
Setelah mendapatkan DP dari pak Eris, mereka memesan beberapa perabotan. Tidak lupa membeli cat beserta kelengkapannya.Mereka keluar masuk dari toko satu ke toko yang lain.
Raffa menelepon ibunya, meminta izin pulang malam dengan alasan ingin bermain di rumah Rio, karena hari ini malam minggu sehingga Navysah mengizinkannya.
Setelah semua perlengkapan terbeli, mereka melajukan motor tua milik Rio untuk pulang ke rumahnya. "Assalamualaikum mak" ucap Rio dan Raffa sembari memakirkan sepeda motornya.
"Walaikumm salam" Bu Asti yang sedang di warung segera menghampiri anaknya "Kamu darimana saja Yo! , Caca nyariin kamu." Rio mencium tangan ibunya dan diikuti Raffa.Berada di rumah Rio sudah tidak asing lagi baginya, bu Asti pun sudah paham Raffa teman dari anaknya.
"Maen dulu sama Raffa sebentar" jawabnya.
"Nak Raffa, sini masuk makan dulu emak tadi masak tumis kangkung"
"Iya mak terimakasih" balasnya. Ia merasa lapar karena sejak tadi belum sempat makan apapun.Terlihat seorang wanita berumur menyapa keluarga dari Rio.
"Eh, mpok Asti ada tamu ye. Si ganteng datang lagi" mpok Nur tersenyum, ia pernah melihat Raffa beberapa kali datang kerumah kediaman Rio. Ia seorang janda yang suka bercanda dan meledek pria yang lebih muda.
"Assalamualaikum bu" Raffa menyapanya sebagai rasa hormat. Ia membalas senyuman darinya.
"Walaikumm salam. Ya allah ganteng amat ya" Ia melihat Raffa dari jarak dekat.
"Tong!, lu mau kagak jadi mantu aye atau mau jadi suami aye. Aye kagak nolak dah kalau gantengnya beginian,senyumnya bikin aye cenat cenut manis banget tanpa buatan. Sering mampir dimari ya tong, biar aye lihat yang seger-seger" kelakarnya.
"InsyaAllah bu"
" Tong, Anak aye si jenab cantik banget. Lu mau ngga kawin sama die. Anaknye baru lulus tahun kemaren" dia berapi - api mempromosikan anaknya agar Raffa tertarik.
"Saya masih sekolah bu, belum berfikiran untuk menikah" ia menjawab dengan sopan pertanyaan dari mpok Nur.
"Iya tong sekolah yang bener biar emak lu bangga, jangan nikah muda ujung - ujungnya sengsara. Tapi ngomong - ngomong dilihat dari penampilan lu roman-romannya lu anak orang kaya tong. Kulit lu sawo matang tapi bersih, muke lu kinclong, badan tinggi kayak pipa aer, beda dah kayak orang dimari" ia mencoba menyelidiki status Raffa.
"Saya orang biasa bu"
Rio merasa tidak suka jika tetangga yang satu ini sudah mulai kepo. "Aye permisi dulu ya mpok, laper pengen makan" ia menarik tangan temannya untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Et dah si kribo rese amat! , orang aye lagi pedekate sama si brondong manis malah dibawa kabur. Suweeek lu!"
Rio menoleh ke belakang "Malu ama umur mpok, bentar lagi palingan dicubit izroil. Banyakin dzikir buat bekal kelak, jangan brondong terus yang dipikiri"
"Rio, nggak sopan Nak..." bu Asti mendelik ke arah anaknya, dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Yaelah, malah aye ditinggalin begini"ia langsung pulang kembali ke rumahnya.
" Nak, Raffa mandi dulu habis itu makan ya " Ia memberikan handuk bersih.
" Iya mak, terimakasih " Ia langsung membersihkan tubuhnya dari keringat yang menempel.
"Nih pakai baju gue aja Raff, ini tidak baru tapi bersih.Ini sarung sama sajadahnya. Gue mau mandi dulu"
Raffa langsung memakai sarungnya, dan mulai sholat maghrib. Ia tidak bisa berjamaah mengingat ruang kamar Rio yang sempit. Setelah sholat dirinya membaringkan tubuh di ranjang Rio.Ini pertama kalinya dia berada di kamar Rio, walaupun Raffa sering bermain disini namun ia tidak pernah masuk ke ruang kamar sahabatnya.Ukuran ranjang single dengan sprei berwarna merah hitam bergambar klub bola kesayangan temannya.Ruangan yang cukup sempit baginya,hanya berukuran tiga kali empat meter. Ia menatap langit - langit dan terdengar lirih suara adik Rio yang kedua. " Iya mak, tapi beneran ya senin dibayar biaya sekolahnya. Lian malu sudah tiga bulan belum bayar"
"Ia, pasti emak bayar. Kamu tenang saja"
" Dari bulan lalu emak begitu terus, tapi belum dibayar juga. Sebentar lagi ujian mak. Buku Lian juga belum kebeli, itu kan penting buat ujian Lian"
Raffa tidak sengaja mendengar percakapan ibu dan anak itu, bagaimana tidak mendengar dinding yang menghalanginya hanya sebuah triplek kayu yang dicat dengan warna putih dan kini mulai kusam. Raffa merasa nyeri mendengar adik sahabatnya belum mampu membayar uang sekolah, sedangkan dirinya bisa sekolah dengan nyaman tanpa pusing memikirkan biaya.
