
Raffa pergi dari rumah dan sekarang ia duduk disebuah halte, pikirannya kini kacau mengingat ibunya menangis dan meminta ia tetap tinggal dirumah.Disatu sisi ia tidak ingin melihat ibunya sedih, namun disisi lain ego dan amarah mengalahkan segalanya.
"Maafkan Raffa mah" gumamnya dalam hati.Ia mengusap cairan bening di sudut matanya.
Malam semakin larut dan dia tidak tahu akan pergi kemana, yang ada dipikiranya hanya ingin menjauh dari rumah untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau.
"Memangnya buat perusahaan semudah membalikkan telapak tangan"
" Jadikan itu hobi bukan pekerjaan utama"
"Ayah sudah jatuh bangun membangun bisnis ini, kalau saat itu perusahaan Ayah bangkrut, sudah tentu kita tinggal di kontrakan dan tidak mungkin kalian hidup senyaman ini"
" Kamu anak pertama jadilah panutan untuk adik - adikmu"
"Hanya padamu Ayah percaya dan berharap lebih"
Semua perkataan Ayahnya masih terniang jelas di telinganya ,harapan seorang Ayah dan juga cibiran bahwa ia tidak akan mudah meraih mimpinya.
"Aku harus bagaimana ya allah" lirihnya, "Apa mama baik-baik saja sekarang "ia mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak rambutnya.Sebelum pergi dari rumah ia sempat meninggalkan semua kartu kredit dan atm pemberian ibunya. Raffa hanya membawa satu atm miliknya sendiri, hasil dari ia bekerja dan hadiah dari lomba animasi bulan lalu.
Ia pun teringat dengan Rio dan saat itu juga ia segera menghubunginya.
" Gue mau nginep di rumah lu, boleh nggak?" tanya Raffa
"Boleh, kesini saja" jawab Rio diujung telepon.
Dan Raffa segera menonaktifkan ponselnya.
Mungkin saat ini tinggal bersama Rio adalah pilihan terbaik untuk sementara waktu.
* **
__ADS_1
Ia berada di kamar kecil milik sahabatnya, kedua orang tua Rio merasa terkejut dengan penampilan Raffa yang acak-acakan dan membawa tas ranselnya. Mereka ingin bertanya lebih jauh namun Rio sudah memberi kode untuk tidak mencampuri urusan sahabatnya.
Di dalam kamar pun Rio tidak banyak bicara. Ia tahu sahabatnya mempunyai masalah walaupun Raffa tidak bercerita padanya.Ia hanya menyarankan untuk tidur dan besok sekolah seperti biasa.
Berada di kamar Rio sedikit menyadarkan dirinya, "Mungkin jika saat itu bangkrut pasti akan tinggal di kamar yang seperti ini. Sudah pasti seperti Rio yang harus bekerja untuk sedikit meringankan beban keluarganya dan pasti adik-adik tidak akan hidup senyaman ini" gumamnya dalam hati, ia melihat langit - langit rumah Rio. Ia membolak - balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, pikirannya berkelana tidak bisa memejamkan matanya dan hanya mampu menghembuskan nafas kasarnya berulang kali.
"Kamu kenapa?, Aku tahu kamu ada masalah. Jika mau katakan padaku agar perasaanmu sedikit lega" ucap Rio sembari memejamkan matanya, ia selalu mendengar hembusan nafas kasar dari sahabatnya. Ranjang yang sempit sungguh sangat terasa jika ada seseorang yang bergerak kesana - kemari dengan tidak nyaman.
"Maaf Raff, tempat tidurku sempit mungkin kamu tidak nyaman untuk tidur disini"
"Bukan seperti itu yo, bukan karena ranjangnya" ucap Raffa, ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dirumahnya, pertengkaran dengan Ayahnya membuat dirinya sulit tidur. Bukan karena dia menyesal meninggalkan rumah tapi karena ia risau dengan keadaan ibunya yang terakhir terlihat sangat rapuh dan menangisi nya.
