Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 91


__ADS_3

"Mas Raffa...!!! " teriak Fafa dengan keras, "Mana handphone dan laptopku." Fafa menadahkan tangannya. Ia merasa kesal karena kakanya mengambil barang kesayangannya.


"Makan dulu Nak." perintah Navysah


"Balikin dulu barangku." Fafa menatap tajam Raffa dengan kesal.


"Handphone dan laptopnya disita Ayah Davian. Ayah yang menyuruhku." ucap Raffa sembari menyesap kopi moccacino.


Fafa melirik Ayahnya, " Yah, barangku yah." rengeknya


"Ayah akan kembalikan barangmu." Fafa terlihat lega dengan ucapan Ayahnya


"Tapi magang dulu di kantor Ayah selama tiga bulan."


Fafa menghembuskan nafas kasarnya, dia tidak menyangka Ayah Davian masih menginginkan dirinya untuk bekerja di kantor properti


"Nggak mau!" sahut Fafa dengan kesal, " Ayah tahu nggak pemaksaan terhadap anak bisa berakibat fatal lho, anak akan menjadi seseorang yang tertekan, pembangkang dan liar." terang Fafa


"Kamu tahu nggak, tidak menurut pada perintah orangtua akan menjadi anak durhaka." terang Davian, " Orangtua akan sedih melihat anaknya hidup tanpa tujuan. Dan kamu dibesarkan dengan kasih sayang saja masih liar dan pembangkang apalagi kalau orangtuamu abai."


Fafa membuang wajahnya ke arah lain, berdebat dengan Ayahnya sudah pasti dirinya akan kalah. Fafa meninggalkan meja makan dan pergi entah kemana.


* **


Navysah mengajak Raffa ke sebuah apartemen elite di daerah Jakarta. Dia menunjukkan pada Raffa sebuah unit apartemen mewah.


"Bagus mah apartemennya,milik siapa ini?" Raffa dan Navysah mengelilingi beberapa ruangan dan kamar utama tersebut.


"Milikmu Nak."


Raffa menoleh ke arah ibunya, ia tidak menyangka ibunya membelikan unit apartemen mewah untuknya.


"Ini terlalu mewah Mah, aku masih..." Raffa


"Sebagai hadiah pernikahanmu dan Kinan nantinya." Navysah tersenyum, " Mama bahagia kamu akan menikah dengan Kinan."


"Tapi mah, Raffa masih mampu kok membeli apartemen untuk keluarga kami nantinya"


"Semua anak mama mendapatkan satu apartemen, terkadang mereka tidur disana. Ini jatahmu Nak."


Kini mereka duduk di ruang tamu, Raffa mengenggam tangan ibunya yang sedikit terlihat garis keriput, menciumnya dengan lembut dan menempelkan pada pipi Raffa,menciumnya berkali-kali.


" Terima kasih mah. " Raffa berkaca-kaca


" Katakan pada mama, apa yang membuatmu sedih." Navysah menatap manik anaknya, "Jangan pernah menyembunyikan sesuatu pada mama."


Raffa hanya menundukan kepala,"Tidak ada apa-apa mah." ucapnya bohong.


"Raffa..., tanpa kamu bicara pun mama tahu kamu sedang banyak fikiran."

__ADS_1


Navysah pernah melihat Raffa melamun beberapa kali. Saat malam hari Raffa tertidur pulas, Navysah tidak sengaja masuk untuk melihat keadaan anaknya namun tanpa sengaja ia membaca beberapa berkas Raffa yang tergeletak di meja. Dia terkejut dengan keadaan perusahaan Raffa yang sedang bermasalah.


" Apa mama harus membeli saham Hara?"


"Jangan mah, Raffa sedang mencoba mencari jalan keluar. Raffa malu jika meminta bantuan mama dan Ayah."


"Sudah kewajiban mama memberikan kenyamanan untuk anak-anak mama,seorang ibu akan memberikan segalanya untuk anak."


Raffa bersandar di bahu ibunya, "Biarkan Raffa mencari investor terlebih dahulu,mama jangan membantuku. Jika memang aku benar-benar terdesak, baru aku meminta bantuan mama."


"Mama bangga padamu Raff." Navysah mencium puncak kepala Raffa


"Kinan nggak tahu kan mah, kalau Hara milikku." tanya Raffa


" Tidak ada yang tahu selain mama dan Ayah di rumah." Navysah mengelus rambut anaknya, " Raffa, cobalah kamu melobi Fafa, uang dari hasil yutube dia sangat banyak. Dia menitipkan uangnya di mama, dia itu boros kalau mama tidak yang menyimpannya sudah pasti uangnya habis untuk foya-foya dan nongkrong sama pacarnya."


"Memangnya mama ngijinin Fafa pacaran?" tanya Raffa, ia tahu ibunya tidak akan memberikan lampu hijau anaknya untuk pacaran.


"Mama tidak ngijinin, tapi kamu kan tahu sendiri anak itu banyak akalnya. Curi-curi kesempatan kalau kami lengah. Pak Ari melaporkan sudah ada tiga pacar Fafa dan selalu bergantian jadwal kencan. Pusing mama lihat si Fafa itu, kalau dinasehatin nggak pernah nurut. Mama khawatir, dia selalu bersama Keken. Awas aja!, kalau sampai ketahuan ngerusak anak orang bakal mama nikahin dia dengan gadis itu dan mama coret dari daftar keluarga. "


Raffa hanya menggulum senyum, kelakuan adiknya yang satu itu memang sangat loyal dan tidak pelit. Namun terkadang kebaikan hati Fafa dimanfaatkan sebagian orang.