"Ya allah, alhamdulillah atas segalanya yang telah kau berikan padaku. Aku sangat bersyukur tidak pernah kekurangan apapun" gumamnya dalam hati.
Rio masuk ke dalam kamarnya "Ayo kita makan" ia bergegas duduk di ruangan tamu dengan mengelar tikar. Bu Asti menyiapkan makanannya "Hanya ada ini Nak Raffa, semoga kamu suka." Raffa melihat beberapa potong chiken yang sepertinya sengaja bu Asti beli di luar dan semangkok tumis kangkung.
"Alhamdulillah bu, ini sudah cukup. Terimakasih" Ia mulai menyendok sayur dan sepotong chiken.
"Makan yang banyak ya, jangan sungkan"
"Iya bu" ucapnya sembari mengunyah makanan." Berlian, sebentar lagi kamu ujian nanti mau masuk SMA mana?" tanyanya.
"Saya ingin seperti mas Rio di sekolah yang sama, semoga Lian dapat beasiswa. Do'ain ya kak"
__ADS_1
"InsyaAllah kakak do'ain. Kamu anak yang baik dan pintar semoga semuanya lancar " Raffa mengusap rambut Lian yang hitam lurus, gadis yang cukup cantik dengan kulit yang putih seperti ibunya, sangat berbeda dengan Rio dan Caca.
"Makasih kak"
Terdengar suara adik Rio yang kedua. "Mak, Caca pulang" dia langsung duduk disisi ibunya dan melihat beberapa potong ayam dan sayur. " Tumben mak ada chiken, biasanya makan tahu tempe atau telor dadar sama mie instan. Asyik Caca bisa makan chiken hari ini " ucapnya dengan polos dan mendapat cubitan dari sang ibu.
"Sakit mak, kenapa cubit aku" ucapnya lagi. "Kak Rio, mama nakal nih" ia mengadu pada kakaknya dan berpindah posisi duduk.
Raffa menundukkan kepala pura - pura tidak mendengar obrolan, jauh dari lubuk hatinya ia merasa sedih. Jika dirumah ia selalu makan empat sehat lima sempurna. Sedangkan disini, sahabatnya hanya makan dengan lauk sederhana.
"Kamu dari mana saja?" Rio mengalihkan pembicaraannya.
"Dari rumah Ncing kak, caca dikasih ini" Ia memamerkan sebuah boneka panda. "Kata Ncing harus dirawat jangan sampai kotor. Ini boneka caca terbaik yang caca punya kak"
Lagi-lagi hati Raffa merasa teriris dengan ucapan adik sahabatnya yang masih kecil. Ia melirik boneka panda berukuran tidak lebih dari tiga puluh senti, boneka mungil dengan bulu yang cukup lembut.Dia teringat jika dirumahnya terdapat begitu banyak boneka milik si princess kembar dari ukuran kecil hingga terbesar dengan harga yang mahal tergeletak begitu saja, sedangkan disini sungguh sangat berarti.
" Alhamdulillah sudah selesai makan nya. Terima kasih mak" ucapnya sembari tersenyum. Ia sudah menghabiskan semua nasi di piringnya tanpa sisa.
"Iya Nak, kalau mau nambah ini masih ada" ia menyodorkan sisa ayam terakhir.
"Tidak mak, saya sudah kenyang. Om Ari kemana mak?
" Ayah masih kerja, biasanya pulang jam sepuluh. Maklumlah Nak dia cari uangnya di jalan jadi pulangnya suka - suka"
"Masih jadi sopir blibird mak" tanyanya
"Masih, sekarang agak sepi. Soalnya banyak orang punya mobil pribadi jadi Ayah harus pintar - pintar cari penumpang. Kalau hari minggu biasa bantuin di rumah gedong di pojok jalan ini untuk bersihin rumput liar dan beberes taman" ucapnya
Raffa terenyuh mendengar penuturan ibu dari sahabatnya. Ayah sahabatnya harus banting tulang membiayai ketiga anaknya yang masih sekolah. Ibunya seorang guru honorer dan membuka warung kelontong di depan rumahnya.Rio yang selalu part time cuci mobil di bengkel yang belum tentu hasilnya seberapa. Ia rela bekerja setelah pulang sekolah agar dapat uang saku untuk adiknya jajan.
"Raffa permisi dulu mau kedepan mak " ia menelepon seseorang dengan sedikit menjauh dari rumah sahabatnya.
* **
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun All reader yang sudah mampir 🙂