Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 72


__ADS_3

Raffa masuk di dalam ambulans dan langsung mendapatkan pertolongan pertama, ia diberikan alat bantu oksigen. Sejak tadi Jihan terus menangis terisak, tidak tahan melihat kondisi Raffa yang begitu mengenaskan.


"Raffa, buka matamu. Ayo..." Jihan mengenggam erat tangan Raffa


Royal Hospital


Raffa langsung masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan, Jihan yang kini sedang menunggu di depan ruangan merasa tidak tenang.Pikirannya kini sangat kacau,berkelana kemana - mana.


" Ya allah, please selamatkan Raffa. Dia pria baik, kumohon" lirihnya, ia melafalkan beberapa do'a dan meminta pertolongan pada yang Maha kuasa. Airmatanya mengalir deras hingga matanya kini berubah merah, penampilannya begitu berantakan tidak ia hiraukan, ceceran darah Raffa yang melekat pada jaketnya begitu banyak. Ia pun melihat tangannya penuh dengan darah. Tangan yang baru saja digenggam Raffa sebelum kecelakaan itu terjadi.


Ia membersihkan tangannya di wastafel sembari menangis keras, ia melihat dengan jelas saat Raffa terpelanting beberapa meter dari jalan hingga tubuhnya membentur aspal.


"Raffa pasti kuat, dia tidak akan meninggalkanku kan" ucapnya bermonolog.


"Ia pasti bisa melewati masa kritis, aku yakin itu. Dia tidak akan meninggal kan? " Jihan mulai meracau sendiri dengan tidak jelas, ia takut nyawa Raffa tidak akan tertolong mengingat begitu banyak darah yang keluar dari tubuhnya


Ia segera kembali menunggu kabar dari dokter, Rio yang baru saja datang segera menghampiri Jihan.


" Jihan, apa yang terjadi?" Rio terlihat begitu panik, nafasnya tidak beraturan karena sejak mendapat telepon dari Jihan dia langsung berlari ke rumah sakit.Ia melihat jaket Jihan yang berlumuran darah.


"Rio..." isak tangis Jihan pecah, dia segera memeluk Rio dengan erat, "Raffa... Raffa... begitu menyedihkan.Darahnya keluar begitu banyak" sambungnya lagi, ia meracau kembali tidak tahu apa yang akan ia ucapkan karena begitu menyesakkan dada.


"Tenanglah, Raffa pasti selamat. Kita berdo'a agar Allah menyelamatkannya, dia temanku terbaik. Aku akan berusaha semaksimal mungkin." Rio meneteskan airmatanya, ini pertama kalinya ia menangisi Raffa. Teman terbaiknya


Beberapa jam berlalu, seorang dokter wanita langsung menghampiri mereka dan mengatakan kondisi Raffa saat ini.


"Patiens lack a lot of blood, there must be an AB donor. Meanwhile, the hospital's blood stock is empty. Please help us" ucap sang dokter.


(Pasien kekurangan banyak darah, harus ada donor darah AB, sedangkan stok darah di rumah sedang kosong. Tolong bantu kami)


"The patient must be operated on immeditely there is a shift in the bone in the left shoulder. His leg was badly injured. Please contact the family and sign some file immeditely. This is the victims ring and wallet, please keep it" (Pasien harus segera di operasi ada pergeseran tulang di bagian bahu sebelah kiri. Kakinya mengalami cedera cukup parah. Tolong hubungi keluarga dan tanda tangani segera beberapa berkas.Ini cincin dan dompet korban, tolong disimpan)


Jihan menerima barang itu dari tangan sang dokter.


"Aku bisa mendonorkan darahku, kebetulan darahku AB" ujar Jihan.


"Rio, kamu urus berkasnya. Kita harus menyelamatkan Raffa dengan cepat." perintah Jihan.

__ADS_1


"Oke"


Jihan segera melakukan transfusi darah dan Rio bergegas ke bagian administrasi.


* **


Pagi hari,


Wajah Jihan begitu pucat, matanya begitu bengkak karena semalaman ia tidak tidur dan selalu menangisi Raffa. Rio kini berada di ruang ICU karena Raffa sudah dipindahkan ke ruangan ini. Sudah hampir sore hari Raffa tidak membuka matanya. Rio tidak henti - hentinya menangis melihat keadaan Raffa yang begitu mengenaskan dengan dibantu dengan alat pernafasan . Kaki dan tangan kirinya di gips dan dibalut dengan perban, patah tulang cukup parah. Untungnya Raffa tidak cedera parah di bagian kepala,dan jika itu terjadi pasti Raffa akan kehilangan nyawanya menurut dokter. Allah masih menyayanginya.


Disisi lain,


Hanin mengerjabkan matanya dan melihat sekeliling. Ia merasa bingung karena berada di rumah sakit,dan mencoba mengingat kejadian tadi malam. Kepalanya sedikit sakit, beberapa luka lecet kini terlihat di kepala dan tangannya.


