
Raffa masih sibuk dengan pekerjaannya, setelah ia melaunching game terbaru kini Raffa disibukan dengan film animasi yang akan segera dirilis.
Raffa benar-benar pekerja keras, dia membuat film animasi dengan bekerja sama dengan rumah produksi dari negara Malaysia.
Siang hari Jihan sengaja mengunjungi perusahaan Hara, ia menemui Rio dan Raffa. Jihan terlihat cantik dengan setelan kerjanya. Ia terlihat berbeda dari sebelumnya. Jihan terlihat lebih ceria dan selalu menampakan senyumnya.
"Raff, Jihan kini berbeda ya, mungkin dia sudah move on darimu." goda Rio, ia melirik Jihan yang terus tersenyum sejak bertemu dengannya.
"Aku sedang bahagia." ujar Jihan, ia membuka tasnya dan menyodorkan dua buah kartu undangan, " Ini undangan pernikahanku, jangan lupa datang ya."
"Jihan, beneran lu mau nikah!?" Rio seolah tak percaya dengan keputusan Jihan yang terkesan buru-buru
"Beneran Yo, gue mau nikah. Gue di jodohkan dengan anak dari teman papah, dia pria baik dan sopan, pekerjaan jelas, jadi tidak masalah untuk menikah dengannya."
"Alhamdulillah, akhirnya Jihan sold out!" seloroh Rio
"Emangnya aku barang, sold out! Kamu ada-ada saja." Jihan tersenyum lebar. " Eh, Raff gimana Kinan sudah hamil belum?" tanyanya
" Belum, kami sedang berpacaran dulu setelah menikah." Raffa menggulum senyum, namun dari lubuk hatinya yang terdalam, Raffa sangat sedih mengingat Kinan yang begitu terpukul atas penyakit yang di deritanya.
"Aku do'ain semoga Kinan cepat hamil." ucap Jihan dengan tulus.
"Aamiin."
"Raffa, kapan film animasi ini akan dirilis, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya. Aku yakin, ini akan menjadi film animasi yang terbaik. Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari film ini."
"Bulan depan kita akan rilis, game kemarin cukup bagus di pasaran, responnya begitu baik dan kali ini aku berharap film ini akan booming.
" Aamiin. "
Mereka bercengkrama dan tertawa bersama.
* **
Fafa kini menjemput Hanin di perusahaannya, mereka akan pulang kembali ke apartemen Hanin.
Namun saat Fafa turun dari mobilnya, ia melihat Hanin turun dari mobil Khaffi. Mereka terlihat tertawa bersama hingga membuat hati Fafa terbakar cemburu.
"Hanin...!!" teriaknya dari jauh, ia menghampiri istrinya dan sengaja menyenggol tubuh Khaffi secara kasar sembari menatap tajam ke arahnya.
"Dih! Si ****** cemburu." Khaffi mencibir Fafa yang terlihat begitu sewot saat melihat dirinya bersama Hanin
"Kalian dari mana kok bareng?! " tanya Fafa, ia menggandeng tangan istrinya dengan posesif. Sedangkan Hanin hanya tersenyum melihat Fafa yang menekuk wajahnya dengan kesal.
__ADS_1
"Kita habis meeting di luar, tumben AA jemput lebih awal." jelas Hanin
"Aku kangen istriku." Fafa mengedipkan matanya ke arah Hanin.
" Lebayy...!!" cibir Khaffi . " Nggak usah sok-sokan romantis di depan gue." Khaffi menjitak Fafa dan berlari cepat dengan menghindarinya.
"Woii...!! Fifi, kampret lu!!" teriak Fafa ia akan mengejar Khaffi namun tangannya di cekal Hanin.
"Ini kantor bukan hutan, jaga wibawamu." bisik Hanin di telinga Fafa.
"Iya sayang." balas Fafa
Fafa masuk ke ruangan Hanin di lantai lima, ruangan itu terlihat bersih dan tertata rapi. Fafa merebahkan dirinya di sofa kantor sembari bermain ponsel.
"Tunggu sebentar lagi ya A, ada yang harus aku selesaikan." pinta Hanin
"Hmm.." jawab Fafa tanpa melihat kearah Hanin, ia masih bermain dengan ponselnya.
