Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 111


__ADS_3

Fafa yang merasa kelelahan, kini terlihat sumringah setelah mendapat pesan dari Keken. Dan sekarang disinilah ia bergabung dengan para sahabatnya.


DF Club


Alunan musik yang terdengar begitu keras, kelap - kelip lampu membuat suasana malam menjadi begitu meriah,ditambah dengan beberapa wanita sexy yang selalu menghampiri mereka dan menawarkan diri.


Beberapa botol minuman keras sudah habis diminum oleh Keken. Khaffi dan Fafa tidak berani minum terlalu banyak karena mereka takut akan terjadi sesuatu setelah mabuk.


"Gimana betah nggak lu di perusahaan?" tanya Khaffi, suaranya terdengar lirih karena alunan musik yang begitu keras.


"Kagak!" jawab Fafa, " Terlalu banyak aturan dan tidak bisa bebas, pusing banget lihat banyak berkas."


"Terus lu maunya gimana?" tanya Khaffi lagi, "Kan y*utube masih jalan juga saat lu libur bisa bikin konten."


"Gue capek kalau minggu harus ngey*utube juga, pengen istirahat. Capek banget dengan semua ini." Fafa meneguk minumannya hingga habis.


"Makanya kita senang - senang hari ini bro, minum lagi." teriak Keken. Ia sudah mulai teler karena kebanyakan minum. Keken melirik beberapa wanita cantik yang datang ke mejanya. Beberapa kecupan Keken terima dari para gadis dan sebagai imbalannya, ia memberikan beberapa lembar uang.


" Pulang yuk Ken, lu udah mabuk." ujar Khaffi. Ia sudah mulai tidak nyaman saat beberapa wanita ikut mencolek wajahnya. Takut


"Nanti, masih sore ini." Keken yang sedang mabok tidak menyadari bahwa ini sudah pukul satu pagi. " Aku mau meneropong dulu mana yang big size." Keken menatap dada wanita malam yang menghampirinya.


"Nen mak, Nen cucu..., Nen cucu..." Keken bertingkah seolah seperti anak kecil yang sedang merengek meminta susu.


"PE'A lu!" Khaffi menjambak rambut Keken dengan gemas.


"Sakit Fifi!, kampret lu!" Keken membalas dengan menjitak kepala Khaffi.


"Lu, Nenan ***** Nenan ***** dah kayak tuyul aja lu kehausan minta Nen." Khaffi menoyor kepala Keken kembali. "Masih mending tuyul abis Nen kerja menghasilkan duit, lah lu malah buangin duit."


"Duit emak gue nggak berseri, ngapain gue kerja."


"Serah lu dah." Khaffi mulai malas menasehati Keken,ia lebih suka melihat beberapa orang yang sedang berjoget dengan iringan musik remix.


Saat Fafa melihat kesana kemari tanpa sengaja matanya tertuju dengan seseorang yang ia kenal. Pria bertubuh tinggi dan kurus bersama beberapa wanita yang sedang meneguk minuman keras. Fafa memfoto pria tersebut yang ternyata pacar dari Hanin.


"Eh, Fifi! Lu lihat deh ke sebelah kanan. Itu kan pacarnya si Janin. Inget nggak lu, waktu pernikahan mas Raffa dia datang."


Khaffi menatap jengah Fafa, ia sudah terbiasa mendengar Fafa dan Keken menyebut namanya seperti seorang wanita. Ia menoleh ke arah kanan dan melihat pria itu.


" Iya bener dia tuh pacarnya si Janin!" terangnya.

__ADS_1


" Kok gitu ya, beda banget. Saat di kondangan terlihat kalem, pendiam. Eh, disini dah kayak harimau kelaparan." Khaffi kaget melihat pacar Hanin yang mencium beberapa wanita tanpa risih.


"Eh, Fa! Kira-kira Janin tahu nggak ya pacarnya kayak gitu?!"


"Ya pasti nggak tahulah, orang si Janin percaya banget sama pacarnya.Si Janin selalu pasang badan buat dia, nyatanya dia dibohongi doang, kasihan." Fafa menggelengkan kepala,merasa miris dengan nasib percintaan Hanin sudah dibohongi pacar sendiri yang pura-pura baik.


"Lu mau laporan sama si Janin?!" tanya Khaffi lagi.


"Eh, Fifi emprit! Ngapain juga gue ikut campur urusan si Janin. Nggak ada untungnya, yang ada gue di sembur sama dia.Males banget!"


Tanpa di duga Raffa datang ke club itu dan meminta mereka pulang dengannya.


"Wow...! Jekardah bakalan hujan deras dengan petir yang menyambar ini. Mas Raffa datang ke tempat seperti ini." Keken yang sudah mabuk melihat Raffa duduk di sisinya.


"Mas juga pernah ke tempat seperti ini." balas Raffa, "Mami Imel telepon, ia nyariin kamu,ayo pulang." Raffa mencoba menuntun Keken yang mabuk parah. " Dan kamu Fafa, Khaffi cepetan pulang ke rumah. Awas saja kalau mampir - mampir yang nggak bener." ancam Raffa. Ia melirik Fafa yang masih menundukan kepala.


"Fafa cepat pulang!!" teriak Raffa


"I.. Iya...mas." ucapnya dengan takut, ia tidak ingin kakaknya melaporkannya pada mama Navysah. Bisa dijambak tanpa ampun saat ibunya tahu ia masuk ke club malam dan mabuk lagi.


