Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 85


__ADS_3

Kinan mengerjapkan matanya, mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina mata. Ia merasa sedikit pusing dan mual karena penyakit asam lambung yang di deritanya.


"Kinan..." sapa kedua pria yang berada di sisi yang berseberangan di ranjang Kinan,saling menatap dan sedikit terasa aura dingin diantara mereka.Raffa dan Juna merasa senang Kinan bisa tersadar kembali.


"Aku dimana?" Kinan melirik ke kanan dan kiri, tempat yang tidak asing bagi dirinya karena setiap hari dia bekerja di rumah sakit.


"Nan, kamu sudah baikan?" Raffa memegang tangan Kinan dan mengelus rambutnya. Raffa begitu khawatir hingga ia menunggu Kinan tersadar.


"Lepaskan...!" Kinan menghentakan tangan Raffa dengan kasar, dia pun tidak ingin rambutnya disentuh oleh Raffa. Matanya menatap tajam kearah Raffa. Sorot mata penuh amarah, kekecewaan dan rasa kesal ia tunjukkan pada Raffa.


"Nan, kamu baik-baik saja?" tanya Juna, ia menyentuh tangan Kinan dengan lembut.


"Abang...huaaa.. Huhuhu..." Kinan menangis dan memeluk Juna dengan erat, menumpahkan segala rasa sesak yang ada di hatinya. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Juna.


Raffa hanya menatap pemandangan yang ada di depannya. terasa menyesakan dada


Alif ingin sekali menghajar Juna yang berani memeluk Kinan di depan mata kakaknya, namun Raffa menahan tangan Alif agar tidak terjadi perkelahian.


"Mas...!" seru Alif, "Ini tidak bisa dibiarkan, berani sekali mereka berpelukan seperti itu di depan mas." sentak Alif


"Mas!, jangan diam saja lihat mba Kinan seperti itu. Dia tunanganmu, tidak seharusnya berpelukan dengan pria lain." ucap Alif dengan emosi


" Kami sudah putus, tidak ada hubungan lagi. Ini semua keinginan kakakmu karena tidak mencintaiku jadi sekarang aku bebas dengan pria manapun." tegas Kinan sembari sesenggukan.


" Tidak mungkin." Alif terkejut dengan pernyataan Kinan, ia menatap wajah kakaknya dengan tatapan sengit. Bagaimana bisa kakaknya memutuskan pertunangan secara sepihak tanpa berdiskusi dengan keluarga. Tidak mencintai, Alif merasa janggal karena ia tahu mas Raffa menyayangi dan mencintai Kinan walaupun mas Raffa selalu diam dan bukan tipe orang yang bisa mengucapkan kata cinta. Dan bagaimana dengan keadaan ibunya nanti jika tahu Kinan batal menjadi menantunya, tidak bisa dibayangkan. Oh my God...


"Kinan benar, kami sudah putus." Raffa beranjak dari tempat duduknya


"Alif, kita pulang. Sebentar lagi ada tante Ifa dan Om Shafiq. Kinan sudah ada yang menjaga disini." Raffa melirik Juna yang masih memeluk Kinan.


"Mas...!, Ini pasti salah." Alif masih tidak percaya dengan keputusan kakaknya.


"Abang, maukah kau menjadi pacarku?" pinta Kinan memelas kepada Juna.


"Jangankan berpacaran, aku akan segera menikahimu. Hidup bersama dan bahagia selamanya, mencintaimu dengan tulus." jawab Juna sembari mencium kening Kinan.


Alif terperanjat melihat pemandangan yang menjengkelkan untuknya, ia mengepal erat tangannya.


Raffa menghentikan langkahnya, ia tidak menyangka Kinan akan bergerak cepat menggantinya dengan pria lain. Segera menikahimu, satu kalimat keramat yang membuat dadanya sedikit nyeri.


"Sebentar lagi Kinan milik orang lain." gumam Raffa dalam hati.

