Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 148


__ADS_3

Seminggu kemudian,


Navysah mengundang semua anaknya untuk datang ke rumah. Sudah lama mereka tidak berkumpul dan sekarang waktu yang tepat untuk kumpul bersama.


Raffa selalu menguatkan hati Kinan untuk bersabar dan berbesar hati menerima segalanya. " Mama Navysah akan selalu sayang denganmu Nan." bisiknya di telinga Kinan.


Terlihat Alif, princess kembar, Anggrek kini berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang bercanda dan tertawa lebar.


"Siapa yang belum datang ini?" Navysah turun dengan Davian. Ia mengabsen semua anaknya.


"Keluarga tarzan belum datang mah!" jawab Inka.


Navysah melihat Kinan yang selalu menempel pada Raffa.


"Kinan, sini sayang." Navysah menghampiri menantunya dan memeluknya.


"Mama kangen sama kamu Nan, mama sudah dengar cerita dari Raffa. Mama berharap lusa operasinya berjalan lancar ya sayang." Navysah mencium kening Kinan.


"Maafkan Kinan mah." ucapnya sembari berkaca-kaca


"Tidak perlu meminta maaf, mama yakin nanti kamu dan Raffa akan diberi momongan. Kamu jangan sedih ya, percayalah Allah akan memberikan yang terbaik." Navysah menghapus airmata Kinan di sudut matanya.


"Nanti mama akan tungguin kamu sampai operasi selesai." Navysah mengelus rambut Kinan dengan lembut. Kinan merasa bahagia karena mama Navysah masih sayang padanya dan tidak menyalahkan dirinya karena belum mendapat momongan.


"Auwooooo....!!!" teriak seseorang dari luar rumah.


"Sudah nggak ada lagi ini, pasti si Tarzan." Navysah hanya menghela nafas panjangnya, ia tahu Fafa selalu datang dengan teriakanya.


"Malu A, ini rumah bukan hutan!" Hanin memukul lengan suaminya.


"Ini kode rahasia, ciri khas dari keluarga Tarzan." bisik Fafa kepada istrinya.


"Emaaaakkkk....!!" teriaknya lagi


"Berisik!! Ucapkan salam dulu." Navysah menjewer telinga Fafa


"Assalamualaikum, Emak."


"Walaikumm salam." balas mereka bersamaan


Navysah memeluk Hanin dan mengelus perut datarnya "Calon cucuk nenek ini, sehat-sehat sayang."


"Iya nenek, aku akan selalu sehat." Hanin menirukan suara anak kecil.


"PE'A lagi dia." ucap Inka, "Mah, kok menantu mama modelnya begitu semua! Sudah cerewet, bawel, PE'A lagi."


Fafa langsung menoyor kepala adiknya.

__ADS_1


"Apaan sih mas!" ucap Inka dengan kesal. Ia menatap tajam pada Fafa.


"Kalau ngomong yang sopan." ucap Fafa


"Emang begitu kebenarannya." Inka masih tak mau kalah.


"Sudah - sudah, kalau kalian bersama pasti berantem terus, pusing ayah." Davian memijit kepalanya yang sedikit pusing.


Inka lebih suka bersama Alif yang pendiam dan selalu membantunya mengerjakan tugas kuliah. Sedangkan Fafa lebih suka dengan Inha yang jutek dan kalem.


"Haha, sini dong, kamu sudah lama tidak cium mas." goda Fafa pada adiknya. Ia melirik Inha yang sibuk dengan ponselnya.


" Haha bukan anak kecil lagi mas, Haha sudah gede." ketusnya.


"Mana coba! mas lihat, sudah besar belum. Masa segitu besar."


"Mas!!!" Inha memukul lengan kakaknya, " Umurnya yang besar bukan dadanya!" Inha tahu Fafa selalu berkata mesum.


"Kalau lihat dadanya, sampai kapanpun Inha akan kecil."


Fafa terkekeh dengan ucapan adiknya, tubuh si princess kembar memang seperti mama Navysah. Makan sebanyak apapun akan tetap kecil dan langsing.


"Awas ya, jangan pacaran. Mas tidak mau kamu di ***** - ***** pria yang tidak baik." bisiknya di telinga adiknya


"Siapa yang berani kurang ajar sama Inha, langsung aku sikat!" balasnya di telinga Fafa.


"Fafa, kamu akan menjadi seorang ayah, rubah sikapmu Nak." Davian melihat putranya masih selalu pecicilan dan slengean, ia berharap nantinya anak Fafa tidak menuruni sifat ayahnya.


"Ayah tenang saja, anak Fafa akan menjadi anak soleh dan soleha."


