Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Ban 147


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Hanin terus menekuk wajahnya, walaupun Fafa berulang kali meminta maaf, ia tetap kesal dengan respon yang diberikan oleh sang suami.


Hanin mengira Fafa akan bahagia namun nyatanya ekspresi wajahnya terlalu datar bahkan terkesan b*doh.


" Kita ke dokter, cek kehamilanmu. Oke sayang." Fafa mencium tangan Hanin bertubi-tubi agar sang istri tidak cemberut lagi.


Mereka mengantri di bagian obgyn dan melihat beberapa pasangan yang juga ikut mengantri. Fafa merasa salut dengan para wanita yang hamil besar masih mampu berjalan dengan baik,sesekali mereka mengelus perut buncitnya.


"Kamu lihat apa?" Hanin melirik suaminya yang sedang menyunggingkan senyum pada wanita hamil.


"Mereka wanita hebat bisa mengandung selama sembilan bulan, nanti kamu juga akan seperti itu sayang, perutmu akan membesar." Fafa mengelus perut Hanin.


"Iya, lucu kali ya kalau perutku besar." Hanin mengusap perutnya lagi.


"Iya, kayak ikan buntal." kelakar Fafa, namun Hanin langsung mendelik saat dirinya diejek seperti ikan buntal. Wajahnya kembali ditekuk seraya menggerucutkan bibirnya.


"Ini kan gara - gara kamu juga A, kini aku hamil ! " ujar Hanin begitu kesal


"Kalau aku tambah gendut, jelek nanti kamu bisa berpindah ke lain hati." Pikiran Hanin mulai menerawang ke arah yang negatif


"Tidak sayang, kamu tetap cantik walaupun kamu seperti buntelan kain hihihi..." goda Fafa, entah mengapa ia sangat senang jika Hanin kesal padanya.


"AA...!!!" teriak Hanin, hingga beberapa orang menenggok ke arah mereka."Rese banget sih!"


" Nyonya Hanin." seorang petugas memanggil namanya untuk masuk ke dalam ruang praktek.


Dokter mengoleskan gel dan memeriksa perut Hanin, ia melihat monitor dengan teliti.


"Perkiraan sekitar enam minggu usia janinnya, semuanya terlihat bagus. Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah ya bu,janin masih rentan keguguran. Saya beri resep vitamin agar janin sehat ya bu." ujar dokter Cindy


"Ada berapa calon anakku dok?" tanya Fafa penasaran.

__ADS_1


"Hanya satu."


"Alhamdulillah." Fafa begitu lega setelah mendengar bahwa calon anaknya satu. Sejak tahu Hanin hamil, ia cemas jika mendapatkan bayi kembar,gen kembar dalam keluarganya begitu kuat, namun Fafa belum siap jika harus mendapatkan anak kembar karena Hanin masih ingin bekerja.Fafa tidak suka jika anaknya nanti diasuh oleh baby sitter. Fafa ingin Hanin di rumah dan mengurus keluarga,namun sepertinya Hanin belum siap mengurus anak.


"Memang kenapa kalau anak kita kembar?" Hanin kembali menekuk wajahnya


"Kalau kembar ya tidak masalah sayang." Fafa sengaja berbohong agar Hanin tidak marah.


"Padahal aku berharap anak kita kembar lho A."


"Iya, nanti bikin lagi setelah Junior lahir." kelakar Fafa,


Dokter Cindy hanya bisa menggulum senyum dengan candaan Fafa. Ia memberikan resep vitamin yang harus di konsumsi oleh Hanin.


"Kita mau kemana lagi ya? tanya Fafa, ia ingin mengajak istrinya jalan-jalan pumpung Fafa off dari perusahaan.


" Enaknya kemana ya, A? Hanin begitu senang saat suaminya mengajaknya pergi, Hanin sangat bosan berada di rumah sendirian. Ia terbiasa bekerja di kantor dan aktif kesana kemari.


" Makan apa ya? " Hanin mulai berpikir,apa yang ingin dia makan. Namun, matanya melirik Fafa yang kini sedang melihat seorang wanita dengan dada besar yang kini melintas di depannya.


" Makan apa ya A!? " Hanin sengaja mengeraskan suaranya. Namun suaminya tetap diam dan fokus melihat dada besar


"AA...!! teriak Hanin, ia meraup wajah suaminya dengan gemas." Kalau ada cewek cantik langsung deh ileran!! " semburnya lagi.


" Naluri lelaki Nin."Fafa terkekeh dengan ucapannya," Wanita itu juga hamil tapi di dadanya,bukan perutnya hihihi... " Fafa melihat wanita dengan dada yang besar dan menantang.


" Bodo amat!! " Hanin begitu kesal dan merajuk, ia meninggalkan suaminya


Fafa terpaksa merayu Hanin dengan mulut manisnya hingga istrinya mau diajak makan siang. Namun, Hanin lebih memilih makan di pinggir jalan dan membeli rujak buah. Ia makan dengan lahap rujak itu, sedangkan Fafa ikut mencicipinya.


"Enak, seger mangganya." Hanin menghabiskan hingga licin tandas.

__ADS_1


" Setelah ini mau kemana lagi?"


"Aku mau ke laut." pinta Hanin, " Saat itu gagal ke laut gara-gara mantanmu itu!" ketus Hanin


"Jangan sekarang, panas." Fafa merasa keberatan karena cuaca hari ini begitu terik.


"Tapi aku ingin kesana A, masa kamu ingin anakmu ileran."


"Oke, baiklah tuan puteri." Fafa hanya menghela nafas panjangnya, mengikuti semua keinginan Hanin agar istrinya bahagia.


Mereka melajukan mobilnya untuk pergi ke pantai, matahari begitu terik namun Hanin benar - benar ingin melihat laut.


"Nin, bangun sayang. Kita sudah sampai?" Fafa menyentuh pipi istrinya yang tertidur, sejak di perjalanan Hanin selalu cerewet dan akhirnya tidur karena kelelahan.


Fafa tersenyum saat melihat Hanin tidur, ia begitu imut dan manis namun, saat ia terbangun Hanin begitu cerewet dan menyebalkan. Ia mencuri kesempatan dengan menciumi pipi dan bibir istrinya. Seperti moodbooster, Hanin adalah candu terbaik untuknya.


"Sudah sampai." Hanin mengucek matanya. Ia merasa terganggu karena Fafa mencium bibirnya.


Hanin menoleh ke arah laut dari jauh, ia membuka kaca mobilnya dan terpaan angin laut begitu menyapu wajahnya. Ia menghirupnya dengan perlahan. "Segarnya..." Hanin tersenyum lebar,lalu menutup kembali kaca mobilnya.


"Ayo turun, kita sudah sampai." pinta Fafa, ia melepaskan seatbelt nya.


"Tunggu...!!" Hanin menahan tangan suaminya. " Tidak perlu turun." ujarnya


"Kenapa? Katanya kamu ingin melihat laut."


"Iya, aku memang ingin melihat laut tapi aku tidak ingin turun, dari sini juga bisa lihat kok. Ayo kita pulang lagi." Hanin tersenyum lebar, namun Fafa hanya melolong dengan ucapan istrinya. Ia meremas tangannya karena kesal, merasa dikerjai oleh sang istri.


"Untung saja kamu lagi hamil Nin, kalau tidak..." geram Fafa dalam hati.


Fafa melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2