Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 162


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Perut Kinan semakin membesar,usia kehamilannya memasuki delapan bulan. Setiap keinginannya Raffa selalu penuhi dan saat ini Kinan mengandung bayi berjenis kelamin perempuan.


Kinan bahagia karena ibu mertuanya begitu perhatian dan sayang dengannya. Apapun keinginan Kinan, mama Navysah selalu memberikannya.


"Jangan lupa makan yang banyak agar cucu Nenek ini sehat dan lahir sempurna." Navysah mengelus perut Kinan yang buncit.


"Iya mah, Kinan akan makan banyak dan menjaga cucu Mama ini selalu sehat."


" Iya ini cucu pertama Nenek, sehat - sehat ya sayang." Navysah mencium kening Kinan dan aroma sabun masih tercium di indera penciuman Navysah.


"Nan, tumben bau sabun. Kamu sudah bisa mandi?" tanyanya


Sejak kehamilan trisemester pertama Kinan benar-benar malas mandi, entah kenapa ia merasa takut dengan air. Jika melihat air kolam, Kinan akan merasa pusing. Kinan lebih senang memakai parfum daripada mandi, Kehamilan yang aneh bukan.


"Sekarang sudah tidak takut air mah."


"Beneran sudah tidak takut air." Navysah seolah tidak percaya. "Wah sekarang Kinan kembali normal lagi bukan Kinan Sapi." Seloroh Navysah dengan tertawa


Sejak Kinan hamil dan jarang mandi, ia selalu dijuluki Kinan Sapi oleh Fafa.


Dan kini sepasang mata melihat kearah mereka dengan perasaan iri. Hanin yang baru saja datang ke rumah mertuanya kini melihat Navysah memperlakukan Kinan dengan begitu sayang dan lembut. Sedangkan, Hanin yang kini hamil enam bulan merasa mertuanya lebih sayang Kinan daripada dirinya.


"Mah, aku datang." Hanin terduduk lesu di samping Kinan dan menyalam takzim mertuanya.


"Wah, perut kamu bertambah besar ya Nin. Mama sudah tidak sabar menanti cucu - cucu Nama. Sehat - sehat ya sayang." Navysah mengelus perut Hanin dengan lembut.


" Iya Nenek, tungguin aku lahir ya." Hanin menirukan suara anak kecil.


"Mama aku lapar." Hanin menatap hidangan di depan matanya, ia langsung meminta piring dan mengisi beberapa lauk. Rasa iri yang datang kini terlupakan sudah dengan mencicipi masakan mertuanya.


"Sudah cek ke dokter Nin? Kalau belum nanti mama antar." ujar Navysah sembari menambah lauk di piring Hanin


"Sudah mah, sama AA."


Hanin makan dengan cepat tanpa memperdulikan Kinan di sampingnya.


"Pelan-pelan Nin, nanti tersedak." Navysah memberi segelas air mineral untuk Hanin.


"Lapar mah."


"Sebelum kesini kamu tidak makan?" tanya Kinan, " Jangan sampai telat sarapan, itu sangat penting untuk ibu hamil."


"Aku sudah sarapan tapi lapar lagi setelah melihat masakan mama."


" Mama rasa perutmu lebih besar dari Kinan ya Nin." Navysah kembali mengelus perut Hanin yang baru enam bulan. "Apa karena mereka kembar jadi gede ya."


" Iya ya mah, Hanin melar banget, tubuhnya bengkak kayak gajah." celetuk Kinan

__ADS_1


Hanin sedikit tersinggung saat Kinan mengejeknya seperti gajah, memang seperti biasanya Kinan dan Hanin selalu bercanda namun kali ini Hanin sedikit kesal.


" Kalau aku gajah, mba Kinan badak! " sembur Hanin


" Sudah jangan saling ejek nanti ujung - ujungnya salah satu dari kalian pasti menangis." Navysah melerai keributan diantara menantunya, memang sudah biasa ia melihat Kinan dan Hanin saling bercanda namun salah satunya akan berakhir dengan menangis.


"Sekarang aku tidak cengeng lagi mah." ucap mereka bersamaan


"Cie.. Cie.. kompak jawabnya." Navysah mengulum senyum


"Mama jangan lupa belikan apa yang aku inginkan ya mah." pinta Kinan


"Iya mama pasti akan kabulkan keinginanmu sayang, nanti mama beli."


"Memangnya mba Kinan minta apa mah?" Hanin begitu penasaran dengan keinginan Kinan dan mama Navysah selalu mengabulkannya.


"Oh itu, Kinan minta empal gentong dan sate maranggi. Carinya agak susah tapi nanti mama usahakan."


Hanin menatap tidak suka saat melihat mama Navysah terlalu sayang pada Kinan. Rasa iri dan cemburu kini muncul kembali.


"Mah, mama sayang kan sama aku?" tanya Hanin


"Kok kamu ngomongnya gitu." Navysah mengerutkan dahinya. " Mama selalu sayang dengan anak dan menantu mama, memangnya kenapa Nin."


