
Keesokan harinya,
Seperti biasanya setiap pagi, selalu terjadi kehebohan di keluarga Davian. Si kembar Khalif dan Khaffa yang selalu tidur lagi setelah sholat subuh. Inka dan Inha yang malas untuk berangkat sekolah.Setiap hari Raffa membantu membangunkan adik-adiknya. Entah mengapa jika Raffa yang membangunkan, maka si double kembar akan menurut dan mengikuti perintahnya.
"Ayo Inka, pakai sepatunya. Ini sudah siang nanti telat masuk sekolahnya? Raffa mengejar Inka yang berlari kesana kemari di dalam rumah. Dia berhenti dan menoleh ke arah kakaknya." Tapi nanti sore sehabis mengaji anterin Inka main ya mas, Inka mau lihat pertandingan bola di lapangan bareng mas Fafa" pintanya
" Nggak boleh, kamu nggak boleh nonton bola. Kamu main barbie saja dirumah,kamu jangan ikut" potong Fafa langsung, dirinya tidak mau dirusuhi adiknya ketika bermain bola.
"Tapi aku mau lihat mas Fafa main bola, aku janji nggak jahil mas" dirinya meyakinkan diri agar diizinkan bermain di luar rumah.
"Pokoknya nggak boleh, dulu saja botol sirup Fafa diisiin saus sambal" Cebiknya. Fafa mengingat betapa jahilnya Inka yang sengaja menaruh sambal di minumannya, saat break di lapangan dirinya meminum air sirup rasa pedas.
"Saat itu aku kesel sama mas Fafa, boneka beruang aku di gantung di pohon mangga!" ketus Inka.
"Kan kamu duluan yang usil, buku mas dirobek!" ucapnya,tak mau kalah.
"Itu kan nggak sengaja"
Raffa tersenyum melihat dua orang adiknya berseteru. Kedua adiknya ini memang sering beradu urat, Inka yang jahil dan Fafa yang tidak sabaran. Sedangkan Alif lebih dekat dengan Inha yang pendiam, karakter mereka hampir sama.
"Yasudah nanti sore Inka sama mas Raffa saja, kita muter - muter komplek cari makanan "
Mendengar kata makanan membuat Inka senang, seperti ada angin surga baginya. "Beneran mas!" jawabnya antusias. " Kita cari jajan cilok, batagor ya. Inka bosen makan cemilan buatan mama Navy terus"
"Iya sayang, ayo cepetan ke sekolah. Mang Dirman sudah nungguin di depan"
" Oke" jawabnya cepat.
Sebuah tangan menarik-narik bajunya. Raffa menoleh kesisi kanannya, terlihat si mungil yang pendiam " Haha, ikut boleh?" tanyanya.
"Haha boleh ikut, nanti sama mas Raffa dan Kaka kita jajan di luar". Dirinya mencium kedua pipi adiknya, dan dibalas senyuman dari si mungil.
* **
Di sekolah,
Raffa masuk ke dalam kelas dan melihat Kinan yang sedang bercengkrama bersama Jessica,namun dirinya enggan menyapa terlebih dahulu. Kinan pun melirik ke arah Raffa dengan muka cemberut.
Bel tanda istirahat berbunyi, hampir semua anak bergegas ke arah kantin untuk mengisi perutnya, termasuk Raffa dan Rio.
"Kamu lagi berantem sama Kitis?" tanya Rio yang sejak dari jam pelajaran selalu memperhatikan temannya. Kinan yang selalu ceria mendadak diam.
"Nggak berantem , biasa saja yo" sembari menyeruput es kelapa dan bakso kesukaanya.
Terlihat seorang gadis berlari ke arahnya. " Raffa, ini untukmu" dengan menyodorkan sebuah hadiah kecil.
"Untuk apa ini? tanyanya
Si gadis bernama Julia langsung duduk di depan Raffa, terlihat sangat gugup dan tergesa - gesa.
" Sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah mengajariku beberapa pelajaran yang tidak aku mengerti "
" Ah modus!" celetuk Rio, melihat Raffa yang selalu mendapat hadiah dari beberapa teman sekolah terutama wanita, itu sudah menjadi hal yang biasa. " Julia kamu harus antri untuk bisa dekat dengan Raffa. Kamu mau nomer berapa? Hahaha " selorohnya.
