Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 30


__ADS_3

Raffa dan Fafa tidak bisa bertemu dengan Ayahnya karena sang Ayah sedang berada di luar kantor bersama Om Kamil. Akhirnya mau tidak mau ia masuk ke ruangan Om Feri untuk menyampaikan amanah dari Om Rayyan.


"Tumben ponakan ganteng Om main kesini? Ia melihat Raffa yang sedang duduk di sofa.


" Fafa memang ganteng Om, tampan tiada tara, hehehe "tukasnya secara langsung, ia cengar cengir menaik turunkan alisnya sengaja meledek Om nya.


" Ya ya ya terserah kamulah Fa" gumam Feri, ia tidak ingin berdebat dengan anak ingusan yang bisa saja membuat darah tinggi nya naik ke level sepuluh.Berdebat dengan Fafa sama gilanya berdebat dengan Kendrew yang sama sablengnya. Sebenarnya ia memuji Raffa, ponakannya yang ganteng dan pendiam bukan si kampret kecil ini.


"Ini ada amanah dari Om Rayyan, tadi Raffa mampir kesana" ia menyerahkan berkasnya.


"Oh si Rayyan, kamu itu seharusnya sering main kesini bukannya ke restoran. Kan kamu penerus perusahaan ini" ucapnya sembari membaca berkas yang dikirim dari Rayyan.


Raffa hanya menggulum senyum, ucapan Om Feri baginya sebuah lelucon saja, karena ia tahu Om yang satu ini sering bercanda dengannya. "Gimana kabar. Mami Imel Om?" tanyanya


"Alhamdulillah Mami baik, kemarin dia baru pulang dari Solo. Maklumlah Ayah Ibrahim dan mama Fera sudah meninggal jadi Rani dan suaminya yang mengurus perusahaan, tapi dua bulan sekali Mami Imel kesana mengecek keadaan perusahaan kalau nggak bisa riweh soalnya Rani kurang cekatan, apalagi anak dia tiga masih kecil - kecil "


" Om nggak nanyain Fafa?, disini ada Fafa lho Om " tanyanya, ia merasa diabaikan oleh kedua orang yang sedang bercerita tanpa melibatkan dirinya.


" Kalau Om tanyain kamu paling nggak jauh-jauh kayak Keken ujung - ujungnya jawaban absurd nggak jelas " selorohnya, " Eh, tapi semenjak Keken nginep di rumah kalian dia rajin sholat, diomongin juga nurut walaupun terkadang bikin Om kesel juga "

__ADS_1


"Mau dimakan mama Navysah kalau tidak nurut, kalau kami nggak sholat bisa-bisa Play Station kami dibanting lagi, tiap hari selalu razia subuh, nggak ngaji langsung di stop uang jajan" ia bergidik ngeri mengingat kemarahan ibunya saat merusak mainan kesukaanya.


"Oh begitu caranya, wah bisa tuh di praktekan dirumah. Mami Imel terlalu sayang sama Keken, dia selalu dimanja jadi anak itu seenaknya sendiri" ucapnya


"Oh iya Raff, kapan kamu ke Amerika untuk kuliah ekonomi disana "tanyanya


Raffa semakin tidak mengerti kenapa semua sahabat Ayahnya selalu bertanya tentang kuliah ekonomi di Amerika, padahal dia tidak menginginkan itu." Raffa nggak kuliah disana Om, Raffa ingin animasi dan kuliah di Inggris "


Feri mengenyitkan dahinya, " Hahahaha... itu tidak mungkin Raffa. Kamu itu sudah ditakdirkan menjadi penerus perusahaan ini,Ayah kamu sudah mempersiapkan semuanya agar kamu ke Amerika, kuliah dan hidup nyaman disana. Dan setelah kamu kembali ke Indonesia sudah pasti dia akan pensiun dari sini, kamulah penerus selanjutnya "


" Hah..! benarkah Om, Ayah Davi sudah mempersiapkan segalanya untuk aku kuliah di Amerika? "tanyanya tidak percaya.


" Iya, dia itu sangat perfeksionis. Dia sangat menyayangimu, ia tidak ingin kamu kekurangan satu apapun disana. Apa Ayah Davi tidak bicara masalah ini denganmu? "


" Ta.. Tapi Raffa mau menjadi animator Om" ia menggepal erat kedua tangannya.