"Mama selalu menuruti keinginan mba Kinan, berarti mama juga akan menuruti semua keinginanku kan?"tanya Hanin kembali


" Kali ini mama akan menuruti keinginanku lagi kan? " Hanin


" Iya sayang, kamu minta apa mama turutin."


"Yes.." Hanin tersenyum sumringah, " Mah, aku mau rumah pohon. Aku ingin itu mah."


"Uhuk.. Uhuk.." Navysah tersedak saat mendengar permintaan konyol menantunya, ia tidak percaya Hanin akan meminta hal seaneh itu.


" Dengan meminta seperti itu kalian benar-benar keluarga tarzan, hahahaha ." Kinan tertawa lepas mendengar permintaan Hanin. Sedangkan Navysah melolong tak tahu apa yang harus dilakukan.


* **


Hanin menekuk wajahnya setelah permintaannya ditolak oleh Navysah. Ia pergi ke kantor Fafa dengan segala rasa kesalnya.


Hanin melihat suaminya yang sedang sibuk dengan banyak berkas. Fafa hanya melirik istrinya dan kembali menenggelamkan diri dengan banyak pekerjaan.


Hanin tidur terlentang di sofa tamu, ia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan. Ia selalu menggerutu lirih dan sesekali melirik Fafa yang sedang bekerja.


"Astagfirullah, ada paus terdampar." Keken yang baru saja masuk ke ruangan, melihat Hanin yang sedang terlentang dengan perut besarnya.


"Nin, lu dah kayak bagong jangan terlentang gitu nanti susah bangunnya." Keken kembali meledek Hanin


"Apaan sih, Ken! Nggak usah rese deh, aku sedang kesal!" sembur Hanin. Akhirnya ia bisa melampiaskan rasa kesalnya pada seseorang.

__ADS_1


" Dih, paus ngamuk!" Keken kembali menggoda


"Kamu kenapa sayang dari tadi ngomel terus. Aku sampai hafal apa yang kamu ucapkan sejak awal." Fafa akhirnya menutup berkas dan bergabung dengan Keken dan istrinya.


"Aku kesal A! Mama Navysah selalu menuruti semua keinginan mba Kinan, mba Kinan nyidam ini mama selalu berikan, sedangkan aku tidak! "


"Mama lebih sayang mba Kinan daripada aku, aku iri dan cemburu A!" sambungnya lagi.


"Memangnya kamu minta apa sama tante Navysah?" tanya Keken.


"Aku kan cuma minta rumah pohon." ucap Hanin


"Eh, Janin! Lu minta yang kira-kira dong, minta yang masuk di akal. Lu minta rumah pohon, lu pikir lu kurcaci yang tinggi dan beratnya kecil. Kalau lu minta rumah pohon, baru naik saja itu rumah pohon dah ambruk, orang badan lu dah kayak bagong, hahahaha... "Keken tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa kram setelah mendengar permintaan Hanin.


Fafa memijit kepalanya yang terasa sakit, sejak seminggu lalu istrinya selalu merengek dan meminta rumah pohon.


"A! Keken ngatain aku kayak bagong A." Hanin merengek pada suaminya.


"AA!! Kok kamu diam." Hanin tidak suka saat tidak ada yang membelanya


"Terus aku harus gimana sayang."


"Kamu mau kan buatkan rumah pohon untuk anak kita?" Hanin meminta dengan memelas


"Minta yang lain saja."


" Pokoknya aku mau itu, aku mau itu A!, huhuhu..." Hanin menangis meraung karena permintaannya tidak dipenuhi. " Kenapa sih, tidak ada yang sayang aku."


"Bukannya tidak sayang tapi kamu kelewatan." ucap Keken


"Kalau kelewatan ya mundur lagi dong, ngalah demi si kembar kenapa, sih!. Keken memangnya kamu tidak sayang dengan ponakanmu ini. Ayo buatkan aku rumah pohon."


" Kabur sajalah, aku tidak ingin terlibat dengan istrimu Fa, mumet!" Keken bergegas keluar ruangan


"A..., AA..." Hanin merengek dengan manja, "Mau kan buatkan aku rumah pohon."


Fafa diam tidak menyahut ucapan istrinya.


"Yasudah, kalau tidak mau jangan harap ada jatah gerobak sodor. Puasa sampai aku melahirkan empat puluh hari." ancam Hanin


" Glek..!!" tenggorokan Fafa seolah tercekat dan membayangkan dirinya harus berpuasa sangat lama. Ia menghitung usia kehamilan istrinya yang baru enam bulan.


" Sembilan bulan dikurangi enam bulan ditambah empat puluh hari" gumam Fafa dalam hati


"Oke nanti aku buatkan rumah pohon." ucap Fafa dengan cepat


"Beneran A!" Hanin begitu senang saat keinginannya terkabul


"Iya.. Iya..nanti aku buatkan di halaman belakang rumah mama. Kalau di apartemen kita tidak akan mungkin, yang ada aku di semprot penghuni apartemen lainnya."

__ADS_1


__ADS_2