
Keken sengaja mengajak Fafa untuk menemui Khaffi di perusahaan Hara. Mereka berniat mengajak Khaffi untuk bersenang-senang di club malam ini.
Awalnya Fafa menolak untuk pergi bersama Keken, namun dengan segala rayuan Keken bahwa Fafa akan dikenalkan dengan seorang wanita cantik akhirnya Fafa mau menuruti keinginannya.
Mereka berada di ruangan Khaffi yang lebih kecil dari ruangan kakaknya, sembari bersenda gurau mereka mendengar suara wanita yang begitu berisik.
"Toa siapa sih itu!?" tanya Fafa penasaran," Kenceng banget suaranya."
"Iya ya suara cempreng siapa itu yah?" Keken pura-pura bodoh namun hatinya ingin tertawa keras.
" Suaranya tidak asing, siapa yah? " Khaffi ikut pura-pura bodoh. Mereka semua berkomplot masuk ke dalam drama tante Navysah. " Kita cabut aja yuk, sudah jam delapan malam." ia melirik jam di tangan kirinya.
"Ayo." ajak Keken, ia masih dengan senyuman gelinya. Keken tahu saat ini mereka harus melewati ruangan Raffa saat keluar dari sini
" Mbak Kinan, apa yang terjadi!?" Khaffi begitu terkejut saat membuka ruangan Raffa dan terlihat kakaknya seperti orang mabuk yang meracau.
"Adikku yang paling tampan, kakakmu ini sedang frustrasi sayang."ucapnya dengan tidak jelas
"Siapa yang membuatmu seperti ini. Mas Raffa kan!? Awas saja, akan aku pukul dia karena membuatmu seperti ini!" Khaffi begitu geram melihat kakaknya begitu menyedihkan seperti ini.
"Enak saja pukul kakakku!" ucap Fafa dengan tidak suka, " Memang salah kakak aku apa sampai ingin kau pukul." Fafa melotot kearah Khaffi
" Kakakmu selingkuh dengan wanita lain.Dia menghianatiku!" seru Kinan dengan keras
"Lihat!, mba Kinan seperti ini karena ulah kakakmu! Khaffi menarik kerah baju Fafa dengan kencang, ia menatap Fafa dengan tatapan tajam. Khaffi sengaja memancing emosi Fafa agar mau berkelahi dengannya.
" Apaan sih lu Fi! Kalau lu mau marah ya marah sama mas Raffa, tungguin dia pulang! " Fafa menantang Khaffi dengan sorot matanya yang tajam. Ia membalas dengan menarik kerah baju Khaffi
"Ini apaan sih! Kok kalian berantem gini." Keken berusaha melerai mereka. Rio datang setelah Keken berteriak dengan keras.
"Sudah cukup!" Rio menahan tubuh Fafa dengan erat.
"Aku anterin Khaffi dulu, kak Rio sebaiknya bawa mba Kinan juga." perintah Keken
"Kamu disini saja Fa, si gadis bodoh itu sepertinya mabuk." Keken melirik Hanin yang sudah mabuk berat.
__ADS_1
"Baiklah." Fafa duduk di samping Hanin dan melirik gadis itu dengan kesal. "Dasar tukang mabok!" Fafa menoyor kepala Hanin dengan pelan.
Mereka keluar dari ruangan itu hingga tinggalah mereka berdua.
"Ayo, aku antar kamu pulang." ajak Fafa
"Tidak mau!, aku ingin disini dit." racau Hanin. Ia seolah melihat Adit pada diri Fafa
"Gue Fafa bukan Adit!" ketusnya
" Kenapa kamu tega menghianatiku dit! Kenapa!" Hanin memukul lengan Fafa dengan bertubi-tubi. "Aku begitu mencintaimu dan percaya denganmu tetapi kamu tega selingkuh di belakangku. Kamu bilang aku membosankan, aku cantik tapi tidak menarik." racau Hanin kembali.
Terlintas di fikiran Fafa untuk bertanya kenapa Hanin mencabut laporannya pada Adit. Ia begitu penasaran dengan alasan Hanin.
" Kenapa kamu mencabut laporan Adit, katakan padaku? "
" Aku tidak tahu. " Hanin menghela nafas panjangnya, "Yang aku tahu dia menghamili wanita lain. Wanita itu sedang hamil anak Adit, mana mungkin aku tega membiarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah. Adit sudah berjanji, dia akan menikahi perempuan itu dan sudah meminta maaf padaku. Ibunya juga sudah tua, hanya Adit tulang punggung keluarga. " jelas Hanin dengan meracau, hatinya begitu kacau mengingat wajah Adit kembali.
" Dasar perempuan bodoh, masih saja memikirkan orang lain disaat kamu terluka seperti ini. Hatimu terbuat dari apa. " gerutu Fafa, ia merasa terenyuh dengan alasan Hanin yang sebenarnya.
Hanin yang sudah mabuk berat kini meracau dengan tidak jelas. Ia merasa pusing dan hilang kendali. Seperti biasanya Hanin membuka beberapa kancing kemejanya karena merasa kepanasan.
