
Fafa terbangun dari tidurnya, ia melihat wajah istrinya yang terlihat polos tanpa riasan. Fafa menatap dengan intens wajah Hanin. Ingin rasanya ia menyentuh wajah Hanin namun Fafa masih sadar diri bahwa ia tidak akan mengingkari janjinya untuk tidak menyentuh tubuh istrinya dengan sembarangan.
"Kamu cantik tapi menyebalkan." lirih Fafa sembari mencari sesuatu di laci yang bisa membuat istrinya kesal. Ia mencorat - coret wajah Hanin dengan pena dan membuat beberapa kumis kucing di sekitar hidungnya.
"Hihihi..., pasti ia akan kesal setelah melihat wajahnya di cermin."
Ia bergegas masuk ke dalam bathroom karena tidak ingin berlama-lama menatap wajah Hanin yang terlihat lucu.
Fafa segera berganti baju dan sarapan bersama keluarganya.
Beberapa saat kemudian Hanin datang ke ruang makan dengan wajah cemberut. Ia benar-benar kesal karena Fafa begitu jahil padanya.
"Kamu kenapa Nin, kok wajahmu di tekuk seperti itu?" Navysah melihat menantunya cemberut dan hanya melotot ke arah Fafa.
" Fafa ngeselin mah!"
" Emang anak mama ngapain kamu, sampai kamu kesal begitu? " tanya Navysah
"Ah, paling Hanin minta lagi tapi nggak dikasih Fafa." goda Alif, ia dengan santainya makan dengan tenang
"Nggak usah sok tahu!" sahut Fafa sembari menoyor kepala Alif
" Jangan asal menoyor, ini aset berhargaku." Alif merapikan rambut kepalanya yang kini berantakan .
Hanin hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya dengan sesekali melirik Fafa dengan tajam.
"Aku berangkat dulu." Alif mengusap sudut bibirnya dengan tisu dan pamit dengan kedua orangtuanya.
"Aku juga berangkat." Fafa menyudahi suapannya dan pamit dengan kedua orangtuanya
"Eh, tunggu Fa. Kamu pamit dulu sama istrimu." Navysah mencoba mengajari anaknya agar belajar berumah tangga yang baik.
"Hanin, ini lho suamimu mau kerja. Cium takzim dia Nin, biar berkah dalam mencari rejeki." sambung Navysah kembali
Hanin mencium takzim tangan Fafa walaupun ia lakukan dengan malas dan ogah-ogahan. "Hati-hati ya Fa, cari uang yang banyak untukku." ucap Hanin dengan keras
Fafa hanya memutar bola matanya dengan malas, tanpa membalas perkataan Hanin.
"Kok panggilnya Fafa, sih! Panggil mas, abang atau kakak dong, jangan lupa cium kening Hanin Fa." Navysah merasa aneh karena Hanin masih dengan seenak hati memanggil suaminya dengan sebutan Fafa tanpa embel-embel mas atau kakak
" Semangat bekerja AA Fafa, pulang cepat ya. Akan aku buatkan makanan kesukaanmu. " Hanin tersenyum dengan terpaksa agar keluarga Fafa bisa melihat betapa mesranya mereka.
"Aku berangkat dulu, cup." Fafa mencium kening Hanin, mau tak mau ia harus lakukan agar ibunya tidak cerewet dengannya.
Hanin terperangah saat Fafa begitu cepat mencium keningnya. Ia merasa malu karena keluarga Davian melihat ke arah mereka.
"So sweet." Inka begitu terpukau melihat kakaknya begitu romantis dengan istrinya.
"Berisik!" dengus Fafa dengan kesal. Ia berjalan ke arah mobil dan diikuti Hanin yang membawa tas Fafa.
"Kamu harus akting agar mama bahagia melihat kita dan kita bisa pergi dari tempat ini." bisik Fafa di telinga Hanin.
"Aku tahu."
"Tidak perlu baper, tadi cuma akting." ucap Fafa. Ia membuka dompet nya dan memberikan satu kartu sakti untuk Hanin.
"Pakailah, itu untuk uang belanja kamu."
" Kamu beri aku kartu sakti ini. Apa kamu juga memberikan kartu untuk pacarmu itu?" tanya Hanin penasaran
"Iyalah, dia juga mendapatkan jatah dariku."
Entah kenapa hati Hanin sedikit nyeri karena Fafa pun memberikan jatah untuk pacarnya.
"Kenapa kau diam?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, bye-bye." Hanin segera masuk ke dalam rumah dan berkumpul bersama keluarga Davian.
