
Kinan memilih beberapa model kebaya yang ingin ia pakai disaat pernikahannya.Ia dengan semangat mencoba beberapa kebaya dan menunjukan pada Raffa.
"Kalau yang ini bagaimana?" tanya Kinan. Ia memilih kebaya model sabrina yang memperlihatkan bahu mulusnya dan potongan bagian dada yang cukup rendah.
"Jelek!" Raffa tidak suka melihat kebaya Kinan yang memperhatikan bahunya.
"Terus yang mana dong?" Kinan cemberut saat kebaya yang ia pilih ditolak oleh Raffa.
"Yang ini saja." Raffa memilih kebaya dengan model V terlihat sopan dan tertutup.
"Oke, untuk ijab qobul warna putih." Kinan mengiyakan permintaan Raffa
"Untuk resepsi, aku mau warna pink." pinta Kinan
"Nggak ada warna lain selain pink." Raffa menatap jengah, sejak dulu Kinan menyukai warna pink dan sekarang Kinan menginginkan warna itu sebagai warna gaun resepsinya.
"Aku mau pink."
"Ya sudah terserah kamu." kepala Raffa mulai pusing kembali,ia memijit keningnya.Ingin rasanya ia pulang dan tidur.
"Drt.. Drt..." suara handphone Raffa berbunyi. Ia mendapatkan telepon dari Rio agar segera pulang ke perusahaan kembali karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
"Di apartemen kamu saja Yo, kepalaku sakit lagi." lirih Raffa, ia tidak ingin Kinan mendengar ucapannya
"Nan,aku pergi dulu ya. Ada yang harus aku urus di perusahaan."
"Tapi Raffa, kamu belum sempat ukur badan."
"Gampang, mama Navysah bisa mengukur badanku di rumah. Yang penting kamu sudah memilih model kebayanya."
"Tapi kamu belum sempat aku periksa, kamu kan sakit." Kinan menatap nanar Raffa, ia merasa gusar saat Raffa akan pergi meninggalkannya di butik
"Aku sehat Nan, kamu tenanglah."
"Aku pergi dulu ya, nanti minta di jemput Pak Ari saja, jangan sendirian." Raffa bergegas keluar dari butik.
Kinan mengejar Raffa sampai di parkiran mobil. "Raffa, kapan kita foto prewedding?"
"Memang ada prewedding juga." tanya Raffa dengan bingung
"Ada dong."
"Nggak usah ya, ribet." tolak Raffa
Kinan cemberut karena Raffa tidak berniat untuk foto prewedding bersamanya. " Sesibuk itukah kamu hingga tidak ada waktu untuk mengurus pernikahan kita." Kinan mulai berkaca-kaca.
"Nan, please! jangan membuatku kesal kali ini. Semuanya sudah diurus Weeding Organizer dan mama Navysah. Saat ini kepalaku pusing, tolong jangan memancing emosiku."
"Oh jadi aku selalu bikin kamu kesal!, Raffa memang semuanya sudah diurus WO tapi setidaknya kita ikut andil di dalamnya. Ini pernikahan kita Raffa!" seru Kinan dengan nada tinggi.
__ADS_1
Raffa tidak ingin menimpali ucapan Kinan lagi, ia masuk ke dalam mobil dan membanting keras pintu mobilnya.
Kinan hanya menangis saat Raffa pergi darinya begitu saja.
" Semakin menuju hari H, kenapa kita selalu bertengkar Raffa." lirih Kinan
* **
Apartemen Rio
Rio menjamu seorang pria tampan yang dulu pernah ia kenal. Mereka bercanda tawa dan mengenang masa lalu.
Raffa masuk dan memeluk pria itu, pria setinggi Raffa yang dulu sering membullynya saat sekolah.
"Bagaimana kabarmu Antoni?" tanya Raffa, ia tersenyum bahagia melihat sahabatnya kini tumbuh menjadi pribadi yang berbeda.
"Alhamdulillah, aku baik. Terima kasih sudah memberi kesempatan untukku bekerja di perusahaan Ayahmu."
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu mau bekerja sama denganku."
