
Raffa kini tinggal di di apartemen Fafa agar lebih fokus dalam bekerja, jarak antara perusahaan Ayahnya dan apartemen Fafa cukup dekat.Ia juga bertugas menjaga Fafa agar selalu disiplin masuk kantor.
Terkadang Raffa ijin keluar untuk pergi ke Hara Animation, hingga waktu untuk istirahatnya sangat berkurang. Tubuhnya sedikit kurus, wajahnya terlihat kuyu karena terlalu lelah memikirkan dua perusahaan.Apalagi dia harus mengirim email dan membuat desain untuk proyek yang masih berjalan di Inggris.
Raffa berharap Fafa segera fokus dan mahir dalam menjalankan bisnis Ayah Davian. Namun, Fafa adalah Fafa, seorang pria dengan gaya slengean dan masih selalu santai dalam bekerja hingga membuat Raffa pontang panting dari perusahaan satu ke perusahaan lain.
"Makanlah dulu, jangan sampai kau sakit." Rio menatap wajah Raffa yang terlihat sedikit tirus.
"Sebentar lagi." Raffa menutup matanya sejenak, kepalanya terasa sangat pusing karena seminggu ini dirinya kurang tidur.
Kau perlu obat? "tanya Rio, ia menaruh telapak tangan ke dahi Raffa mengecek suhu tubuhnya." Ya ampun Raffa, tubuhmu sangat panas,Ayo kita ke dokter. "
" Nanti saja, setelah kita bertemu Om Eris. Dia salah satu target investor kita. Aku pun rindu dengannya, sudah lama tak pernah berjumpa."
Setelah mendapatkan flashdisk dari Jihan, Raffa melihat berkas file yang diterimanya.Tanpa disangka, Raffa mengenal satu nama yang yang dulu pernah menggunakan jasa desain interiornya. Tempat Rio bekerja di bengkel dulu, Om Eris
"Tapi kesehatanmu sangat penting."
Raffa masih kekeh tidak ingin pergi ke rumah sakit. Ia berlari kearah toilet dan memuntahkan isi perutnya.
"Pasti asam lambungmu kambuh lagi." Rio memapah Raffa ke ruangan pribadi yang berada di kantornya.
"Masih ada waktu satu jam lagi untuk bertemu Om Eris, kita suruh saja Alif datang kesini untuk memeriksamu."
Raffa merasa lemas tak bertenaga,"Alif tidak tahu, aku bekerja disini." lirih Raffa
"Aku yakin dia bisa dipercaya, berbeda dengan adikmu yang cerewet itu." Rio tidak terlalu menyukai Fafa yang selalu bicara tanpa disaring terlebih dahulu.
Rio mengambil ponsel Raffa dan menelepon Alif.
Rio berusaha menceritakan tentang keadaan Raffa yang kini terbaring lemas.
" Wajahnya pucat dan demam, baru saja dia muntah. Badannya lemas tak bertenaga. Sepertinya asam lambungnya naik."
"Aku masih di rumah sakit, tiga puluh menit lagi aku akan datang. Tolong, beri mas Raffa obat asam lambung dengan merk....dan obat demam merk.... " Alif menyebutkan sebuah merk obat, " Itu dosis ringan, aku akan kesana dan memeriksa kakakku. Tolong kirim alamatnya. "
Rio menyebutkan alamat perusahaan Hara Animation di daerah Jakarta Barat.
" Terima kasih kak Rio, tolong jaga mas Raffa. "
" Kamu tenang saja, aku akan menjaga Raffa dengan nyawaku. Oya lif, tolong jangan beritahu Kinan bahwa Raffa sakit, bisakan. "
" Baik."
Rio begitu lega karena Alif pria yang bisa dipercaya dan sopan. Alif masih menghormati Rio dengan mengucapkan kata kakak, sedangkan Fafa masih seperti dulu selalu memanggilnya dengan sebutan Rio atau Om Kribo.
Rio memberikan obat sesuai petunjuk Alif, ia menyuruh Raffa meminum obat dan tidur sejenak.
"Masih ada sedikit waktu, kamu bisa tidur selama tiga puluh menit. Aku akan membangunkanmu sebelum jadwal pertemuan dengan Om Eris.
__ADS_1
" Makasih Yo. " Raffa kembali merebahkan dirinya.
* **
Om Eris memeluk erat Rio dan Raffa layaknya seorang Ayah. Ia tidak pernah menyangka kini Rio dan Raffa tumbuh menjadi pribadi yang santun dan cukup terbilang sukses.
"Om bahagia bisa melihat kalian kembali." Eris berkaca-kaca, "Akhirnya kamu bisa terbang tinggi dengan sayapmu Yo." Eris begitu terharu dan bahagia bisa melihat Rio yang dulu anak dari keluarga sangat sederhana kini berubah seratus delapan puluh derajat.Luar Biasa
"Ini juga berkat Om, terima kasih untuk segalanya." Rio tulus mengatakannya.
" Kamu sukses karena kerja kerasmu karena pantang menyerah dan juga karena do'a orangtuamu, bukan karena Om." Om Eris menggelengkan kepala
"Sekeras apapun kalian berusaha tanpa do'a dari orangtua, kalian tidak akan pernah berhasil." ujar Om Eris kembali
"Raffa, mana proposal yang akan kau tunjukkan."
"Ini Om." Raffa menyerah sebuah proposal
Dan saat ia akan menerangkan beberapa poin secara mendalam Om Eris menghentikannya. "Tidak perlu kau jelaskan dengan layar proyektor itu, mana yang harus Om tanda tangani."
