
Semua keluarga Raffa dan Rio mengantar sampai di lobi bandara. Mereka saling berpamitan dengan kedua orang tuanya, menyalami secara takzim dan tidak lupa mencium pipi ibunya. "Raffa berangkat dulu mah, do'akan Raffa yang terbaik" ucapnya, ia berkaca-kaca melihat ibunya yang selalu menangis di pelukannya.
"Mama selalu do'ain kamu sayang, jaga kesehatan dan hati-hati disana. Mama pasti kangen kamu."
"Iya mah, Raffa juga pasti kangen mama. Jangan lupa jaga kesehatan" pinta Raffa, ia melepaskan pelukan dari sang ibu.
"Ayah, aku berangkat." ucapnya pada Davian.
"Hmm, hati-hati disana" Davian langsung membuang wajahnya, tidak kuasa melihat anak yang disayanginya untuk pergi jauh.
Fafa melihat Ayahnya yang sedang menahan tangisnya, "Ayah, kalau mau nangis ya nangis saja yah seperti kita. Jangan ditahan hihihi." ucapnya sembari cekikikan, ini beberapa kalinya Fafa melihat Ayahnya berwajah sendu lagi.Dulu ia melihat Ayahnya sedih saat nenek Fera meninggal, saat nenek Yani meninggal, dan terakhir saat mama Navysah depresi.
" Iya, Ayah gengsi banget buat nangis "celetuk Inka," Ayah padahal cengeng ya Inha ya? "tanyanya pada adik kembarannya.
" Iya, Ayah cengeng kayak kamu Inka " Alif yang menjawab
" Tapi Ayah ketusnya mirip mas Alif dan Inha "balas Inka dengan tatapan tajam pada Alif
" Ehem.. Ehem... "Davian berdehem untuk menghentikan kegiatan anaknya yang sedang membicarakan dirinya di tempat umum." Bisa-bisanya anak kembarku menggoda dan membicarakan diriku yang berada di sampingnya" gumamnya dalam hati.
Kamil hanya cekikikan mendengar si double kembar bicara. "cengeng, ketus, lah emang Davian begitu sikapnya. Luarnya saja yang kelihatan kuat" gumam Kamil dalam hati.
"Raffa pamit dulu Om Kamil,Mami Imel" Raffa mencium tangan takzim mereka.
" Hati-hati disana." Kamil menepuk bahu Raffa, " Om yakin kamu akan menjadi orang sukses."
"Aamiin"
"Mami do'akan kamu selalu sehat, Mami bantu dari sini" Imelda memeluk Raffa dengan erat, ponakan yang paling penurut baginya.
"Aku percayakan semua pada Mami, Raffa titip semuanya" bisiknya di telinga Imelda.
"Kamu tenang saja." balas Imelda ," Raih apa yang kamu inginkan, Mami ada di belakangmu." Imelda mengusap airmatanya.
"Mami Imel nangis, cieee... Mami cengeng seperti Ayah" celetuk Fafa kembali, entah kenapa ia selalu menggoda orang disekitarnya.
"Nggak nangis, cuma kelilipan cabe." ucapnya, ia merasa malu digoda ponakannya. "Apalagi ini kelilipan cabe setan. " Imelda menatap kesal kearah Fafa.
"Ngomong setannya jangan kearah Fafa" cebiknya, "Fafa kan ganteng, ke Alif saja ngomong setannya, hihihi "
__ADS_1
Alif dan Imelda hanya diam tidak menimpali candaan Fafa yang tidak berguna.
Raffa memeluk satu persatu adik-adiknya, " Inha jangan lupa belajar, jadi anak baik" ucapnya dan mendapat anggukan kepala dari adiknya.
"Kalau mas ngomong harus dijawab bukan hanya menggeleng dan menggangguk." ia mengusap jilbab adiknya.
"Iya mas, Inha akan jadi anak baik dan pintar" ucapnya dengan tegas namun airmatanya tumpah begitu saja
"Good girl, Cup" ia mencium pipi Inha
Ia beralih ke Inka dan Fafa. " Inka juga, jadi anak baik. Fafa jangan lupa pesan mas, pergunakan komputer di dalam kamar mas. Buku panduan ada disitu, sudah mas siapkan semua, Cup, Cup." Ia mengelus dan mencium kedua adiknya.
"Hiks.. Hiks..Huuua.. Huaa... Inka pasti kangen mas Raffa." ia menangis keras, dan memeluk kakaknya.
"Mirip Kinan kalau nangis" gumam Raffa dalam hati, ia melirik Kinan yang sejak tadi diam hanya menyusut air matanya.
"Mas juga kangen kalian semua" ucap Raffa.
"Fafa akan belajar seperti mas Raffa biar pintar desain" ucapnya dengan sungguh - sungguh, " Tapi jangan lupa oleh - oleh yang mas Raffa janjikan ya, hehehe..."
