Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 125


__ADS_3

Hanin yang sedang bergelung di selimutnya kini merasa risau, ia baru ingat bahwa hari ini Antoni akan menyelesaikan masalahnya.


"Nanti kita bahas setelah kamu sembuh." ujar Rio diujung telepon.


"Kenapa harus nanti, sekarang saja. Katakan, siapa penghianat itu."


"Kalau kamu ingin tahu, datanglah ke kantor besok." ucap Rio dengan mengakhiri panggilannya.


"Ini ada apa sih! bikin orang penasaran saja." gerutu Hanin, ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul lima sore. " Jam pulang kerja, aku akan kesana sekarang juga daripada aku mati penasaran, nggak bisa tidur." ia membersihkan dirinya dan berniat pergi ke Hara


"Eh, tapi kan mobil aku di Song Hang Cafe, kemarin aku tinggal disana. Ah, biarkan saja biar sopir Ayah yang ambil, aku naik taxi saja biar cepat."


Hanin bergegas pergi ke kantor dan menemui Rio.


"Gimana kak,siapa orangnya?" tanya Hanin penasaran.


"Kok kamu datang sih! katanya sakit." Rio menyentuh dahi Hanin dan mengecek suhu tubuhnya. "Tuh kan, bener! kamu masih demam sebaiknya kamu istirahat saja."


"Aku sehat, cepetan mana hasilnya." pinta Hanin dengan sedikit memaksa.


"Hanin, dengarkan aku. Aku tahu ini akan sulit bagimu, tapi aku yakin kamu wanita kuat." Rio merengkuh bahu Hanin dengan lembut.


"Ini ada apa sih! Kenapa kak Rio berkata seperti itu."


"Kakak...!!" Halwa langsung memeluk Hanin dengan erat," Kakakku wanita hebat, tidak akan terpuruk karena pria buruk itu."


"Apaan sih Wa! Kenapa sih kalian ini aneh banget. Cepetan sini, aku mau lihat."


Hanin melihat laptopnya dan melihat beberapa video yang menggambarkan seorang pria yang sedang bercumbu mesra di area tangga darurat. Hanin meremas tangannya seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Aditya. "lirih Hanin, ia melirik kearah Rio." Ini beneran Adit yang melakukan ini semua!?" tanyanya dengan rasa tidak percaya


Rio menganggukan kepala.


Hanin tertawa getir, ia benar - benar merasa seperti wanita paling bodoh di dunia. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.


" Adit yang mencuri data kita, sistem cctv pun dia rusak agar tidak ada yang tahu bahwa dia yang telah melakukan ini semua. Dia salah satu hacker terbaik, pekerjaannya sangat rapi Nin. Tapi dia lupa kalau di bagian tangga darurat ada mini camera tersembunyi yang sengaja kita pasang.Dia menjual program kita ke perusahaan lain dan pembelinya And Animation, seperti yang kita duga. "jelas Rio


" Adit benar-benar jahat, dia dengan gilanya berselingkuh dengan salah satu karyawan kita. " sambungnya lagi


" Apa yang akan kamu lakukan Nin? Semuanya aku serahkan padamu, jika kamu berniat menyeret Adit ke penjara aku dukung, jika tidak maka terserah kamu saja. "


Kepala Hanin terasa pusing, disaat ia masih ingin percaya pada Adit, sekarang kepercayaannya hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini ia nilai baik, berbanding terbalik dengan kenyataan.


" Aku ingin istirahat sebentar di ruanganku. " Hanin berjalan sempoyongan dan masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ia merebahkan diri dan menangis sejadi-jadinya,merutuki kebodohannya selama ini, hingga ia lelah dan tertidur disana.


Malam telah tiba Hanin telah bangun dari tidurnya, kini ia melihat wajahnya di cermin. Matanya bengkak, rambutnya berantakan, bajunya terlihat lusuh. Benar - benar tidak terlihat anggun, seperti yang biasa dia tunjukan.


