
Fafa tidak pulang ke apartemennya hari ini, ia menginap di perusahan karena lebih efisien. Fafa berfikir untuk apa pulang ke apartemen toh, dirinya tidak bisa tidur karena tidak ada Hanin.
Tubuhnya terasa lelah, akhir - akhir ini Fafa memilih makanan cepat saji dan jarang makan sayuran hingga tubuhnya sedikit kurus.
Hanin akhirnya pulang ke apartemennya sendiri. Saat ia ingin masuk ke dalam apartemen Fafa, ia tidak tahu kode passwordnya. Ia pun menghubungi Fafa, namun seperti biasa handphone tidak pernah tersambung.
"Malam ini dia tidak pulang ke rumah lagi. Fafa kemana, sih?! Aku menunggu berjam-jam seperti orang bodoh tapi dia tidak pulang. Apalagi sekarang dia memblock nomorku,bagaimana aku bisa menghubunginya." Hanin memukul setir mobilnya dengan kesal.
Sore hari,
Setelah bekerja Hanin kembali mengunjungi perusahaan suaminya, ia berniat untuk meminta maaf agar Fafa mau pulang ke apartemennya kembali. Namun, saat Hanin melintasi jalan ia melihat suaminya bersama seorang wanita. Mereka terlihat bercengkrama di dalam mobil. Dan itu membuat hati Hanin kalang kabut.
"Sial...!!! Fafa sudah berani berhubungan dengan wanita lain." Hanin begitu geram melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain.
"Aku tidak terima, aku harus merebut hati suamiku kembali." Hanin menekan gas pedalnya, ia mengintai suaminya dari kejauhan. Ia melihat Fafa mampir di sebuah apotek, Fafa membeli sesuatu disana lalu mereka kembali menjalankan mobilnya dan menurunkan gadis itu di depan sebuah universitas negeri. Mereka terlihat begitu akrab dan tersenyum lebar.
Hanin begitu terbakar api cemburu, ia mengingat ucapan Fafa saat di kantor.
" Aku juga bisa bersama wanita lain yang bisa diatur, tidak keras kepala apalagi gila kerja!"
"Jangan bilang Fafa pergi ke apotek untuk membeli tespek karena gadis itu hamil." fikiran Hanin begitu carut marut,ia menangis begitu keras membayangkan hal itu terjadi.
Kini Hanin datang ke apartemen Fafa, ia mengetuk pintu Fafa begitu keras agar sang suami membukanya.
" Siapa sih itu, berisik banget! " Fafa yang hampir tertidur merasa terganggu dengan suara ketukan pintu.
Ia dengan malas membuka pintunya dan melihat Hanin yang menangis. Hanin merangsek ke dalam pelukannya dan menangis dengan tersedu-sedu, ia meminta maaf berulang kali.
" Maafkan aku A, aku salah maafkan aku, huhuhu...." Hanin menangis sembari memeluknya dengan erat
"Kamu kenapa menangis?" Fafa merasa bingung karena Hanin menangis begitu keras dan memekakan telinganya.Ia mengusap rambut Hanin agar merasa tenang.
"Kamu jangan selingkuh, aku tidak mau kamu bersama wanita lain." ujar Hanin. " Siapa wanita itu? Apa dia hamil? huhuhu..."
Fafa mengenyitkan dahinya, ia merasa bingung dengan pertanyaan Hanin.
"Wanita yang mana?"
" Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu mau berbohong denganku kan!?"
"Aku beneran tidak mengerti Nin, lepaskan dulu pelukannya, aku sesak nafas." Fafa merasa sesak karena Hanin memeluknya begitu erat.
"Tidak mau! aku ingin memelukmu seperti ini. Aku tidak akan melepaskanmu."
"Ya sudah, ayo duduk dulu." Fafa berjalan ke arah sofa dengan posisi masih di peluk oleh Hanin.
Saat mereka duduk pun Hanin masih tetap memeluknya, ia bagai anak koala yang tak mau lepas dari tubuh Fafa.
"Siapa wanita itu?!" tanya Hanin kembali, " Apa dia hamil?"
"Wanita yang mana?"
