
"Aku pernah melihat ibumu memelukmu dengan erat saat di gerbang sekolah, ia begitu menyayangimu dan Aku pun pernah melihatnya saat di sekolah Putri ketika si double kembar turun dari mobil dan berbaris hanya untuk mencium tangan ibumu,hingga membuat iri setiap orang yang melihatnya termasuk aku dan putri, keluargamu begitu harmonis dan hangat tidak seperti keluargaku yang penuh dengan kepura-puraan." ucap Antoni, ia mulai berbaring di rumput, tidak peduli bajunya kotor dan tetap menadahkan wajahnya ke langit.
" Alasan kedua karena kamu anak Davian Ahmad " ucap kembali," Aku dan ibuku butuh perlindungan yang kuat untuk bisa lepas dari Ayahku sendiri. Aku mencari tahu siapa saja orang terkuat yang mampu mengalahkan Ayahku" sambungnya lagi, "Hanya ada tiga orang disekolah ini yang mempunyai power. Ayahmu, Ayah Jessica, dan Rheina. Berhubung mereka berdua perempuan dan aku tidak tega untuk menyakitinya maka aku lebih memilih dirimu.Apalagi saat Ayahku selalu membandingkan diriku dengan dirimu itu sangat membuatku sakit hati."ia meremas rambutnya dengan kasar merasa frustrasi saat Ayahnya selalu membanding-bandingkan ia dengan Raffa maupun dengan anak sahabat Ayahnya.
" Dan nyatanya tak semudah yang aku bayangkan, kamu terlalu sulit aku pancing" ucapnya. " Aku hampir menyerah" ia melirik Raffa sembari tersenyum.
"Sudahlah, aku tidak ambil pusing dengan kejadian kemarin. Anggap saja salam perpisahan kita di sekolah ini" ia merebahkan dirinya di samping Antoni.
"Jangan terlalu baik denganku, aku tidak suka" cibir Antoni sembari meliriknya.
" Apa yang akan kamu lakukan setelah ini, setelah ibumu bercerai?" tanya Raffa.
"Tadi malam kami sudah pindah ke rumah almarhum nenek di sekitar Rawa Belong, rumah kecil tapi nyaman setidaknya Ayah tidak akan memukul kami lagi,kedua aku akan meminta maaf pada semua teman yang pernah aku sakiti. Untuk yang terakhir kalinya sebelum kelulusan" ia meraup wajahnya, "Tapi masalahnya, aku bingung siapa saja yang pernah aku sakiti karena terlalu banyak anak yang aku bully " ucapnya dengan raut penyesalan.
Raffa hanya memutar bola matanya dengan malas. "Lalu apa lagi?"
"Mungkin aku akan off setahun untuk tidak kuliah, aku mau kerja entah di bengkel ataupun lainnya. Mungkin juga adikku akan pindah sekolah karena kami tidak akan sanggup membayar uang bulanan di sekolah elite. Yang terpenting adikku bisa sekolah terlebih dahulu dan ada penghasilan untuk sehari - hari karena tadi malam Ayah mengancam tidak akan memberikan uang sepeserpun untuk kami" balasnya. "Kalau kamu kuliah dimana?" tanya Antoni
"Entahlah...semuanya masih abu-abu"
" Cih!, Anak Sultan saja masih bingung untuk kuliah, apalagi aku" ia mendengus kesal.
"Tidak semudah itu" balas Raffa, " Antara keinginan dan keadaan" ia menghembuskan nafas kasarnya.
Antoni melirik pria di sampingnya, terlihat sendu dan penuh beban diwajahnya. "Jika aku berada di posisimu,akan kulakukan demi keluarga apapun itu walaupun harus merelakan impianku" tegasnya.
"Perlu kamu tahu Raff, tidak mudah menjadi seperti Ayahmu apalagi ia mulai menua, adik - adikmu masih kecil pasti Ayahmu sangat lelah mengurus perusahaan. Berbeda denganku, aku tidak punya bakat menjadi dokter apalagi melihat banyak darah membuatku mual. Entah apa jadinya jika diriku menjadi dokter, ada berapa banyak nyawa yang akan mati di tanganku"ia menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Kamu sangat pintar dan tentang perusahaan bisa dipelajari dengan mudah, tidak praktek dengan nyawa orang "
Raffa mendengarkan setiap perkataan temannya. Walaupun Antoni selalu di cap buruk oleh sebagian guru dan temannya namun di sisi lain pemikirannya sungguh dewasa dalam menyikapi masalah.
" Kamu juga pintar, buktinya kamu bisa memancing Singa keluar dari kandangnya karena sang raja hutan merasa anaknya diganggu hahaha." Dan mereka berdua saling tertawa.
Raffa membuka dompetnya dan menyodorkan dua buah kartu nama ke dada Antoni " Ambilah, mungkin kamu akan membutuhkannya"serunya " Bengkel itu milik Pak Eris, bilang saja teman Raffa ia pasti akan menerimamu. Orangnya sangat baik. Dan yang satu itu restoran, kalau kamu butuh part time temui saja Om Rayyan bilang saja dari mama Navysah. Kata mama, jika ibumu bisa memasak kerjalah di bagian asisten chef, restoran sedang butuh beberapa orang lagi"
"Memang ya kalau Sultan beda, tinggal sebut nama urusan jadi lancar" seloroh Antoni, ia membaca kedua kartu nama itu,wajahnya mulai berkaca-kaca ia sudah tidak punya muka untuk berlama-lama bersama Raffa. Bagaimana bisa seorang yang biasa dia hina kini malah membantu dirinya.
