
Universitas S, Inggris
Di sebuah Universitas S terhampar begitu luas taman bunga dan halaman yang begitu indah. Bangunan kuno terlihat dengan jelas dan beberapa diantara bangunan itu sudah direnovasi namun tidak meninggalkan seni arsiteknya, yang terlihat begitu indah.
"Kak Raffa!" teriak Hanin, Ia berjalan bersama Rio dengan membawa beberapa makanan dan buku.Hanin melirik Jihan yang sedang menyuapi Raffa dengan sangat telaten. Jihan teman akrab Raffa dan Rio, mereka satu Universitas.
"Aku mencarimu dan membawa makanan ini tapi kak Raffa lagi makan." cebik Hanin, sembari memanyunkan bibirnya.
"Kakak bosen di rumah terus, jadi main kesini." ujar Raffa
"Yasudah Nin, makanannya buat kak Rio lagi ya hehehe." pinta Rio dengan memainkan alisnya naik turun
"Jangan, enak saja. Mending aku yang makan. Kak Rio sudah makan burger dua bungkus juga masih lapar saja. Ini perut atau tong sampah, nggak ada kenyangnya sama sekali." Hanin mencubit perut Rio dengan gemas hingga Rio merasa geli.
Raffa dan Jihan hanya tersenyum melihat dua orang yang selalu berseteru dengan hal-hal kecil.
" Kak Raffa, hari ini check up ke rumah sakit kan? Aku akan mengantarmu "Hanin langsung duduk disamping Raffa tanpa permisi dan menatap Jihan dengan jengah. Walaupun hanya berteman Hanin tahu Jihan menyukai Raffa, dari sikap dan tingkah lakunya sudah menjelaskan tentang perasaan Jihan pada Raffa.
" Tidak perlu, biar saya yang mengantar Raffa. Lebih baik kamu kuliah saja." Jihan langsung memotong pembicaraan Hanin. Ia tidak ingin ada perempuan lain yang dekat dengan Raffa. Jihan tahu Raffa sudah bertunangan dengan seorang gadis bernama Kinan, namun intensnya mereka bertemu di Universitas dan di tempat kerja menumbuhkan rasa cintanya pada Raffa.
"Biar aku saja!," tegas Hanin, "Aku yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa kak Raffa, gara-gara aku kakak seperti ini." ucap Hanin dengan menyesal, Ia menatap Raffa dengan iba.Tangan sebelah kirinya di gips dan Raffa harus menggunakan tongkat untuk berjalan, Menyedihkan.
" Biar aku saja "pinta Jihan kembali
Rio melihat kedua perempuan yang saling berebut mengantarkan Raffa untuk pergi ke rumah sakit. Ia tahu Jihan mempunyai perasaan pada sahabatnya namun Raffa tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar sahabat.
" Biar Jihan yang akan mengantarkan Raffa." ucap Rio
"Tapi aku ing... Mmph" belum sempat Hanin melanjutkan ucapannya, Rio langsung membekap mulutnya.Hanin mendegus kesal karena Rio lebih membela Jihan.
" Raffa, apa kau yakin aku akan pulang ke Indonesia terlebih dahulu?" tanya Rio
"Aku yakin, kamu pulanglah dan bertemu dengan Mami Imel. Dia yang mengurus semuanya,sedangkan aku akan tetap disini. Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku."
"Kamu tenang saja Yo, ada aku yang akan merawat Raffa." Jihan tersenyum lebar dan merasa senang karena setelah wisuda Raffa tetap di Inggris bersamanya
"Itu kan mau kamu han. Ingat, Raffa sudah bertunangan lebih baik kamu cari yang lain." sindir Rio, Ia tahu Jihan gadis yang baik walaupun menaruh hati dengan Raffa, Jihan tidak berniat untuk merebutnya dari Kinan.
Jihan tersenyum kecut, jangankan berniat untuk merebut Raffa. Bahkan cincin pertunangan Raffa selalu dipakai di jari manisnya,seolah tanda bahwa dia milik seseorang apalagi saat Raffa kecelakaan parah saat itu satu nama yang selalu ia ucapkan adalah Kinan.
