Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 44


__ADS_3

Pagi hari Davian bersama Raffa pergi untuk menuntaskan masalah yang terjadi di sekolah. Navysah tidak ikut karena besok ia akan bersiap pergi ke Semarang menjenguk ibunya.


Sepanjang perjalanan ke sekolah Raffa dan Davian hanya diam, tidak ada satu perkataan yang keluar dari mulut mereka. Aura di mobil terasa sangat dingin sehingga Pak Ari yang sedang menyetir harus beberapa kali berdehem dan beberapa kali melontarkan kalimat candaan.


Raffa kini duduk di kursi penumpang bagian depan, ia melirik Ayahnya dari spion dalam mobil, Ayahnya begitu sibuk dengan handphone dan beberapa berkas yang menumpuk di sisi kanannya.


"Kenapa lihat Ayah terus?" tanya Davian. "Baru lihat Ayah sesibuk ini" sambungnya lagi tanpa melirik anaknya.Raffa hanya diam dan menghembuskan nafas kasarnya, ia membuang wajahnya kearah jendela mobil sampingnya.


"Masih marah sama Ayah?" tanya Davian, "Kalau kamu marah sama Ayah itu wajar dan Ayah tidak akan marah sama kamu" sambungnya lagi.


"Belajarlah menjadi seperti Ayah sehari saja, maka kamu akan tahu bagaimana rasanya lelah mencari uang dengan segala tanggung jawab yang ada di pundakmu. Semakin berumur, akan sangat terasa lelahnya " ia sengaja menekankan kalimat terakhir agar sang anak tahu betapa ia ingin segera pensiun dari pekerjaannya.


Raffa hanya diam tidak ingin menanggapi ucapan Ayahnya,di satu sisi ia tidak tega melihat Ayahnya bekerja dengan banyak tumpukan berkas. Ia sebenarnya tahu, setiap hari Ayahnya pulang kerja, ia masih harus melanjutkan pekerjaannya hingga tengah malam berada di ruang kerjanya. Terkadang Ayahnya jarang berkumpul dengan adik-adiknya karena terlalu sibuk. Namun, di sisi lain ego nya masih kuat. Cita - cita nya masih ingin dia raih.


"Mama akan ke Semarang karena nenek sakit keras, Ayah masih banyak pekerjaan di kantor. Semarah apapun kamu sama Ayah jangan sampai kamu melupakan adik-adik,mereka butuh kamu.Ayah titip mereka, jagalah adik-adik dan kamu jangan pernah pergi dari rumah lagi" sambungnya.


"Kamu boleh tidak bertemu Ayah tapi ada Mama dan adik-adik yang selalu menunggumu pulang" ucap lagi, ia membuang wajahnya ke arah lain.


"Ayah menyebalkan." satu kalimat yang keluar dari bibir anaknya, "Selalu tidak mau kalah" ia menggerucutkan bibirnya.


"Memang Ayah tidak pernah kalah" balasnya sembari menggulum senyum, ia sangat senang anaknya mau berbicara dengannya

__ADS_1


"Bohong..!, Memang Ayah tidak pernah kalah?! Setiap orang pasti pernah mengalami kekalahan yah" protesnya.


" Ayah selalu kalah, saat ibumu selalu membelamu.Dia lebih sayang kamu daripada Ayah, saat dia koma dulu ayah selalu disampingnya namun dia hanya bangun setelah mendengar suaramu" Davian kembali mengingat kejadian terdulu saat Navysah melahirkan putra kembarnya, ia berada di titik paling rapuh saat istrinya terbaring koma selama beberapa hari.


"Terserah kamu mau kuliah jurusan apa, Ayah tidak akan memaksa lagi. Ayah tidak ingin kamu tertekan seperti Antoni, Ayah dan mama ingin kamu bahagia. Jika kamu ingin animasi kuliahlah dengan benar, Ayah akan bekerja keras sampai ada seseorang yang menggantikan, mungkin Fafa "ia menghela nafasnya." Walaupun ayah masih belum percaya dengan kemampuannya "ia menatap nanar ke arah jendela.


Raffa menoleh ke arah belakang, ia melihat wajah Ayahnya yang masih terlihat gagah dan mempesona.Ia tidak menyangka Ayahnya akan merestuinya untuk mengejar cita- citanya.Namun, di satu sisi ia berpikir Fafa masih sangat muda dan jika Ayahnya belum percaya dengannya itu wajar karena tabiat Fafa yang slengean, rusuh dan suka semaunya sendiri.


