Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 86


__ADS_3

Flashback on


Setelah mendapat telepon dari Rio bahwa Raffa telah datang ke Indonesia, Kinan segera menyusun strategi. Dirinya tidak ingin menunggu tanpa kepastian yang jelas dari Raffa. Kinan pun merasa bingung apa yang terjadi dengan Raffa karena selama beberapa bulan terakhir Raffa selalu menghindari dirinya, jika bertanya pada mama Navysah dan adik-adik tidak ada jawaban yang memuaskan.


Kinan ingin tahu perasaan Raffa padanya, karena selama ini Raffa selalu bungkam saat Kinan bertanya tentang hatinya. Raffa bukan tipe orang yang selalu berkata manis ataupun mengobral kata cinta. Namun, Kinan hanya perempuan biasa yang butuh pernyataan cinta dari pasangannya seperti wanita lain.


Kinan langsung menghubungi Juna untuk meminta bantuan.


"Abang, kamu ada dimana?" tanya Kinan


"Rumah Sakit, ada apa Nan?"


"Aku akan memaafkan Jessica dan memasak untuknya tapi ada syaratnya."


Juna berbinar saat Kinan mengatakan akan memaafkan adiknya karena selama ini Jessica selalu menangis dan merengek pada Juna, dan hal itu membuat dirinya pusing. "Kamu mau apa, aku akan menuruti semua perintahmu."


Kinan mulai menceritakan apa yang menjadi keinginannya, dan peran apa yang harus dilakukan oleh Juna.


Terdengar hembusan nafas panjang dari Juna. Hatinya terasa nyeri karena Kinan kekeh ingin bersama Raffa.


"Gimana bang, mau yah." pinta Kinan dengan memelas


"Tidak bisa, aku tidak bisa berpura-pura seperti itu." tegas Juna, "Lebih baik kamu terima cintaku yang sudah jelas menyayangimu Kinan hihihi." goda Juna


"Abang..." lirih Kinan, " Aku mencintai Raffa, hanya Raffa bang."


"Dasar bucin!" seru Juna, "Apa kurangnya aku, sudah mapan, tampan rupawan, berpengalaman. Pilih aku bukan dia.!" Juna masih menunjukkan nilai plus dirinya.


"Tapi kamu sawan!" sahut Kinan dengan kesal. " Aku cari suami soleh bukan suami ramah alias rajin menjamah, suka PHP anak gadis orang."


Juna terkekeh mendengar celotehan Kinan.


Kinan mengingat tingkah laku Juna yang selalu perhatian dengan banyak wanita, pembawaan dirinya yang ramah terkadang selalu disalah artikan oleh beberapa wanita.Sikapnya yang easy going, murah senyum dan pengertian membuat banyak wanita kepincut, apalagi paras wajah tampan oriental membuat wanita tidak akan menolak untuk menjadi pacarnya. Soal materi luar biasa, orang tuanya pengusaha properti tidak akan habis tujuh turunan.


"Kalau sama kamu, aku serius Nan yang lain cuma bercanda doang."


"Tapi aku cuma anggap kamu kakak bang tidak lebih, Maaf."


"Oke kalau begitu, tapi kamu harus janji jika dalam empat tahun mendatang Raffa tidak menikahimu maka aku yang akan menikahimu, tepat di tanggal ini dan dimulai dari sekarang. Saat itu umurmu sudah dua puluh delapan tahun dan aku tiga puluh satu tahun,cukup untuk menjalani biduk rumah tangga. "


"HAH....!! " Kinan terkejut, " Tapi bang, aku..." belum sempat dia menuntaskan kalimatnya, Juna langsung memotong


"Nggak ada tapi tapian, ini perjanjian kita. Mau tidak mau, suka tidak suka kamu harus mau."


"Oke, aku ikutin keinginanmu."


"Bagus."

__ADS_1


* **


Juna


Ia merebahkan tubuhnya di ranjang setelah seharian bekerja keras di rumah sakit, jadwal yang terlalu padat membuatnya sedikit kelelahan apalagi beberapa operasi yang harus dia tangani. Kesibukannya sebagai dokter spesialis penyakit dalam membuat dirinya lupa akan mencari sosok pengganti Amanda, perempuan yang mengkhianati dirinya dan lebih memilih pria lain.


