
Mereka tidak menyangka ibunya akan datang ke apartemen. Mereka terlihat sangat cemas karena ibunya ingin menginap selama dua hari di apartemen.
"Mama yakin mau menginap disini, ayah nanti nggak bisa tidur tanpa mama lho mah." ucap Fafa, ia berharap ibunya tidak jadi menginap di apartemennya
"Kamu tenang saja, ayah Davi sudah ngizinin kok. Mana kamar mama?"
Fafa begitu gugup, ia berlari ke kamarnya sendiri dan segera merapikannya, "Untung pakaianku ada di kamar Hanin. Pakaian yang ada di lemari ini sedikit, aku masukan saja ke dalam koper." Fafa membereskan pakaiannya dan memasukan ke dalam koper, ia segera menaikan koper ke atas lemari agar sang ibu tidak curiga.
"Aman..." Fafa menghembuskan nafas panjangnya dengan lega.
Navysah dan Hanin sedang memasak di dalam dapur, sedangkan Fafa menunggunya di ruang tv. Mereka makan malam bersama dan bercanda tawa.
"Mama ngantuk mau tidur." Navysah pamit dengan Hanin dan Fafa, ia masuk ke dalam kamarnya
Hanin masuk ke dalam kamarnya untuk beranjak tidur dan Fafa mengikutinya, Hati Hanin begitu berdebar saat Fafa membuka kaosnya.
Fafa berbaring sembari memainkan ponselnya sembari senyum - senyum membalas chatting.
"Kamu sedang chatting dengan siapa?" Hanin mencoba mendekat karena penasaran.
" Sama Rena."
Hanin mengenggam erat tangannya ia dengan kesal masuk ke dalam bathroom dengan membawa sebuah paperbag hadiah dari mama Navysah tadi.
Hanin melihat dirinya di cermin, pakaian lingery yang diberikan mama Navysah begitu sangat terbuka dan Hanin merasa risih. Ia tidak pernah menunjukan kemolekanya di depan Fafa apalagi memakai lingery seperti ini.
"Aku belum siap." Hanin menganti kembali lingery dengan baju tidurnya tanpa lengan. " Aku lebih nyaman seperti ini."
Fafa melirik Hanin yang keluar dari bathroom, ia melihat Hanin yang menurutnya seksi kali ini. Baju tidur tanpa lengan dengan celana hot pants, kaki putih Hanin terlihat begitu jelas.
Selama menikah dengan Hanin, ia selalu memakai celana panjang. Bahkan, selama hampir tiga bulan menikah Fafa tidak pernah melihat Hanin memakai baju terbuka apalagi memperlihatkan kaki putihnya.
" Godaan setan." gumam Fafa dalam hati, ia membuang wajahnya kearah lain.
Hanin masuk ke dalam selimutnya, ia melirik Fafa yang masih sibuk dengan gadgetnya. "Masih chatting sama Rena?"
Fafa meletakan gadgetnya dan masuk ke dalam selimutnya.
"Nin, boleh aku bertanya?"
"Apa?" Hanin menjawab tanpa membuka matanya
"Apa kau mencintaiku?"
Hanin membelalakan matanya, ia menatap wajah Fafa dengan intens. " Kamu cinta aku nggak?"
"Janin, aku yang lebih dulu bertanya padamu, kenapa kamu tanya balik?" gerutu Fafa
"Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku Fa?"
" A..aku ya sudah pasti tidak cinta kamulah."
__ADS_1
"Sama, aku juga tidak!" Hanin membelakangi tubuh Fafa. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat mengatakannya.
"Nin, Janin..." goda Fafa, " Kamu beneran tidur?" Fafa menusuk-nusuk pipi Hanin dengan lembut.
"Apaan sih! Aku mau tidur, nggak usah rese." serunya
"Dasar ngambekan."
Fafa pun tidur dengan membelakangi tubuh Hanin.
* **
Pagi hari Navysah memasak di dapur, ia menyiapkan sandwich untuk anaknya.
Sedangkan sepasang suami istri itu masih tidur dengan saling memeluk. Mereka terbangun bersama dan saling menatap tajam.
"Kok kamu peluk aku!" teriak Hanin ia menjauh dari tubuh Fafa
"Dih! Siapa juga yang mau peluk kamu, aku kan tidur mana tahu itu kamu. Ku kira guling karena tubuhmu lepek nggak ada bentuknya Nin." seru Fafa juga
Hanin mencubit lengan Fafa bertubi-tubi sembari mengerucutkan bibirnya.
"Fafa, Hanin,kenapa kalian teriak? Ayo makan." seru Navysah, ia mendengar suara Hanin yang keras.
"Ya ampun, lupa mama kan disini." Hanin dan Fafa langsung berlari ke arah bathroom secara bersamaan.
"Aku dulu."
"Aku duluan Nin." Fafa tak mau kalah
"Ya sudah kita mandi bareng, beres kan." Fafa mengedipkan matanya pada Hanin
"Ogah!" Hanin pergi keluar bathroom, ia mengalah dan mandi di kamar tamu.
Mereka makan bersama, setelah itu Navysah mengajak Hanin dan Fafa pergi ke Mall yang sedikit jauh dari tempatnya. Awalnya Fafa menolak untuk ikut ibunya namun Navysah terus memaksanya.
"Mah, kita sudah keliling mall ini dua kali lho mah, belanjaan kita juga banyak." Fafa menunjukan kedua tangannya yang penuh dengan paperbag. "Fafa laper mah, makan yuk." pintanya
"Iya.. Iya..." Navysah melihat ke kanan kiri mencari seseorang. Dan ia tersenyum lebar saat ia melihat targetnya muncul.