Raffa dan Rio diam sesaat, mereka membuka mulutnya dengan lebar. Tidak percaya semudah ini menggaet Om Eris untuk berinvestasi pada perusahaannya. Bahkan, Ia belum sempat berkeliling kantor untuk menunjukan seberapa luas dan majunya Hara Animation nantinya.
"Om percaya pada kalian." Satu kalimat yang membuat hati Raffa dan Rio meleleh. "Om akan berinvestasi di perusahaan ini,karena Om yakin Raffa anak yang jujur dan baik. Dia akan mengepakan sayapnya lebih keras dan terbang lebih tinggi untuk memajukan Hara."
Raffa menyeka air di sudut matanya, ia sangat terharu Om Eris begitu mendukung dan memberinya semangat yang begitu luar biasa. "Terima kasih Om, Raffa tidak akan pernah mengecewakan Om." janjinya dengan sungguh - sungguh
* **
"Menyebalkan! bagaimana bisa mas Raffa menyembunyikannya dariku. Pura-pura miskin tapi punya perusahaan." Alif mengingat saat Raffa dan Kinan berada dalam di kamar dan tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku tidak punya apa-apa. Seorang pria kere, masa depan belum jelas, tidak punya tempat tinggal ,hanya bisa memberimu mahar sedikit, takut ti..."
Dan Alif meraup wajahnya karena teringat adegan Kinan mencium kakaknya dengan cepat.
Lamunan Alif buyar saat kedua pria masuk ke dalam ruangannya.
"Cih!, Mas pura - pura kere padahal punya perusahaan besar."sindirnya
Raffa hanya tersenyum dan mengaruk tengkuknya.
"Apa yang lain tahu?" tanya Alif
"Hanya mama dan Ayah."
"Mba Kinan sampai sekarang belum tahu?" tanyanya tidak percaya.
"Nanti mas yang akan memberi tahu dia saat keadaan perusahaan normal kembali. Dan sekarang tugasmu hanya tutup mulut dan mengobati mas."
Raffa merebahkan dirinya di ranjang,kepalanya masih terasa pusing.
__ADS_1
Alif menggunakan stetoskopnya memeriksa detak jantung Raffa, dan menekan sedikit bagian bawah perut bagian kiri." Apa ini sakit? "
" Ya, di bagian itu terasa sakit Lif. "Raffa menahan rasa sakit pada perutnya.
Alif mengecek tekanan darah Raffa juga.
" Asam lambung mas kambuh, tensi masih normal. Aku beri obat dan infus agar mas sehat. "
" Jangan terlalu lelah bekerja, jaga kesehatan. "Alif membuka kotak obatnya dan memasang selang infus serta menyuntikan obat.
" Kalau Fafa sudah fokus bekerja di perusahaan Ayah, mas pasti sedikit terbantu. Sayangnya Fafa masih ogah-ogahan. " Raffa menghela nafas kasarnya, mengingat kembali saat Hanin melaporkan sikap Fafa yang malas-malasan saat Raffa tidak ada.
" Nikahkan saja dia mas, agar Fafa bisa bertanggung jawab daripada pacaran dan nongkrong nggak jelas."
" Memangnya kamu tidak iri kalau Fafa menikah terlebih dahulu?"
"Alif masih ingin kuliah lagi, tidak mau hanya dokter umum." Alif menggelengkan kepala, ia masih ingin bercinta-cita menjadi dokter spesialis bedah.
"Kalau nggak salah pacar Fafa si anggrek itu kan ya, anak Om Kamil?" Raffa menggoda adiknya, saat bersama Kinan ia bercerita bahwa Anggrek memiliki perasaan pada Alif, namun Alif hanya diam tidak merespon.
"Deg.."
"Bukan, mereka hanya teman." Hati Alif mencelos,
"Ya kalau Fafa dan Anggrek dijodohkan boleh sih mas setuju saja, apalagi dia anak Om Kamil." Raffa menggulum senyum, "Menurutmu gimana Lif? "
Hati Alif menjadi gusar saat mendengar Anggrek akan dijodohkan dengan kembarannya. " Terserah!, bukan urusan Alif." ia membuang wajahnya kearah lain.
Raffa hanya tersenyum saat adiknya tidak merespon pembicaraan tentang Fafa dan Anggrek lagi.
" Drt... Drt..." ponsel Raffa bergetar, dan terlihat Kinan menghubunginya.
"Raffa, kau dimana?"
"Aku sedang rapat di luar tidak ada di kantor, kenapa?" Raffa terpaksa berbohong.
"Aku rindu." ucap Kinan diujung telepon. "Kita belum fitting baju lho, kamu jemput aku ya di rumah sakit sore ini."
"Kamu duluan saja ke butik mama Navysah, aku menyusul."
"Kamu kenapa? sudah seminggu ini kita tidak bertemu. Kamu jarang banget telepon aku,selalu bilang terserah saat aku bertanya tentang cover undangan, ini dan itu kamu terlalu abai dan tidak peduli. Dan sekarang aku hanya ingin fitting bersamamu tapi kamu tidak bisa." rengek Kinan, ia merasa kesal dengan sikap Raffa yang acuh padanya.
" Kamu niat nggak sih nikah sama aku? "
"Aku..." belum sempat Raffa menjelaskan, Kinan mematikan sambungan telepon.
Raffa mengetikan sebuah pesan pada Kinan bahwa ia akan menjemputnya sore hari.
"Kamu sabarlah, anggap saja ini godaan sebelum menikah." Rio mencoba menenangkan hati sahabatnya.Raffa hanya menghela nafas panjangnya.
__ADS_1
"Alif pulang dulu." Ia membereskan semua peralatannya.