Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 22


__ADS_3

Sore hari di D&R Restaurant,


Rio dan Raffa menggunakan seragam berwarna hitam dan di bagian dada sebelah kanan terdapat logo D&R Restaurant. Rio pun tidak lupa pesan dari tante Navysah untuk selalu mengikat rambutnya dan selalu memakai parfum dengan aroma maskulin ciri khas lelaki.


"Aku selalu ingat pesan ibumu Raff" ujar Rio saat merapikan bajunya kembali dan mengikat tali sepatu yang sempat terlepas ikatan nya.


"Pesan yang mana?" tanya Raffa sembari mengecek stok makanan di kulkas


"Gue harus selalu rapi, rambut diiket dan wangi" ucapnya,dia melirik mbak Airin dan Raffa yang berinteraksi menggerakkan kedua tangannya, mereka saling membalas dengan bahasa isyarat. "Lu bisa bahasa isyarat Raff?" tanyanya seolah tidak percaya.


"Lumayan bisa, aku sudah disini dua tahun. Awalnya seperti kamu pake kertas nulis dulu, lama kelamaan aku belajar biar komunikasinya lancar bicara dengan chef Airin. Bang Jay, Om Rayyan dan mbak Nety juga bisa bahasa isyarat"


"Luar biasa...!" ia bertepuk tangan "Seharusnya lu kerjanya di bagian kasir atau manager yang ngatur - ngatur gitu. Kenapa lu mau jadi waiter sih (pelayan laki-laki), kan bapak lu yang punya restoran,sahamnya lebih gede dari Om Rayyan lagi " ucapnya sembari membereskan sisa makanan yang akan dibuang.


" Aku ingin belajar dari bawah dulu, agar aku tahu plus dan minusnya di setiap bagian. Aku pernah di bagian cuci piring, stok, asisten chef yang paling bantuin ngirisin bahan makanan,kasir pernah, dan sekarang aku di waiter karena mengurangi kegiatan aja, jadi kalau aku nggak masuk kerja tidak berpengaruh juga, kita kan mau ujian"


"Justru kalau kamu di bagian waiter itu sangat berpengaruh" celetuk mbak Nety sang asisten chef. Sejak tadi dia tidak sengaja mendengar percakapan mereka. "Kalau ada kamu restoran rame, cewek - cewek datang kesini. Tiap hari ada saja yang nanyain kamu, mana minta alamat rumah dan nomer handphone kamu lagi. Mereka tidak tahu kamu anak pemilik resto" ia mengingat beberapa kejadian lalu ketika banyak abege yang mencari waitres tampan bernama Raffa.


"Terus mereka dikasih nomer telepon nya nggak mba?" tanya Rio penasaran.


"Lha ya ora toh, ngei nomer yo siap mati alias langsung ditok'e Pak Davian,wani - wani'e ganggu putra mahkota ( Ya tidaklah, kasih nomer ya siap mati alias langsung di keluarkan/pecat Pak Davian. Berani-beraninya ganggu putra mahkota "


Raffa hanya mengulum senyum, ia tahu kedua orang tuanya sangat protektif terhadap anak - anaknya. Mereka tidak ingin anaknya terganggu dengan orang asing, apalagi jaman sekarang pergaulan bebas yang semakin marak.


" Kalau ada yang maksa gimana? "Rio masih penasaran dengan cerita mbak Nety.


" Yo dikei nomere si Gani, sawise Gani sing mbalesi chat abege - abege kuwi. Gani apen-apen dadi Raffa. Hahahaha... ( Ya dikasih nomer si Gani, setelahnya dia yang membalas chat abege - abege itu. Gani pura-pura jadi Raffa)" dia tertawa keras mengingat kejadian saat Gani kewalahan membalas chat dari beberapa penggemar Raffa.


" OMG..!! Si Gani tiang listrik,kagak salah tuh, yang ada pembunuhan karakter dari seorang Raffa Ahmad "Rio terbelalak tidak percaya, seorang Gani yang cengengesan, mempunyai tingkat kewarasan yang rendah dan selera humor yang tinggi kini berpura-pura menjadi Raffa.Berbanding terbalik dengan sifat sahabatnya yang sopan, sabar dan tidak banyak bicara.

__ADS_1


" Tenang ae aman pokok 'e, Uwis di setting soko Pak Rayyan. Ndelok, saiki restoran rame toh, soale ngerti Raffa asli dina iki kerjo. Gani wiz nge chat FBR dina iki( Tenang saja aman pokoknya, sudah di setting dari Pak Rayyan. Lihat, sekarang restoran rame kan, soalnya tahu Raffa asli hari ini kerja) "


" FBR itu apa, seperti organisasi aja? " tanyanya lagi


" FBR iku Fans Berat Raffa. Hahahaha.. " ucapnya terkekeh. Setelah bersenda gurau mereka kembali bekerja di bagian masing-masing. Raffa dan Rio menjamu setiap tamu yang datang. Dan memang benar apa yang dikatakan mbak Nety, Walaupun ini weekday kebanyakan yang datang abege dan mereka terlihat senyam - senyum dengan Raffa. Mau tak mau Raffa pun membalas senyuman mereka. Ada yang secara terang-terangan mereka hanya ingin dilayani Raffa. Dan seperti biasanya Raffa harus ekstra bekerja untuk menjamu dari satu meja ke meja lain.


Sebagian dari mereka memang tidak tahu Raffa adalah anak dari Davian. Sejak dulu Navysah menjadi influencer dan wara-wiri di sosial media, ia jarang sekali memposting wajah anak - anaknya. Pernah sesekali ia posting anaknya namun di bagian wajah tertutup gambar stiker smile. Davian pun melakukan hal yang sama, ini bertujuan untuk keamanan keluarganya.


