Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 140


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Fafa, selalu diam dan saat Hanin ingin menyentuh luka di sudut bibirnya,Fafa selalu menolak.


"Turunlah, aku akan pergi sebentar." perintah Fafa saat berada di depan apartemennya.


"Aku akan obati lukamu, ayo kita masuk."


"Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri. Kumohon, turunlah." pinta Fafa kembali.


"Jangan mabuk ya!" Hanin turun dari mobil, namun Fafa tidak menjawab ucapan Hanin. Ia langsung pergi meninggalkannya.


Keesokan harinya,


Fafa tidak pulang ke rumah, ia tidur di apartemennya sendiri. Semalaman Fafa hanya berkumpul bersama Keken dan Khaffi. Mereka bermain game sampai pagi,hingga akhirnya membolos kerja.


Fafa pun melihat beberapa berita sosial media yang memperlihatkan perkelahiannya dengan bule itu, banyak pemberitaan yang menyudutkan dirinya atas dugaan perselingkuhan dan tindak kekerasan.


Navysah sudah memprediksi akan ada skandal tentang anaknya, ia menyuruh orang kepercayaan untuk meredam semua pemberitaan tentang anaknya. Navysah pun menyuruh Fafa untuk konferensi pers tentang kejadian di mall dan ia meminta Hanin untuk selalu mendampingi Fafa dimana pun berada.


Hanin menunggu Fafa karena sore ini mereka akan melakukan drama di beberapa media. Ia merasa sedikit canggung dengan banyak kamera, namun karena permintaan mama Navysah, ia akan melakukannya.


Dengan penuh keromantisan Fafa menunjukan pada media bahwa pernikahannya baik-baik saja.Ia juga menjelaskan tentang apa yang telah terjadi dan juga kedekatannya dengan Rena. Fafa pun memperlihatkan beberapa bukti bahwa dia dan Rena tidak memiliki hubungan, Fafa menunjukan foto Rena bersama pacar bulenya. Fafa sangat berterima kasih karena mendapatkan semua bukti dari orangtuanya.


"Akhirnya kelar juga." Hanin menghela nafas panjangnya dan mereka pulang kembali ke apartemen.


" Aku pergi dulu ya." Fafa pamit dengan Hanin. Ia berencana untuk pergi lagi.


"Kamu mau kemana lagi!? Kenapa sih selama tiga hari ini kamu tidak pulang! Kamu kemana Fa, mabok!" seru Hanin, ia menahan rasa kesalnya selama ini karena Fafa tidak pulang ke apartemennya. Ia juga kesal karena Fafa tidak pernah menganggap Hanin istrinya.


" Aku ingin menyendiri sebentar Nin,aku pergi dulu ya jangan nungguin aku pulang, aku pastikan bahwa aku tidak akan mabuk. " Fafa tidak menghiraukan ucapan Hanin. Ia pergi meninggalkannya dengan cepat


Hanin hanya bisa meneteskan airmatanya. Ia begitu bahagia mengingat saat konferensi pers Fafa begitu mesra merengkuhnya, menciumnya dengan lembut, mereka seolah pasangan bahagia namun nyatanya Fafa tidak pernah melakukan hal seperti itu, dia selalu cuek dan tidak perhatian saat di rumah.


"Aku memang benar - benar menyedihkan." Hanin mengusap airmatanya, ia tidak ingin menangisi pria yang tidak pernah mencintainya.


Raffa begitu sibuk karena nilai saham properti ayah Davian anjlog karena skandal Fafa. Rafa harus bolak-balik Hara dan mengurus kedua perusahaan.Sedangkan Fafa ,ia meminta cuti selama satu minggu untuk menenangkan diri. Fafa hanya tiduran dan bermain game di apartemennya sendiri.


Kinan mulai kesal karena waktu Raffa habis untuk pekerjaan. Ia ingin bermanja dengan suaminya namun Raffa begitu sibuk. Raffa selalu mencoba memberi pengertian Kinan bahwa keluarganya sedang dilanda masalah. Dan Kinan mencoba untuk mengerti.