Hubungan percintaan yang terjalin beberapa tahun kandas begitu saja, saat itu Juna sudah mempersiapkan segalanya untuk melamar kekasih namun Tuhan berkata lain, tidak berjodoh.


Juna selalu terlihat ceria dan ramah berhubungan baik dengan semua wanita. Dengan begitu dirinya tidak merasa kesepian.


Saat bertemu Kinan, Juna tidak mempunyai perasaan apa-apa namun lambat laun perasaan itu muncul dengan sendirinya. Kinan yang selalu menangis dan curhat dengan Jessica, Kinan yang selalu ada saat adiknya terpuruk. Hanya Kinan


Juna sering mendengar curhatan dari Jessica mengenai sosok Raffa, pria tunangan Kinan. Pria yang baik menurutnya dan cocok untuk Kinan namun lambat laun hubungan mereka hanya diam di tempat, tidak ada perubahan hingga Kinan selalu menangisinya. Menyebalkan, saat melihat Kinan menangis seperti itu.


Juna membuka nakasnya dan membuka sebuah kotak cincin. Cincin yang sebenarnya ingin dia sematkan pada Amanda dulu. Juna mencium cincin tersebut dan menaruh kembali di dalam nakas.


"Andai saja Kinan milikku." lirihnya "Dia perempuan baik semoga dia jodohku, Tuhan."


~Flashback Off~


Malam hari Juna sengaja mengirim pesan pada Raffa untuk bertemu di sebuah club. Setelah menunggu tiga puluh menit Raffa datang menemuinya.


"Aku kira kau tidak akan datang ke tempat seperti ini." sindir Juna dengan senyuman mengejek.


Raffa duduk berseberangan dengan Juna, ia tidak ingin meladeni ucapan Juna yang bisa memancing emosinya. " Aku hanya pria biasa,sudah biasa keluar masuk ke tempat seperti ini di luar negeri. " Raffa mengingat dirinya selalu keluar masuk untuk menjemput Rio maupun Hanin yang suka mabuk di club.


"Berarti kau bisa minum." Juna menuangkan segelas minuman alkohol pada Raffa.


"Aku tidak ingin berbasa-basi." tegas Raffa, "Apa yang ingin kau katakan."


Juna meneguk alkoholnya dengan cepat, kemudian dia menghembuskan nafas kasarnya. " Kami akan menikah." ucapnya dengan berbohong, " Kinan milikku."


Raffa mengenggam erat tangannya, ada perasaan tidak rela saat Juna mengatakan Kinan miliknya.


" Lupakan Kinan, jangan pernah berkomunikasi dengannya lagi." perintah Juna.


"Aku tidak bisa!" mata Raffa menyalang seolah menantang Juna. " Kinan harus mendapatkan pria baik, tapi itu bukan kamu."


"Pria baik seperti apa, hahahaha...kamu itu lucu Raffa, dasar pria pengecut cuih..." Juna seolah meludah. "Kamu tidak mencintai Kinan tetapi selalu membuatnya menunggu."


Mata Raffa kembali memerah menahan amarah. "Kamu tidak tahu apapun, jangan sok tahu!"


"Hahahaha..., aku tahu semuanya tentang Kinan. Tidak ada rahasia diantara kami." Juna mulai memprovokasi Raffa


"Bibir Kinan begitu lembut,wajahnya mulus, tubuhnya begitu indah dan berisi,cantik, pintar apalagi ya..." Juna seolah meracau, dirinya sedang membayangkan bentuk tubuh Kinan.


"Brengsek..!!" Raffa bangkit dan memukul wajah Juna tepat di bagian bibir, Raffa menarik kerah baju Juna dengan kasar. "Jangan pernah melecehkan wanitaku, dia milikku, aku menyayangi dan mencintai Kinan sampai kapanpun. Tidak akan aku biarkan dia bersama lelaki sepertimu! " bentak Raffa dengan keras, mereka saling memukul dan berakhir dengan diusirnya mereka dari club malam.