* **
Navysah begitu pusing melihat dapurnya kini berantakan karena Hanin. Ia benar-benar terbahak saat Hanin menggoreng ikan dengan kacamata hitamnya, Hanin beralasan agar matanya tidak terkena percikan saat menggoreng ikan.
Hanin pun begitu kaku saat membantunya memasak, ia sering bertanya bumbu mana yang harus ia masukan terlebih dahulu agar coto makassarnya terasa enak.
"Rasanya aneh mah." Hanin mencicipi masakannya sendiri, ia begitu kesal karena saat ini rasa masakannya terasa hambar, dia pun bau dapur dan terlihat bodoh di mata mertuanya
"Jangan pesimis, walaupun masakannya tidak sesuai ekspektasi tapi mama senang kamu mau memasak untuk anak mama." Navysah tersenyum dan mengelus rambut Hanin
"Aku malu mah, tidak bisa memasak." Hanin menundukan kepalanya
"Tidak perlu malu sayang, dulu mama juga tidak bisa masak. Nanti mama ajari kamu masak lagi."
Mendengar perkataan dari sang mertua kini Hanin sedikit lega. Walaupun di dalam hatinya Fafa pasti akan mengejek habis-habisan rasa masakannya.
Hanin begitu jenuh berada di dalam kamar, selesai memasak ia hanya menonton televisi dan mengobrol bersama adik iparnya. Kini Hanin ketiduran di kamar Inka. Entah kenapa Hanin lebih suka mengobrol bersama Inka yang menurutnya sama-sama cerewet,sedangkan Inha lebih pendiam dan hanya berbicara seperlunya.
"Mba Hanin, bangun! Sudah sore, bentar lagi mas Fafa pulang." Inka mencoba membangunkan Hanin agar segera bersiap menyambut kakaknya.
"Biarkan saja, dia bisa ambil makanan sendiri." ucap Hanin dengan racau, matanya masih tertutup karena mengantuk.
"Ishh...!! mba mau digoreng mama Navysah. Masa suami pulang kerja tidak disambut hangat, sih!"
"Aku mau menyambut dirinya dengan keributan bukan dengan kehangatan!" Hanin tetap saja tidak bergeming ia masih tidur dengan nyenyak
"Tok.. Tok.. Tok.."
"Hanin,bangun sayang!!" Navysah mengetuk dari luar kamar Inka dengan keras.
Inka bergegas membuka pintunya dan menunjuk Hanin yang masih tidur dengan dagunya.
"Harus ya mah." jawab Hanin dengan malas
"Iya dong, suami akan pulang, kita harus wangi dan segar. Ayo kita siapkan makanan Fafa, agar dia betah di rumah."
"Iya mah."
Hanin keluar dari kamar Inka dan masuk ke dalam kamar suaminya.
"Kenapa menikah, begitu ribet seperti ini. Dulu aku tinggal berteriak dan bibi yang selalu menyiapkan semuanya." Hanin menggerutu dengan lirih
* **
Fafa pulang dari kantor bersamaan dengan Alif. Mereka tanpa tegur sapa langsung masuk ke dalam rumah.
"Mah, makan mah." Alif langsung duduk di samping Fafa dengan cepat. Mereka begitu lapar dan ingin segera mengisi perutnya.
Hanin yang sudah menyiapkan makanan kini memberikan coto makassar ke arah Fafa dengan wajah harap-harap cemas. Ia sangat takut suaminya akan mengejek masakannya kali ini.
"Ini masakan Hanin, dia sudah bersusah payah memasak untukmu Fa." terang Navysah
Fafa mengaduk coto buatan istrinya, ia melirik ke arah Hanin yang sedang memasang wajah tegangnya. Sedangkan Fafa mencicipi masakan istrinya dengan wajah datar.
Alif sedikit ragu dengan masakan Hanin yang terlihat tidak menarik, rasa dari masakannya pun terasa hambar tidak seperti masakan ibunya yang sangat enak. Ia melirik saudara kembarnya yang begitu lahap makan masakan Hanin. Alif tahu, Fafa sangat selektif dalam makanan. Dia akan bilang enak jika memang masakan itu enak dan dia akan bilang masakan itu buruk jika memang masakan itu tidak enak.
"Gimana masakan istrimu Fa?" tanya Navysah, ia melihat Fafa begitu lahap makan masakan istrinya.
"Mmm... enak! " Ia masih saja memakan makanannya tanpa melirik ke arah Hanin.
Alif mengenyitkan dahinya, ia begitu heran kenapa saat ini Fafa berbohong. Alif menginjakan kaki ke Fafa dengan keras.
"Beneran enak!?" tanya Hanin, ia memastikan kembali ucapan suaminya.
