Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 119


__ADS_3

"Yaelah malah bengong!" Fafa mencubit kembali pipi Kinan.


"Ditanyain mama tuh, mbak hamil anak bang Toing nggak?!" sambung Fafa lagi, ia masih mencubit pipi Kinan dengan lembut, " Pipi bapau, empuk kayak squisy."


"Apaan sih Fa!, nyubitin pipi aku mulu." sembur Kinan, ia juga menarik pipi Fafa dengan gemas sebagai balasan.


"Kinan belum tahu mah, nanti Kinan tespek dulu karena jadwal menstruasiku juga tidak teratur." ujar Kinan pada Navysah.


"Iya sayang, nanti kabarin mama kalau kamu sudah tahu hasilnya ya."


"Iya mah."


"Mama mau cucu?!" tanya Fafa sembari menggulum senyum, " Nanti Fafa bikinin sama Rena." ia sengaja menggoda ibunya, membuat Navysah mengomel adalah salah satu hobinya sejak dulu.


"Enak saja mau bikin duluan, nikah dulu baru kasih mama cucu! Dan itu bukan dengan Rena, titik!" sembur Navysah, ia melotot dengan kesal pada anaknya. " Kalau kamu ketahuan macem - macem sama anak orang, awas saja mama nikahin sekarang juga!" ancamnya


" Kenapa sih!, mama dari dulu tidak pernah suka dengan Rena? dia baik lho mah. "


" Kalau mama bilang tidak suka ya tidak Fa!, carilah wanita yang baik. Gadis kampung kek, janda baik atau perawan desa kek terserah kamu, yang penting tidak gadis itu!. Mama sudah menyelidiki bagaimana keluarganya dan Ayah Davian pun tidak setuju. " Navysah merasa kesal karena Fafa selalu ngotot dan tidak pernah mendengarkan ucapannya,Fafa masih saja menyukai Rena yang matre dan banyak menuntut.


Keluarga Rena juga kurang baik, ayahnya mantan narapidana yang tersandung kasus korupsi sedangkan ibu Rena selalu bergaya hidup mewah tanpa melihat keadaan yang sesungguhnya.


"Ah!, mama nggak asyik!" gerutu Fafa dengan kesal. "Kalau nggak Rena, siapa dong?!"


"Nanti mama kenalin sama anak teman mama, anaknya baik, sopan lagi."


"Sama Hanin saja!" sahut Kinan, " Kalian cocok, bakalan rame kalau satu atap hihihi."


"Najis!, kayak nggak ada cewek lainnya. Kalau Fafa sama dia yang ada perang dunia ketiga. Males banget sama cewek rese kayak gitu!" dengus Fafa dengan kesal.


"Rese tapi di sosor juga, dasar kamu soang Fa!" cebik Kinan, ia tahu Fafa mencium Hanin saat di ballroom.


" Maksudnya gimana ini?" Navysah mencoba untuk mencerna perkataan dari Kinan


"Nggak ada apa-apa mah, beneran kok." jelas Fafa, ia merasa takut jika ibunya tahu kalau Fafa mencium Hanin. " Mbak Kinan cuma bercanda, ya kan mba?" Fafa mendelik kearah Kinan


"Hmmm.." jawab Kinan dengan malas


"Terserah kamu saja Fa, yang penting bukan Rena.Mama melarang karena mama sayang sama kamu, mama ingin yang terbaik untuk kamu Fa"

__ADS_1


"Ya mah. Fafa mau pergi dulu, mau futsal sama kampung sebelah sekalian ngevlog kulineran." ia cepat - cepat mengakhiri obrolan dan menghindar dari Navysah yang masih menatap curiga dengan ucapan Kinan.


Fafa mencium takzim tangan ibunya dan mencium pipinya.


" Aku juga dong, cium tanganku. "Kinan mengulurkan tangannya agar Fafa mencium takzim padanya.


" Ya ampun, bawel banget deh ah! " Fafa mencium tangan Kinan dengan bersungut - sungut.


" Apa itu? " Fafa menunjuk ke sembarang arah agar Kinan lengah.


" Cup" Fafa mencium pipi Kinan dan berlari dengan cepat.


"Fafa...!! kebiasaan deh, kamu bukan anak kecil lagi, jangan ciumin aku!" teriak Kinan dengan keras.


Navysah hanya menghela nafas panjangnya, ia memijit kepala yang sedikit pusing dengan tingkah Fafa yang terkadang kekanak-kanakan.


"Bodo amat mbak Kinan ngimel, yang penting aku dapat bapau mulus, hihihi." Fafa cekikikan dan pergi begitu saja.


***


Keesokan harinya Kinan menggunakan tespek untuk mengecek apakah dia hamil atau tidak. Ucapan Fafa menyadarkan dirinya bahwa dalam bulan ini, ia belum mendapatkan menstruasi. Kinan memiliki jadwal menstruasi yang tidak teratur, namun kali ini ia merasa was-was karena tamu bulanan tak kunjung datang.