Saat Raffa mengantar pesanan di meja nomer dua puluh satu, ia melirik satu gadis belia dan satu anak kecil yang sedang menggambar bersama adiknya.Terlihat ia sedang menggambar pantai yang bergulung ombak dengan matahari yang hampir terbenam.


"Ini pesanan ibu nasi goreng seafood dua, cumi asam manis satu, cah kangkung satu, es kluwut satu, orange jus dua" ia mengeja satu persatu pesanan nya ."Apa ada lagi yang mau dipesan bu?" tanyanya.


"Saya kira cukup. Terima kasih" ucapnya dengan sopan


"Baik bu, selamat menikmati" Raffa sedikit membungkuk dengan sopan. Ia melirik kembali gadis belia yang sedang menggambar, terlihat cuek dan tetap fokus dengan aktifitas nya. "Adek pintar sekali gambarnya, kamu hebat" ucap Raffa, namun sang gadis hanya melirik dirinya tanpa bicara sepatah katapun.


"Punyaku bagus nggak kak?" tanya sang adik kecil yang langsung merespon ucapan Raffa.


"Tuh kan mom, Halwa hebat kata kakak ini, hehehe" Dan Sang ibu hanya tersenyum melihat anaknya tertawa.


"Coba kakak nilai punyaku" si gadis belia langsung menyodorkan buku gambarnya.


Raffa melihat dengan teliti setiap detail yang dia gambar. "Adek menggambar pantai dengan gulungan ombak dan matahari seolah-olah tenggelam atau sunset berarti perkiraan waktu sore hingga petang hari. Ombak yang bergulung disini seharusnya sedikit diberi warna putih karena buih dari ombak yang menerjang" ucapnya, di bagian sini terlihat beberapa orang yang sedang berdiri dan sebagian duduk untuk menikmati sunset, seharusnya ada bayangan di bagian ini yang sedikit miring. Area langit bagian ini seharusnya lebih gelap karena petang hari, jadi pewarnaanya lebih ke arah biru tua dengan sedikit awan putih karena petang hari. Kalau seperti ini gambar nya terlihat datar alias tidak hidup. Tapi terlepas dari semua itu, kamu hebat bisa menggambar karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melakukannya " Raffa menjelaskan setiap detail yang perlu dikoreksi oleh sang gadis. Dan ia menatap Raffa tidak suka, ia tidak percaya bagaimana bisa seorang pelayan mampu menilai secara detail gambar hasil karyanya.


" Kakak siapa?" tanyanya, Ia masih menatap tajam kearahnya.


"Aku, aku seorang pelayan restoran" jawab Raffa sembari tersenyum. "Dan sedikit bisa menggambar"


"Oh, kamu bisa menggambar Nak, Wah hebat juga" ucap ibunya. Saya ibu Aria, ini anak saya yang pertama Hanin kelas dua SMP dan ini Halwa baru kelas enam. Mereka sangat suka menggambar "

__ADS_1


" Saya Raffa bu"


"Kamu bisa gambar sketsa orang?" tanyanya


"InsyaAllah bisa bu Aria"


"Panggil saja bu Ria" ucapnya dengan sopan. Wah, kebetulan ibu ingin buat sketsa keluarga. Ini seperti ini" ia menyodorkan sebuah foto keluarga dan sebuah kartu nama dari dalam tas nya.


"Kalau sudah selesai telepon kesini saja"


"Baik bu, tapi saya butuh waktu sekitar dua minggu untuk menggambar. Saya masih ada pekerjaan"


"Oke santai saja, tidak perlu buru - buru. Jangan lupa sekalian diberi bingkai" ucapnya.


"Baik bu, saya permisi dulu"


~Aria~


Saat memilih menu, ia melihat seorang waiter yang cukup menonjol di antara lainnya. Waiter yang selalu wara-wiri melintas di depan nya, Dan ia pun mengantarkan makanan yang pesan dengan penuh sopan. Saat Halwa di puji dan tertawa, dirinya merasa senang. Saat dia menilai gambar Hanin secara detail, ia cukup terkejut. Bagaimana bisa seorang waiter mampu menilai sedetail itu. Ia pun menatap lekat - lekat lelaki muda yang berada tepat di depannya, tubuh yang sehat dengan sedikit otot bisep di lengannya, senyuman yang manis tanpa dibuat - buat, anak yang rajin, dan berperilaku sopan. Jika dinilai dari segi wajah dan penampilan dia lebih pantas menjadi seorang model walaupun tidak ada barang branded yang menempel di tubuhnya.


"Fisik dan attitude yang lebih dari waiter lainnya. Dia bukan anak biasa, ia seperti berlian yang tersembunyi" gumamnya dalam hati.Dirinya masih penasaran dengan sosok di depannya.


"Kenapa aku ingin lebih tahu tentangnya, dia bisa membuat anakku tersenyum" Dia langsung membuka tas, entah apa saja yang bisa dia ambil untuk menjadi alasan agar bisa bertemu dengannya lagi. Ia mengambil foto di dalam dompetnya, satu foto keluarga. Sebenarnya dia bisa saja pergi ke tempat seorang pelukis profesional untuk mengerjakan hal ini, namun diurungkan karena feeling nya lebih dominan.


"Jangan lupa hubungi nomor itu jika sketsamu sudah selesai"ucapnya


"Baik bu, saya permisi dulu" angguk Raffa dengan sopan. Dan ia hanya tersenyum simpul sebagai balasan.


"Attitude nya luar biasa di jaman sekarang yang mulai terkikis"

__ADS_1


* **


Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun All reader yang sudah mampir 😘😘😁


__ADS_2