"Huhh.. Dasar Fafa!, mas Raffa mau kuliah disana bukan mau shopping" gerutu Alif
Raffa memeluk Alif dan membisikan sesuatu di telinganya"Titip adik-adik, cuma kamu yang bisa mas andalkan. Kalau ada masalah di rumah telepon mas." Alif hanya menganggukan kepala.
Kedua double kembar lebih memilih pulang bersama Imelda dan Kamil. Alif dan Fafa selalu menempel pada Kamil, sedangkan princess lebih suka bersama Imelda. Navysah dan Davian menyusul pulang ke rumah.
"Om Shafiq, aku berangkat dulu." Raffa mencium tangan takzim tangannya. Saat ini Raffa masih memanggil Shafiq dengan sebutan Om, lidahnya masih kelu jika harus memanggil Shafiq dengan sebutan Ayah.
"Raffa, Hati-hati disana. Om percaya denganmu, anak dari Navysah akan selalu memegang janjinya apapun yang terjadi." tegas Shafiq, ia menepuk kedua bahu Raffa. " Ada Om disini jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan. Tante Ifa pernah kuliah disana, dia kurang lebih tahu wilayah disana. Jika kamu kesulitan telepon kami.Dan ada Kinan juga yang akan selalu menunggumu disini, Tolong jangan sia-sia kan pengorbanan anak Om."
" InsyaAllah Om"ia melirik Kinan, kini wajahnya penuh dengan airmata
Shafiq mengundurkan diri bersama kedua orang tua Rio.
Tinggalah mereka bertiga diam tanpa suara, Rio menangis dan melihat kedua punggung orang tuanya hingga tidak terlihat lagi.
"Kemarilah.." pinta Raffa pada Kinan. "Maaf kalau tadi aku kasar padamu, aku hanya tidak ingin kamu salah melangkah seperti Jessica."
"Huaaaa... Huaaa....Raffa aku minta maaf, aku salah "ia terisak di pelukan tunangannya." Aku tidak sanggup jauh darimu, aku pasti kangen. " Kinan memeluk dengan erat
__ADS_1
" Aku tahu"
"Raffa, berjanjilah kau akan setia padaku. Tidak akan tergoda dengan perempuan disana" Ia menadahkan wajahnya ke atas melihat wajah Raffa.
"Nggak bisa janji, masa lihat perempuan cantik nggak tergoda. Kinan kami lelaki normal" Rio yang menjawab pertanyaan Kinan, ia mencibir Kinan yang begitu posesif pada Raffa.
"Diem lu Kribo, ganggu aja" sentak Kinan.
"Aku akan menunggumu disini enam tahun lagi saat kamu pulang dari Inggris." ucap Kinan " Jangan selingkuh, aku akan setia disini. Aku hanya ingin menikah denganmu bukan dengan yang lain. Berjanjilah kamu akan setia denganku juga"
Raffa terdiam tidak menjawab pertanyaan Kinan.
"Raffa, kau bisu?" tanya Kinan, ia tidak mendengar balasan dari Raffa.
Raffa memeluk Kinan dan mengelus rambutnya, mengucapkan satu kalimat dengan sangat lirih, hingga Kinan tidak bisa mendengarnya.
"Kamu bicara apa, kumur-kumur?" cebik Kinan sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kami pergi dulu" Raffa melepas pelukannya.
"Yo, aku titip calon suamiku" pinta Kinan, " Jagain dia dari perempuan yang ingin menggodanya."
"Nggak jamin Kitis, perempuan sana sudah pasti luar biasa aduhai bodinya daripada kamu" goda Rio, " Jauhlah gitar Spanyol lawan kripik chitato." cibirnya lagi, " Kalau kamu seperti ini lekukan bodinya" Rio mempraktekan jarinya menggambar gelombang kecil pada chip potato.
"Rese lu kribo!" teriak Kinan.
Rio berjalan mendahului Raffa sambil tertawa karena berhasil menggoda Kinan, Ia mulai jengah melihat kemesraan kedua pasangan itu. "Ahh.., nasib jones gini jomblo ngenes nggak punya gandengan."
"Aku pergi dulu" Raffa kembali pamit karena Kinan tidak mau melepaskan tangannya.
"Cup.. Cup.." Kinan mencium kedua pipi Raffa
"Apaan sih Nan, malu tempat umum" Raffa menengok ke kanan dan ke kiri melihat beberapa orang yang memergoki dirinya dicium Kinan.
"Terakhir, cium aku" pinta Kinan dengan wajah memelas. "Disini" ia menunjuk keningnya. "Untuk yang terakhir" ucapnya lagi karena Raffa tidak kunjung memberinya ciuman.
"Cup" Raffa mencium kening Kinan, "Assalamualaikum" Raffa bergegas mengejar Rio
"Walaikumm salam, aku pasti kangen kamu Raffa" Kinan menangis kembali, melihat punggung Raffa hingga menghilang dari pandangannya
__ADS_1
"Raffa...."