Lima belas menit kemudian Fafa merasa jenuh, ia meneguk segelas orange jus buatan asisten Hanin.
"Nin, kalau kita main gerobak sodor disini enak kali ya." seru Fafa sembari menepuk sofa empuk Hanin dengan menggulum senyum.
Hanin menghampiri suaminya sembari meremas mulutnya, " Jangan terlalu keras ngomongnya, nanti kedengeran kak Raffa malu."
"Emang beneran setan lu, Fa!" Khaffi menjambak Fafa
"Nggak usah mesum, ntar gue pengin gimana." dengus Khaffi dengan kesal
"Nikahlah." Fafa menjawab dengan enteng
"Aju ingin nikah sama Inha, terus punya anak darinya." Khaffi semakin gencar menggoda Fafa
"Nggak bakalan gue kasih restu!" Fafa mendelik ke arah Khaffi.
"Gue santet online! " ucap Khaffi
" Gue bunuh virtual!" balas Fafa tak mau kalah. Mereka saling membalas dengan saling menjambak.
"Fifi, buatkan aku kopi hitam, cepat!" perintah Fada
"Gue punyanya copy paste!" sahut Khaffi
Hanin merasa jengah dengan keduanya,mereka saling sahut menyahut tak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Hanin bergegas membereskan tas nya dan menarik tangan Fafa untuk pulang.
* **
Fafa begitu bahagia karena Hanin mau berubah, ia bisa membagi waktunya untuk bekerja dan menemani dirinya. Seiring berjalannya waktu Fafa terkadang membantu Hanin di dapur, mereka memasak dan membersihkan rumah bersama.
" Jangan terlalu capek kerjanya, minta bantuan Khaffi kalau kamu merasa repot." Fafa mengantarkan istrinya berangkat ke kantor.
"Kalau masih pusing, telepon Alif kremi, dia pasti datang." sambung Fafa kembali
"Iya A." Hanin masuk ke dalam perusahaannya dan ia merasa sedikit pusing dengan banyak pekerjaan yang akan ia hadapi hari ini.
" Nin, ada berkas yang harus kamu tanda tangani. Dan lihat program ini, sudah aku edit tinggal kamu cek." Khaffi menyerahkan berkas dan sebuah file USB pada Hanin.
"Nin, lu kok pucat. Kurang tidur, dihajar Fafa terus ya?" Khaffi begitu ceplas ceplos. Ia melihat Hanin yang sedikit pucat dan tidak bersemangat.
"Cuma pusing Fi." Hanin memijit kepalanya yang pusing
"Ke dokter gih atau aku telepon Alif?"
"Tidak perlu, aku masih kuat kok." Hanin membuka berkasnya dan menandatanganinya.
Saat ia bangkit dari duduknya ingin mengambil air minum, kepala Hanin begitu sakit. Ia terjatuh pingsan hingga Khaffi membawanya ke kamar tidur.
Khaffi begitu panik saat Hanin pingsan, ia menelepon dokter kantor dan Raffa.
"Dokter, Hanin sakit apa dok? Apa asam lambung dia kambuh lagi?" tanya Raffa begitu panik
"Tenang pak Raffa, ibu Hanin baik-baik saja. Sepertinya dia sedang hamil muda, dan alangkah baiknya di cek langsung ke dokter kandungan."
"Alhamdulillah." ucap Raffa dan Khaffi bersamaan
"Tokcer juga itu si Fafa, hihihi..." Khaffi tersenyum lebar.
Mereka mendekat ke arah Hanin yang masih tertidur. Wajah Hanin begitu pucat dan lemah.
"Khaffi, kamu bantu pekerjaan Hanin. Biarkan dia istirahat total." perintah Raffa
" Iya mas."
Raffa merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki ponakan, namun di sisi lain, jika Kinan tahu Hanin hamil terlebih dahulu pasti istrinya akan sedih. Raffa harus mencari cara agar Kinan selalu semangat dan bahagia.
" Pusing banget kepalaku, pasti Kinan bakalan mewek kalau tahu Hanin hamil." Raffa memijit kepalanya
__ADS_1
"Lebih baik aku telepon mama Navysah dan menceritakan semuanya."