Seminggu kemudian,


Fafa pulang ke apartemen Hanin. Suasana hatinya sudah membaik setelah liburan selama satu minggu bersama Keken dan sekarang waktunya untuk memulai dari nol, menata hidupnya kembali. Seminggu lebih tidak bertengkar dengan Hanin membuat dirinya rindu. Namun, saat ia pulang ke apartemen ia tidak menemukan seorang pun. Apartemen terlihat sepi dan Fafa mencoba menghubungi Hanin berkali-kali.


"Kok tidak diangkat ya." dengus Fafa dengan kesal. Ia masuk ke dalam kamar Hanin dan tertidur disana.


Sore hari, ia mencoba menghubungi Hanin kembali namun nomer handphonenya tidak pernah terhubung.


"Sial! jangan - jangan si Janin marah denganku." Fafa mencoba menghubungi ibunya dan bertanya tentang Hanin.


"Kemana saja kamu!" sembur Navysah, "Kenapa ponselmu tidak aktif."


"Fafa menenangkan diri mah, sekarang hati Fafa lebih baik. Hanin disitu nggak mah!?"


"Hanin pulang ke rumah orangtuanya, cepetan kamu bawa balik Hanin lagi, awas kalau nggak!"ancam Navysah


"Iya mah." Fafa menelan salivanya, ia begitu gemetar saat tahu istrinya pulang ke rumah orangtuanya.


"Aku harus bagaimana." gumamnya dalam hati


* **


Hujan begitu deras namun tidak menyurutkan langkah Fafa untuk menyambangi rumah orangtua Hanin. Dengan hati berdebar ia memberanikan diri untuk menemui orangtua Hanin.


Fafa mencium takzim kedua orangtua Hanin, ia juga meminta maaf karena skandal yang menimpanya.

__ADS_1


" Ayah kecewa denganmu, beraninya kamu berselingkuh dan membuat anak kami sakit hati."


"Maafkan saya, ayah." Fafa mengucapkan beberapa kali permintaan maafnya.


"Jika kamu tidak mencintai Hanin, kembalikan dia pada kami.Urus perceraian kalian segera! Ayah menitipkan Hanin padamu agar dia bahagia tapi nyatanya kamu menyakitinya." hardik pak Dewa.


Pak Dewa begitu geram saat mendengar berita tentang menantunya, ia datang ke apartemen dan mengajak Hanin untuk pulang, awalnya Hanin tidak mau namun ayahnya terus memaksa. Ia berkata jika Fafa masih menginginkan pernikahan ini pasti Fafa akan datang dan menjemput Hanin. Jika tidak, lebih baik bercerai daripada Hanin disakiti.


"Jangan ayah!! Aku tidak mau bercerai dari Hanin." Fafa kekeh mempertahankan pernikahannya. "Fafa sayang sama Hanin, ayah."


"Kalau kamu sayang anakku, pasti kamu tidak akan selingkuh!"


"Beri Fafa satu kesempatan yah, Fafa akan berubah." pintanya dengan memelas.


"Kalau kamu masih tidak berubah, maka lepaskan Hanin." tegas pak Dewa, " Dan sekarang ayah minta kamu tinggal disini selama satu minggu."


Fafa terdiam, ia tidak punya pilihan lagi. Fafa harus menerima permintaan mertuanya. Bagaimana pun Hanin istrinya, walaupun terkadang bertengkar namun dari lubuk hatinya Fafa merasa kesepian karena tidak ada Hanin selama seminggu ini.


" Kok diam! "


" Iya ayah, Fafa mau menuruti keinginan ayah, aku tidak ingin pisah dengan Hanin yah."


"Oke, ayah pegang janjimu! sekarang temui Hanin, dia ada di kamarnya."


"Iya yah." Fafa pergi menemui Hanin.


