
Anggrek melihat Fafa masih diam dan melamun. Sejak Hanin resign pagi tadi, Fafa memimpin rapat sendiri. Ia terlihat gugup karena Hanin tidak menyiapkan materi untuk dibahas dalam rapat.
Ini pertama kalinya Anggrek melihat Fafa yang pendiam, ia melihat banyak berkas yang menumpuk di meja Fafa tanpa disentuh olehnya.
"Fafa, sampai kapan kamu akan melamun?"
Fafa menghampiri Anggrek dan duduk disampingnya.
"Hanin marah padaku ngek, padahal aku cuma bercanda dan biasanya juga dia tidak pernah marah."
"Fafa, tidak semua orang suka dengan candaanmu,contohnya aku. Dulu aku sangat kesal karena kamu selalu panggil aku bengek bukan anggrek. Tapi seiring berjalannya waktu aku sudah terbiasa dengan julukan itu."
"Kamu marah denganku?"
"Tidak, karena aku tahu kamu suka bercanda. Terkadang kita harus menempatkan diri, ada kalanya kita bercanda. Ada kalanya kita harus serius."
"Aku merasa ini semua tidak adil bagiku ngek." lirih Fafa, " Aku memang selalu membuat Hanin kesal dengan tingkahku.Aku benci berada di kantor ini.Aku hanya ingin bekerja dengan hatiku, aku ingin kembali menjadi yutuber. Aku suka musik, aku suka ngereview makanan. Aku suka dengan itu, bukan dengan berkas-berkas yang menumpuk tidak jelas di kantor ini" Fafa mulai mengeluarkan semua isi hatinya, ia ingin Anggrek tahu keinginan Fafa.
"Aku tahu." jawabnya. "Fafa, terkadang kita harus mengalah dengan orangtua. Mereka lebih tahu apa yang terbaik untuk kita." Anggrek mencoba menenangkan hati Fafa.
"Kamu masih bisa kok jadi yutuber, bisa bermusik asal kamu bisa membagi waktu.Weekend kamu bisa ngamen di Cafe Om Davian atau kamu bisa kulineran di hari libur. Semuanya bisa diatur Fafa."
"Tapi waktuku hanya sedikit untuk melakukan itu." Fafa masih menolak dengan saran Anggrek.
"Kamu sudah dewasa, harus tahu mana yang hobi dan mana yang kewajiban.Memangnya kamu tidak ingin menikahi anak gadis orang. Kalau kamu tidak punya pekerjaan yang jelas mana ada orang mau menikahkan anaknya denganmu."
"Yasudah, aku menikah denganmu saja." Fafa tersenyum dan menaik turunkan alisnya menggoda Anggrek.
"Plak!" Anggrek memukul lengan Fafa dengan gemas, disaat dirinya bicara serius Fafa hanya mengganggapnya gurauan.
"Serius Fafa.Kalau orang lagi bicara serius ya kamu harus serius bukan bercanda." gerutu Anggrek.
"Aku juga serius ngek, kenapa sih orang lain tidak percaya kalau aku lagi bicara serius.Mau nggak nikah sama aku"
"Nggak lucu!" Anggrek berdecak kesal.
"Tuh kan, kamu yang sudah lama kenal aku aja nggak bisa bedain mana yang bercanda dan mana yang serius apalagi orang lain."
"Bukan begitu Fa, maksud aku..." belum sempat Anggrek meneruskan ucapannya Fafa langsung memotong.
"Karena Alif." Fafa menatap wajah Anggrek dengan intens, "Iya kan karena kamu suka dengan Alif bukan denganku." Fafa tersenyum kecut.
"Fafa, maaf..." lirih Anggrek. Ia menggigit bibir bawahnya merasa tidak enak. "Maafkan aku karena menolak perasaanmu."
"Sudahlah, itu masa lalu." Fafa teringat kembali saat dirinya selalu mengajak Anggrek jalan namun selalu ditolak. Anggrek lebih suka mengikuti kemanapun Alif berada entah itu ke perpustakaan, toko buku ataupun taman.
"Tidak perlu minta maaf, karena kamu dan Alif memang satu frekuensi. Sama-sama kutu buku tidak seperti diriku yang selalu bermain. Alif selalu lebih baik dariku." Fafa tersenyum kecut. "Semoga kamu bahagia bisa bersama Alif."
"Fafa..." Anggrek berkaca-kaca, ini pertama kalinya Anggrek melihat Fafa yang berbeda, ucapanya begitu tulus mendoakan dirinya.