Ia mengambil sebuah baju yang ada di lemari kantor, hari ini Hanin akan pergi ke DF club, ia ingin tahu kegiatan Adit yang sebenarnya.


Musik terdengar begitu keras dengan tawa riuh dengan sebagian orang - orang yang sedang berjoget. Hanin hanya duduk menyendiri dan meneguk segelas alkohol. Ia memandang ke segala arah, mencari seseorang yang ia kenal.


Setelah menunggu tiga puluh menit, ia melihat Adit datang bersama seorang wanita. Dia tertawa lebar bersama wanita itu dan Hanin hanya bisa menatapnya dari jauh.


Ia menghampiri Adit dengan membawa segelas alkohol.


"Byur....!" Hanin menyiram wajah Adit dengan minumannya.

__ADS_1


"Hanin...!" pekik Adit dengan terkejut. Ia tidak menyangka Hanin akan datang ke club. "Sayang, "kamu disini? kenapa kamu menyiramku?! "


" Jangan panggil aku sayang! Dasar penghianat!" ketus Hanin,


Adit menarik tangan Hanin agar mau mengikutinya. Mereka keluar area parkir dan bertengkar disana.


"Kamu kenapa sih Nin, aku salah apa?!" Adit mencoba ingin memeluk Hanin, namun tangannya dihentakan dengan kasar oleh Hanin.


"Kamu masih tanya, kamu salah apa!?" bentak Hanin, " Dasar pembohong,munafik, penghianat, penipu!"


"Hanin cukup ya!, jangan memancing emosiku." Adit menatap tajam kearah Hanin.


"Aku yang seharusnya marah padamu, kau mencuri programku dan menjualnya ke pihak lain, iya kan!? Kau berpura-pura baik padaku, pura-pura setia tapi nyatanya kamu main gila dengan wanita lain hingga dia hamil! Kamu benar-benar br*ngsek dit, aku benci sama kamu! " seru Hanin dengan keras, ia meluapkan semua kekesalannya.


" Apa buktinya kalau aku yang mencuri programmu? Aku tidak melakukannya sayang, aku juga setia dengan kamu. "sanggahnya, ia berusaha menyentuh tangan Hanin, ia mencoba merayu Hanin agar luluh padanya.


" Aku jijik sama kamu! "ucap Hanin dengan tegas," Mulai sekarang kita putus! " Hanin berlalu pergi namun tangannya dicekal dengan kuat oleh Adit.


" Kamu tidak ingin tahu apa alasannya, kenapa aku seperti ini!? " ucap Adit dengan tegas


" Aku tidak mau tahu dan aku tidak butuh alasanmu! Seharusnya kamu tahu, Hara memberimu banyak kesempatan dan kehidupan tetapi kamu menghianatinya.Aku benar - benar kecewa!" Hanin menyentakan kembali tangan Adit


" Semuanya karena kamu Hanin!, kamu yang membuat aku seperti ini. " teriak Adit


Hanin melotot kearah Adit, bagaimana bisa dia disalahkan atas perbuatan kotor Adit.


" Apa maksudmu dit!? "


" Kalau saja orangtuamu merestui kita, aku tidak akan seperti ini! "Adit menghembuskan nafas panjangnya.


" Ya, aku memang tidak tahu diri karena menyukaimu. Aku menyukai anak Pak Dewantara yang memiliki banyak harta, sedangkan aku tidak punya apa-apa.


"Aku benci ayahmu! aku ingin menghancurkan perusahaan ayahmu tapi aku tidak bisa menembus sistem keamanannya, hingga aku merusak Hara karena dia lebih mudah untuk diretas."


"Aku memang pria br*ngsek, aku menjual datamu ke perusahaan lain,aku juga menghamili wanita lain. Semuanya aku lampiaskan pada mereka!"