Pak Dewa tersenyum saat melihat kesungguhan Fafa untuk mempertahankan pernikahannya. Ia begitu bahagia karena Fafa datang untuk menjemput anaknya. Seminggu yang lalu kedua orangtua Fafa datang untuk meminta maaf atas skandal yang menimpa anaknya dan meminta agar Hanin tetap menjadi menantunya.


"Semoga ini awal yang baik." gumam pak Dewa dalam hati.


Hanin sejak tadi mendengarkan obrolan suami dan ayahnya, matanya berkaca-kaca saat ia mendengar bahwa Fafa sayang padanya.


"Pembohong! kata-katamu sangat manis, bilang pada ayah sayang padaku, nyatanya tidak! " gumam Hanin dalam hati. Ia bergegas masuk ke dalam kamar dan sibuk dengan pekerjaannya.


Tak ada jawaban dari Hanin, ia masih sibuk dengan laptopnya


"Lihat saja, panggil aku saja Janin tidak ada perubahan. Ngeselin!" gumam Hanin dalam hati


"Janin, aku datang. Kamu lagi ngapain?!" Fafa duduk di sisi ranjang dan melihat Hanin yang masih diam padanya.


"Janin, main yuk." goda Fafa, ia melihat Hanin yang begitu sexy dengan baju tidur berbahan satin yang tipis dan celana pendek yang selalu memperlihatkan paha mulusnya.


" Glek! " Fafa menelan salivanya


"Tujuanku kesini agar Hanin pulang dan rukun kembali, bukan untuk unboxing." gumam Fafa dalam hati, ia mencoba menahan hasratnya agar tidak menyentuh Hanin.


"Maafkan aku Nin." Fafa mengelus rambut Hanin dengan lembut


Hanin membereskan laptopnya dan membersihkan make up nya yang sempat tercecer.


"Nin..." Fafa memeluk Hanin dari belakang, ia mengerti Hanin marah padanya. " Maafkan aku ya? "


"Lepaskan! tidak perlu meminta maaf padaku." Hanin melepaskan pelukan Fafa dan kembali memasukan laptopnya ke dalam tas kerjanya.


" Sayang.." bisik Fafa di telinga Hanin


Namun Hanin mendelik saat mendengar Fafa memanggilnya sayang. "Mulutmu manis banget ya, tapi tidak sesuai dengan kenyataan! kamu selalu cuek dan tidak peduli denganku jadi jangan panggil aku sayang karena itu tidak akan berpengaruh padaku!" sentaknya


"Ya sudah aku minta maaf." ucap Fafa dengan menyesal, ia berkali-kali mengucapkan maaf agar Hanin mau memaafkannya. " Nin, aku bawa coklat dan bunga untukmu. Sebentar ya, aku ambil dulu di mobil."


Fafa pergi dari kamarnya dan mengambil buket bunga mawar merah yang begitu besar untuk Hanin.


"Akulah pangeran Fafa, tidak ada yang bisa menolak pesonaku dan kini saatnya aku mengambil hati Hanin agar dia mau pulang denganku" gumam Fafa dalam hati. Sebelum Fafa pergi ke rumah orangtua Hanin, ia membawakan beberapa makanan untuk keluarganya dan membeli buket besar bunga mawar merah serta coklat untuk Hanin.

__ADS_1


"Ini untukmu Nin..." Fafa memberikan bunga mawar itu ke arah Hanin, " Diterima ya, aku sudah kehujanan lho saat aku membelinya untukmu."


"Besar sekali buketnya." Hanin terperangah dengan bunga pemberian Fafa


"Coklatnya jangan lupa dimakan." ucap Fafa kembali.


Hanin tersenyum lebar saat menerima pemberian Fafa. Rasa kesalnya seketika hilang. Namun, ia kembali teringat bahwa Fafa tidak mencintainya. Hanin takut ini hanyalah rayuan sesaat agar Hanin merasa senang.


"Fafa, aku ingin bicara serius padamu."


"Apa." Fafa duduk di sisi ranjang dan menarik tangan Hanin agar mendekat kearahnya. Hanin duduk di pangkuan Fafa, dan dengan lembut Fafa merapikan rambut Hanin yang berantakan.