" Apa yang kamu lakukan. " Fafa menahan tangan Hanin agar tidak membuka semua kancing bajunya, walaupun sudah terlihat dengan jelas warna bra yang Hanin kenakan.
"Panas." lirih Hanin
"Tapi nggak kayak gini." Fafa kembali mengancingkan kemeja Hanin. Namun disaat ia mengancingkan kemeja Hanin, lampu kantor Raffa padam secara mendadak sehingga membuat Hanin berteriak.
"Ahhh... Mama!! Aku takut gelap." Hanin berteriak kembali, ia langsung memeluk tubuh Fafa dengan erat.
"Kamu tenang ya, aku cek terlebih dahulu. Saklar lampu dimana ini." Fafa mencoba menenangkan Hanin yang ketakutan, ia ingin bangkit dari duduknya namun Hanin memaksanya untuk tidak pergi.
"Jangan tinggalkan aku hiks.. hiks..." pinta Hanin dengan menangis
" Kalau aku tidak mau gimana?" goda Fafa, ia tidak mungkin meninggalkan Hanin dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
"Kumohon." pinta Hanin dengan memelas, ia mendekatkan wajahnya diwajah Fafa. Hembusan nafas Hanin begitu menyapu wajah Fafa, aroma alkohol begitu menyengat dari mulut Hanin.
"Minggir ah, Kamu bau ******! Nggak ada manis-manisnya." Fafa mendorong kening Hanin agar menjauh darinya.
"Aku sangat manis, aku cantik dan tidak membosankan." ucap Hanin, ia selalu mengingat perkataan Adit yang menyakitkan baginya, membosankan.
Hanin dengan beraninya duduk di pangkuan Fafa dan mencium bibirnya dengan kasar. Fafa sangat terkejut dengan apa yang Hanin lakukan padanya, tanpa ia sadari Fafa ikut terhanyut dalam permainan Hanin.
Hanin melepaskan ciumannya saat oksigen terasa menipis, ia begitu terengah setelah mencium Fafa dengan begitu brutal.
"Adit." lirih Hanin, ia melihat wajah Fafa seolah wajah Adit, dalam keadaan mabuk ia tidak bisa membedakan mana Adit, mana Fafa.
Fafa merasa kesal karena ia seperti pelampiasan bagi Hanin. Fafa melihat Hanin masih begitu mencintai Adit, walaupun sang mantan pacar telah menghianati Hanin.
"Beraninya kamu menganggap aku Adit! jangan salahkan aku Nin." Fafa mengambil kesempatan disaat Hanin mabuk, dengan hati yang kesal ia mencium Hanin dengan brutal kembali, nafas mereka begitu memburu. Fafa yang terbiasa berciuman dengan Rena kini dengan berani membuka beberapa kancing Hanin dan membuat beberapa tanda kepemilikannya disana. Terdengar suara Hanin yang mendesis saat Fafa yang mengigit leher mulusnya.
"Ahhhh..., Adit" desah Hanin dengan menutup matanya, ia merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, "Geli dit." Hanin menjambak rambut Fafa dengan keras
Fafa begitu terhanyut saat melihat warna bra Hanin yang berwarna hitam. Ia membayangkan wajah Rena saat bercumbu bersamanya.
"Rena, sayangku." ucap Fafa dengan suara serak, ia meremas buah d*da Hanin dengan keras, hingga terdengar suara ******* dari Hanin.
"Ceklek." suara pintu terbuka dan lampu menyala. Dua orang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan Raffa.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Navysah dengan keras, ia melihat anaknya beradegan mesum bersama Hanin.
"Mama...!!" Fafa begitu terkejut melihat ibunya bersama Mami Imelda. Ia segera menurunkan Hanin dan menutup kembali kancing bajunya.
"Ini tidak seperti yang mama fikirkan, biar Fafa jelaskan." ia memohon kepada ibunya agar tidak salah paham dengan keadaan yang terjadi di ruangan ini.
"Kamu ingin menjelaskan tentang apa, HAH!" teriak Navysah dengan begitu keras, " Apa yang kamu lakukan pada Hanin!, lihat leher dia sudah merah begitu. Apa yang perlu kamu jelaskan pada mama!" Navysah benar-benar ikut terkejut, ini tidak seperti yang ada di dalam skenarionya. Ia dan Imelda hanya ingin membuat Fafa dan Hanin berada di sebuah ruangan dalam keadaan lampu yang padam hingga terpegok mereka sedang berduaan lalu menikahkanya, namun apa yang dilihatnya saat ini membuat dirinya pusing tujuh keliling karena Fafa benar-benar buaya, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Fafa... Fafa..." ia mencoba mencari alasan agar ibunya mengerti dan memaafkannya, namun belum sempat ia bicara, sang ibu pingsan di depan matanya.
"Mama...!" teriak Fafa, ia begitu panik melihat ibunya ambruk, Fafa segera membawanya ke rumah sakit terdekat.Sedangkan Imelda menelepon seseorang agar membawa Hanin pulang ke rumah keluarga Davian.
__ADS_1