
Raffa dan Kinan memesan makanan dan minuman untuk semua karyawan Hara, mereka menemui Rio di kantornya. Raffa sangat berterima kasih pada karyawannya karena selama ini sudah bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan, tidak mudah bagi Hara untuk menembus pasar internasional. Semakin banyak perusahaan animasi, semakin banyak pula saingannya dalam berkarya. Raffa, seseorang yang pantang menyerah. Ia akan berusaha semaksimal mungkin membuat inovasi terbaru dan meningkatkan kreatifitas untuk kemajuan perusahaan dan karyawannya.
"Wow... makan-makan lagi ini?" ujar Rio, " Food truck kurang banyak, nggak sekalian sama tokonya dibawa kesini." goda Rio, ia tahu Raffa orang yang royal pada karyawan, sehingga banyak orang yang betah bekerja di Hara.
" Cuma sedikit Yo, anggap saja syukuran pernikahan kami. "Raffa menggulum senyum.
" Ada delapan food truck lu bilang sedikit,terserah lu dah anak Sultini. "
Raffa hanya menggulum senyum, " Oiya, jangan lupa Hanin yang akan pergi ke Jepang bulan depan, kamu siapkan semuanya Yo. Semoga kita bisa bekerja sama dengan perusahaan Anima kali ini. Dengan bekerja sama dengan mereka perusahaan kita akan dikenal di negara Jepang, ini salah satu target pasar kita. "
" Siap bos! " Rio," Jangan lupa di Inggris kamu harus melobi Tuan Mark, dia target investor kita. Oiya, tante Navysah juga membeli saham Hara dua persen lho Raff. " Rio memberikan berkas tentang perkembangan perusahaan pada Raffa.
" Serius, mama Navysah beli saham kita?!" Raffa tidak menyangka ibunya akan menyuntikan dana untuknya.
" Iya, beneran.Om Kamil sama si Anggrek yang kesini waktu itu.Aku kira kamu sudah tahu" terangnya
"Terima kasih banyak mah." gumam Raffa dalam hati. Ia sangat bersyukur ibunya begitu sayang padanya.
Rio melirik Kinan yang sejak tadi hanya membolak - balikan majalah tanpa menyapa dirinya. "Sombong lu Kimok, sudah jadi nyonya Raffa nggak pernah sapa aku duluan." sindir Rio
"Bukannya nggak mau menyapa" jelas Kinan, " Kalian kan sedang bicara serius, mana berani aku ganggu."
"Kimok, sudah jadi belum dedeknya? Om Rio sudah tidak sabar menunggu Raffa junior."
"Kamu pikir aku pabrik produksi yang hari ini proses besok jadi!" dengus Kinan. " Dedeknya lagi on the way belum tahu datangnya kapan, bisa jadi dia nyasar belum tahu arah jalannya hihihi." seloroh Kinan
"Huh.. PE'A!!" dengus Rio
Pintu ruangan Raffa diketuk Hanin, ia masuk dengan membawa berkasnya.
__ADS_1
" Kak Raffa, lihatlah proposal ini. Apa sudah sesuai dengan visi dan misi rencana kita?"
" Kamu mau memberikan proposal ini sama Om Dewa. " ucap Raffa setelah membaca berkas Hanin. "Aku sudah pernah melobi ayahmu tetapi tidak berhasil."
"Iya, aku akan mencobanya kembali. Kali ini sebagai anak, aku akan merayu ayahku."
" Tidak perlu merayu ayahmu Nin, aku yang akan mencari investor lain. Kamu bersiaplah ke Jepang, jangan sampai proyek ini gagal."
"Aku akan tetap berusaha,Hara juga milikku. Aku tidak ingin perusahaan yang aku rintis dari nol, hancur begitu saja. Aku tidak mau, kak." kekeh Hanin
"Lu Nin, udah dikasih enak nerusin perusahaan ayahmu malah memilih Hara heran gue, Kakak adek disini semua." Rio mengingat masa lalu saat Hanin meminta uang pada Om Dewa untuk merintis Hara. Ia sampai merajuk beberapa bulan karena permintaannya tidak diterima Om Dewa.Dan sekarang Hanin dan Halwa lebih memilih bekerja di Hara daripada perusahaan Ayahnya sendiri.
Hanin hanya mengerucutkan bibirnya, apa yang Rio katakan memang benar, ia lebih memilih perusahaan kecil yang dirintisnya daripada perusahaan Ayahnya yang besar.