"Bersamamu terasa jenuh Hanin! kamu begitu polos dan tidak menarik walaupun kamu cantik. Saat aku menginginkanmu, ingin menyentuhmu kamu selalu menolak. Aku selalu menahan diriku selama ini,tapi sampai kapanpun kamu tidak akan pernah jadi milikku karena Ayahmu tidak suka denganku. Buat apa hubungan ini, HAH!! "teriak Adit dengan frustrasi.


Hanin meneteskan airmatanya, baru kali ini Adit begitu jujur mengatakan alasan sebenarnya." *D*ia tidak bahagia denganku, Aku tidak menarik walaupun aku cantik" gumam Hanin dalam hati


" Jangan pernah menjadikan aku sebagai alasanmu!, Jika kamu benar-benar cinta, maka kamu akan berjuang lebih keras untuk membuktikan pada Ayahku. Aku selalu mensupportmu dari belakang, selalu di sisimu tapi kamu hanya melihatku dengan n*fsumu. Dan sekarang aku tahu bahwa kamu pria terburuk yang aku kenal. Aku harap kita tidak saling mengenal dan putus denganmu adalah jalan terbaik. " ucap Hanin dengan tegas


" Jangan pergi! " Adit mencekal kuat tangan Hanin kembali.," Aku bilang jangan pergi! " matanya menatap tajam pada Hanin


" Sakit dit! Lepaskan. " tangan Hanin terasa sakit saat Adit mencekalnya dengan kuat.


" Diam nggak!, mulai malam ini kamu akan menjadi milikku! "Adit menyeringai dengan bibir yang sedikit terangkat keatas." Akan aku ajari bagaimana caranya menjadi wanita yang menarik. "bisiknya di telinga Hanin,ia tersenyum menyeringai kembali.


" Adit! Apaan sih, lepasin!!" teriak Hanin dengan keras. Ia diseret secara paksa agar masuk ke dalam mobil Adit.


" Adit lepaskan, tolong..!! "teriak Hanin, ia mencoba meminta bantuan dengan orang sekitar, namun tempat parkir itu begitu sepi karena semua orang sudah masuk ke dalam club dan bermain di sana.


" Lepaskan dia!! " seru Fafa, ia tidak sengaja melihat seorang wanita yang diseret oleh seorang pria. Setelah mendekat, Fafa melihat bahwa yang diseret adalah Hanin.


"Fafa..!! Tolong aku." Hanin menggigit tangan Adit dan berlari kearah Fafa. Ia memeluk Fafa dengan erat karena ketakutan.


"Kamu tenanglah, ada aku." Fafa mengelus punggung Hanin dengan lembut. " Emmm..., kok dipeluk kamu nggak ada rasanya ya Nin, datar, hihihi." selorohnya dengan cekikikan

__ADS_1


"Apaan sih Fa! Ini lagi serius malah kamu bercanda! Adit ingin memp*rkosaku, cepat hajar dia! " gerutu Hanin, ia memukul dada Fafa dengan keras.


"Benarkah!? Ah masa sih dia mau memp*rkosa kamu!? " ucap Fafa tidak percaya, "Emang kamu ada rasanya Nin, tipis begini masa mau dip*rkosa"


"Fafa...!!" teriak Hanin, ia menjambak rambut Fafa dengan kesal. " Ini beneran bodoh, dia kurang ajar padaku! "


"Hei kamu..!! Emang nggak ada wanita sexy lainnya sehingga kamu memilih Hanin,milih yang beginian. Lu salah target bro!! " tunjuk Fafa pada Adit


"Fafa...!!!" Hanin benar-benar gemas dengan ucapan Fafa yang merendahkan dirinya. "Ngeselin banget sih!" ia memukul pantat Fafa saking gemesnya. "Cepetan hajar Adit, pangeran kolor! " Hanin melihat pakaian Fafa yang hanya menggunakan kaos plus jaket, celana kolor dan sandal jepit.