Ia melihat tespeknya dan hanya melihat satu garis, entah ia harus senang atau sedih karena dirinya belum juga hamil.


"Kalau tadi beneran garis dua, aku pasti langsung mengabarkan Raffa, dia pasti akan senang." ia tersenyum memikirkan suami yang jauh disana.


Kinan menelepon mama Navysah bahwa dirinya tidak hamil dan setelah itu ia bergegas pergi bekerja.


* **


Hanin


Hari ini ia berangkat ke Jepang, ia berusaha untuk memenangkan kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan animasi di Jepang. Ia berharap kali ini tidak akan mengecewakan Raffa.


Hanin turun di bandara Osaka dan memesan sebuah kamar hotel. Hanin harus beristirahat, karena besok ia harus berjuang lebih keras. Ia masuk ke sebuah kamar suite dengan desain minimalis,tidak terlalu besar namun nyaman untuknya.


" Kakak percaya padamu, kalau kamu mampu."


"Jangan sampai gagal, ini proyek besar kita. Kalau kita berhasil, ini akan mempermudah jalan kita untuk promosi di luar negeri dan juga investor akan datang dengan sendirinya."

__ADS_1


Ucapan Raffa masih terniang di telinganya dan itu membuat Hanin merasa bersemangat untuk melakukan yang terbaik.


" Aku akan berusaha sekuat tenaga agar kak Raffa bangga padaku. Fighting!! " serunya, ia menggenggam erat tangan keatas dan berteriak dengan keras.


***


Kyoto Animation


Hanin bersama beberapa orang kini tengah rapat di sebuah ruangan. Beberapa orang mulai menjelaskan presentasi dan visi misi mereka. Tidak hanya Hanin, semua orang yang hadir mempunyai kesempatan yang sama untuk menjalin kerja sama dari perusahaan itu.


Hanin sedikit pesimis, ia merasa insecure karena kali ini peluang dirinya masih dibawah salah satu saingan terberatnya, apalagi setelah melihat pria itu mempresentasikan projectnya dengan baik.


Hanin merasa kesal, kenapa pria itu seolah mengcopy program dan materinya. Bahkan dari segala biaya, pria itu bisa meminimalisir hingga cost lebih rendah dari project Hanin.


"Ada yang tidak beres." gumam Hanin dalam hati. " Kenapa dia bisa membuat program yang sama denganku." Hanin merasa geram dan emosi.


Ia membanting pintu kamar hotelnya setelah mendengar keputusan pahit dari Kyoto Animation. Hanin merasa kecewa karena gagal mendapatkan proyek ini. Ia menangis, meraung dengan keras dan tidak peduli akan ada orang yang mendengarnya. Impian Hara untuk bisa melambung di dunia internasional kini seolah jauh panggang dari api, apalagi kini ia dan Raffa harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan investor lagi.


"Aku harus bagaimana, huhuhu..." ia menangis sesenggukan. "Apa yang harus aku katakan pada kak Raffa."


" Aku tidak ingin pulang, aku malu karena gagal, huhuhu..."


Hingga akhirnya tertidur karena kelelahan setelah menangis.


Keesokan harinya Raffa menelepon Hanin, ia menanyakan hasil dari proyek tersebut.


"Tidak apa-apa jika kamu gagal, kita bisa mencobanya kembali." ucap Raffa diujung telepon.


"Aku akan berusaha mencari investor disini, kamu pulanglah ke Indonesia dan coba bikin project yang baru." sambung Raffa kembali.


"Aku akan disini satu bulan dan membuat program baru, dan aku akan mencari investor disini."


"Tidak perlu Nin, tidak mudah mencari investor asing apalagi kamu minim pengalaman dan bertemanan. Kamu kembalilah, biar aku urus masalah investor. Yang perlu kamu lakukan, cari siapa orang yang berkhianat dengan kita, kenapa perusahaan And Animation bisa membuat program dan proyek yang sama persis dengan kita. "


" Itu pasti kak, akan aku cari siapa dalang dari semua ini. Usahaku selama beberapa bulan hancur begitu saja. Aku ingin menyeretnya ke dalam penjara, aku sangat marah kak. " ujarnya sembari menyusut air hidungnya," Tapi kak, aku malu untuk pulang. "


" Tidak perlu malu, kalah menang itu sudah biasa. Sekarang pulanglah, bantu Rio mengurus perusahaan. "


" Iya kak, maafkan aku karena gagal. "lirih Hanin dengan rasa penyesalan yang amat sangat.

__ADS_1


" Hanin..., tidak apa-apa jangan menyalahkan diri. Mungkin kita belum beruntung kali ini tapi pasti ada kesempatan di perusahaan lainnya."


Hanin sedikit lega dengan ucapan Raffa, Suasana hatinya sedikit membaik setelah Raffa memberinya semangat.


__ADS_2