"Kamu mau ngomong apa?" bisiknya dengan lembut


"Apaan sih Fa! Geli tahu!" Hanin ingin beranjak dari pangkuan Fafa namun tangannya dicekal.


"Jangan bergerak, nanti ada yang bangun." hembusan nafas Fafa begitu terasa hangat di telinga Hanin.


" Fafa, kamu kesini mau ngapain? Jika kamu ingin mengajakku pulang, aku tak mau!" ucap Hanin


"Aku mau disini bersama istriku, selalu bersama istriku."


"Istri?! Kamu ingat kalau kamu punya istri, sudah tidak amnesia?!"


"Iya maaf." Fafa mencium lembut tangan Hanin berkali-kali. Fafa yang sudah mahir dalam merayu wanita kini mulai melancarkan aksinya.


"Aku sayang kamu Nin, maaf kalau selama ini aku kurang perhatian denganmu dan kita selalu ribut. Maafkan aku ya." Fafa mencium pipi Hanin dengan lembut


"Bohong, kamu kan sayang Rena bukan aku!"


"Nggak Nin, aku sudah tidak ada hubungan dengan Rena. Dan sekarang aku baru tahu, kalau aku kangen dan sayang sama kamu. Kamu memang bawel, nyebelin tapi aku beneran kangen.Aku merasa kehilangan kamu Nin." deru nafas Fafa kian menghangat, ia mulai mengecup leher Hanin dengan lembut.


" Apaan, sih Fa! ..., geli Fa. "Hanin merasa geli saat Fafa menyapu seluruh lehernya, tangan Fafa merayap di pahanya sembari mengusapnya lembut.


" Nin... "suara Fafa semakin berat dan serak, ia kembali mencium bahu putih Hanin sembari tangannya menyusuri tubuh Hanin.


" Fa... "hati Hanin mulai goyah, sentuhan Fafa begitu lembut dan menggoda sehingga Hanin seolah meminta lebih dan lebih.


Fafa mencium bibir Hanin begitu lembut dan Hanin mulai membalasnya. Nafas mereka mulai saling memburu dan saling membelit.


Fafa pun mulai tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya, hasratnya mulai membara saat tangannya menyelusup di balik baju tipis Hanin, ia pun meremas buah dada istrinya.


Kegiatan panas seperti saat di kantor terulang kembali, namun kali ini mereka melakukan karena halal.


"Nin..." suara serak Fafa kembali terdengar, ia merebahkan Hanin di atas ranjang. "Bolehkah aku menyentuhmu?" tanyanya


Ingin rasanya Hanin menggelengkan kepala namun tubuhnya tidak bisa menolak perlakuan lembut suaminya, Hanin menganggukan kepala, mengiyakan permintaan suaminya.


"Yeesss..." Fafa begitu senang karena Hanin mengizinkannya.


Hujan deras yang begitu dingin namun tidak dengan sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Beberapa kali Fafa harus mendekap bibir Hanin agar tidak berteriak saat milik Fafa menghujam miliknya berkali-kali. Kamar mereka yang bersebelahan dengan kamar Halwa membuat mereka merasa kurang nyaman.


" Jangan berisik." ucap Fafa di sela - sela kegiatannya. "Jangan mencakarku." Fafa begitu kesal saat kuku Hanin mencengkram punggungnya.


"Sakit Fa! Udahan ah!" gerutu Hanin, ia merasa perih saat miliknya disentuh Fafa


"Iya, aku tahu sakit tapi ini belum selesai. Enak saja udahan! Aku mau lanjut."


"Fafa...!" teriak Hanin


Mereka ribut kembali disaat kegiatan panasnya,hingga akhirnya dimulai lagi dari awal.


Di kamar sebelah Halwa hanya bisa mendengarkan teriakan dari kakaknya, sesekali terdengar suara aneh yang begitu membuatnya merinding. "Mama....!! aku mau nikah juga mah!" seru Halwa, fikirannya kemana-mana saat mendengar ******* dari sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2