"Mas, ada pacarnya Janin, disitu." bisik Fafa, ia menunjukan arah dengan dagunya.


Raffa melihat kearah tersebut dan benar saja pacar Hanin yang ia kenal sedang minum bersama banyak wanita.


"Siap mas!" Khaffi memfoto pacar Janin sesuai perintah Raffa.


Raffa mengantarkan Keken pulang ke rumahnya. Ia melihat mami Imel yang begitu sedih melihat kelakuan Keken yang tidak pernah berubah.


"Mami, jangan menangis lagi. Ada Raffa yang akan membimbing Keken." Raffa menghapus airmata mami Imel di sudut matanya.


"Mami capek Raff, mami sudah tua tapi Keken selalu seperti ini." ia terisak dengan lirih, "Sedangkan Om kamu tidak peduli. Dia bilang, biarkan Keken dengan dunianya nanti setelah menikah juga insyaf."


"Mami tenang ya, besok suruh Keken masuk kerja,sudah saatnya ia membantu Fafa. Ada Antoni yang akan tegas padanya. Jika Raffa tidak ada, mami boleh telepon Antoni. Dia akan stay dua puluh empat jam untuk kita."


"Benarkah...?!"


Raffa menganggukan kepala,"Dia bisa dipercaya mih."


"Baiklah."


* **

__ADS_1


Kinan masih melirik jam dinding, menunggu Raffa pulang.Setelah mendapat telepon dari Mami Imel, Raffa meminta ijin untuk pergi menjemput Keken di club.


"Raffa, bagaimana dengan Keken, sudah ketemu?" Kinan melihat wajah Raffa yang terlihat lelah. Sejak pulang dari kantor, ia masih mengerjakan beberapa berkas yang menumpuk hingga larut malam, dan saat Raffa baru saja ingin menutup mata, Mami Imel meneleponnya.


" Sudah, mereka di club DF bersama Fafa dan Khaffi." Raffa merengkuh bahu Kinan dan menutup matanya, ia benar-benar mengantuk.


"Kurang ajar si Khaffi, udah mulai nongkrong lagi dia di club. Awas saja! aku aduin ke Ayah Shafiq." ancam Kinan,ia tidak menyangka Khaffi mulai berbohong.


Khaffi pernah berjanji tidak akan pergi ke club lagi karena dulu Keken pernah berkelahi di club, sehingga Khaffi dan Fafa ikut kena getahnya. Mereka pernah bermalam di kantor polisi selama satu hari.


"Trio Kentir itu benar-benar susah untuk dipisahkan, pusing aku mas sama si Khaffi takut dia terjerumus seperti Keken." sambung Kinan lagi, namun tidak ada jawaban dari suaminya.


"Yah, sudah tidur dia. Kasihan banget sih suamiku pasti kelelahan." Kinan mendengar dengkuran halus dari Raffa. Ia membetulkan letak kepalanya di bahu Raffa dan ikut tidur.


* **


"Jadi, sore ini ke Cafe mas?" tanya Kinan, ia sedang menata koper Raffa yang akan dibawa untuk ke Inggris.


"Jadi, sebelum itu kita ke kantor Fafa dulu mau anterin berkas dan lihat Keken bekerja."


" Jangan lama-lama kerja disana, aku tungguin kamu pulang." Kinan menghampiri suaminya yang sedang bermain handphone di sisi ranjang, ia duduk di pangkuan Raffa. "Tiga bulan itu sangat lama untukku."


"Iya, do'akan saja semuanya berjalan dengan baik. Aku akan cepat pulang, beneran nih nggak mau ikut?"


"Nggak!, aku masih ingin kerja. Kamu hati - hati disana ya." Kinan mulai menggoda Raffa dengan menciumi area lehernya, hingga Raffa merasa geli.


"Sudah Nan, aku lagi kerja ini balesin email."


Raffa mulai goyah saat Kinan sengaja menggerakan dirinya yang sedang duduk di pangkuan. Bawahnya mulai sesak ingin dipuaskan. " Nakal banget sih, suka godain suami yang sedang kerja. Ayuk mamam dulu." Raffa mencubit cuping hidung Kinan. Ia merebahkannya di ranjang, Kinan tersenyum puas saat dirinya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Semoga ada Raffa junior disini." Raffa mengelus perut Kinan dengan lembut, mereka masih sama - sama polos setelah melakukan kegiatan panas itu.


"Aamiin." jawabnya, "Eh, tapi kalau aku hamil pas kamu pergi gimana kalau aku nyidam, nggak ada kamu mas!"


"Kan ada Alif dan Fafa,kalau kamu nyidam tinggal minta sama mereka." ucap Raffa sembari mencium kening Kinan.


"Ishhh...!! kamu yang nyuntik mereka yang kerepotan, jahat banget sih!" Kinan memukul dada Raffa


"Habis mau gimana lagi, aku jauh." Raffa menggulum senyum, "Kamu diajak nggak mau, yasudah."


"Aku takut nanti anakku akan seperti mereka, yang satu ketus yang satu lagi sambleng."

__ADS_1


"Kayak kamu?" celetuk Raffa


"Raffa....!!! " teriak Kinan dengan kesal, ia menggerutu karena disamakan dengan Fafa.


__ADS_2