"Mau jadi apa perusahaan jika dipegang Fafa." gumam Raffa dalam hati, "Mungkin jika Alif yang memimpin akan sedikit melegakan karena Alif lebih cekatan dan pintar dari Fafa" ia menghembuskan nafas kasarnya.


Mereka sampai di ruang guru dan bertemu dengan ibu dari Antoni, mereka datang hanya sekedar silaturahmi karena Raffa sudah memaafkan kesalahan Antoni.


" Terimakasih untuk semuanya" ucap Antoni yang duduk di rerumputan sembari memantikan korek api ke rokoknya. Ia menghembuskan nafasnya ke udara hingga kepulan asap terlihat jelas.


"Dasar bodoh..!" ucap Raffa, " Seharusnya kau meminta maaf padaku terlebih dahulu" ucapnya lagi , " Dan asal kau tahu di sekolah dilarang merokok!" ia menarik rokok dari mulut Antoni dan menginjaknya hingga remuk.


"Kau Menyebalkan..!" cebik Antoni,ia menadahkan wajahnya ke atas, sinar matahari terlihat terik namun tidak menyurutkan dirinya untuk berpindah tempat. "Sinar matahari ini seindah hidupku hari ini, Hah.... begitu menyegarkan " ia menghembuskan nafasnya sembari merentangkan tangannya.


Raffa hanya melirik Antoni, semalam mama Navysah bercerita tentang kehidupan Antoni yang sebenarnya, dan mamanya selalu mengingatkan agar ia harus bersikap baik pada Antoni.


"Dia hanya korban Nak"

__ADS_1


" Maafkan dia, yang sudah berlalu ya sudah"


" Jangan dendam ya Raff, ia seperti itu karena perlakuan Ayahnya"


" Raffa, kamu menyebalkan" ucapan itu kembali keluar di bibir Antoni.


"Aku sangat tampan bukan menyebalkan" ia menggulum senyum dan menadahkan wajahnya ke langit.


"Cih..!" ia mendengus kesal. " Aku kesal denganmu karena kamu terlalu sabar dengan perlakuanku, seharusnya kamu marah saat pertama kali aku mengempeskan ban sepedamu. Tapi ini berkali-kali kamu tidak merespon. Aku pun sudah menghinamu tapi kamu masih tidak bergeming. Saat ada kesempatan aku terpaksa mendorong adikmu, karena aku tahu kamu sayang dengan adik - adikmu. Ada yah manusia sesabar dirimu" cebiknya , "Kalau aku jadi kamu, saat pertama ban ku kempes akan kucari pelaku sampai kelobang semut" sambungnya lagi.Ia benar - benar kesal dengan sifat Raffa yang kelewat sabar.


Raffa hanya tersenyum mendengar ucapan Antoni, " Kenapa kamu melakukan ini semua?, kenapa kamu selalu membully anak-anak lainnya padahal kamu anak yang baik dan sayang pada ibumu" tanyanya.


"Hah... Entahlah.." ia menghembuskan nafas kasarnya. "Mungkin, mmm... Aku hanya ingin perhatian dari Ayah karena dia selalu sibuk atau mungkin juga itu sebagai pelampiasan diriku yang selalu dimarahi Ayah saat di rumah."


"Kenapa Aku?" tanya Raffa, ia ingin tahu kenapa harus dia yang menjadi target perundungan.


Antoni menghela nafas kasarnya,"Alasan pertama karena aku iri denganmu. Alasan kedua karena kamu anak Davian Ahmad"


Raffa mengenyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan ucapan Antoni.


"Hei bodoh!, aku iri denganmu karena Ayah tirimu sangat baik dan menyayangimu,itu terlihat dari sorot matanya yang selalu melihatmu dengan penuh cinta, sedangkan aku" ia menjeda ucapannya, "Ayahku sangat berubah saat kakek meninggal, aku tidak pernah mendapatkan pelukan lagi darinya. Yang dia tahu, aku harus menjadi juara satu dan menjadi dokter penerus keluarga" ia menutup matanya sejenak membayangkan wajah Ayahnya yang begitu ia rindukan. "Aku sangat merindukan Ayah yang dahulu yang selalu memelukku sebelum tidur" lirihnya. "Ayah yang selalu tersenyum dan melihat kami dengan penuh cinta tapi sekarang tidak lagi, yang ada hanya amarah dan makian,tamparan dan perlakuan kasar" ia menghembuskan nafas kasarnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2