"Besok kamu pulang saja, lihat keadaan ibumu" saran Rio
"Aku nggak mau pulang, aku masih ingin disini. Besok bilang ke Om Ari, tolong lihat keadaan mamaku ya yo tapi jangan bilang mama kalau aku disini" pintanya
"Oke, besok gue ngomong ke Ayahku dulu, sekarang tidurlah"
* **
"Ibu dirumah, saat ini tensi darah ibu naik. Tolong jangan banyak pikiran bu, minum obat yang teratur dan istirahat yang cukup, kurangi konsumsi garam, atur pola hidup sehat ya bu" ucap sang dokter. Ia menuliskan beberapa resep obat dan memberikanya pada Davian "Ini pak tolong ditebus, saya permisi dulu"
"Oke, Terimakasih dok" balasnya
"Mah, mamah jangan sakit mah. Cepet sembuh ya mah " ucap Alif dan Fafa bersamaan, ia memeluk ibunya. Saat Ibunya pingsan Fafa bergegas pergi ke ruangan Ayahnya sedangkan Alif mengecek nafas di hidung dan denyut nadi ibunya.Ia takut ibunya terjadi apa-apa.
" Mama tidak apa-apa sayang, "Navysah membelai kedua rambut anaknya." Kalian bobo ya sudah malam besok sekolah "pintanya.
" Fafa mau disini saja sama mama"ia merengek dan memeluk kembali tubuh ibunya.
"Alif juga mau disini" ucapnya, ia memeluk ibunya juga. Ia sangat khawatir, ini pertama kalinya ia melihat ibunya pingsan.
__ADS_1
"Ehem.. Ehem" Davian berdehem, ia tidak punya ruang untuk sekedar mengecek kondisi Navysah, kedua anaknya sangat mendominasi tubuh istrinya. Ia tidak menyangka saat ia berdehem malah mendapat tatapan tajam dari kedua anaknya saat ini, seolah si kembar ingin menelannya hidup - hidup.
"Apa - apaan bocil ini, beraninya menatapku seperti ini.Tatapan menyalang saat ibunya diganggu orang dan merasa tidak terima" gumamnya dalam hati.
"Ayah jangan disini, biar Alif dan Fafa yang jagain mama" seru Alif
"Ayah jahat!, Mas Raffa pergi pasti karena Ayah dan mama seperti ini karena Ayah juga" sambung Fafa dengan nada tinggi.
"Kalian jangan sok tahu, pergilah ke kamar masing - masing biar sekarang Ayah yang jagain mama. Besok kalian sekolah" Davian mencoba bersikap lembut pada anaknya, ia tidak ingin marah dan menambah ruwet masalah hari ini.
"Nggak mau..!!" jawab mereka dengan kompak. Mereka tetap memeluk ibunya disisi kanan dan kiri.
"Kedua bocah tengik ini benar-benar mirip denganku, keras kepala dan tatapan nya itu seperti tatapanku saat kecil, tidak akan terima saat orang yang disayanginya kini tersakiti" gumamnya dalam hati.
"Fafa sudah telepon mas Raffa tapi handphone dia tidak aktif" ia mengotak atik handphone kembali dan hanya terdengar suara operator perempuan.
Navysah mengingat kembali anak sulungnya yang pergi dari rumah, airmatanya kini meluncur begitu saja "Raffa, anakku!. Kamu dimana Nak " lirihnya.
"Fafa!, Alif!.. pergilah ke kamar kalian masing-masing" pinta Davian, ia melotot kearah anak kembarnya. Ia tidak ingin istrinya sedih mengingat kembali Raffa yang pergi dari rumah.
Si kembar langsung beranjak dari ranjang ibunya, ketika Ayahnya sudah melotot dan menatapnya dengan tajam seolah itu tanda bahaya dan mereka mau tidak mau harus melaksanakan perintahnya.
Davian merebahkan dirinya disamping Navysah, namun istrinya langsung membelakangi dirinya.
"Aku tahu kamu marah padaku, maaf" ia memeluk istrinya dari belakang.
Ia menghela nafas kasarnya "Aku melakukan semua ini demi kebaikan dia dan untuk keluarga ini. Kamu tidurlah, jangan banyak pikiran" sambungnya lagi.
Navysah tidak menjawab, ia bergegas keluar dari kamarnya dan lebih memilih tidur bersama princess kembar. Ia merasa lebih tenang tidur bersama anak-anaknya daripada dengan suaminya. Sebenarnya ia tahu apa yang dilakukan suaminya semata-mata untuk keluarga namun disisi lain hatinya berkecambuk melihat Raffa yang selama ini penurut dan tidak banyak menuntut harus melepaskan semua mimpinya.
"Ibu macam apa diriku ini, cita - cita anakku saja tidak bisa aku penuhi" lirihnya. Dan ia mulai memejamkan matanya setelah lelah menangis.
__ADS_1