"Wanita yang baru saja kau antarkan di universitas itu!" ketus Hanin, "Memang ada berapa banyak wanitamu!" gerutu Hanin
"Ya ampun, maksudmu Putri." Fafa terkekeh, " Putri itu adik Antoni."
__ADS_1
"Jadi kamu pacaran sama adiknya Antoni? Tega kamu A!" Hanin memukul lengan Fafa bertubi-tubi.
" Dengarkan aku." Fafa menyentuh dagu Hanin dengan lembut. "Dia adik Antoni, aku mengantarnya karena satu arah. Dan Antoni masih sibuk dengan kerjaan di kantor, aku pulang cepat karena tidak enak badan jadi aku mampir ke apotek untuk membeli obat, bukan membeli tespek.Putri itu seperti adikku, umurnya sama seperti princess. Mereka bersahabat dan dulu aku kakak kelasnya, makanya aku akrab dengannya. "
" Aku kira kamu menghamilinya, aku takut kehilangan kamu A. "
" Takut kehilanganku tapi kamu tidak penurut, cuma ngomong doang!" Fafa beranjak dari tempat duduknya. Tenggorokannya terasa kering, ia masuk ke dalam pantry dan meneguk segelas air.
" Pulanglah,ini sudah malam. " perintah Fafa pada istrinya.
Hanin langsung memeluk Fafa dari belakang." Jangan usir aku, aku masih ingin disini. "
" Aku ingin istirahat Nin, aku capek."
Hanin menyentuh kening Fafa dan benar saja, suhu badan suaminya begitu panas.
" Ayo aku kompres, AA sudah makan belum?"
Fafa menggelengkan kepala.
"Aku akan memasak sebentar, AA istirahat dulu di kamar." Hanin membawa suaminya ke dalam kamar. Ini pertama kalinya Hanin melihat isi kamar suaminya, warna biru dominan mengisi kamar Fafa.
" Nin, kamu tidak perlu memasak karena mulutku kali ini terasa pahit, jika kamu memasak itu akan menambah rasa pahit di mulutku"
Hanin cemberut dan mencubit lengan Fafa, bisa-bisanya ia menyebut masakannya pahit.
" Kalau kayak gini masih pahit tidak?! " Hanin mencium dan ******* bibir Fafa dengan lembut.
"Tidak usah mancing, aku sedang sakit."
Hanin tersenyum dan pergi ke dapur, ia memesan bubur secara online. Dengan telaten Hanin menyuapi suaminya dan mengkompres keningnya agar suhu tubuh Fafa kembali normal, tak lupa Hanin memberikan obat demam untuknya. Ia begadang sepanjang malam untuk menjaga suaminya.
" A.., kau sudah bangun. " ujarnya dengan suara serak, ia menyentuh kening Fafa kembali dan mengecek suhu tubuhnya.
"Sudah normal, tidak terlalu panas. Aku bisa tidur sebentar lagi." Hanin memejamkan matanya kembali.
"Dasar pemalas! Ayo bangun, buatkan aku bubur."
"Aku masih mengantuk, selama kamu pergi aku kesulitan tidur A, biarkan aku tidur di pelukanmu sejenak. Aku akan order bubur untukmu, toh percuma juga aku memasak karena aku tidak bisa memasak bubur."
Fafa terkekeh dengan jawaban jujur istrinya, ia mencium kening Hanin dengan lembut.
* **
Alif datang ke apartemen Fafa karena Hanin meneleponnya, ia memeriksa Fafa dan memberinya obat demam serta lambung.
" Jaga kesehatan, jangan kerja terlalu capek, makan jangan sampai telat." ucap Alif setelah selesai memeriksa dirinya.
"Tuh, dengerin Nin! kamu tidak boleh bekerja terlalu keras, jaga rumah saja."
"Ishhh...!! yang dimaksud Alif itu kamu A, bukan aku.Jaga rumah, memangnya aku security!"
Alif mulai pusing dengan pasangan tarzan yang mulai sahut menyahut. Ia bergegas merapikan stetoskopnya ke dalam tas.
"Lif, kamu kasih aku obat beneran kan, bukan obat yang salah. Jangan sampai salah diagnosa Lif, aku bukan kelinci percobaanmu."
__ADS_1
Alif menjitak kepala kembarannya, ia begitu gemas dengan mulut si Fafa.