__ADS_1


Raffa tidak berani pulang ke rumah, ia lebih memilih menginap di apartemen Rio. Ya, setelah kepulangan Rio dari Inggris dia merenovasi kembali rumah milik orangtuanya agar lebih layak, kehidupan keluarganya berubah lebih baik dan Rio membeli sebuah apartemen agar lebih dekat dari perusahaan dirinya bekerja.


" Tumben minum wine" cibir Rio, ia melihat Raffa meneguk beberapa gelas wine di apartemennya, wajah Raffa yang lebam akibat perkelahiannya dengan Juna.


"Mau diobati sekarang?" tawar Rio


"Tidak perlu, aku hanya ingin sendiri. Mabuk di apartemen lebih aman daripada di club."


"Minumnya sedikit saja." Rio segera mengambil botol wine yang tersisa. "Kalau ibumu tahu, aku bisa di krek." Rio bergaya seolah memotong lehernya.


"Aku akan lembur di kantor, kamu tidur saja biar besok fresh." Rio memapah Raffa yang mulai mabuk, ia membuka kaos Raffa dan membaringkannya di ranjang. Rio tahu kebiasaan Raffa yang selalu kepanasan saat tidur.


"Tubuhnya atletis, sayang kakinya belum sembuh total." Rio merasa iba, ia memijit kaki Raffa yang terlihat bekas luka operasi. "Untung saja tangan sebelah kiri tidak begitu parah." ucap Rio membari menyentuh bahu Raffa yang terlihat bekas operasi juga. "Raffa yang malang."


Kinan


Dirinya begitu sibuk mempersiapkan jadwal untuk esok hari. Kinan dinyatakan sembuh dan pulang dari rumah sakit sore hari. Ia tersenyum sendiri mengingat saat dirinya pura-pura sakit dan Raffa yang begitu panik.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, ia mengaktifkan handphone kembali. Sejak sore handphonenya lowbet dan kini terlihat beberapa pesan masuk ke handphonenya.


"Mama Navysah" ucapnya dengan menautkan alisnya, ia menerima satu rekaman suara.


" Lihat mama."


" Jangan membohongi perasaanmu, Mama tahu kamu sayang dan cinta dengan Kinan, dia gadis baik, dia pasti menerima dirimu Nak."


" Mah..., jangan sok tahu."


"Mama itu ibumu, tanpa kamu ucapkan mama tahu isi hatimu Nak.Mau sampai kapan kamu rendah diri seperti ini."


"Mah, aku tidak ingin Kinan menyesal menikah denganku. Lihat!, anakmu sudah cacat bahkan untuk menggendong Kinan aku hampir tidak mampu,kakiku bergetar hebat. Aku malu mah, malu."


"Sabar Nak, mama yakin kakimu akan kembali seperti semula.Sebentar lagi pasti sembuh."


"Jawab pertanyaan mama dengan jujur, apa kamu mencintai Kinan walaupun sedikit?"


"Jawab Nak."


"Aku sayang Kinan mah. Selama ini cuma Kinan yang selalu aku ingat, tidak ada wanita lain yang cerewet dan menyebalkan seperti dia. Mama tahu kan Raffa selalu memakai cincin pertunangan itu agar aku selalu membatasi diri dengan perempuan lain agar Raffa tahu ada Kinan yang selalu menungguku tapi setelah kecelakaan itu, aku kehilangan harapan."


Kinan membelalakan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya." Raffa... huhuhu... " ia menangisi tunangannya.


" Kamu jahat Raffa, hal seperti ini kamu simpan dariku huhuhu... "


Kinan membuka satu pesan video dari Juna, ia terkejut kembali saat Raffa mengatakan bahwa dia menyayangi dan mencintai dirinya walaupun terlihat baku hantam diantara keduanya. Airmatanya mengalir deras, airmata kebahagiaan untuk Kinan.


" Jackpot untukmu dan aku harus berakhir dengan luka lebam.Jangan lupa penuhi janjimu." Juna

__ADS_1


" Aku ingin bertemu Raffa" ucapnya bermonolog, ia menelepon Raffa namun handphonenya tidak aktif. Ia menelepon Fafa , namun Fafa bilang mas Raffa menginap di apartemen Rio.


Kinan bergegas ke apartemen Rio tanpa menganti baju tidurnya. Dia ingin bertemu Raffa dan memeluknya dengan erat.


__ADS_2