Flashback on (Enam bulan lalu)
Malam itu musim salju, Raffa masih melakukan tugas part time di sebuah restoran siap saji. Rio tidak masuk kerja karena saat itu dia sedang patah hati dengan seorang gadis bule. Cinta mereka kandas karena sang gadis lebih memilih pria lain untuk menikah dengannya. Menyedihkan, selama empat tahun bersama yang tersisa hanya serpihan kenangan.
__ADS_1
Hanin sengaja memilih Inggris untuk masuk kuliah disana, ia selalu berkomunikasi dengan intens bersama Raffa dan Rio hingga akhirnya ia mau kuliah dengan semangat di luar negeri. Ia sudah menganggap Raffa dan Rio seperti kakaknya sendiri sehingga bu Ria pun merasa aman jika anaknya bisa bersama kedua lelaki yang ia kenal.
"Raffa, Ayo kita pulang." Jihan yang saat ini satu shift dengannya mengajak untuk pulang bersama.
"Ayo." Raffa mengambil tas dan jaketnya, Ia berjalan bersama Jihan menyusuri jalanan di Inggris, seperti biasanya saat mereka pulang kerja.
Canda dan tawa mereka lontarkan sepanjang jalan, Jihan gadis yang suka bercanda dan gadis yang ramah sehingga setiap orang yang berada di dekatnya akan merasa nyaman.
Tanpa sengaja Jihan memegang tangan Raffa, rasa dingin begitu menusuk badannya. Ia melihat sebuah cincin yang selalu tersemat di jari Raffa dan ia melihatnya dari dekat.
"Cincinnya bagus sekali, apa kau tidak ada niat untuk melepaskannya." goda Jihan sembari tersenyum
"Tidak, ini cincin pertunangan kami.Dengan memakainya aku membatasi diriku dengan wanita lain, bahwa ada seseorang yang selalu menungguku untuk pulang. Seseorang yang cerewet tapi terkadang membuatku selalu pusing." Raffa menggulum senyum saat membicarakan gadis tunangannya
" Sepertinya aku tidak punya kesempatan untuk memilikimu " goda Jihan kembali," Andai saja aku mengenalmu lebih dahulu " lirih Jihan namun Raffa masih bisa mendengarnya.
" Kamu itu ada-ada saja, kita berteman lebih dari enam tahun. Aku menyukaimu sebagai teman tidak lebih. "Raffa mengacak rambut Jihan yang lurus
" Seandainya saja Raffa, kita sudah bersama selama ini. Apa kau tidak mempunyai perasaan lebih untukku? Apa kau begitu mencintainya? "tanya Jihan, matanya berkaca - kaca melihat pria yang ia suka tidak pernah meresponnya sama sekali, hanya sebatas teman .
" Kita hanya teman tidak lebih, kamu gadis baik carilah lelaki yang lebih baik dariku. Aku tidak ingin menyakiti gadisku yang sudah menungguku selama ini. Terlebih lagi, dia yang selalu menjaga orang tua dan adik-adikku tanpa dia aku bisa apa semuanya tidak akan semudah ini. " balas Raffa," Aku minta maaf tidak bisa menerima perasaanmu Jihan. "
" Apa kau mencintainya? "tanya Jihan kembali.
" Aku juga tidak tahu apa aku bisa membahagiakan dia, sedangkan bisnisku di Indonesia baru seumur jagung. Aku harus cari modal dulu agar perusahaanku lancar dan bisa memberikan dia kehidupan yang baik agar dia tidak merasa kekurangan satu apapun. "
" Rio akan pulang terlebih dahulu, dia akan mengurus semuanya untukku"sambung Raffa kembali
"Gadis itu pasti sangat beruntung bisa memiliki pria yang bertanggung jawab sepertimu. Raffa bolehkah aku memelukmu?" Jihan merentangkan tangannya dan Raffa memeluknya sebagai seorang teman.
"Raffa, walaupun bibirmu tidak berkata jujur tentang perasaanmu padanya tapi aku tahu kamu menyimpan rasa cinta untuk gadis itu." gumam Jihan dalam hati.
"Drt... Drt... " suar handphone Raffa bergetar dan satu nama tertera di handphonenya, Hanin
Ia mendengarkan suara Hanin yang meracau seperti orang mabuk dan suara musik yang begitu keras.
"Oke aku kesana. Kamu disitu saja jangan kemana - mana sebelum kakak datang." pinta Raffa
Ia bergegas menyetop taxi untuk pergi ke suatu club malam.
