dia sibuk dengan dunianya sendiri walaupun dia pintar sepertinya dia tidak berniat untuk bisnis, yang ada di otaknya hanya belajar biologi siapa lagi kalau bukan kamu Nak" Navysah menarik nafas panjangnya lagi mencoba menahan rasa sakit di dadanya, pikirannya bertambah carut marut, waktu yang diberikan Davian hampir habis untuk membujuk anaknya.


"Jika kamu tidak bisa membujuknya, biarkan aku yang melakukan dengan caraku sendiri. Perusahaan harus berjalan sebagaimana mestinya, Dan Raffa harus menggantikan diriku di masa yang akan datang. Hanya dia, tidak ada yang lain." ia mengingat dengan jelas perkataan suaminya.


"Apapun keputusan kamu mama dukung" suaranya tercekik di tenggorokan, beban pikirannya semakin bertambah dan sudah pasti Davian akan marah kembali dengannya.


" Mama percaya sama kamu Nak " ia menahan rasa sesak di dadanya, pikirannya kacau kembali karena sang anak kekeh dengan keinginannya.


" Yasudah, Raffa mau boxing dulu "ia beranjak menuju ruang olahraga. Dan terlihat Navysah yang sudah tidak kuat lagi menahan air matanya, ia pun pergi ke toilet untuk menangis disana.


* **


Siang hari Kinan sudah datang ke rumah Raffa kembali, disusul Rio dan Tatia. Mereka belajar bersama dengan guru les Raffa. Untuk menghadapi ujian kali ini mereka harus mati-matian belajar lebih keras untuk mendapatkan nilai yang terbaik.

__ADS_1


Mereka mengerjakan dengan seksama setiap soal yang diberikan oleh guru les,sesi tanya jawab dan speaking english pun tak luput dari pembelajaran.


"Kita akhiri les kali ini, besok sore jangan lupa kita ketemu lagi disini" ucap Pak Yogi


"Yes, sir" ucapnya bersamaan.


"Ahhhh.. akhirnya kelar juga. Pusing Pak, otak aku ngebul gara - gara ngerjain matematika, hehehe " seloroh Kinan sembari tiduran diatas karpet. Dan Pak Yogi hanya menggulum senyum.


"Mana-mana tis, ngebul otak lu sini gue tiup. Huhhh... " Ia menggerakkan kepala Kinan ke kiri dan ke kanan dan meniupnya.


"Kampret lu!!, emang kepala gue kue ulang tahun lu tiup gitu aja. Mana bau jengkol lagi nafas lu!" Kinan menendang - nendang badan Rio tidak terima namun tidak pernah berhasil meraihnya.


"Yeee.. Kagak kena kasihan deh lu Kitis ! " ucapnya. " Emang gue tadi habis makan jengkol makanya bau naga" ia menjulurkan lidahnya meledek Kinan kembali, hingga si gadis manja itu bertambah kesal.


"Lu, kalau nggak usilin gue berasa ada yang kurang ya Yo. Ngeselin banget sih!" salaknya


"Yeee, kagak sadar kalau di kelas dia juga cewek paling usil" potong Titan langsung dan terdengar gelak tawa dari mereka semua.


"Tuh, dengerin si Titanus ngomong. Dia mah diem tapi sekali ngomong kelar hidup lu" Rio


"Ah kalian memang sebelas dua belas. Cocok jadi pasangan" ketusnya, ia melirik ke arah Raffa yang sedang membereskan bukunya " Raffa, kok kamu nggak belain aku sih! " protesnya. Dan Raffa hanya menggedikkan bahu tanda tidak peduli.


"Hahahaha, kasihan deh lu nggak ada yang belain. Pangeran aja ogah belain lu Kitis!" seloroh Rio dan ia mendapat cubitan bertubi - tubi dari Kinan. "Ampuuunnn tis!! , gue nyerah tangan lu jelmaan siluman kepiting sakit banget kalau nyubit"

__ADS_1


* **


Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun


__ADS_2