
Fafa bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan serta susu untuk istrinya. Kehamilan pertama bagi Hanin begitu merepotkan. Ia selalu morning sickness dan uring-uringan, emosinya selalu naik turun, apalagi saat Fafa selalu usil padanya, Hanin akan merajuk dan menangis keras.
" Mama cengeng, jangan lupa minum susunya." goda Fafa. Ia memberikan segelas susu coklat dan roti bakar untuk istrinya.
"Aku tidak cengeng! ketusnya sembari memakan roti bakar.
" Kok, susu cokelat? " ia melirik susu buatan suaminya." Hari ini aku mau susu vanila A! "
" Ini vanila nih. "Fafa meremas gundukan d*da Hanin,ia berkata mesum dan menggoda istrinya.
" Nakal ya. " Hanin mencubit tangan Fafa dengan gemas.
" A, aku nanti siang akan bertemu Adit di dekat Cafe Hara. Boleh ya? " sambungnya lagi
" Ngapain sih ketemu dia! "Fafa merasa tidak suka saat Hanin ingin bertemu dengan mantan kekasih. Perasaannya jadi tidak tenang karena Hanin pernah mencintai Adit." Tidak usah ketemu dia sayang, lebih baik kamu di rumah.
" Cuma ngobrol A, tadi malam dia telepon aku. Boleh ya A, cuma ketemuan saja tidak lebih,kan sekarang aku sayangnya cuma sama kamu." Hanin memegang tangannya, meyakinkan bahwa Fafa suami terbaiknya.
"Ya sudah aku izinkan, tapi kamu harus jaga kepercayaanku, jangan terlalu lama mengobrol dengannya.Jangan terlalu capek bekerja, ingat kamu sedang hamil."
Fafa sebenarnya ingin Hanin off dari pekerjaannya namun, istrinya selalu menolak dengan alasan jenuh di rumah.
" Iya A. "
Fafa setiap hari selalu mengantarkan istrinya untuk pergi ke kantor. Semenjak Hanin hamil, Fafa selalu memprioritaskan istrinya bahkan saat ia ngidam ingin dibelikan sesuatu Fafa selalu menurutinya.
Hanin kini berkutat dengan laptop nya, ia dengan semangat menyelesaikan pekerjaannya karena saat pulang nanti ia ingin makan malam bersama suaminya di sebuah restoran.
"Pulang nanti aku ingin bersama AA ke restoran, aku ingin makan seafood dan disuapi AA." Hanin menggulum senyum, ia begitu bahagia bisa menikah dengan Fafa yang kini selalu perhatian dengan kehamilannya.
"Sudah jam makan siang lebih baik aku bertemu Adit." Hanin berharap ia bisa berteman baik dengan Adit, dan Hanin ingin menunjukan bahwa dirinya bahagia setelah menikah dengan Fafa.
Hanin bergegas masuk ke dalam Cafe yang terletak tidak jauh dari kantornya,ia menemui Adit dengan Rara yang kini sedang hamil besar.
"Aku kira kamu sendirian dit." ucap Hanin
"Rara ingin bertemu denganmu." jawab Adit. "Hanin, bagaimana kabarmu?" Adit tersenyum dengan Hanin
"Aku baik-baik saja." Hanin mengulas senyum.
"Sekarang sudah masuk berapa bulan Ra?" Hanin mengelus lembut perut Rara yang membuncit.
" Delapan bulan." jawab Rara, " Terima kasih sudah memaafkan kesalahan kami Nin, karena kamu Adit mau bertanggung jawab dan lepas dari jeruji besi." ucap Rara dengan tulus.
" Hanya itu yang bisa aku lakukan, semoga kalian bahagia."
" Apa kamu bahagia?" Adit menatap intens wajah Hanin," Apa pria gila itu menyakitimu? "
__ADS_1
" Aku sangat bahagia menikah dengannya. Dan lihat, sekarang aku juga sedang hamil tujuh minggu." Hanin tersenyum lebar saat mengucapkannya, rona wajahnya berubah begitu ceria.
" Dia memang gila dan menyebalkan, tapi aku bahagia bersamanya. "
" Aku turut bahagia Nin." ucap Adit dengan tulus.
Mereka tertawa bersama dan saling bercerita kegiatan masing-masing.
Setelah selesai mengobrol Hanin pulang ke perusahaan namun saat dia berjalan di trotoar, ia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.
" Hanin...!!" teriak Kinan, ia keluar dari taxi dan ikut berjalan dengan Hanin. "Darimana Nin?!"
"Ketemu seseorang di Cafe depan, mba Kinan mau bertemu kak Raffa ya?"
" Iya, ini aku bawa makanan untuk mas Raffa."
"Besok jadi operasi mbak."
"Jadi, nanti malam aku menginap di RS, agar pagi bisa operasi lebih cepat, do'ain aku ya Nin. "
"Aku selalu do'ain mba Kinan, semangat sembuh dan cepat dapat momongan mba."
"Aamiin."
