
Sudah seminggu ibunya berada di Semarang dan seperti hari biasa Raffa selalu menyiapkan semua kebutuhan adik-adik sekolah menggantikan peran ibunya.Kemarin, seluruh siswa menerima notifikasi email dari sekolah tentang semua nama yang lulus ujian. Dan Raffa menjadi juara kedua di angkatannya.
"Selamat ya Nak!, alhamdulillah kamu juara dua di sekolah. Mama bangga denganmu"
" Jangan lupa salat, titip adik-adik"
Pesan itu yang kemarin ibunya kirim,sudah pasti siapa lagi kalau bukan Kinan yang selalu melapor padanya, namun ia hanya membalas dengan jawaban iya. Saat ibunya ingin menelepon, ia tidak pernah mengangkat. Entah kenapa ia malas berbicara dengan orang tuanya.
Ayahnya selalu berangkat lebih pagi untuk mengurus perusahaan, terkadang ia pergi ke Bogor untuk mengecek progres apartemen yang sedang berjalan. Semenjak tidak ada mama Navysah, ia tidak betah di rumah dan selalu memasrahkan anak - anaknya pada Raffa yang lebih sabar daripada dirinya. Ia pusing melihat anaknya yang selalu berlari kesana kemari tanpa lelah , berteriak dan menangis setiap hari.
Raffa hari ini ingin pergi ke rumah Kinan, ingin berbicara empat mata agar ia mau menolak perjodohan dengannya, sudah satu minggu yang lalu ia menelepon Kinan namun selalu tidak diangkat, ia berpikir Kinan sedang menghindarinya.
Ia memijit kepalanya yang sedikit pusing, sebelum adik-adiknya sekolah pasti mereka akan membuat rumah berantakan, berlari tiada henti dan bertengkar,dan Ia hanya bisa menghela nafas kasarnya. Budhe Salma menyodorkan segelas teh hijau hangat untuknya agar lebih rileks.
"Minumlah den, ibu kalau pusing sama anak-anak biasanya selalu minum teh hijau" ujar budhe Salma.
"Makasih budhe" ia menyesap teh dan cemilan biskuit.
"Kalau ibu pergi adik-adik pasti susah diatur, berantem dan nangis terus tapi kalau ada ibu sekali teguran dan pelototan langsung diam semua hehehe" ucap budhe Salma,ia mengetahui setiap harinya kebiasaan Navysah pada anaknya. "Ibu sabar banget ya den menghadapi Inka dan Fafa, kalau bapak pasti sudah emosi kalau Inka dan Fafa berantem kayak gitu" ia menunjuk kearah anak majikannya yang sedang memperebutkan mainan. "Untung den Raffa sabar, adik-adik mau nurut sama aden. Klo nggak entah bagaimana kacaunya rumah ini. Kadang budhe dan mbak Nita nggak sanggup lari ngejar non Inka sama den Fafa, mereka gesit banget kalau lari"
"Iya budhe, mereka memang jelmaan dari siluman kuda, kaki mereka sangat lincah dan gesit, hehehe " seloroh Raffa.
"Aden mah ada-ada saja" sahutnya.
"Inka sini dek" ujarnya. Inka tidak memperdulikan kakaknya memanggil, ia masih asyik dengan boneka barbienya yang sudah tidak berbentuk karena dimutilasi Fafa.
"Nur Inka Ahmad" seru Raffa, ia mengeraskan suaranya agar sang adik mendengarnya. " Khafa, Khalif Ahmad" sambungnya lagi. Semua adik-adiknya menghampiri, ia tahu saat namanya disebut dengan lengkap berarti itu panggilan harus dipatuhi.
"Iya mas" jawab Inka.Ketiga adiknya datang menghampiri.
"Ayo makan dulu, sini mas suapin habis itu sekolah"
"Nggak ah!, Haha juga nggak sekolah,dia liburan di Semarang. Inka nggak diajak" gerutunya. Ia bersiap akan berlari lagi, bermain bersama boneka - bonekanya namun tangan sigap Raffa mampu mencegahnya.
"Mau disuapin Mas atau mau dipelototin Ayah Davi, pilih mana?"