" Apaan sih yo, ngeselin banget lu" Julia tampak malu.
"Yang kayak gini udah biasa jul, coba cari cara lain yang antimainstrem" Rio melihat hadiah yang diberikan Julia
Raffa menepuk lengan Rio, dirinya merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
__ADS_1
"Julia , terima kasih untuk hadiahnya tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku mengajarimu dengan ikhlas, jika kamu kesulitan dalam belajar datang saja ke kelasku. Kita bisa belajar bersama " ucap Raffa.
" Benarkah, aku masih boleh belajar denganmu"ucapnya tidak percaya.
"Boleh"
"Terima kasih Raffa, kamu sungguh baik kepadaku. Aku sungguh kesulitan dengan pelajaran matematika".
Dan mereka bercakap - cakap dengan sedikit candaan yang keluar dari mulut Rio, namun sepasang mata nampak tidak suka melihat keakraban mereka. Dirinya berlalu pergi dari kantin.
"Aku mau meminta maaf pada Raffa tapi sudah keduluan sama gadis lainnya" gumam Kinan dalam hati.
Dirinya mengingat perkataan Rio,
"Siapa yang tidak mau jadi pacar Raffa"
"Semua gadis mengantri untuk dirinya"
Dan Kinan mengingat perkataan babeh Nanang "Masa jodohnya adik sendiri, kan nggak mungkin"
Pikirannya entah kemana, terasa nyeri di hati dan tanpa terasa bulir air mata jatuh di sudut matanya.
"Kenapa sih aku selalu cengeng begini" gerutunya. Dirinya masuk ke dalam kelas dan pura-pura belajar.
"Kinan..!!" teriak Bagas, dirinya menghampiri gadis pujaannya dan duduk di sisinya. "Tadi aku nyariin kamu, kata jessi kamu ke kantin"
"Iya tadi kesana cuma sebentar" sembari mencorat - coret buku dengan bentuk lingkaran yang sangat banyak.
"Pulangnya boleh aku antar?" tanyanya
"Nggak usah, aku pulang dijemput sopir kok" dirinya merebahkan kepala diatas meja, tidak ada semangat di dirinya.
"Makasih, aku memang lagi lapar pengen makan. Makan orang juga pengin "selorohnya, Dia langsung membuka roti dan melahapnya dengan cepat.
" Eleh.. Eleh.. Sabar neng makannya. Laper banget ya, kasihan" sembari mengelus rambut Kinan.
"Apaan sih!, emangnya aku anak kucing dielus - elus. Udah sono masuk kelas lu, bentar lagi bel masuk" perintahnya.
"Aku masih pengen disini sama kamu"
Jessica, Raffa dan Rio masuk bersamaan ke dalam kelas.
"Minggir Bagas Senopati wara - wiri pinggir kali, pergi lu dari kursi gue" salak Jessica.
"Nama gue Bagas Senopati nggak pake wara - wiri pinggir kali Jessica Sianida!" ketusnya
"Gue Jessica Sandra bukan Sianida!" balasnya lagi.
"Eits.. Lu yang mulai, so nggak usah marah"
"Ah, capek deh ngomong sama muka tembok, kulit badak kayak lu" cibir Jessica.
" Sama kayak lu sipit, melek dulu baru ngomong"
"Hadeewwhh, kalian saling meledek lama - lama cinta loh" Kinan yang sedari tadi mendengarkan perdebatan mereka kini mulai jengah.
"Oh No..!!! Ucap mereka bersamaan.
" Oh yessss..!! Ucap Kinan sembari terkekeh.
__ADS_1
"Kinan malam minggu aku jemput ya, kita jalan" ajak Bagas.
" Pepet terosss, sampai dapet" sindir Jessica. Dirinya pura-pura membaca buku.
Kinan menoleh ke belakang, melihat Raffa yang sedang menggambar.
" Jalan nggak ya, bosen juga dirumah. Toh Raffa sibuk dengan dunianya" gumamnya dalam hati.
" Jalan rame - rame kan seperti biasa" dirinya mengingat kembali saat mereka ber enam nongkrong di Cafe Shine.