Saat mereka mengobrol bersama, terlihat sebuah mobil minibus datang menghampiri mereka secara mendadak. Empat orang pria keluar dari mobil itu dan membawa mereka secara paksa.
" Siapa kalian!? Lepaskan!? " Kinan meronta ingin dilepaskan
" Diam kalian!! Masuk!! " bentak seorang penculik.
Mereka membawa Kinan dan Hanin ke sebuah gedung kosong dan menyekapnya disana.
" Lepaskan kami!! Apa maumu?! " sentak Kinan, ia begitu penasaran apa yang menyebabkan pria itu menculik mereka.
"Tanyakan saja pada suami kalian!!"
"Hei bodoh!! Bagaimana kita bisa tanya dengan suami kami, kalau ponsel kami disita kalian!" Hanin begitu kesal, tangannya terasa sakit karena ikatan tali yang mengikat tangannya
" Kau panggil aku bodoh!" teriak pria penculik itu.
"Plak!!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hanin, pipinya terlihat merah dan ia meringis kesakitan.
" Jangan berisik! Salahkan saja suami kalian karena berani bermain dengan kami." ucap seorang penculik lainnya.
Mereka keluar dari gudang itu dan mengunci Hanin dan Kinan.
Ada beberapa orang yang menjaga pintu ruangan, mereka sengaja memantau korban lewat CCTV.
__ADS_1
" Mba Kinan, kenapa kita disekap seperti ini. " Hanin mulai menangis, " AA.... huhuhu...., aku mau mau pulang A..." ia merasa takut tidak bisa bertemu dengan suaminya lagi.
"Jangan menangis, aku sedang berfikir Hanin." Kinan mulai mencari cara agar bisa keluar dari gudang itu. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Beberapa jendela tertutup dengan kayu, hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam ruangan itu. Kinan merasa sedikit sesak nafas karena gudang itu berdebu dan banyak hewan laba-laba.
"Bagaimana cara aku menghubungi mas Raffa, bahkan sekarang aku tidak punya ponsel." gumam Kinan dalam hati.
"Mba Kinan, anakku lapar." perut Hanin mulai berbunyi, ia merasa lapar kembali.
" Apa ada orang di luar!!" teriak Kinan
"Kenapa?" salah seorang penculik masuk ke dalam ruangan gudang
"Tolong beri adikku makanan, dia sedang hamil. Aku berjanji tidak akan kabur dari sini." pinta Kinan dengan memelas
Pria penculik itu hanya menatap datar wajah Hanin, ia melirik kearah perut Hanin yang masih datar.
"Tunggulah sebentar."
Pria itu keluar dari ruangan dan membeli dua bungkus nasi.
"Makanlah." Pria itu memberikan makanan kepada Hanin dan Kinan.
"Bagaimana aku bisa makan, kalau tangan kami diikat." sergah Hanin dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ya ampun, dia benar-benar cerewet dan merepotkan!" dengus penculik itu dengan kesal. " Aku akan menyuapimu dan berhentilah untuk bicara, kamu begitu berisik!"
Ia menyuapi Hanin dengan cepat, dan menyuapi Kinan dengan bergantian.
"Pak, nanti dua jam lagi beri aku buah - buahan ya . Aku selalu lapar karena aku sedang hamil." pinta Hanin
"Kamu fikir aku pelayanmu hingga kau bisa meminta apapun dariku!" bentak pria itu. "Aku ini penculik, bukan pelayanmu!"
" Pak,lebih baik kamu jadi pelayan kami daripada jadi penculik, gaji kamu bisa lebih besar dari pekerjaan ini."
" Minta saja sama AA Fafa, dia pasti akan memberimu banyak uang." Hanin mencoba bernegosiasi dengan si penculik agar mau melepaskannya.
"Tidak bisa!, sebaiknya kamu diam daripada banyak bicara. Aku hanya kasihan karena kamu sedang hamil!"
Pria itu pergi meninggalkan Kinan dan Hanin.
Di sisi lain,
Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam namun Hanin belum pulang. Saat Fafa menelepon ponsel istrinya pun tidak aktif. Ia menelepon Raffa dan bertanya apakah istrinya sudah pulang atau belum, namun jawaban Raffa Hanin tidak ada di tempat sejak siang hari. Raffa pun mencari Kinan karena sudah malam istrinya tidak kunjung pulang, ia mendapat telepon dari rumah sakit tentang Kinan yang belum kunjung datang ke rumah sakit.
"Mereka kemana ya?" Fafa bingung mencari istrinya. Ia menelepon mama Navysah namun jawabannya tidak ada.
"Tadi siang pamit bertemu Adit, jangan - jangan Hanin diculik dia."
__ADS_1
Sedangkan Raffa memeriksa GPS Kinan yang terhubung dengan ponselnya, ia menautkan dahinya dan merasa bingung.
" Kenapa Kinan berada jauh di daerah bagian utara. Ada yang tidak beres." Raffa menelepon seseorang untuk menyelediki dimana