__ADS_1
"Hmmm..."
"Fafa kenapa kamu berbohong, ini sangat hambar dan tidak enak. Kenapa kamu bilang ini enak!" gerutu Alif dengan kesal.
"Itu menurutmu, kalau bagiku ini sangat enak. Dasar Alif bodoh!" Fafa menyelesaikan suapan terakhir dan meninggalkan meja makannya.
Navysah hanya menggulum senyum dengan sikap Fafa yang membela istrinya. Hanin pun merasa lega karena Fafa tidak menpermalukan dirinya di keluarga besar Davian.
" Hanin ke kamar dulu mah? " ia pamit dan mengejar Fafa ke dalam kamar.
"Ah..., leganya akhirnya hubungan mereka sedikit membaik. Rencana mama kali ini berhasil, lihat si Fafa dia membela istrinya saat Alif berusaha berkata jujur. Hihihi...." ucap Navysah dengan senyum kemenangan
"Jadi ini semua ide mama!? " Alif menghela nafas panjangnya kembali. "Aku kan jujur, memang masakan Hanin tidak enak."
"Makanya kamu menikah! jadi peka dan tahu bagaimana rasanya agar bisa menjaga perasaan istrimu saat di tengah - tengah keluargamu. Kamu mau menikah sama Anggrek lif, besok mama nikahin segera."
"Apaan sih mah! Memangnya nikah itu perlombaan dan harus cepat, Alif mau ambil spesialis dulu baru menikah."
"Ya sudah terserah kamu saja."
* **
Hanin menunggu Fafa yang sedang mandi sembari bermain ponsel dan seperti biasanya Fafa keluar dengan melilitkan handuknya.
"Terima kasih." ucap Hanin dengan tulus.
"Untuk apa berterima kasih." Fafa menarik handuknya dan membersihkan tubuhnya dari air yang menetes.
" Terima kasih karena kamu sudah memuji masakanku walaupun aku tahu masakanku tidak enak dan hambar."
"Sudahlah."
"Bisa nggak sih, pakai baju di bathroom aja." gerutu Hanin, ia selalu melihat tubuh Fafa yang atletis dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman
"Ini sudah menjadi kebiasaanku,kalau kamu tidak suka lebih baik kamu keluar. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu."
Fafa merebahkan tubuhnya di ranjang dan memainkan ponselnya.Ia beberapa kali membalas pesan dari seseorang sembari senyum - senyum.
"Boleh aku tanya?" Hanin mendekat ke arah Fafa yang masih menyungingkan senyum.
"Apaan?" Fafa tidak menoleh ke arah Hanin, ia hanya menyahut dan masih bermain dengan ponselnya.
" Kenapa kamu memuji masakanku? Dan dengan siapa kamu chatting, boleh ku tahu?" Hanin penasaran dengan dengan siapa Fafa tersenyum bahagia seperti itu.
" Karena kamu sudah bekerja keras, kamu sudah mau memasak untukku walaupun rasanya aneh, aku tidak masalah. Dan sekarang aku sedang chatting dengan pacarku,sudahlah sana jangan ganggu aku." ucap Fafa masih fokus bermain ponselnya.
Hanin merebut ponsel Fafa, ia melihat beberapa foto sensual Rena yang baru saja ia kirimkan.
" Dia kirim foto seperti ini padamu? " Hanin melotot melihat foto yang Rena kirimkan.
" Balikin sini! Nggak usah rese deh, urusan kita masing-masing." Fafa merebut kembali ponselnya dengan cepat
"Tapi foto itu terlalu berlebihan, dulu aku tidak pernah mengirimkan foto seperti itu pada pacarku."
" Itu masalahmu sendiri, jangan ikut campur urusanku!" Fafa membalikan tubuhnya, ia memunggungi Hanin dengan cepat.
"Aku masih ingin bertanya padamu Fa." Hanin kembali mendekatkan diri pada Fafa.
"Apalagi sih!?" Fafa begitu kesal karena Hanin mengganggu kegiatannya. "Mau tanya apa?" ketusnya
" Memangnya pria suka dengan gadis sexy dan berpose seperti itu dengan menunjukan dadanya yang seperti busung lapar."
"Iyalah, pria normal akan menyukai hal seperti ini apalagi perempuannya cantik, sexy, punya dada besar masa kayak elu Nin. Jauh banget kayak bumi dan langit."
Hanin mencubit lengan Fafa dengan bertubi-tubi, ia mengerucutkan bibirnya dan pergi ke luar kamar dengan hati kesal karena Fafa tanpa henti mengejeknya kembali.
__ADS_1