"Fafa, jangan pernah kamu bicara bahwa Alif lebih baik darimu. Kamu punya sesuatu yang spesial yang tidak dimiliki Alif. Kamu bisa memberi warna di dalam keluargamu, selalu membuat orang di sekitarmu tertawa dan menolong mereka yang kesusahan. Kamu juga multi talent, kamu bisa melakukan semua hal sedangkan Alif tidak. "
" Tapi tidak semua orang mengapresiasi kerja kerasku. Hanya mama Navysah yang tahu diriku, menyayangiku, tidak pernah membedakan diriku dengan Alif maupun dengan mas Raffa. Hanya dia yang selalu mendukungku. Bahkan, saat aku sekolah dan mendapat nilai jelek dia tidak pernah marah. Dia selalu berkata, besok harus lebih baik, harus semangat lagi belajarnya biar nilainya bagus. Sedangkan Ayah Davian selalu memuji Alif karena dia pintar." Fafa menghembuskan nafas kasarnya, perlakuan yang berbeda dari Ayahnya terkadang membuat dirinya sedih.
" Buktikan kalau kamu lebih baik dari Alif."
" Maksudnya? "
__ADS_1
" Isshhh...! gitu aja nggak ngerti. "dengus Anggrek, " Buktikan kalau kamu mampu mengurus perusahaan ini. Kamu pasti bisa Fafa, kamu itu pintar. Buktikan kalau kamu bisa.Lakukan dengan sepenuh hati."
" Apa yang Hanin katakan itu benar, perusahaan ini bukan lelucon. Semua orang bergantung pada perusahaan ini. Masa kamu mau merusak jerih payah Om Davian yang selama ini dirintis dari nol.Aku yakin kamu bisa. Maaf aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Hanin. "
Fafa mendengarkan setiap ucapan Anggrek, ia pun teringat dengan ucapan Hanin yang terakhir kalinya. " Aku akan mencobanya, aku akan berusaha menjalankan perusahaan ini dengan baik."
" Nah, gitu dong. Itu baru Fafa yang aku kenal. Pantang menyerah. "Anggrek tersenyum lebar, ia merasa senang Fafa punya semangat lagi untuk berubah.
" Tapi hari ini ikut aku ke kota B ya, masa aku sendirian. Kita jalan - jalan setelah itu."
" Okelah, ayo kita jalan. "
" Drt.. Drt... "handphone Anggrek bergetar dan satu nama yang ia kenal. Alif calling
" Ngrek, kamu tidak masuk kerja? "tanya Alif.
" Anggrek akan bersamaku pergi ke kota B, kami akan ke proyek dan jalan - jalan. Bye-bye. "Fafa mematikan sambungan telepon, ia sengaja membuat Alif panas dan cemburu padanya.
" Kamu itu Fa, selalu begitu. "Anggrek menggerutu kesal karena Fafa merebut ponselnya saat ia akan menjawab panggilan dari Alif.
" Kalau kamu ingin tahu perasaan Alif, setidaknya kamu harus membuatnya cemburu. Kita lihat sampai mana dia akan menutupi perasaannya. "
Dan diujung telepon yang telah dimatikan Fafa, Alif begitu kesal mendengar Anggrek akan pergi bersama Fafa ke kota B.
***
The Residences Pasific (Apartemen Fafa),
Kinan datang ke apartemen Fafa siang hari untuk memeriksa Raffa yang sakit. Ia menekan bel namun tidak ada jawaban dari pemilik apartemen.
Kinan akhirnya masuk setelah menekan kode password yang Fafa berikan.
"Raffa bangunlah, aku datang cup..." Kinan mencium pipi Raffa. Ia membuka gorden kamar agar sinar matahari masuk ke dalamnya.
"Apa Nan." suara Raffa terdengar sangat serak khas bangun tidur, "Aku ingin tidur, tolong jangan ganggu aku."
" Bangulah sebentar, aku akan memeriksamu."
"Raffa mencoba memulihkan kesadarannya, dan ia duduk bersandar di kepala ranjang.
" Ya ampun, calon suamiku walaupun belum mandi, muka bantal kayak gini masih terlihat ganteng, cup... cup. " Kinan tersenyum melihat rambut Raffa yang berantakan.
" Apaan sih Nan, jangan cium - cium sembarangan ah." Raffa mengusap pipi yang dicium oleh Kinan.
" Dasar pelit!, cium aja nggak boleh. " ucapnya sembari memeriksa tekanan darah Raffa.
" Tekanan darahnya normal, sini rebahan dulu. Aku cek pakai stetoskop. "
Raffa menuruti perkataan Kinan
" Sakit lambung ya, jangan kebanyakan fikiran juga Raffa.Kamu pusing nggak punya biaya untuk pernikahan kita atau kamu gugup karena sebentar lagi kita akan menikah?" tanya Kinan.
Raffa mengulum senyum, ia tidak habis fikir dengan pertanyaan Kinan karena pusing tidak punya biaya untuk nikah. Tidak mungkin, jelas - jelas yang ada difikiran Raffa hanya tentang masalah pekerjaan yang begitu menumpuk hingga membuatnya pusing. Gugup karena akan menikah, bisa juga Raffa merasakan gugup karena ini pertama kali dalam hidupnya untuk menikahi seorang gadis.
