Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 136


__ADS_3

Kinan menangis di dalam kamarnya, ia tidak tahu Raffa akan pulang secara mendadak dan memergoki dirinya berduaan bersama Juna.


"Kenapa jadi seperti ini sih, huhuhu...." Kinan menangis terus menerus hingga tertidur sampai pagi hari.


Kinan tidak mendapati suaminya pulang selama dua hari, Kinan begitu gusar hingga akhirnya pergi ke kantor Rio. Kinan tidak berani bertanya pada mama Navysah karena takut menambah beban pikiran mertuanya.


"Raffa pergi ke kota B, ia sedang membereskan masalah di sana." ujar Rio, "Aku tidak tahu masalah kalian, lebih baik secepatnya diselesaikan."


"Terima kasih." Kinan bergegas pergi meninggalkan perusahaan Hara.


"Yah, si PE'A pergi gitu aja."


Saat Kinan akan masuk ke dalam mobilnya, ia tanpa sengaja bertemu dengan Hanin yang keluar dari mobilnya.


"Mau kemana?" tanya Hanin


"Cari Raffa."


"Dia sedang mengurus proyek perumahan di kota B, masa kamu tidak tahu."


"Aku baru tahu!" dengus Kinan, ia mendekati Hanin dan mengenggam erat tangannya.


"Jaga suamimu, jangan sampai terjadi kesalahan pahaman diantara kalian apalagi sampai diambil pelakor, kamu pasti akan menyesal." ucap Kinan. Ia kembali ke mobilnya dan pergi ke kota B


"Kinan ngomong apa sih! Siapa juga yang menyesal jika Fafa diambil pelakor. Gue nggak peduli!" Hanin dengan santainya masuk ke dalam perusahaan.


* **


Kota B,


Kinan menghentikan mobilnya di sebuah rumah minimalis. Rumah penuh kenangan saat Raffa kecil bersama orangtuanya dulu. Ia mengetuk pintu dan melihat seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.


"Den Raffa belum pulang Non." ujarnya, "Biasanya dia pulang sore hari."


Kinan masuk ke dalam kamar Raffa. Kamar yang tidak terlalu besar namun nyaman dan tertata rapi.


Ia tidur karena lelah, perjalanan dari Jakarta ke kota B tidak terlalu jauh namun kemacetan tidak bisa dihindarkan.


Sore hari Kinan sudah menyiapkan makanan untuk Raffa, ia pun terlihat cantik. Kinan berharap Raffa akan memaafkannya dan mengakhiri kesalah pahaman ini.


Satu jam telah berlalu namun Raffa belum juga pulang,Kinan dengan sabar menunggunya pulang .


Suara klakson menandakan Raffa pulang dari kantornya, Kinan dengan cepat menyambut suaminya di depan pintu.


"Mas..." sapa Kinan, ia tersenyum paling manis agar Raffa terpesona padanya. Ia mencium takzim tangan Raffa dengan cepat.


Raffa hanya menatap sekilas wajah istrinya, ia masuk dan meminta bibi untuk menyiapkan makanan.


"Aku sudah memasak sop ayam kesukaanmu." Kinan mengisi piring Raffa dengan sayur dan banyak lauk. "Makanlah."


Raffa hanya menghela nafas panjangnya, ia melirik istrinya hanya menatap dirinya tanpa ikut makan dengannya.


"Makanlah." ucap Fafa dengan datar


"Tidak, aku hanya ingin melihatmu makan." sergah Kinan


"Kalau aku bilang makan ya makan." tegas Raffa


Kinan dengan cepat mengisi piringnya, ia begitu lahap menyantap makanan hingga licin tandas, sebenarnya ia sangat lapar namun Kinan menahannya agar bisa makan bersama Raffa.


Raffa menahan senyumnya saat melirik piring Kinan yang kini kosong. Saat di kantor, bibi menelepon dirinya bahwa Kinan datang dan memasak semua masakan tanpa meminta bantuan pada bibi. Kinan bilang, ia ingin membuat suaminya luluh dan kembali cinta padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku mas, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku." ucap Kinan setelah Raffa menghabiskan makanannya.


Raffa masih tetap diam tidak merespon ucapan istrinya.


"Mas..." Kinan menghampiri Raffa dan duduk di pangkuannya. "Aku sudah jujur sayang, please percaya padaku." ia memeluk erat tubuh Raffa sembari mencium pipinya bertubi-tubi.


"Aku mau mandi, minggirlah." ucap Raffa,ia bergegas ke dalam kamarnya dan masuk ke dalam bathroom. Ia cekikikan mengingat wajah Kinan yang begitu memelas.


"Emang enak aku kerjain!" ucap Raffa, ia membuka semua pakaian yang menempel dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Brakk!" pintu bathroom terbuka oleh Kinan yang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Ia mendekati suaminya dengan gaya menggoda sembari mengerlingkan matanya


"Kamu ngapain disini!?" tanya Raffa, ia menelan salivanya dengan susah payah karena melihat istrinya polos dan dengan sengaja menggodanya.


"Mandilah masa mau masak." Kinan mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Kan kamu sudah mandi."


"Berisik!" Kinan ******* bibir suaminya dengan cepat, ia benar-benar menyalurkan hasrat yang selama ini ia tahan. Dan Raffa menyambutnya dengan senang hati, mereka melakukannya di bawah guyuran air yang mengalir.


Seolah dua insan yang sedang dimabuk cinta, kerinduan yang selama ini mereka tahan kini menggelora begitu panas. Tak hanya di bathroom, berkali-kali Raffa menghajar istrinya di tempat tidur hingga lemas.


* **


Kinan tidak berdaya, tubuhnya terasa remuk karena Raffa seperti singa kelaparan yang membuatnya lemah seolah tanpa tulang.