" Kalau Halwa magang karena kamu Yo, kalau Hanin karena Adit." celetuk Raffa sembari tersenyum. "Oh iya Nin, bagaimana hubunganmu dengan Adit?" tanya Raffa
"Hubungan kami baik-baik saja, Adit pria yang baik." Hanin tersenyum menyebut nama Adit, hatinya begitu bahagia mengingat pria yang dicintainya memperlakukan dirinya sebagai seorang putri.
Hanin merasa aneh dengan pertanyaan Raffa, karena sejak dulu Raffa tidak pernah menanyakan hubungannya dengan Adit. " Dia tidak pernah menyakitiku, apa ada sesuatu yang tidak aku tahu?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya.Kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan, jangan terlalu lelah bekerja karena ada Rio dan Antoni yang akan membantumu."
Kinan yang sejak tadi mendengar obrolan mereka kini mulai mendekat kearah suaminya dan mulai menempel di sisi Raffa, ia tidak suka suaminya terlalu perhatian dengan Hanin.
Hanin merasa Kinan cemburu padanya,tatapan Kinan seolah sedang memperlihatkan rasa tidak sukanya. Kini Hanin hanya menggulum senyum saat melihat Kinan mulai memijit bahu Raffa dengan lembut.
" Memang yah kak Raffa dari dulu suka dipijit!" seru Hanin, ia sengaja membuat Kinan lebih cemburu padanya.
" Dulu saat di Inggris aku yang suka pijitin kakak saat kelelahan, sekarang ada Kinan." sambungnya lagi.
__ADS_1
"Memangnya kamu suka dipijitin sama Hanin, mas?" Kinan menatap tajam pada Raffa.
"Iya.Itu dulu." jawabnya tanpa melihat wajah Kinan, ia masih membaca map terakhir yang harus di tanda tanganinya. Namun, kini wajah Kinan merah padam mendengar jawaban dari suaminya. Ia memijit bahu Raffa dengan kasar.
"Sakit Nan!" Raffa mulai tidak nyaman dengan pijitan Kinan yang keras.
"Bodo!!" sentak Kinan, ia melepaskan tangannya dari bahu Raffa dan kembali duduk di sofa.
Raffa hanya melirik Kinan dari ekor matanya, ia merasa seperti salah bicara.
Hanin hanya terkekeh melihat Kinan yang mulai merajuk pada Raffa.
"Aku hanya bercanda Kinan, jangan dianggap serius begitu. Dulu aku pijitin kak Raffa karena kakinya kram setelah belajar berjalan. Aku juga terkadang pijitin bahu kak Rio saat dia kelelahan kok. Tidak perlu cemburu padaku karena kak Raffa hanya menganggap aku sebagai adik. "jelas Hanin, Aku permisi dulu ya." ia pergi dari ruangan Raffa.
"Kamu itu seperti Fafa, Rese banget!, suka ngerjain orang! " seru Kinan saat Hanin akan menutup pintunya. "Semoga kalian berjodoh! agar perang dunia ketiga meledak setiap hari" teriak Kinan lagi.
"Amit-amit!" seru Hanin dengan nada sedikit meninggi. "Lebih baik jomblo seumur hidup daripada harus dengannya." Hanin merasa kesal mendengar nama Fafa, entah kenapa ia sangat membencinya. Hanin menutup pintu dengan keras sengaja menunjukan rasa tidak sukanya.
"Ya ampun Kimok, sudah jadi bini Raffa aja masih cemburuan." Rio menggelengkan kepala, " Kalau lu cemburu sama Hanin itu salah. Dia sudah seperti keluarga bagi kami."
"Maaf, aku yang salah." Kinan menyesal.
"Mok, lu bisa bantuin gue nggak? Ada tetangga emak yang sakit. Dia anak kecil tetapi ia sakit di area kel*min. Jadi saat pipis, ia selalu merintih kesakitan. Gue kenal emaknya, kasihan mok dia orang nggak punya.Lu kan dokter, pasti tahulah dia sakit apa."
Lu fikir gue dukun langsung bisa tahu tanpa diperiksa! sahut Kinan dengan sewot ," Bawa dulu anaknya, baru aku bisa mendiagnosa dia sakit apa. Nanti ku beri jadwal praktekku, bilang padanya jika benar-benar dia tidak mampu dan tidak mempunyai kartu sakti pemerintah, bawa ke rumah sakit, aku berikan pelayanan gratis."
"Beneran mok!"
"Iya bawel!"
__ADS_1
"Ya ampun mok, ada gunanya juga gue punya temen dokter. Lu bermanfaat bisa gue manfaatin hihihi."
Dan Kinan langsung mendelik dan menjambak rambut Rio dengan gemas.