Sejak tiga bulan yang lalu, Raffa berkomunikasi dengan Antoni kembali dan memintanya untuk bekerja di perusahaan Ayah Davian.Raffa berniat akan menjadikan Antoni asisten dari Fafa. Namun, karena masih terikat kontrak dengan perusahaan lain maka Antoni baru bisa mengunjungi Raffa kali ini.
" Tidak masalah, kontrak aku dengan perusahaan itu sudah selesai. Kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Mungkin minggu ini, lebih cepat lebih baik. Kemungkinan Hanin akan mengurus perusahaan Ayahnya,kamu tolong bimbing Fafa agar fokus dan giat bekerja.Jika dia lalai, tolong ingatkan dia."
" Aku akan mencari tahu. "jawab Antoni, ia melirik Rio yang masih senyam senyum sendiri.
" Rio, kamu waras? Seperti orang gila senyum sendiri sih!"sambung Antoni.
" Dia sedang jatuh cinta sama anak ingusan. Pacaran sama adiknya Hanin, si Halwa itu. " sahut Raffa. Ia merasa jengah karena kinerja Rio yang sedikit menurun. Rio lebih suka pergi dengan Halwa daripada dengan dirinya. Jarak yang terpaut cukup jauh tidak menyurutkan niat Rio untuk bersama Halwa.
" Hahahaha...laku juga lu Yo. "cibir Antoni.
Rio hanya menunduk malu saat dirinya menjadi bulan - bulanan dan candaan dari Raffa dan Antoni.
* **
Pagi hari Fafa pergi ke kantor dengan semangat karena semalam ia bisa kencan bersama Rena, pacar barunya. Apalagi Fafa mendapatkan ciuman panas darinya. Luar biasa
Saat di basement Fafa melihat Hanin yang sedang diantar seorang pria dengan tubuh tinggi dan kurus. Hanin terlihat tersenyum malu-malu saat pria itu mencium keningnya.
Fafa tidak peduli dan melewati Hanin tanpa menyapanya, sedangkan Hanin juga tidak ingin menyapa bos yang selalu membuatnya kesal.
Beberapa karyawan menyapa dengan hormat Fafa sebagai pemimpinnya. Terkadang ada saja karyawan perempuan yang berbisik dan sengaja menggoda Fafa agar menjadi pacar. Namun, Fafa tidak merespon. Fafa memang playboy tapi dia sangat selektif dalam memilih wanita. Selain wanita itu sexy dan cantik, dia juga harus pintar dalam segala hal.
"Awur - awuran, tugasku hari ini ngapain?" tanya Fafa pada Hanin yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf.." Hanin tidak mengerti maksud Fafa.
__ADS_1
"Dasar bodoh!, namamu kan Aura Hanin Dewantara. Aura si awur - awuran." ledek Fafa sembari menjulurkan lidah, ia menjuluki Hanin dengan nama yang berbeda.
Hanin hanya berdecak kesal, entah nama apalagi yang akan Fafa berikan untuknya.
"Hari ini rapat dengan membahas tentang perkembangan proyek di kota B,kak Raffa tidak bisa datang karena hari ini sakit. Jadi mau tidak mau kamu yang harus kesana."
Sejak pagi Raffa menelepon Hanin, ia sakit dan meminta Hanin menemani Fafa untuk pergi ke kota B.
" Asyik jalan-jalan. Aku bisa mampir ke rumah mama Navysah yang dulu.Sudah lama aku tidak kesana. " Fafa menyunggingkan senyum mengingat kembali masa kecilnya bermain di rumah lamanya. Fafa berharap hari ini bisa melepaskan kepenatan setelah beberapa minggu kerja di kantor.
"Kita kesana bukan jalan - jalan pak. Kita akan bekerja ke proyek pembangunan."
"Kita...?" Fafa mengenyitkan dahi, " Gue aja kali lu kagak."
"Kak Raffa menyuruhku untuk menemanimu. ketus Hanin, ia sebenarnya tidak suka menemani Fafa pergi ke kota B namun karena permintaan Raffa akhirnya ia mengiyakan.