"****!!" Adit mengibaskan tangannya yang terasa sakit akibat gigitan Hanin. "Kenapa kalian malah bertengkar!?"


Adit maju dan berusaha memukul wajah Fafa namun dengan gesit Fafa menghindarkan dan membalas pukulan Adit.


"Brukk...!!" Adit tersungkur di jalan dan mencoba melawan kembali. Mereka saling menendang dan memukul hingga Fafa terkena pukulan di bagian bibir sedangkan Adit sudah lemah tak berdaya.


"Sudah kubilang, kamu salah target. Walaupun aku begini, aku jago taekwondo bodoh!" Fafa menjitak kepala Adit sebagai balasan terakhir.


Terdengar suara sirine mobil polisi yang melintas dan membawa keduanya. Mereka masuk ke dalam kantor polisi dengan wajah lebam.


Setelah beberapa jam di introgasi Hanin dan Fafa diizinkan untuk pulang.


"Ayo cepat masuk! Aku anterin kamu pulang Nin."


Hanin masih diam tidak menjawab ajakan Fafa.


"Yaelah malah bengong! Woii... Janin, ayo pulang. Lu mau pulang atau nggak, gue tinggal nih. Emak gue sudah nungguin martabak." Fafa membuka mobilnya, namun sebelum dia masuk, suara tangisan Hanin begitu menggelegar.


"Huhuhu... Huhuhu...Huuaaa...." Hanin menangis keras, sejak tadi ia ingin sekali menangis namun Hanin selalu menahannya. Untung saja Fafa datang disaat yang tepat, jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya.


"Kamu kenapa lagi? Kenapa nangis sih?"


"Terima kasih." Hanin memeluk Fafa sekali lagi. "Karena kamu aku selamat, pangeran kolor."


"Lepaskan..!! Sudahlah, nggak usah nangis dan peluk aku. Males nggak ada rasanya." Fafa melepaskan pelukan Hanin. "Tadi gue kebetulan lewat aja." ujar nya. " Gue juga heran sama cowok itu, mau p*rkosa ya milih-milih, lah ini yang dipilih mie lidi." ledeknya


Hanin memukul lengan Fafa bertubi-tubi, pria ini menyebalkan namun selalu menolongnya disaat susah.


Di sisi lain,


"Assalamualaikum Nyonya."


"Walaikumm salam"


"Semuanya berjalan lancar walaupun tidak seperti skenario Nyonya." ucap Mang Nano


"Bagus! pantau mereka terus. Sekecil apapun, laporkan padaku. Terima kasih mang." ucap Navysah


"Siap Nyonya."


Navysah menutup teleponnya dengan tersenyum lebar.


Siang tadi, Raffa memberikan kabar bahwa pacar Hanin lah yang membuat semua kekacauan yang terjadi di perusahaan. Dan, dengan cepat Navysah membuat strategi agar Hanin bisa dekat dengan Fafa. Navysah menyuruh Pak Nano untuk memantau Hanin, sedangkan Pak Ari memantau Fafa. Bahkan, Navysah pura-pura lapar dan meminta di belikan martabak di dekat DF club yang jauh dari rumahnya, ia menyuruh Fafa untuk pergi ke sana.


Dan disaat semuanya tidak sesuai rencana, Navysah mengubah alurnya, dia menyuruh Fafa untuk mencari beberapa makanan di sekitar club itu agar dia bisa bertemu Hanin. Navysah pun menelepon polisi bahwa ada keributan di depan DF club itu.


"Maafkan mama sayang, ini semua mama lakukan untukmu. Jika Jihan tidak bisa menjadi menantu mama, maka Hanin lah yang pantas untuk kamu.Pria itu benar-benar keterlaluan, beraninya dia ingin memp*rkosa Hanin,untung Fafa tepat waktu Dan Allah mempermudah semuanya." Navysah merasa lega, tahap awal berjalan dengan baik

__ADS_1


__ADS_2