Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 47


__ADS_3

Davian dan Raffa pulang dengan senyuman di wajahnya, mereka tertawa dan saling merangkul hingga membuat Navysah bingung apa yang membuat mereka rukun kembali.


"Ya, yah nanti setiap minggu Ayah harus nemenin kita main jangan sibuk terus" Raffa menggandeng tangan Ayahnya dan masuk ke dalam rumah.


"Iya,iya yang penting kalian senang nanti Ayah atur jadwalnya" balasnya.


"Ya allah adem banget deh mama lihat yang beginian, gitu dong rukun terus" ucap Navysah sembari mencium tangan suaminya.


"Nanti sore aku tunggu di kolam renang yah" ia bergegas menuju kamarnya.


"Iya" balasnya, namun istrinya segera menarik lengan Davian. Ia sangat penasaran apa yang telah terjadi dengan mereka.


"Mas, kamu sudah baikan sama Raffa. Kalian tertawa bersama,coba ceritakan apa yang terjadi aku ingin dengar"


" Jatah preman dulu baru aku ceritain" bisiknya sembari mengerlingkan matanya. Navysah mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya. "Kamu itu selalu mesum, masih siang panas tahu "


" Nggak papa cari keringat olahraga siang, besok kamu ke Semarang beri aku bekal dulu sebelum kamu pergi"


"Cerita dulu baru aku kasih bekal"


"Raffa mau kuliah arsitek dan dia mau meneruskan perusahaan setelah dia wisuda" ucapnya dengan tersenyum lebar.


"Sungguh..!!" Navysah terbelalak tidak percaya, dan ia mendapat anggukan dari suaminya.


"Kok dia akhirnya mengalah, apa alasannya?" tanya Navysah.


"Aku tidak ingin tahu alasannya, yang terpenting dia mau menggantikanku" ia memeluk istrinya dengan erat dan menghujani dengan banyak ciuman.


"Ayah...!!" teriak Fafa, ia melihat dari jauh ibunya dipeluk dan dicium Ayahnya. Ia berlari bersama Inha dan menatap tajam Ayahnya, "Mah, kata Inha dia mau bobo sama mama di kamar. Ayah kerja saja sana, biasanya juga sibuk" ucap Fafa, ia menggandeng tangan ibunya agar menjauh dari sang Ayah.


"Kata mas Fafa kita mau main, Inha kan nggak bilang mau bobo! " ia bingung dengan kakaknya yang mengajaknya masuk ke kamar lagi.


"Main nya nanti sore sama mas Raffa juga, ayo kita bobo saja" ia menggandeng adiknya kembali. Sebelum naik ke lift ia sempat untuk meledek Ayahnya dengan menjulurkan lidahnya dan mengacungkan jempol kearah bawah. "Kasihan deh Ayah, ini kan mama aku"


"Bocah itu rese banget kalau ibunya aku cium, dari dulu nggak mau kalah. Ada saja ide nya agar dia bisa membawa Navysah dariku " ia tersenyum melihat Fafa yang sedang meledeknya.


***


Di kolam renang rumah Davian,


"Ayah.. Ayah.." teriak Alif


"Mas Raffa.. Mas Raffa" teriak Inka dan Inha.


Davian dan Raffa kini berenang menuju finish. Permintaan kedua Raffa yaitu lomba berenang dan siapa yang kalah harus memijit pihak yang menang.

__ADS_1


"Ayo.. Ayo.. Ayo...Ayah, Mas Raffa." semua orang yang melihat bersorak untuk mendukung dan memberi semangat mereka.


"Yah, sudah yah ngalah saja yah. Ayah sudah tua mendingan jadi tukang pijit yah daripada sesak nafas di dalam air!" teriak Fafa, sejak acara dimulai dia selalu mendukung Raffa menang daripada Ayahnya.


"Iya yah, sudah ngalah saja yah daripada sesak nafas Ayah sudah tua nanti Inka sama Haha yang pijitin Ayah deh!" teriak Inka.


Dan benar saja Raffa berhasil mengalahkan Ayahnya kali ini. Dia merasa sangat senang karena bisa mengalahkan ayahnya.Sedangkan Davian hanya mengerucutkan bibirnya.


" Cuma Alif yang mendukung Ayah, kalian bertiga mendukung mas mu! "Davian pura-pura bersedih tidak mendapat dukungan dari ketiga anaknya.


" Tapi memang mas Raffa lebih jago yah, Fafa takut Ayah sesak nafas dan tenggelam kan Ayah sudah tua, hehehe"ucapnya dengan cengengesan.


Davian hanya memutar bola matanya malas, sejak berenang tadi dia kurang fokus karena ucapan Fafa sangat menohok "Sudah tua yah nanti sesak nafas di dalam air, mendingan jadi tukang pijit saja yah." ucap Fafa.


"Bocah ini kalau ngomong tanpa tedeng aling-aling langsung ceplas ceplos" gerutunya dalam hati. Ia melihat Fafa bersiap untuk melawan Alif di lomba renang.


"Yeyyyy... Mas Fafa menang" teriak Inka.


"So pastilah menang Fafa..!" ia membusungkan dadanya dengan sombong.


"Iya, tapi kalau pelajaran mentah. Kalau di bidang olahraga memang juaranya" ucap Navysah yang baru saja datang dan membawa brownies dan minuman untuk anaknya.


"Alif boleh menang di pelajaran, kalau Fafa di Olahraga saja. Kepintaran Fafa sudah diserap Alif semua, mungkin saat mama melahirkan kami, Alif menendang kepalaku kali ya mah makanya Alif lebih pintar dari Fafa" celotehnya, entah pemikiran dari mana ia selalu berkata absurd. "Mungkin saat di dalam perut kita suit, siapa yang menang keluar duluan tapi nyatanya Fafa kalah beberapa menit darinya" sambungnya lagi sembari mengunyah kue bronis.