Inka hanya menggelembungkan pipi,ia takut berurusan dengan Ayahnya yang selalu mengomel dengannya. "Sama mas Raffa saja" sahutnya
"Sini coba, mana punggungnya. Baterainya mas matiin dulu biar di charger pake nasi habis itu boleh main dan lari lagi" ucap Raffa, ia berkata absurd seolah adiknya seorang robot mainan yang memiliki baterai di punggungnya. "Tut.." suara yang keluar dari mulut kakaknya seolah sedang menonaktifkan robotnya. " Ayo tinggal diisi baterainya, aa..." ia menyuruh adiknya membuka mulut agar mau menerima suapannya.
"Hihihi, mas Raffa ternyata bisa ngelawak juga nggak kayak Alif diam terus tapi kalau kentut ada suaranya" seloroh Fafa, ia melirik kembarnya yang cuek dan tidak menanggapi ucapannya.
" Dihh! .. sudah kelas dua masih disuapin. Malu lah" cibirnya pada Inka. Dan adiknya hanya menggerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kalau sudah penuh baterainya boleh main lagi mas, nggak sekolah" tanya Inka sembari mengunyah makanan.
"Harus tetap sekolah dong, kan chucky juga harus pinter" Raffa meledek adiknya.
"Kok chucky!" pekiknya tidak terima " Inka cantiknya kayak barbie mas, barbie bukan chucky! " ucapnya dengan kesal.
"Hahahaha... , Kaka dibilang chucky. Bener banget mas, Kaka memang lebih mirip chucky daripada barbie" seloroh Fafa. Alif pun tertawa saat kakaknya memangil Inka dengan sebutan Chucky.
"Mas Fafa jahat!" ia mulai berteriak dan mencubit kakaknya dengan gemas.
"Sakit ka, tanganmu siluman kepiting kalau nyubit sakit" seru Fafa.
" Sudah mirip Chucky, tangan siluman kepiting, kaki mirip kuda, aku nggak tahu adikku yang satu ini perempuan atau lelaki, pecicilan terus tenaga samsudin eh tenaga samson" ucap Alif sembari menahan senyumnya.
"Mas Alif..!!" teriak Inka, ia tidak punya orang yang membelanya kali ini. Ia sudah menangis keras karena semua kakak meledeknya hari ini.
"Cup.. Cup diam ya, mas Raffa cuma bercanda. Kaka cantiknya kayak barbie kok" ia mengusap airmata adiknya dan memeluknya dengan hangat.
"Ia mirip barbie tapi yang dimutilasi, Hehehe " seloroh Fafa, ia sangat senang meledek adiknya hingga menangis.
"Mas Fafa nakal mas !" serunya, ia mengadu pada kakaknya.
"Iya, nanti mas cubit. Ayo makanannya di habiskan"ia menyuapi adiknya hingga habis. Dan setelah itu mereka berangkat sekolah.
" Alhamdulillah, adem banget kalau adik - adik sudah berangkat sekolah "ia menghela nafas panjangnya. Dan kini ia bersiap untuk pergi ke rumah Kinan.
* **
" Masuk saja den, non Kinan sedang beberes taman. " ujarnya
"Iya bi terimakasih"balasnya," Kok rumah sepi nenek Erni kemana bi? "tanyanya.
" Nenek sedang melayat tetangga yang meninggal, klo den Khaffi sekolah "
" Oh"ia menganggukan kepalanya, "Saya permisi mau ke taman" ia meminta izin masuk dan membungkukan sedikit badannya.
"Ya ampun den Raffa sudah ganteng,pintar, sopan lagi sama orang tua. Saya mah setuju saja kalau non Kinan berjodoh dengan den Raffa. Aamiin.. " ia mengucapkan doa seraya menadahkan tangannya keatas dan mengamini do'a nya.
"Kinan!" seru Raffa
Ia menoleh dan terkejut dengan kedatangan Raffa, ia begitu gugup berhadapan dengan lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lelaki yang dia cintai namun ia tidak mampu untuk mengatakannya.
"Raffa" lirihnya, ia segera membasuh tangannya yang kotor, air keran yang ia buka kini mengalir deras, ia sengaja berlama-lama saat mencuci tangannya karena ia bingung apa yang akan Raffa katakan padanya.