" Eh, denger ya Nin. Gue bukan anak kecil yang harus selalu diikuti. Gue bisa sendiri."
" Udah mendingan lu pulang cepet aja, pacaran tuh sama si tiang listrik."cibir Fafa dengan senyuman mengejek
Hanin melotot mendengar ucapan Fafa,ia tidak bisa terima saat pacarnya disebut tiang listrik.
" Dia punya nama, enak aja lu panggil pacar gue tiang listrik!"sentak Hanin dengan wajah emosi.
Fafa sempat terkejut saat Hanin marah dan bicara dengan nada tinggi. Tidak seperti biasanya Hanin selalu diam dan acuh jika Fafa mengejeknya.
" Lu lagi haid Nin? "
" Siapa yang haid!! " bentak Hanin lagi, entah kenapa hari ini ia merasa kesal. Tadi malam Ayahnya masih tidak merestui hubungannya dengan Adit, dan pagi hari saat Hanin dijemput Adit, ayahnya masih membuang muka,tidak ramah maupun tersenyum sedikit pada Adit. Hanin merasa sedih karena hubungannya akan terganjal restu orang tua. Dan sekarang, Hanin mendengar Fafa mengejek pacarnya juga. Hanin seolah ingin melampiaskan kekesalan yang ada di hatinya pada Fafa.
"Lalu kenapa kamu marah, orang aku ngomong bener kok. Pacarmu itu kayak tiang listrik. Tinggi, kurus, nggak jelas."
"Seharusnya kamu yang berkaca diri!, kamu itu yang tidak jelas!" hardik Hanin, " Kamu itu pemimpin perusahaan tapi tidak mencerminkan. Kamu itu penerus Ayahmu tapi kamu tidak pernah mau fokus belajar. Hahahihi, Hahahihi sama teman-teman dan cium sana sini dengan banyak wanita. Kamu pikir perusahaan ini lelucon!! " teriak Hanin dengan keras, nafasnya tersenggal saat ia mengeluarkan semua isi hatinya.
" Malu Fafa!, Tante Navysah pasti sedih melihat kelakuanmu yang playboy seperti ini, sangat malu. " sambung Hanin lagi.
" Eh, denger ya Nin, nggak usah bawa-bawa emak gue. Lu nggak tahu gue!, jangan sok tahu." Fafa mulai tersulut emosi karena perkataan Hanin
"Gue emang nggak tahu lu!, bahkan perusahaan ini nggak ingin tahu lu siapa!" sentak Hanin, " Pernah nggak sih lu mikir, betapa sulitnya membangun sebuah perusahaan? Berapa banyak orang yang bergantung sama perusahaan Ayah lu ini. Mereka bekerja untuk perusahaan, tapi lu sebagai pemimpin tidak pernah serius dalam menjalankannya, bahkan lu mungkin nggak pernah serius dalam hidup lu Fafa. Bagimu hidup cuma main-main! "
" Lu tahu nggak, masih banyak orang yang ingin bekerja keras sekedar untuk makan dan bertahan hidup. Tapi kamu, tinggal menjalankan perusahaan saja masih ogah - ogahan. Kamu mau perusahaan ini bangkrut dan memecat karyawan,bagaimana dengan nasib mereka. Sungguh memalukan melihat sikapmu yang seperti ini terus... "cibir Hanin masih dengan emosi tinggi.
" Ada apa ini? Kamil dan Anggrek yang sedang berkunjung ke perusahaan Davian sempat mendengar keributan di ruangan Fafa, mereka masuk untuk memastikan apa yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa Om." Fafa menunduk malu. Ia sempat melirik Anggrek yang begitu cantik dengan kemeja biru dan celana jeans yang ia pakai.
Fafa merasa tertampar dengan ucapan Hanin, ia sangat marah dan tersinggung." Pergilah Nin, jangan masuk ke ruangan ini sementara waktu."perintah Fafa
" Aku tidak akan masuk ruangan ini lagi, aku mengundurkan diri menjadi asistenmu. Permisi. " Hanin pamit resign, ia sudah tidak tahan bekerja dengan Fafa yang tidak mau belajar untuk mengurus perusahaan.
__ADS_1