"Memangnya bayi bisa suit ka" ucap Inha dengan polos nya.


"Ayo, jadi lawan Inka nggak. Cepetan renang sana" Alif menunjuk dengan dagu nya ke arah kolam renang.


"Jadi" ucapnya lirih


"Eh, eh jangan!, Inha masih sakit jangan berenang dulu" Navysah menahan tangan anaknya untuk tidak berenang.


"Haha mau renang mah melawan Kaka" tegasnya.


"Tapi kamu masih sakit, sudah duduk saja jadi penonton" perintah ibunya.


"Nggak mau!, Haha pokoknya mau renang" ia berlari menuju garis start bersama Inka. Navysah menghela nafas kasarnya, percuma ia memaksa anaknya yang sama keras kepalanya dengan Davian. Sedangkan Fafa kini meniup peluit tanda dimulai perlombaan.


"Ayo.. Ayo.. Princess Inka" teriak Fafa


"Ayo Haha...kalahkan Inka, cepetan" teriak Alif. Mereka berdua berenang dengan gaya dada dan Inka terlebih dahulu sampai di finish.


"Yeeeeyyy.. Inka menang. Haha, kamu harus pijitin aku ya" ucapnya.


"Iya"

__ADS_1


"Tuh kan!, kamu nggak bisa mengalahkan aku di Olahraga" ucap Inka, ia menari-nari kegirangan dengan gayanya yang pecicilan karena berhasil mengalahkan adiknya.


"Yah, PE'A nya mirip kamu yang hehehe" celetuk Davian, ia tertawa kearah istrinya. Dan Navysah mengedikan bahunya.


"Inka, main barongsai yuk!" ucap Fafa.


"Ayo, nanti kita yang main. Mas Alif yang pukul saron mini nya (alat musik tradisional yang terbuat dari beberapa lempengan logam dan kayu sebagai dudukan nya, biasa disebut ricik dalam gamelan)


" Ayo" Fafa mengambil kain panjang yang sedang dijemur. Mereka meliuk - liuk mengibarkan kainnya dan menari seperti ular naga, Fafa didepan sebagai kepala dan Inka sebagai ekornya.


"Mas Alif ayo dipukul alat musiknya. Kok diem saja " teriak si cerewet Inka.Alif hanya mendengus kesal, ia sebenarnya tidak berniat bermain seperti ini.


"Tung.. Ting.. Tang.. Ting.. Tung.. Ting.. Tang.. Ting.. Tung.. " suara saron di pukul dengan stik kayu yang ujungnya diberi karet.


"Kok bunyinya kayak topeng monyet,Inka berasa jadi monyet nya dong" ia cemberut sembari menggerucutkan bibirnya.


"Hahahaha..." Inha tertawa melihat saudara kembarnya kesal, ia ingat saat pulang sekolah dan menonton topeng monyet tak jauh dari sekolahnya. "Inka mirip si Emong hahahaha.. " ucapnya. Emong nama monyet yang sering tampil di dekat sekolahnya.


"Enak saja!, masa aku disamain sama monyetnya si mamang"ketusnya


"Ya sudah Ka, kamu ambil tutup panci dua minta sama budhe" perintah Fafa.


Inka kembali dengan membawa dua buah tutup panci dan menyerahkannya pada Alif, suara tutup panci yang lebih mirip dengan alat pengiring barongsai membuat mereka lembali bersemangat. Mereka menari kesana - kemari layaknya ular naga hingga membuat Inha tertawa keras karena mereka sempat terpeleset dan terjatuh ke dalam kolam.


"Hahahaha.. Hahahaha" Mereka semua tertawa dengan kelakuan duo absurd yang kini basah kuyub kembali.


"Hahahaha, Mas lagi mas... Kaka masuk lagi kedalam kolam" Inha tertawa keras, ia merasa senang dengan adegan adu mulut antara Fafa dan Inka setelah terpeleset kedalam kolam renang.


"Ya ampun, si princess Haha akhirnya bisa tergelak tawa" ucap Raffa sembari mengelus rambut adiknya."Pinternya"


" Haha seneng mas main kayak gini" tanya Fafa, ia menghampiri adiknya yang tertawa keras dan sejak tadi cerewet mengomentari dirinya dan Inka yang sedang bermain"


"Seneng banget" balas Haha,


"Ya sudah nanti mas main terus tiap minggu kayak gini yang penting Haha seneng bisa tertawa terus dan cerewet jangan diam terus nanti dikira bisu " ucap Fafa.


Davian dan Navysah merasa bahagia, ini pertama kalinya Inha secerewet ini dan bisa tertawa keras,biasanya dia hanya tersenyum dan pelit dalam bicara.


" Terus aku harus main saron ginian tiap minggu" gerutu Alif, ia tidak ingin bermain seperti topeng monyet lagi.


"Iya dong kan biar Haha seneng. Masa kamu nggak mau berkorban buat adik" seru Fafa. "Tidak boleh protes dan tidak ada penolakan lif!" ucapnya sembari menjitak kepala Alif.


"Fafa..!!, ngomong biasa saja jangan menjitak kepalaku" murkanya, ia tidak terima dan mengejar Fafa yang masuk ke dalam rumah.


"Hah..., rusuh lagi si Fafa" ucap Raffa, " Mah, aku mau pergi dulu sama Rio dan Antoni"

__ADS_1


"Ya sudah hati-hati, pulangnya jangan larut malam"


"Ya"


__ADS_2