
Raffa duduk di samping adiknya yang sedang tertidur, ia mengecek suhu badan Inha yang cukup tinggi. Ia melihat wajah pucat, lemah tak berdaya dari si mungil, adiknya yang cantik dan paling penurut.
"Mas Raffa, Mas datang" lirihnya, ia tersenyum menatap kakaknya.
"Kok mas Raffa pergi lagi saat Inha bobo di mobil " ia mengerucutkan bibir tanda protes.
"Ia mas kerja dulu si restoran.Haha sudah minum obat?" tanyanya sembari mengelus puncak kepala adiknya.
"Sudah sama mama tadi."
"Mas jangan pergi lagi ya, Haha sama Kaka kangen mas" pintanya dengan memelas,ia menepuk ranjang di sebelah dan menyuruh kakaknya untuk tidur dengannya.Raffa tidak menjawab pertanyaannya, ia hanya berbaring di sisi sembari mengelus punggung Inha agar ia cepat tertidur.
"Bobo ya cantik,cepat sembuh" sembari mengecup kening adiknya.Dan sang adik hanya menganggukan kepala.
Inka yang sedang tertidur mendengar suara yang tidak asing baginya, ia mengerjabkan mata dan melihat kearah samping "Mas Raffa" Ia mengucek matanya lagi, mencoba untuk meyakinkan apa yang dilihat. Ia menghampiri dan tidur di sisi kakaknya, memeluknya seolah tidak ingin melepaskan. "Kangen dipeluk mas" lirihnya, "Jangan pergi lagi mas, kaka kangen " ucapnya dengan mata masih tertutup.
Navysah hanya bisa mendengarkan dari balik pintu kamar anaknya, ia tidak ingin Raffa merasa tidak nyaman berada di rumah. Ia pun menyuruh Davian untuk tidak keluar kamar agar tidak bertemu anaknya.
* **
Di kelas Kinan,
Terdengar riuh dan tawa dari beberapa siswa di kelas Kinan.Tidak ada pelajaran hari ini sehingga mereka sibuk dengan dunia nya masing-masing. Empat meja yang sengaja di rapatkan menjadi satu sehingga terlihat seperti panggung, mereka mencari hiburan dengan gayanya sendiri
"Mari kita sambut penyanyi jebolan dari kali banjir kanal timur jakarta dengan suara fals nya yang begitu sangat menggoda untuk dilempar pakai sepatu sandal dan dengan gaya centilnya yang pengen ditabok bolak - balik. Mari kita sambut.. but.. but..but.. Kinan Putria Soak...!! " ucap Jessica dengan gaya ala pembawa acara hiburan dangdut.
" Putria Syarif bukan Putria Soak, kurang ajar banget lu Jess! " salak Kinan tidak terima dengan julukan yang diberikan temannya.
" Sama aja!, Udah cus nyanyi aja. Let's go" Jessica memberikan penghapus papan tulis kearah Kinan, sedangkan dirinya menggunakan sapu sebagai mikrofon.
" Oke, satu lagu dari kami dengan judul Simalakama. Mari kita bernyanyi dan berjoget dangdut. Semuanya goyang yah. Musrikkkkk....!" ia meminta teman lainnya untuk menyetel musiknya.
Kinan dan Jessica berada diatas panggung dadakan yang sengaja dibuat temannya.Terdengar suara alunan musik dari handphone dan beberapa temannya yang sengaja menabuh meja seolah - olah gendang.
__ADS_1
" Marco, suara gendang nya mana" ucap Kinan dengan suara manjanya.
"Tak.. Tak.. Tak.. Tak.. Tak.. Tak." suara meja yang dipukul dengan mulut Marco yang komat-kamit menirukan suara gendang. Mereka berjoget layaknya penyanyi dangdut.
"Kuturuti..."
"Ku mati emak, Cak.. Cak... Cak" nyanyi nya dengan berjoget gaya ala Cesar.
"Tak kuturuti...."
"Ku mati bapak, Cak.. Cak.. Cak.. Cak"
"Begitulah.. nasib cintaku... Iyuh.. Iyuh.."
"Bagaikan buah, ah.. ah.. Ah.. Ah" ucapnya dengan mendesis
"Simalakampret"
" Eits!, nggak boleh komplen. No debat!" ia menyilangkan tangan di dadanya. Nyanyi lagi Nan, joget hobah...! ". Kinan meliuk-liuk tanpa malu karena semua temannya tahu dia memang hobi joget dangdutan.