"Tidak akan ada yang membantu dirimu jika keluar dari rumah ini"
"Tidak akan aku berikan uang sepeserpun saat kalian keluar dari rumah ini"
Ucapan dari Ayahnya itu yang selalu terniang ditelingga Antoni, ia bangkit dan duduk kembali mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. "Terima kasih dan Maaf untuk semua perkataanku yang kasar " suaranya kini mulai tercekik di tenggorokan.
"Yang sudah terjadi ya sudah jangan diungkit " Raffa pun bangkit dan duduk di samping Antoni, " Maukah kamu berteman denganku" ucap Raffa sembari tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah Antoni dan ia pun menjabat tangan Raffa dengan erat tanda mulainya sebuah persahabatan. Tanpa terasa Antoni meneteskan airmata di sudut matanya.
"Bawa sini handphone nya, kurang ajar kamu baru satu menit jadi temanku sudah membuat ulah!" teriak Antoni. Mereka saling berkejar - kejaran layaknya anak kecil hingga berlari ke arah ruang guru dan bertemu Davian dan ibu Antoni.
"Ayah..!" teriak Raffa dari jauh. Ia berlari ke arah Ayahnya dan menabrakan tubuhnya. Davian terkejut Raffa memeluknya dengan erat, sudah lama sekali Raffa tidak memeluknya seperti ini. Mungkin karena dia lelaki sehingga malu untuk mengungkapkan perasaannya.
" Kamu kenapa Nak?, kenapa lari. Apa Antoni memukulmu lagi" ia menatap tajam kearah Antoni yang berada di belakang Raffa.
"Nggak Om, beneran kita cuma bercanda tadi lari-lari doang" ucapnya dengan yakin, ia tidak mau membuat Singa hutan marah kepadanya.
"Antoni, kamu tidak nakal lagi kan? Tadi malam kamu sudah janji sama mama akan menjadi anak baik" bu Rahmi mengelus rambut anaknya, ia takut anaknya berbuat ulah kembali.
__ADS_1
"Nggak mah, beneran Antoni nggak nakal lagi kok. Aku sudah berteman dengan Raffa. Iya kan Raff?" ia menyenggol temannya agar memberi dia pembelaan. Ia tidak tahan mendapat tatapan tajam dari sang Raja hutan dan ibunya sendiri.
"Iya yah,kami berteman" Raffa melepaskan pelukannya diiringi wajah Davian yang kembali datar seperti semula. "Ayah kira kamu dipukul lagi sama Antoni. Ayah tidak mau kamu kenapa - napa" ia mengelus punggung anaknya.
"Ya sudah kita pulang, kami permisi dulu bu guru, Mari bu Rahmi" ucapnya.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kebaikan bapak,terima kasih banyak" ucap bu Rahmi.
Davian hanya tersenyum dan pergi bersama anaknya. Di dalam mobil, Raffa hanya menggulum senyum sembari melihat foto Antoni yang sedang menangis. "Ayah..!" ucap Raffa.
" Hmm.." balasnya, ia masih sibuk dengan handphonenya, membalas email tentang pekerjaan dari Kamil.
"Ayah..!" ucap Raffa lagi, entah kenapa ia ingin sekali menyebut kata Ayah.
"Iya, ada apa Nak!" Davian melirik anaknya sesaat dan fokus kembali ke handphonenya.
"Aku akan mengikuti keinginan Ayah untuk menjalankan perusahaan setelah aku wisuda, aku akan kuliah tapi bukan jurusan ekonomi. Aku ingin menjadi arsitek tapi itupun ada syaratnya" ucap Raffa tanpa menoleh kebelakang.
Davian sangat terkejut, ia tidak sengaja menjatuhkan handphone sendiri saking kagetnya. "Apa Nak,Ayah tidak salah dengarkan" tanyanya sembari memungut handphone yang terjatuh.
"Apa syaratnya? Ayah akan memenuhi itu asal kamu mau meneruskan perusahaan Ayah" ucapnya dengan sungguh - sungguh.
"Oke, saatnya kita bersenang-senang. Pak Ari, tolong ke Plaza Ind*nesia" pintanya sembari tersenyum.
Davian mengenyitkan dahinya, ia tidak tahu apa yang akan anaknya minta darinya.
" Jangan bilang dia mau beli sesuatu yang mahal tapi itu bukan karakter Raffa" gumamnya dalam hati sembari berpikir.
__ADS_1
" Apa dia mau mobil?, kalau dia mau itu akan aku berikan asal dia mau meneruskan perusahaan" gumamnya dalam hati kembali.
"Wait..! Wait..! Jangan bilang ini prank, sifat jahilnya terkadang kambuh bahkan lebih gila dari ibunya. Aku harus waspada" ia selalu bergumam dalam hati. Sedangkan sang anak selalu tersenyum melihat kearah luar jendela.