Pagi hari, Raffa sudah menyiapkan makanan untuk Kinan agar sehat kembali.


"Bangunlah." Raffa mencium kening Kinan dengan lembut.


"Mas..., aku ngantuk. Badanku pegal semua dan ini sakit." ia menurunkan matanya ke area bawah.


"Ishhh... Kamu itu!" Kinan mengerucutkan bibirnya dan menerima suapan dari Raffa.


"Kamu sudah tidak marah denganku?" tanya Kinan


"Tidak sayang." Raffa kembali mengelus rambut Kinan dengan lembut.


Mereka pulang kembali ke Jakarta dengan hati bahagia, namun Raffa membelokan mobilnya ke sebuah hotel berbintang lima.


"Kok kita kesini mas?!" tanya Kinan, ia tidak tahu akan pergi ke hotel karena sepanjang perjalanan Raffa tidak membahasnya.


"Ada teman yang harus aku temui sebentar."


Raffa menggandeng Kinan dan masuk ke dalam sebuah ballroom.


"Kok gelap sih, emang hotel ini nggak bayar listrik."


Raffa hanya tersenyum karena istrinya begitu cerewet dan tanpa henti bercerita sepanjang perjalanan tadi.


"Surprise..." Seru semua orang di ballroom. "Happy Birthday Kinan."


Kinan terperangah dengan semua orang yang berada di ballroom, ada kedua orangtuanya, mertua dan semua adik iparnya. Semuanya hadir dengan wajah bahagia.


"Kamu siapkan ini semua mas?" tanya Kinan


"Rio dan Antoni beserta keluarga kita." ucap Kinan lagi


Kinan melihat Juna tersenyum dengan lebar, ia menjulurkan lidahnya seolah sedang meledeknya.


"Jangan bilang yang kemarin juga prank." ia menatap tajam pada Raffa seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Iya, aku yang meminta Juna untuk berakting. Tapi nyatanya, dia juga mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku bilang padanya hanya untuk mengobrol dan mengelus jilbabmu tapi dia melakukannya lebih dari itu, kurang ajar banget emang si Jono!" kesal Raffa


"Kamu jahat mas, huhuhu..." Kinan menangis kembali setelah tahu dirinya dikerjain, ia memukul dada suaminya.


"Aku dua hari selalu menangis karena kesalah pahaman ini tapi kamu melakukannya dengan sengaja."


"Maaf..." Raffa memeluk Kinan dan mencoba untuk menenangkannya.


"Dan kalian semua terlibat, mama, Rio juga kan."


"Semuanya terlibat, maaf." jawab Raffa


"Nyesel aku melayanimu di ranjang!" ucapnya dengan keras. "Aku dibodohi seperti ini." Kinan mencubiti lengan Raffa dengan keras


"Semua orang tergelak tawa mendengar ucapan Kinan.


Raffa menutup mulut Kinan agar ia berhenti berkata yang tidak - tidak. Ia menggandeng tangan istrinya ke tempat kue ulang tahun. Mereka menyanyikan dan Kinan memotong kue.


"Kok susah, sih!" Kinan melihat sebuah ponsel terbungkus plastik berada di dalam kue ulang tahun.


"Itu untukmu." ucap Fafa.


Kinan begitu bahagia mendapatkan sebuah ponsel keluaran terbaru, rasa kesalnya mendadak hilang dengan surprise yang Raffa berikan.


"Masih ada lagi sayang." Raffa mencium kening istrinya. " Itu kado dariku." Raffa menunjukan beberapa box tas merk terkenal yang ia beli dari luar negeri.


Kinan bertambah senang, ia membuka box dan melihat tas limited edition untuknya.


"Makasih sayang." Kinan memeluk Raffa dengan erat


"Masih ada lagi." ujar Raffa. Ia menunjukan sebuah kunci pada Kinan.


"Kunci apa ini?"


"Ini kunci rumah kita, aku sudah membeli rumah yang letaknya tak jauh dari rumah mama Navysah, jadi kamu tinggal jalan kaki kalau main ke rumah mama."


"Beneran mas!" ucap Kinan tak percaya, ia begitu senang saat Raffa memberinya rumah dekat dari mertuanya.


"Beneran, aku sudah mendapatkan investor di Inggris dan Fafa kembali membeli saham kami. Semuanya berjalan dengan lancar dan ini semua karena do'amu juga. Terima kasih sayang selalu mendo'akanku."


Kinan menangis bahagia, ia tidak menyangka suaminya begitu sayang dan memanjakan dirinya.


" Aku sayang banget sama kamu mas. " Kinan menyambar bibir Raffa


" Aku tahu itu. "


" Cie.. Cie.. sudah dong romantisnya. Aku lapar ini. "teriak Inka


" Dasar tukang makan! "cebik Inha


" Kamu juga ingin makan, kan?! "


" Sudah jangan bertengkar, kalian ini selalu seperti itu. "Navysah mencoba mendamaikan anaknya.


Hanin bahagia melihat Kinan dan Raffa begitu romantis. Namun disisi lain, hatinya merasa nyeri karena pernikahan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Hampir dua bulan mereka menikah tidak ada perubahan dan rasa cinta untuk saling memiliki. Hanin melirik suaminya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia hanya bisa menghela nafas panjangnya.


"Pasti sedang chatting sama pacarnya." gumam Hanin dalam hati


Fafa begitu sibuk membalas email yang masuk ke dalam ponselnya. Ia mendapatkan beberapa endorse dengan nilai kontrak yang cukup tinggi. Fafa tersenyum dengan lebar karena tabungannya kembali terisi.


" Mba Kinan bahagia banget ya, kapan kamu bisa romantis seperti mas Raffa." Anggrek melirik Alif yang berada di sampingnya, dan Alif hanya membalas dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2