"Yah, malah bengong." celetuk Kinan,ia melihat Raffa diam dan melamun.
"Yasudah, makan dulu setelah itu minum obat." Kinan membuka satu bubur ayam yang ia beli di pedagang kaki lima. Ia menyuapi Raffa dengan telaten.
__ADS_1
"Maaf..." satu kata yang keluar dari bibir Kinan, "Kalau kamu tidak mau prewedding aku tidak akan memaksa." Kinan menundukan kepala merasa bersalah.
"Nanti foto preweddingnya di studio saja, hanya itu yang bisa aku kabulkan, lebih dekat dan praktis." Raffa menyentuh dagu Kinan agar menghadap wajahnya.
Kinan tersenyum bahagia, ia benar-benar tidak menyangka Raffa akan mengatakan hal itu. "Iya, nggak papa. Kita ke studio saja."
Kinan langsung memeluk Raffa, dan tanpa sadar menenggelamkan wajah Raffa di dadanya.
"Kinan apaan sih!, pengap tahu!" Raffa merasa pengap karena wajahnya tenggelam di buah dada Kinan. Wajah Raffa memerah menahan malu. "Mana bola tenisnya gede gitu, padahal dulu cuma bola pingpong." Raffa sekilas menatap dada Kinan
Kinan terkekeh saat gunung kembarnya disebut bola tenis. "Ini berkat Jessica, dia mengajarkan aku olahraga dan beberapa jurus lainnya.Kamu mau coba." goda Kinan sembari membuat pola di dada Raffa dengan jarinya.
"Dasar mesum!" sahut Raffa, ia membuang wajahnya kearah lain. Malu
"Raffa, kau cinta aku nggak sih!" tanya Kinan
"Masih bertanya seperti itu." Raffa menatap jengah
"Biasanya pria itu agresif saat bersama orang yang dicintainya, dia akan merayu,menciumnya, mencumbunya sampai bulu kuduk meremang. Lah, kamu datar aja malah aku yang mepet terus minta dicium."
" Belum halal Nan, kalau sudah halal baru aku terjang." Raffa terkekeh
" Nggak mau tes drive dulu." goda Kinan,ia tahu pasti setelah ini Raffa akan menggomel padanya.
" Kamu fikir perempuan bisa dicoba - coba! Celap - celup, sudah bosen ditinggal. Kamu perempuan harus punya prinsip dan harga diri Nan, jangan mau dilecehkan dengan dalih atas nama cinta, *j*angan mau dibohongi. Aku tidak ingin melakukan hal itu karena aku sayang sama kamu Nan." Raffa mengelus rambut Kinan dengan lembut.
"Aku tahu kamu pria baik, makanya aku sayang banget sama kamu Raffa." Kinan memeluk Raffa kembali.
"Sudah jangan peluk terus, jangan terlalu ekspresif takut aku khilaf." ujar Raffa
Kinan memberi Raffa obat dan menyuruhnya untuk istirahat. "Aku tidur disini boleh?" goda Kinan dengan menepuk sisi ranjang Raffa yang kosong.
"Tidur di kamar samping saja, pumpung Fafa belum pulang."
"Nggak ah, mendingan aku tungguin kamu disini. Kamu tidurlah."
"Terima kasih Nan."
"Panggil aku sayang." pinta Kinan, " Kamu benar - benar tidak romantis sih!, tidak pernah memanggilku sayang."
"Iya peyang." lirih Raffa dengan tersenyum dan menutup matanya, namun Kinan masih bisa mendengarnya.
"Ishhh..., sayang bukan peyang." gerutu Kinan.
"Drt.. Drt.." handphone Raffa bergetar Hanin calling.
"Assalamualaikum, ada apa Nin." Kinan langsung melompat dan berbaring di tempat tidur, berusaha mendengarkan pembicaraan Raffa.
Raffa ingin bangkit dari ranjangnya, namun Kinan mengunci kaki Raffa agar tetap di posisinya.
"Walaikumm salam." jawab Hanin
"Kak Raffa, maafkan aku tidak bisa menjadi asisten Fafa lagi. Aku resign mas." ucap Hanin, ia menceritakan apa yang terjadi pada Raffa .
"Yasudah, biar kakak yang urus Fafa." Raffa memutuskan sambungan telepon. Ia melirik Kinan yang sudah tertidur di lengannya dan memeluk dirinya dengan erat.
"Dasar *****, nempel molor." Raffa tersenyum melihat Kinan yang tertidur pulas. Ia menusuk - nusuk pipi Kinan namun ia tetap tidak bergerak.
__ADS_1
"Kebiasaan buruk, kalau sudah tidur nggak bisa dibangunin." Raffa menelisik wajah Kinan, melihat dengan jarak dekat.
" Tidur nyenyak sayang." lirih Raffa, ia tersenyum sembari merapikan rambut Kinan ke belakang telinga. Raffa pelan-pelan pergi ke kamar sebelah dan tidur disana.