"Good Afternoon miss" sapa seorang perawat


" What happend?, Why am I here? " tanya Hanin


"Accident" ucap sang perawat, ia memberikan beberapa obat untuk Hanin.


"Oh, your friend had an accident, now he is in the ICU. The situation is quite serious" ( Oh, teman anda kecelakaan, sekarang dia berada di ruang ICU. Keadaannya cukup mengkhawatirkan)


"Mba Jihan, apa yang terjadi?" tanya Hanin dengan bingung


"Plak..!" satu tamparan keras mendarat di pipi Hanin, sakit dan terasa panas baginya.


"Kamu masih tanya apa yang telah terjadi!" bentaknya dengan keras, "Gara-gara kamu Raffa harus terbaring di ruang ICU dengan tubuh begitu menyedihkan. Hampir saja dia mati dan kamu masih bertanya dan tenang seperti ini." Jihan begitu geram karena Hanin lambat untuk berfikir.


"Benarkah itu." Ia menatap tidak percaya, "Bagaimana sekarang keadaan kak Raffa mba?" tanya Hanin kembali, ia menangis mendengar keadaan Raffa.


"Lihat saja sendiri, tunggu Rio keluar terlebih dahulu." seru Jihan dengan emosi.


"Kalau bukan Raffa yang menolongmu, pasti kamu sudah meninggal di pinggir jalan" sinis Jihan dengan tatapan membunuh


"Maafkan aku kak Raffa, aku tidak tahu akan terjadi seperti ini. Semuanya salahku" Hanin menangis meraung dengan keras


"Sudahlah, jangan menangis. Kita harus memberi Raffa kekuatan dan do'a agar dia segera sembuh" Jihan memeluk Hanin agar sedikit tenang.Rasa ibanya mengalahkan rasa bencinya kepada Hanin.

__ADS_1


* * *


Raffa mulai membuka matanya sedikit demi sedikit, ia melirik Rio yang sedang menangisinya.


"Rio..." lirih Raffa,


Rio langsung mengenggam tangan Raffa, "Aku disini, kamu jangan banyak bicara. Cepatlah sembuh aku tidak ingin melihatmu seperti ini "


"Rio..." lirih Raffa, "kemarilah"


Rio mendekatkan telinganya di bibir Raffa.


"Jangan kabari keluargaku, jangan bilang Kinan, kumohon" bisiknya di telinga Rio dengan suara terbata-bata.


"Tapi mereka harus tahu keadaanmu Raffa"


"Tidak, jangan lakukan itu. Mama pasti akan sedih dan depresi melihatku seperti ini" ia menjeda ucapnya, nafasnya terasa sangat berat. " Ayahku pernah seperti ini dan meninggal. Aku tidak ingin mama Navysah trauma kembali, kumohon. Bilang padanya aku sibuk kerja " Raffa meneteskan airmata disudut matanya .


"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kamu inginkan" Rio mengusap sudut mata Raffa


"Terima kasih"


* **


Hanin menelepon orang tuanya agar segera datang ke Inggris dan membantunya mengurus kak Raffa. Ia merasa bingung karena tidak punya kerabat yang berada Inggris, Hanin menceritakan semuanya pada ibunya dengan terisak. Keesokan harinya bu Ria terbang ke Inggris sesuai permintaan anaknya. Ia membantu segala keperluan Raffa dan selalu menjaganya. Baginya, Raffa dan Rio seperti anaknya sendiri. Memang tidak ada hubungan darah diantara mereka namun kedua pria itu selalu mau memberikan waktu dan nyawanya untuk menjaga Hanin,anak sulungnya.


"Maafkan Hanin, nak Raffa" lirihnya, ia melihat tubuh Raffa penuh dengan perban.


"Maafkan anak ibu, dan terima kasih kamu sudah menjaganya." Bu Ria menangis terisak, ia tidak bisa membayangkan jika Hanin yang berada di posisi seperti ini. Tidak akan sekuat Raffa dan bisa jadi dia akan kehilangan anaknya.


"Ibu..." lirih Raffa, "Aku baik-baik saja jangan menangis " pintanya


"Raffa, apa ibu harus mengabari orang tuamu. Mereka dan tunanganmu harus tahu keadaanmu sekarang."


"Jangan bu, kumohon. Aku tidak ingin mereka khawatir." pinta Raffa, " Kinan akan sedih melihatku seperti ini, lemah tak berdaya." ucapnya dengan terbata-bata


" Kamu masih memikirkan keluarga dan tunanganmu disaat seperti ini. Ibu bangga mengenalmu, mulai sekarang kamu dan Rio menjadi anak angkat ibu. Jangan sungkan jika kamu membutuhkan sesuatu, ibu akan merawatmu sampai sembuh. Terima nak" Bu Ria mengelus rambut Raffa dan menciumnya dengan lembut layaknya anak sendiri.

__ADS_1


* **


Pumpung masih libur, bayar janji sama reader untuk update😁😊😘😘🀣


__ADS_2