"Aku ikut." Jihan langsung duduk di samping Raffa dan menuju club malam. Tanpa banyak bertanya Jihan mengerti bahwa Raffa sedang cemas dan khawatir. Beberapa kali ia terlihat menghembuskan nafasnya.
"Kamu tenanglah, Hanin pasti baik-baik saja." Jihan mengusap lengan Raffa dengan lembut.
__ADS_1
"Aku hanya khawatir Hanin kenapa - napa, kamu tahu sendiri club malam disini seperti apa. Ibunya menitipkan dia padaku dan Rio, dia sudah seperti adik bagi kami."
Red Club,
Hanin
Hanin merasa pusing saat dia menengak beberapa botol minuman. Ia diajak beberapa teman kuliahnya untuk sekedar menghabiskan malam dengan bermain di sebuah club malam.
Awalnya ia tidak ingin pergi, namun temannya memaksa untuk bermain sebentar sekedar merayakan pesta karena tahun ini mereka bisa masuk salah satu universitas terbaik.
Beberapa pria mencoba untuk mendekatinya dan mencoba untuk bersikap senonoh padanya. Di sela-sela dirinya yang masih sedikit tersadar ia menelepon Raffa untuk menjemputnya di club.
Ia merasa tidak nyaman saat pria lain mencoba untuk menciumnya. Hingga Hanin bergegas keluar dari club dengan tubuh sempoyongan.
Ia berjalan menyusuri jalan agar terlepas dari pria bule yang memaksa untuk ikut pergi bersamanya. Ia masih mencoba untuk menyadarkan dirinya agar bisa kembali fokus dan tersadar, namun saat dia menyebrang di sebuah jalan tiba-tiba saja sebuah mobil akan menabraknya dengan keras.
"Ahhhhhh...." teriak Hanin, ia terlempar beberapa meter dari jalan dan terbentur aspal jalan.
"Raffa....!!!" teriak Jihan, ia berlari tergesa-gesa melihat Raffa yang berlumuran darah karena berusaha menyelamatkan Hanin. Naas Raffa tidak sempat menjauh dari tragedi tabrakan tersebut.
Sejak keluar dari taxi mereka melihat Hanin yang menyebrang tanpa melihat kendaraan sekitarnya. Raffa langsung berlari kencang untuk menyelamatkan Hanin.
"Raffa...." teriak Jihan, ia mencoba memeluk Raffa dan merogoh sakunya untuk menelepon ambulans.
"Raffa bertahanlah...kumohon"Jihan berurai airmata melihat Raffa penuh dengan darah. Pakaian yang melekat pada tubuhnya kini basah dengan cairan berwarna merah.
" Raffa... Kumohon tetaplah sadar. Please help me. "teriak Jihan pada beberapa orang yang lalu lalang melintas.
Jihan melihat Hanin yang masih tergeletak di pinggir jalan, ia tidak peduli. Baginya saat ini Raffa lebih membutuhkan pertolongan daripada Hanin.
Raffa sudah tidak berdaya, matanya mulai sayu menahan sakit akibat kecelakaan yang baru saja ia alami.Ingatanya kembali beberapa tahun silam saat dia kecil dan selalu ikut kemana pun ibunya berada, senyuman ibunya yang selalu dia ingat, kenangan bersama keluarganya dan adik-adik serta seorang gadis yang selalu cerewet mengganggu dirinya.
"Mama, Kinan, maafkan aku" lirih Raffa, nafasnya mulai tersengal. Ia mulai memejamkan matanya, merasa tidak kuat.
"Raffa, Please bertahanlah. Kinan sedang menunggumu disana, Please jangan tinggalkan aku, ayo buka matamu Raffa ." seru Jihan yang masih berurai airmata dan tidak lama kemudian mobil ambulans datang dengan cepat.
"Raffa....!!" teriak Jihan, "Ayo bangun, buka matamu! " Namun Raffa tidak bergeming, ia tetap diam tidak merespon ucapan Jihan.
* **
Assalamualaikum,
Mohon maaf jika update nya jarang, saya sedang sibuk kerja di dunia nyata π, sabar ya gaes. InsyaAllah jika ada waktu Author akan berusaha update walaupun seminggu 2xπ, mohon bersabar βΊοΈβ€οΈ
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote and comment agar aku semangat nulisnya. Matursuwun πππ