" Begitulah.. nasib diriku"
"Yang kini sedang menimpa, menimpa padaku" Kinan bernyanyi kembali
"Lanjut Jess" Kinan meminta Jessica untuk menyanyikan lirik selanjutnya.
Jessica menyanyi, "Ayah ibuku...,punya ********... Ea.. Ea.. Ea..." dengan joget ala In*l daratista
"Woi.. kemauan bukan ********. Dasar PEA..!!" teriak temannya yang lain sembari menimpuk dengan kulit kacang.
"Ku dijodohkan an.. an.. an tanpa perundingan" Jessica tetap menyanyi tanpa memperdulikan protes temannya.
"Orangnya ganteng katanya.. katanya Gagah dia punya anu..."
__ADS_1
" Anu apa..?? " tanya Kinan bingung, ia melirik Jessica. Dan temannya hanya membalas dengan pelototan.
"Anak pengusaha.. aha.. aha.. Butik dan restoran"
"Aku bingung memikirkan, terus terang ku katakan ku sudah punya daddy sugar an" Jessica meliuk-liuk bagai penari profesional.
"Apa itu Daddy Sugar? " tanya Kinan, ia bingung tadi Jessica menyanyi dengan lirik anak pengusaha, butik dan restoran juga. Ia mengingat Raffa, ciri-ciri anak yang pas dengan lagu itu. Sejak tadi Raffa pergi dan belum kembali, sedangkan Rio sedang duduk di pojok kelas dengan memainkan ponselnya.
Rio melihat Kinan dan Jessica yang berjoget dangdut diatas meja. Ia tertawa keras sejak mereka membawakan sebuah lagu dan diiringi beberapa protesan dari beberapa temannya karena merubah lirik lagunya.
"Emang yah tuh duo gebleg cocok banget kalau duet, satu frekuensi sama stres nya" lirih Rio. "Apa itu tadi Sugar Daddy si Kinan nggak ngerti" ia menggelengkan kepalanya, "Emang polos bin bego banget dia tuh, nggak kayak si sipit Jessica yang mainnya sudah kemana saja"
"Rio.. Raffa kemana?" tanya Kinan sembari meneguk air mineral. Ia merasa haus setelah menjadi biduan dadakan.
"Nggak tahu" ia menangkupkan wajahnya diatas meja,pura-pura tertidur. Ia sebenarnya tahu Raffa berada di belakang aula untuk menyendiri, sejak kabur dari rumah Raffa lebih suka berada di aula belakang, tempat yang sepi dan banyak pepohonan rindang sehingga membuat orang nyaman dan betah berada disana.
"Jangan bohong Yo"
"Siapa yang bohong, kalau tidak percaya cari saja sana!" cebik Rio.
"Drt.. Drt.. Drt.." suara handphone Kinan berbunyi dan terlihat Fafa yang memanggilnya.Kinan berjalan keluar dari gerbang sekolah dan melihat Fafa.
Ia ingin bertemu kakaknya, sejak pagi Inha bangun ia menceritakan bahwa Raffa datang malam hari dan tidur dengannya. Fafa merasa iri kenapa kakaknya tidak masuk ke kamarnya dan tidur bersamanya. Kini Fafa dan Kinan masuk ke dalam sekolah dan mencari kakaknya, mereka mencari ke beberapa tempat yang suka dikunjungi Raffa seperti perpustakaan, kantin dan ruang olahraga.
"Oh iya, kita coba ke belakang aula. Biasanya Mas Raffa suka disana" Kinan menggandeng tangan Fafa kearah yang dituju dan terlihat Raffa yang sedang menyendiri, duduk di selasar aula belakang sembari memainkan ponselnya.
Mereka pun melihat Raffa yang didatangi Antoni dan geng nya yang sengaja menghina dan mengolok - olok Raffa.
"Sudah lama kita tidak bertegur sapa" ujar Antoni dengan sinis. Ia menghisap rokoknya dan menghembuskan nafasnya keudara.
"Sebentar lagi kelulusan, pasti kita jarang sekali bertemu ya kan Raffa Raihan" ia sengaja menekankan kalimat terakhirnya.
Raffa hanya tersenyum, ia tidak ingin meladeni Antoni dan ketiga temannya. "Saya tidak punya urusan denganmu, sebaiknya kamu pergi atau aku saja yang mengalah pergi" ia beranjak dari duduknya.
__ADS_1