__ADS_1


Raffa menatap datar kepada pasangan di depannya, tatapan yang sulit diartikan. Ia keluar ke ruang rawat Kinan dengan diikuti Alif yang selalu protes tanpa henti pada Raffa.


* **


Raffa sulit memejamkan matanya karena terniang saat Kinan dikecup keningnya oleh Juna.Ia merasa keputusannya sudah benar namun hatinya menolak untuk itu.


Ia bangkit dan memijit kakinya dan segera meminum obat anti nyeri. Kakinya terasa sakit kembali setelah menggendong Kinan siang tadi. Raffa teringat saat Kinan melempar cincin di lantai, ia mencoba mencari di setiap sudut. Setelah setengah jam ia menemukan cincin di sudut meja belajar.


"Ini dia." Raffa meraba cincin berlian itu dan tersenyum, mengingat kembali saat pertunangannya bersama Kinan. "Maafkan aku Kinan." lirihnya.


"Tok.. Tok.. Tok.." suara pintu kamar Raffa diketuk dari luar. Raffa segera menyimpan cincin di nakasnya.


Navysah masuk dan menghujani cubitan di pinggang Raffa dengan keras .


"Ngeselin!, beraninya putus dengan Kinan. Kamu maunya apa Raffa!" Navysah menahan amarah, ia benar-benar kesal Raffa mengambil keputusan tanpa bertukar fikiran dengan orang tua.


"Aduh.., sakit mah. Sudah cukup." Raffa menahan tangan ibunya agar tidak menghujani cubitan kembali.


"Ini keputusan Raffa." tegasnya


" Lihat mama." Navysah menolehkan wajah anaknya kearah dirinya. " Jangan membohongi perasaanmu, Mama tahu kamu sayang dan cinta dengan Kinan, dia gadis baik, dia pasti menerima dirimu Nak." ketus Navysah dengan kesal


" Mah..., jangan sok tahu."


"Mah, aku tidak ingin Kinan menyesal menikah denganku. Lihat!, anakmu sudah cacat bahkan untuk menggendong Kinan aku hampir tidak mampu,kakiku bergetar hebat. Aku malu mah, malu." Raffa berkaca-kaca setelah mengucapkannya.


"Sabar Nak, mama yakin kakimu akan kembali seperti semula.Sebentar lagi pasti sembuh." Navysah memeluk anaknya dengan erat, ia tahu Raffa belum sembuh total. Dokter pun menyarankan agar Raffa tidak bekerja terlalu berat dan olahraga yang ringan saja. Raffa bisa berjalan secara normal namun ia masih kelelahan jika harus berjalan terlalu jauh, dia juga harus mengkonsumsi obat anti nyeri saat kakinya terasa sakit.


"Jawab pertanyaan mama dengan jujur, apa kamu mencintai Kinan walaupun sedikit?"


Raffa membuang wajahnya ke arah lain, dirinya merasa malu untuk mengakui semuanya.


"Jawab Nak." pinta Navysah


"Aku sayang Kinan mah. Selama ini cuma Kinan yang selalu aku ingat, tidak ada wanita lain yang cerewet dan menyebalkan seperti dia. Mama tahu kan Raffa selalu memakai cincin pertunangan itu agar aku selalu membatasi diri dengan perempuan lain agar Raffa tahu ada Kinan yang selalu menungguku tapi setelah kecelakaan itu, aku kehilangan harapan. "lirih Raffa


" Mama tahu. "Navysah mengelus punggung anaknya." Sekarang kamu tidur ya. " Navysah membalut selimut ke tubuh anaknya.


" Mama sayang kamu sayang. "


" Raffa juga sayang mama. " matanya terpejam dan menghirup aroma parfum khas ibunya,wangi vanila terasa sangat lembut hingga terdengar suara Raffa yang tertidur pulas.

__ADS_1


" Mama akan melakukan sesuatu agar kamu bahagia Nak." ucap Navysah dalam hati.