"Itu obat sakit jiwa, diminum dua kali sehari setelah makan. Pengennya aku suntik mati dirimu Fa, sayangnya aku lupa bawa alat suntikan."
"Jahat banget sih!, masa kesayanganku mau kamu suntik mati. Biar otak AA ku geser setengah, dia tetap suamiku."Hanin menggulum senyum saat mengatakannya.
" Maksudmu apa otakku geser setengah!? Ini bukan setengah tapi tiga perempat, puas! "
Hanin dan Alif terkekeh bersama. Mereka melihat wajah Fafa yang kini cemberut.
" Lif, kamu sayang aku kan Lif. " ujar Fafa memelas dengan gaya khasnya yang selalu menggerakan tangan Alif.
Feeling Alif begitu tidak enak karena saat Fafa bertanya seperti itu, sudah pasti ia akan meminta sesuatu.
" Kamu mau apa? to the point saja,aku masih banyak kerjaan." ketus Alif.
"Masak kari ayam Lif, masakanmu kan enak tidak seperti Hanin."
Fafa langsung mendapat cubitan dari istrinya.
Sebelum Alif datang, Fafa menyuruh Hanin membeli ayam dan membeli bumbu untuk membuat kari ayam.
"Bener kan, si kampret ini ngerjain gue." gumam Alif dalam hati.
"Lif, aku beneran laper. Masa kamu tega sama aku yang sedang sakit ini." Fafa merengek seperti biasa saat bersama Alif,sifat manjanya kambuh kembali.
"Kamu lapar ya A, sini Nen aku." Hanin menenggelamkan wajah Fafa ke dalam dadanya.
"Pahit... Pahit.. Pahit! Itu kempes Nin, nggak ada isinya." ucap Fafa dengan cemberut. " Memangnya aku bayi laper langsung, nyoh.. nyoh... nyoh." Fafa mempraktekan seperti buah d*da yang di sodorkan. "
Alif menahan senyum, ia ingin tertawa keras namun malu kepada Hanin.
"Iya Lif, aku juga lapar." Hanin ikut merengek seperti Fafa
"Ya ampun, ini sungguh menjengkelkan! iya aku masakin sekarang juga." dengus Alif dengan kesal.
Alif masuk ke dalam dapur, ia memasak kari seperti yang pernah ibunya ajarkan. Hanin begitu terpesona saat melihat Alif memasak, ia tersenyum lebar saat hidangan tersaji begitu menggoda di hadapannya.
"Kamu suka hidangannya atau Alif?" tanya Fafa, ia sedikit cemburu karena Hanin selalu melirik saat Alif memasak.
"Keduanya, hihihi...." selorohnya
Namun tidak dengan Fafa, ia benar - benar cemburu dengan candaan Hanin.
"Lif, sudahkan masaknya. Mendingan lu pulang gih." Fafa sengaja mengusir Alif pergi dari apartemennya agar Hanin tidak melirik terus kearah Alif.
"Ini nih yang namanya tidak tahu diri! sudah di masakin tapi tidak menawarkan untuk makan bareng."
" Ini demi keutuhan rumah tangga tarzan, lebih baik kamu pulang. Aku mau main gerobak sodor , masa kamu mau lihat nanti kalau lu pengin gimana!?" Fafa menaik turunkan alisnya.
" Setan! "Alif menoyor kepala Fafa dengan gemas, fikirannya mulai kemana - mana saat Fafa berkata mesum.
" Dasar keluarga tarzan, pasangan gila! Lebih baik aku pulang dan kencan bersama Anggrek. " Alif meninggalkan apartemen Fafa dengan kesal.
* **
__ADS_1
Bismillah, do'akan Author selalu sehat ya bos. Semoga novel ini bisa tamat sebelum akhir bulan,karena awal bulan november jadwal padat merayap dan tidak mungkin bisa menulis novel. Untuk novel si princess kembar belum ada ide, dan belum tahu mau tetap disini atau pindah aplikasi. Setelah novel ini tamat, Author akan hiatus lama karena kesibukan di dunia nyata, mohon maaf bosque 🙏🙏😭
Matursuwun yang sudah mampir 😊😘😘😘