"Bapak, emaknya begitu jadi anak soleh dan soleha." cibir Alif


"Bilang aja lu iri Lif, makanya cepetan nikah sama si bengek, enak tau!"


Alif hanya memutar bola matanya dengan malas, Fafa selalu mendorongnya untuk menikah namun Alif tidak tertarik.


Mereka makan dengan bercanda tawa,namun Hanin tidak ikut makan. Ia hanya mengobrol dengan Kinan di taman belakang. Hanin merasa mual saat melihat nasi, setiap harinya ia hanya makan roti, susu dan buah.


Udara terasa sejuk karena taman belakang rumah mama Navysah terdapat berbagai macam pohon, mama hobi menanam bunga dan buah. Tamannya terlihat asri dan menyenangkan untuk di pandang.


"Mami Kinan, adek ingin di sentuh." ucap Hanin dengan suara anak kecil. Kinan yang sedang makan anggur kini melirik ke arah Hanin, ia tersenyum dan mengelus perut Hanin.


"Mami...." lirih Kinan, "Aku suka panggilan itu."


"Iya dong, kan aku sayang mami." Hanin masih dengan suara anak kecil, "Semoga mami cepat hamil agar aku punya teman bermain.Semangat Mami!!"


Kinan berkaca-kaca menahan airmatanya, ia begitu bahagia karena Hanin begitu baik padanya.

__ADS_1


"Do'ain mami sayang, biar cepat hamil dan adek punya teman main." Kinan mengelus perut Hanin kembali.


"Adek sudah berapa bulan ini? " sambung Kinan lagi


" Tujuh minggu mami."


Hanin mendengar dari Fafa bahwa Kinan akan operasi, ia menderita PCOS dan kista rahim. Fafa meminta Hanin untuk menguatkan hati Kinan,menyemangatinya dan tidak menyinggung masalah anak.


Hanin melihat pohon mangga yang begitu menggoda, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri beberapa pohon.


"Ada mangga, ada jambu air, ada buah belimbing." ucapnya, ia menelan salivanya melihat begitu banyak buah yang menggantung di pohon itu.Air liurnya hampir menetes saat melihat buah kesukaannya.


"Aku mau itu semua." ujarnya lagi.


"AA...!!!" teriaknya, Kinan menutup telinganya saat mendengar suara lengkingan Hanin. Sifatnya mirip dengan Fafa yang suka berteriak.


"Mereka benar-benar keluarga tarzan." gumam Kinan dalam hati


"Iya sayang, ada apa?" Fafa menghampiri istrinya


"Adek mau mangga."


"Oke." ucap Fafa, "Alif, ponakanmu minta mangga Lif!!" teriaknya


Kinan hanya menggelengkan kepala, ia tidak habis pikir, Hanin yang meminta mangga tapi Alif yang disuruh memanjat.


"Apaan sih, Fa!" Alif datang dengan malas. "Apaan?"


"Ponakan lu minta mangga, cepetan naik." Fafa memukul b*kong Alif dengan keras.


Hanin mencubit lengan suaminya. "Mas yang naik pohon jambu, Alif mangga, kak Raffa pohon belimbing." pintanya


Mereka hanya melolong dengan permintaan Hanin.


"Belum juga keluar sudah nyusahin." cebik Alif, ia begitu kesal karena harus memanjat pohon mangga.


" Yang ikhlas buat ponakan, lihat! aku juga ikutan manjat." protes Fafa, tadinya ia ingin hanya Alif yang naik pohon mangga, namun di luar dugaan istrinya juga menginginkan pohon jambu dan belimbing.


Navysah dan Davian melihat ketiga anaknya dari bawah. Mereka tersenyum lebar dan cekikikan.


" Lihat, calon cucumu sudah mulai bertingkah." bisik Davian pada istrinya.


"Biarkan saja, dengan begitu anak-anak kita akan selalu kompak. Lihat itu!" Navysah menunjuk ketiga anaknya yang dengan susah payah mengambil buah untuk Hanin.


Mereka bertiga memanjat sesuai perintah Hanin dan dengan gembira sang ibu hamil hanya duduk manis sembari memakan buah yang terjatuh. Si kembar bertugas memasukan buah yang jatuh dan memasukannya ke dalam kantong plastik besar.


"Kenapa kita semua yang repot." gerutu Inka sembari memasukan buah.

__ADS_1


"Iya, aku juga bingung, kok aku mau disuruh - suruh oleh mbak Hanin, sedangkan dia cuma duduk manis dan tertawa lebar." ujar Inha sembari melirik Hanin


__ADS_2