Navysah sengaja agar anaknya melihat sendiri kelakuan Rena di belakang Fafa. Navysah menyuruh anak buahnya untuk mengikuti keseharian Rena.
Fafa tidak sengaja melihat sepintas wanita itu seperti Rena berjalan mesra dengan seorang pria bule yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Mah, Fafa ke toilet sebentar." ia pamit pada Navysah dan memberikan semua kantong paperbag kepada Hanin.
"Kok aku yang bawa ini semua Fa." gerutu Hanin. Tangannya tidak cukup untuk membawa banyak kantong.
"Sebentar, aku kebelet nih." Fafa meninggalkan mereka begitu saja dan mengejar wanita yang mirip Rena.
"Mama telepon Pak Ari dulu Nin, biar dia masukin semua barangnya ke mobil."
__ADS_1
Fafa menguntit mereka yang kini masuk ke dalam sebuah butik terkenal. Mereka benar-benar terlihat mesra dan sesekali Rena dicium pipinya oleh pria bule itu. Fafa masih menahan diri walaupun kini wajahnya mulai terlihat marah. Ia ingin tahu seberapa jauh hubungan Rena dengan pria itu.
Mereka kembali masuk ke dalam sebuah toko jam tangan branded dan memilih sepasang jam tangan limited edition dan dengan mudahnya Rena mengeluarkan kartu sakti pemberian Fafa.
"Sayang, kamu yakin pria bodoh itu tidak akan curiga kalau kita membeli jam tangan ini.Dia pasti akan bertanya, untuk apa kamu membeli jam tangan pria." ucap pria bule itu
"Kamu tenang saja sayang, Fafa tidak akan bertanya. Dia hanya akan membayar semua tagihan kita." Rena mencium pipi pria bule itu
"Aku kesal dengannya, setiap aku ajak untuk bercinta dia selalu menolak apalagi seminggu ini dia sangat sibuk dan tidak ada waktu untukku. Bagaimana aku bisa menjeratnya untuk segera menikahiku." sambung Fafa kembali
Fafa mengeraskan rahangnya, ia begitu marah karena selama ini ia mencintai wanita yang salah. Dulu Fafa memilih Rena karena ia tahu bahwa Rena korban dari keluarganya dan dengan yakin Fafa memastikan kalau Rena wanita yang baik dan setia. Ia selalu menutup telinga ketika semua orang berbicara buruk tentangnya.
Tapi apa yang ia dapatkan sekarang hanyalah pengkhianatan, pacar yang ia cintai dengan tega berselingkuh dengan menggunakan uangnya.
"Jadi seperti ini kelakuanmu yang sebenarnya?!" bentak Fafa dengan keras hingga sebagian orang melihat kearah mereka.
"Fafa...!!" Rena begitu terkejut melihat Fafa yang kini berada dihadapanya. Ia tak menyangka Fafa akan datang ke sebuah Mall yang jauh dari tempat tinggalnya.
"Aku bisa jelaskan, ini tidak yang seperti kamu fikirkan." ucapnya dengan memegang lengan Fafa, namun Fafa menghentakan dengan keras.
"Jangan berdusta lagi! Aku sudah melihat kebusukan dirimu. Dasar wanita tidak tahu diri!" Fafa merebut kartu kredit Rena yang masih ia pegang lalu Fafa mematahkan kartu tersebut.
"Hubungan kita berakhir! Dan perlu kamu tahu, kartu kredit ini atas nama dirimu. Maka bayarlah cicilanmu sendiri karena aku tidak akan membayarnya lagi!" sambung Fafa kembali
"Dan kamu bule kere!" Fafa menunjuk pria itu, " Modal dong kalau pengen kencan. Cuih!" Fafa seolah meludah dengan jijik
"Brengsek kamu! beraninya menghinaku." ia memukul sudut bibir Fafa dan mereka saling memukul hingga security dan pengawal Navysah melerainya.
Fafa keluar dari toko tersebut namun Rena memohon dengan segera memeluk Fafa dengan erat.
" Kumohon, maafkan aku sayang. Maafkan aku! " ucap Rena dengan memelas,
" Denger ya Rena, aku bisa maafkan kamu untuk hal lain tapi tidak untuk selingkuh!"
"Fafa... Fafa.. Kumohon." Rena merengek dengan menangis di hadapan Fafa agar dia iba dengannya.
"Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu memeluk suamiku!" bentak Hanin, ia datang bersama Navysah dan melihat Rena sedang memeluk suaminya.
"Dia pacarku!" teriak Rena
" Dasar tidak tahu malu, kamu ingin merebut suamiku!" Hanin menghentakan tangan Rena untuk menjauh dari Fafa
"Seharusnya kamu yang sadar diri, kamu merebut Fafa dariku!" Rena tak mau kalah dengan teriakan Hanin.
"Ayo kita pulang." Fafa menggandeng tangan Hanin dan ibunya, sedangkan Rena ditahan oleh beberapa pengawal Navysah.
Dengan hati gembira Navysah tersenyum penuh kemenangan walaupun ia harus mengorbankan wajah anaknya yang sedikit lebam. Navysah tidak sia-sia menginap dan membuang waktunya untuk mengelilingi mall sebanyak dua kali. Sebenarnya Navysah sudah lama ingin membongkar keburukan Rena, namun Fafa bukan orang yang mudah percaya dan Fafa juga orang yang sulit untuk diajak pergi ke Mall yang jauh dari rumahnya.
" Mama pulang dulu, Ayah Davi telepon. Kalian baik-baik ya, yang rukun jadi suami istri."
"Iya mah."
__ADS_1
Navysah pulang bersama sopir dan pengawalnya.
Hanin melirik Fafa yang berantakan dan memar di sudut bibirnya. "Ayo kita pulang." Hanin menggandeng Fafa untuk pulang ke apartemen