Feri merasa kasihan dengan ponakannya, impiannya tidak akan tercapai karena tanggung jawab sebagai anak sulung begitu besar. Ia menepuk bahu Raffa "Raff, perlu kamu tahu. Semua yang Ayahmu lakukan ini untuk keluarga, bisnis harus berjalan sebagaimana mestinya dan cuma kamu yang bisa diandalkan. Ia sudah cukup tua untuk mengurus semuanya, Om rasa kamu harus mengalah untuk semuanya" ia mencoba memberi pengertian pada ponakan yang masih kekeh dengan impiannya.


"Enggak, Raffa nggak mau. Ini tidak mungkin terjadi " ia langsung beranjak ke luar kantor Ayahnya dan diikuti oleh adiknya.

__ADS_1


* **


"Mah, mamah..!!" teriak Raffa dari luar, wajahnya sudah merah padam menahan amarah. Ia mencari ibunya di beberapa ruangan dan melihat ibunya di kamar Inha. Fafa sangat takut, baru pertama kalinya ia melihat kakak tersayangnya begitu marah, wajah yang tidak bersahabat. Sepanjang perjalanan tadi ia beberapa kali harus menabrak tubuh kakaknya karena Raffa mengebut di jalanan dengan sangat kencang.


Navysah melihat wajah anaknya yang penuh amarah ,ia merasa heran kenapa Raffa berteriak kencang, ini bukan sifat darinya. "Kenapa Raff?" tanyanya


"Mah, sekarang jelasin ke Raffa. Apa benar Ayah Davi sudah mengurus semua kuliah Raffa di Amerika,kenapa kuliah ekonomi bukan Animasi. Tolong jelasin ke Raffa mah, ini tidak benar kan? Ayah tidak setega itu kan sama Raffa, Raffa tidak mau mah kuliah disana" ucapnya beruntun.


Navysah keluar dari kamar anaknya dan masuk ke kamar dirinya, ia ingin bicara empat mata dengan anaknya tanpa ada yang mendengar. "Raffa, maafkan mama Nak" satu kalimat yang lolos dari bibirnya, "Mama tidak bisa mengabulkan cita - citamu" ia langsung menutup wajahnya dengan tangan. Ia tidak mampu melihat wajah anaknya yang menyedihkan.


"Mah, mama pernah bilang kan akan selalu dukung Raffa. Kenapa mah, kenapa Ayah Davi jahat sama Raffa. Kenapa ia tidak mengabulkan keinginan Raffa untuk menjadi animator. Kenapa mah?" airmata lolos begitu saja, ia merasa sesak di dadanya, tidak ada yang mendukungnya dalam keluarga ini.


" Justru karena ia sangat menyayangi kamu Nak, cuma kamu harapan dia. Adik - adik masih kecil dan tidak mungkin ia menyerahkan perusahaan pada orang lain. Om Feri hanya punya anak tunggal yang tidak bisa diandalkan. Banyak yang menginginkan jabatan Ayah, dan ia ingin hanya kamu penerus Ayah "


" Enggak, Raffa nggak mau. Ini pasti salah,Jika Ayah sayang sama aku pasti dia akan mendukung impianku,masa depanku. Tapi Ayah tidak mendukungku "seru Raffa dengan nada tinggi, ia merasa frustrasi dengan keputusan yang diambil secara sepihak Ayahnya itu.


Navysah memeluk anaknya mencoba untuk menenangkannya, ini seperti sebuah takdir yang harus dijalani anaknya. Mau tidak mau, suka tidak suka anaknya harus menerima keputusan ini. "Raffa, anak mama yang paling baik. Mama sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi, mama hanya ingin kamu berpikir secara dewasa Nak, jikalau kamu tidak ingin kuliah ekonomi kamu bisa menjadi arsitek, kamu masih bisa menggambar sesuai keinginanmu. Ayah melakukan semua ini untuk keluarga kita, dia sudah tua Raff, kelak dia akan pensiun dan kamulah harapan dia "ucapnya sembari menangis, ia tahu anaknya saat ini sangat sedih mendengar keputusan Ayahnya, impian yang diinginkan pun kandas di tengah jalan.


" Nggak mau, Raffa nggak mau seperti ini. Raffa harus bicara sama Ayah "Ia melepaskan pelukan dari ibunya, dan pergi begitu saja. Navysah hanya bisa menangis terisak, ini pertama kalinya ia melihat Raffa begitu marah dengannya.

__ADS_1


* **


Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun All reader 😘😘😁


__ADS_2