" Berdua saja yang lain nggak ikut " pinta Bagas.
Kinan mengingat kembali petuah mama Navysah "Kinan, kalau mau pergi sama teman harus izin Ayah Shafiq dan mama Ifa ya. Kalau tidak, pamit sama mama Navysah"
" Kinan, kalau butuh apa - apa minta anterin Raffa saja biar aman"
"Kinan, kamu harus fokus sekolah dan mengejar impianmu. Mama sarankan tidak berpacaran namun terserah Kinan maunya gimana"
"Kinan, jangan pergi berdua dengan pria lain yang tidak dekat. Mama khawatir denganmu"
"Aku pamit dulu sama mama Navysah, soalnya dia khawatir aku pergi dengan teman pria, takut diapa-apain " ucapnya dengan polos.
"Hahahahaha...Jessica tertawa keras. " Yaelah, gue punya temen polos banget.Disaat anak lain ngumpet - ngumpet jalan sama cowoknya eh dia kebalikanya. Eh, Bagas lu yakin mau deketin yang modelnya beginian. Otaknya cuma buku pelajaran dan..." Jessica menghentikan kalimatnya. " Ah, sudahlah"
Raffa yang sejak tadi menggambar anime sembari mendengarkan percakapan Kinan, kini tersenyum dan menahan tawanya. Dirinya langsung menutup wajahnya dengan buku dan terkekeh. "Ya allah, dia ingat perkataan mama Navysah yang selalu memberinya petuah" gumam Raffa dalam hati.
"Raffa..!!" teriak Bagas, "Gue ajak Kinan jalan ya, tenang aku akan menjaganya. Boleh kan? " tanyanya. Bagas tahu Raffa sangat dekat dengan Kinan layaknya saudara.
"Terserah Kinan saja" Dirinya tidak ingin ikut campur masalah pribadi Kinan, menurutnya Kinan sudah dewasa bisa memilih mana yang baik dan tidaknya.
"Ngeselin, kenapa dia tidak mencegahku" gerutu Kinan dalam hati.
"Yasudah, malam minggu kita jalan gas, jemput aku dirumah" Kinan mengucapkan dengan suara yang lebih keras agar Raffa mendengar percakapan mereka. Dirinya kesal Raffa masih dengan wajah datarnya.
"Yes..! siap tuan putri, sang pangeran tampan akan menjemputmu dengan kuda putihnya.
" Nggak usah sok kecakepan, kuda lu tipe lama sudah nggak jaman ..! " celetuk Jessica.
" Biar lama masih bagus dipakai, Iri bilang bos! , ye kagak laku si sipit makanya jadi orang jangan judes nggak ada yang mau deketin lu "
Jessica mendelik kearah Bagas, "Eh kamu sorry ye. Gue memang judes, pilih - pilih cari pacar karena papi gue orang terpandang. Masa gue pilih yang modelnya kayak lu yah palingan jalan cuma nongkrong di Cafe sama nonton bioskop " cibirnya
"Nggak usah sombong, dunia itu berputar. Lihat saja tuh si Raffa, bapaknya bos properti, restoran juga. Emaknya punya butik, garmen, online shop tapi dia tidak sombong.
" Gue Jessica, bukan Raffa "dirinya mendelik tidak terima.
" Sudah gas melon mendingan lu pergi dari sini dari pada si sipit mulutnya tambah pedes kayak cabe jawa" Kinan menengahi perdebatan mereka.
"Kinan..!!" ucap mereka bersamaan.
"Gue bukan gas melon" cebik Bagas.
"Enak aja! Mulut gue nggak pedes kayak cabe jawa Kinul" salak Jessica pura-pura mencekiknya dan Kinan langsung seolah - olah mati tercekik.
* **
Akhirnya satu Bab kelar juga, nafas dulu. Hehehehe.
Mohon maaf update tidak rutin. Author banyak pekerjaan, malam hari ngebut buat bab ini. Tidur malam teross, lama - lama jadi mata panda ini mah, hahahaha😅😁. Matursuwun sudah mampir, jangan lupa like, Vote and comment reader. Love you 😘😘😘
__ADS_1