* **


Pagi hari Raffa sudah sampai di rumah sakit untuk menjenguk Kinan. Ia sengaja datang pagi agar bisa menyuapi Kinan, ia tahu saat Kinan sakit pasti selalu ingin disuapi. Raffa membawa bubur ayam dan parcel buah untuk Kinan, dengan senyum mengembang dia masuk ke ruang inap Kinan.


Raffa melihat Kinan yang sedang disuapi oleh Juna, pria kemarin yang selalu menunggu Kinan.


"Oh, maaf. Saya kira tidak ada orang." Raffa begitu kikuk melihat Kinan dan Juna yang sedang tertawa bersama.


"Masuklah." Kinan melambaikan tangannya ke arah Raffa dengan tersenyum manis.


" Kamu sudah baikan?" Raffa meletakkan parcel buah dan bubur ayam di atas nakasnya.


"Lumayan, soalnya dari semalam bang Juna menjagaku." Kinan tersenyum kecut dan seolah ingin memberitahukan bahwa Juna pria yang baik.


"Oh." Raffa hanya ber oh ria.


"Raffa ini bagus kan." Kinan memperlihatkan cincin di jari manisnya, "Pemberian dari bang Juna, kami akan segera menikah." imbuh Kinan dengan senyum sumringah


"Deg"


"Bagus, selamat ya." Raffa tersenyum kecut, namun dalam hatinya begitu nyeri melihat Kinan begitu bahagia bersama Juna.


"Ini aku kembalikan semuanya." Kinan membuka nakas besi dan memberikan semua box perhiasan pada Raffa, " Ini semua masih utuh, perhiasan saat kamu melamarku."


Entah mengapa hati Raffa begitu sakit saat Kinan mengembalikan semua pemberiannya. "Simpanlah, aku tidak butuh itu anggap saja kenang - kenangan."


"Tidak!, aku tidak butuh itu semua. Perhiasan itu juga bukan pahlawan, kenapa harus dikenang." gerutu Kinan dengan polosnya, " Kalau kau tidak ingin menerimanya, lebih baik aku buang ke tong sampah seperti kau membuangku dan tidak pernah menghargai pengorbananku. " sinis Kinan


"Kinan jaga ucapanmu...!" sentak Raffa dengan murka. Ini pertama kalinya Raffa terlihat begitu emosi dengan ucapan Kinan. "Aku tidak pernah membuangmu, kamu begitu ber...." Raffa menghentikan ucapannya. " Sudahlah, lebih baik aku pergi." Raffa pergi dengan perasaan kesal, ia membanting pintu rawat inap Kinan.


"Huhuhu... Raffa... kamu marah kan sama aku huhuhu..." Kinan menangis setelah Raffa pergi dari ruangannya. " Abang, kau yakin kan strategi ini akan membuat Raffa menyadari perasaannya padaku. Dia cinta kan bang sama aku." tanya Kinan untuk meyakinkan diri.


" Abang yakin, Raffa sayang denganmu.Aktingmu sungguh luar biasa." Juna tersenyum mengingat Kinan yang dengan sengaja meminum obat untuk menguras lambung seolah dia sakit dan berakhir di rumah sakit.


" Jangan lupa penuhi janjimu pada Jessica." Juna terpaksa ikut permainan Kinan dengan imbalan akan memaafkan Jessica dan memasak makanan yang diidamkan adik kesayangannya.


"Iya, aku tahu." cebik Kinan. "Ini aku kembalikan cincinmu." Kinan melepaskan cincin di jari manisnya.


"Kalau mau dipakai selamanya juga boleh, aku ikhlas." Juna mengedipkan matanya. "Siapa tahu jadi jodoh beneran" harap Juna namun ia langsung mendapat pelototan dari Kinan.

__ADS_1


* **


Innalillahhi wainnalillahi rojiun telah berpulang Ayah kami tercinta di hari Kamis 05082021. Mohon do'anya semoga husnul khotimah, terima kasih reader sudah sabar menunggu update novel ini. 🙏🙏


__ADS_2