__ADS_1
" Kamu sengaja menghindariku" satu kalimat yang keluar dari mulut Raffa. Ia menoleh Raffa yang sedang duduk di gasebo, ia segera mematikan keran air dan menghampirinya.
"Tidak!, aku hanya sibuk" ia menundukkan kepala dan meremas tangannya. Dan Raffa tahu kalau saat ini Kinan sedang berbohong padanya.
"Jawab jujur, kamu tidak bisa berbohong padaku" balasnya, ia menatap wanita disampingnya dengan tajam.
"Permisi Non, Den. Ini minumannya" ucap bi Mimin dengan menyodorkan dua gelas es jeruk.
"Makasih bi" ucap mereka bersamaan.
"Ih, kompak pisan Non sama Aden. Semoga jodoh, Aamiin" balasnya, dan mereka berdua hanya saling memandang.
Kinan dengan cepat meneguk air es nya hingga habis, ia merasa gugup dengan keberadaan Raffa saat ini.
"Kamu sudah tahu perjodohan ini kan" tanya Raffa sembari meneguk es jeruknya. Ia menatap kembali wanita yang duduk di sampingnya.
Kinan hanya menganggukan kepala seraya meremas ujung kaos yang sedang ia pakai.
"Bisa kan kamu bilang sama Om Shafiq dan Tante Ifa untuk membatalkan perjodohan ini" pinta Raffa, ia berharap Kinan akan menolak dijodohkan dengannya dan ia bisa melanjutkan kuliah tanpa beban. " Aku menganggapmu hanya adik Nan, tidak lebih. Dan ini tidak mungkin, masa aku mau menikahi perempuan yang sudah aku anggap adikku sendiri" sambungnya lagi.
Kinan hanya menatap sekilas ke arah Raffa lalu ia menundukkan kepalanya lagi. Ia pun mengingat setiap perkataan Bagas padanya.
" Sebelum dia pergi jauh katakan bahwa kamu mencintainya"
"Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari"
"Waktu tidak akan pernah kembali, beri tahu dia walaupun jawabannya
menyakitkan. Dan ini sudah saatnya dia tahu"
Kinan menghembuskan nafas kasarnya sebelum ia mengatakan rasa cintanya pada Raffa.
"Kau ingin aku membatalkan perjodohan ini" tanya Kinan dan ia mendapat anggukan dari Raffa. "Kau hanya menganggapku adik" Kinan menatap intens wajah lelaki yang ia cintai.
"Raffa " lirihnya,ia merasa gusar dengan tindakan yang akan ia lakukan selanjutnya.
" Ini jawaban untukmu" ia menekan tengkuk leher Raffa dan menciumnya dengan cepat hingga ia terengah karena ini pertama kalinya ia mencium seorang pria dan berbagi oksigen dengannya.
Raffa membelalakan mata dengan apa yang dilakukan Kinan padanya, ia tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak dari seorang Kinan.
"Maaf, aku tidak ingin membatalkan perjodohan ini. Aku menyukaimu dan mencintaimu Raffa, aku tidak peduli kalau kamu tidak mencintai aku. Karena aku yakin suatu saat kamu akan membalas cintaku. Dan aku hanya mau kamu bukan pria lainnya" Kinan berlari masuk ke dalam kamar setelah mengucapkan kalimat itu, ia takut Raffa akan murka karena berani menciumnya.
Dan kini Raffa hanya terdiam lesu setelah mendengar dan melihat apa yang Kinan lakukan padanya. "Tidak mungkin, ini pasti salah. Ini pasti mimpi" ia memegang bibir yang baru saja dicium Kinan.Ia tidak menyangka selama ini Kinan menaruh hati padanya.
__ADS_1
* **
Assalamualaikum reader, Author sudah mulai kerja lagi. Maaf kalau nggak bisa up tiap hari karena butuh pemikiran ekstra dalam membuat cerita ini, tidak hanya sekedar bacaan tapi setidaknya memberi sedikit pelajaran hidup. Menulis novel tidak semudah membacanya 😂🙏. Aku usahakan di waktu senggang untuk nulis. Matursuwun yang sudah mampir, jangan lupa like, Vote and comment 😘😘😘