" Akan Raffa coba melobi Fafa. "


" Kamu jangan terlalu capek, sebentar lagi kamu akan menikah. Mama akan mengurus semuanya."


"Iya sayang."


* **


Davian mulai memperkenalkan Raffa dan Fafa sebagai anaknya di perusahaan. Awalnya Fafa menolak untuk mengikuti perintah Ayahnya, namun Davian tetaplah Davian. Ia selalu tegas dan tidak akan mengalah pada anaknya,laptop dan handphone Fafa masih disita olehnya.


"Mulai sekarang kamu bantuin mas Raffa,jadi asistennya." perintah Davian


"Kita sama-sama belajar Fa." ucap Raffa


Fafa masih kesal dan membuang wajahnya kearah lain, ia hanya bermalas-malasan di sofa kantor.


"Fafa...!" seru Davian, ia merasa jengah melihat anaknya tidak punya semangat untuk bekerja.


"Iya yah, tapi aku mau tidur dulu ngantuk." Fafa berlari ke ruangan rahasia Ayahnya dan merebahkan dirinya di ranjang.


"Males banget pakai baju formal kayak gini, dasi ini seolah mencekik leherku." Fafa melepaskan dasinya, ia mengganti kemeja dengan kaos oblong yang dia sukai. Melepaskan sepatu kantornya dan mengganti celananya dengan celana jeans sobek yang sengaja dia bawa dari rumah.


" Nah, ini baru style gue. " ucapnya di depan cermin. Ia merebahkan kembali di ranjang dan bergulang guling. Dunianya terasa hampa tanpa adanya handphone dan laptop. " Si Vira, Fani dan Ara lagi ngapain yah?" tanyanya bermonolog.


"Bosen banget deh cuma gini-gini saja. Nanti kalau mereka lengah, aku akan pergi dari gedung sialan ini!" ucapnya dengan senyuman menyeringai


* **

__ADS_1


Kinan sedang makan di kantin rumah sakit bersama Jessica.Dan Ia mendapatkan sebuah pesan dari mama Navysah, bahwa keluarga Davian akan datang ke rumahnya untuk membahas pernikahan.


Hatinya sangat berbunga-bunga dan segera memeluk Jessica dengan erat. " Jes, gue bakal kawin sama Raffa bulan depan." teriaknya


Beberapa orang menoleh kearah Kinan dan tatapan penasaran. "Maaf." Kinan merasa malu.


"Kamu sih terlalu histeris, malu-maluin." cibir Jessica


"Gue bahagia banget Jes, akhirnya gue bisa nikah dengan Raffa." Kinan masih tersenyum tanpa henti.


"Tapi dari kebahagiaan lu ini ada hati kakak gue yang patah hati." Jessica melihat Juna yang berjalan kearahnya.


"Ada apa ini, sepertinya kamu happy banget Nan." Juna melihat Kinan yang tersenyum tanpa henti.


"Eh, bang Juna." Kinan terkejut Juna sudah duduk di depannya


"Itu bang, a...aku akan menikah dengan Raffa bulan depan. Maaf." ucap Kinan dengan sedikit penyesalan, ia tahu Juna akan kecewa dan patah hati karena Kinan tidak bisa menepati janji untuk menikah dengannya.


"Selamat ya, akhirnya si bodoh itu menikahimu." Juna tersenyum kecut, hatinya terasa nyeri karena Kinan akan menikah dengan pria lain.


"Abang..."


"Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Juna masih terdiam dan hanya mendengarkan celotehan Kinan dan Jessica. Bibirnya terasa kelu untuk menimpali candaan mereka.


"Alif..." Kinan melihat Alif dan Anggrek yang baru saja datang ke kantin rumah sakit.


Kinan menubruk dada Alif dan memeluknya dengan erat. "Alif, mba bahagia banget akhirnya mas Raffa akan menikahi mba." Kinan berkaca-kaca


Alif melirik Anggrek yang hanya terbengong melihatnya dipeluk. "Malu mba banyak orang, dikira Alif pacar mba."


"Isshhh..., mereka pasti tahu kalau kamu adik mba." Kinan memukul lengan Alif.


Alif hanya menggulum senyum.


"Kapan mba Kinan akan menikah?" tanya Anggrek


"InsyaAllah bulan depan."


"Selamat ya mba." Anggrek memeluk Kinan, ia tulus mengucapkannya. Ia tahu Kinan sudah setia menunggu Raffa pulang ke Indonesia.


"Terima kasih, semoga kamu juga berhasil menaklukan gunung es ini. Mba do'akan kamu bahagia."


Wajah Anggrek bersemu merah, tidak di pungkiri dia mempunyai perasaan terhadap Alif. Namun, Alif adalah Alif seorang pendiam yang tidak bisa menunjukkan ekspresi dan tidak ingin memusingkan hal yang tidak penting.


" Mba bisa membantumu. "bisiknya di telinga Anggrek


" Kalian ngapain sih bisik-bisik. "cebik Alif yang merasa disisihkan.


" Kepo....." Kinan melenggangkan kaki menjauhi mereka dengan perasaan gembira.

__ADS_1


__ADS_2