Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 137


__ADS_3

Ponsel Fafa berdering berkali-kali, ia melihat siapa yang meneleponnya. Hanin melirik ke arah suaminya yang enggan mengangkat telepon.


"Siapa yang meneleponmu?" tanya Hanin penasaran.


"Kepo!" seru Fafa, ia menghindar dari istrinya dan menerima telepon di luar ballroom.


Hanin begitu penasaran hingga ia menguping pembicaraan Fafa.


"Bagaimana, sudah ada kontrak lagi?"


"Oh, Ya sudah gue bakal kesitu sekarang. Oke gue akan datang tepat waktu." Fafa memutuskan sambungan teleponnya.


Hanin bergegas masuk ke dalam ballroom kembali, dalam fikirannya ia begitu penasaran dengan siapa Fafa berbicara.


"Ayo kita pulang." ajak Fafa pada Hanin


"Tapi acaranya belum selesai."


"Biarin aja, ayo aku antar pulang."


"Tunggu..!! Maksudnya diantar pulang, kamu akan pergi lagi!?"


"Iya, aku ada acara lain."


"Kemana?!"


"Sudahlah Nin, kok kamu tambah bawel,sih! Kan kamu yang bilang jangan ikut campur, urusan kita masing-masing." Fafa sedikit kesal karena akhir - akhir ini Hanin banyak bertanya kemana ia pergi.


"Ayo..!"


"Tidak mau, aku mau disini saja!" kekeh Hanin


"Jangan banyak tingkah, disini ada mama Navysah. Kamu ingin dia curiga sama kita." bisik Fafa di telinga Hanin


Hanin hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan mengikuti Fafa untuk pergi dari ballroom hotel.


Navysah melihat ada sesuatu yang aneh dengan gerak - gerik pengantin baru itu. Mereka terlihat sangat kaku dan saling menatap tajam.


"Sepertinya aku harus turun tangan." gumam Navysah dalam hati, ia menelepon seseorang untuk melaksanakan suatu tugas.


Sepanjang perjalanan Hanin hanya menekuk wajahnya, ia tidak suka saat Fafa memaksa dirinya untuk pulang bersama.


"Marah sama aku!?" Fafa melirik istrinya yang diam dan selalu mengerucutkan bibirnya.


"Tidak usah manyun begitu, mirip tikus tahu, jelek!" ejeknya, Hanin memukul lengan Fafa dengan keras. Ia tidak terima disamakan dengan hewan pengerat itu.


Namun di tengah perjalanannya, tiba-tiba banyak orang yang saling berkelahi. Mereka saling melemparkan batu, kayu dan anak panah. Fafa menepikan mobilnya sejenak dan bertanya pada salah satu pengguna jalan.


"Ada apa pak!?"


"Itu pak ada tawuran antar pelajar, baru saja terjadi. Mana polisi belum datang lagi, lebih baik putar arah." ucap pria itu


"Makasih pak!"ucap Fafa


" ****..!! Mana aku harus tepat waktu untuk acara itu. Tidak mungkin untuk putar arah. " Fafa melihat kearah belakang. Tumpukan kendaraan begitu padat dan sesak.


" Hari gini masih tawuran, dasar bocah kampret emang!! bikin rusuh jalan. "umpat Fafa dengan kesal.


" Memang dulu kamu tidak pernah tawuran?! "tanya Hanin.


" Pernahlah, masa tidak! Emang aku Alif yang cuma baca buku dan nonton kartun di rumah. "

__ADS_1


Hanin hanya menggelengkan kepalanya, ia tahu dari Inka bahwa Fafa panglima perang di dalam keluarganya.Ia selalu membuat onar dan keluar masuk kantor polisi bersama Keken dan Khaffi. Fafa pun memiliki banyak sahabat di segala kalangan.


" Ayo, turun kita harus pergi dari sini. " Fafa menyuruh Hanin untuk turun dari mobilnya.


" Kenapa, kita harus turun?"


"Kamu mau mati disini, mereka tawuran dengan brutal dan tidak akan menyerah sebelum ada korban dari pihak lawan. Ayo kita pergi dari sini."


"Mobil gimana?" tanya Hanin


"Tidak usah mikirin mobil, yang penting kita selamat. Aku akan telepon Pak Ari untuk mengambil mobil ini."


Hanin mengikuti ajakan Fafa, ia keluar dari mobilnya namun belum sempat mereka berjalan jauh, kedua kelompok tawuran kembali bentrok dan menyebar hingga Fafa dan Hanin harus berlari dari tempat itu.


" Awas..!! " Fafa menarik tubuh Hanin untuk mendekat ke arahnya,ia hampir saja terkena lemparan batu


Hanin begitu takut hingga ia dengan reflek memeluk suaminya.


"Jangan jauh dariku, kamu tetap disisiku. Aku akan melindungimu, mengerti!"


Hanin menganggukan kepalanya, entah kenapa perkataan Fafa begitu terdengar manis di telinganya.


"Ayo kita lari, kita lewat jalan tikus." Mereka berlari ke arah belakang sebuah gedung yang cukup sepi untuk menghindari masa.


"Kamu tahu area jalan ini?"


"Tahulah, dulu aku dan genk suka berlari ke area sini jika terkepung."


"Ayo." Fafa mengenggam erat tangan Hanin. Mereka berlari dan menghentikan sebuah taxi yang melintas di depannya. Di dalam mobil Fafa masih terus mengenggam erat dan tanpa di sadari hati Hanin mulai berdesir karena jarak mereka terlalu dekat dan menempel.


"Aku ada pekerjaan di Mall PI, kamu pulang sendirian berani, biar taxi ini mengantarmu." Fafa melepaskan genggaman tangannya, ia menyugar rambutnya yang berantakan.


"Aku ikut kamu."


"Aku mau beli sesuatu di Mall juga, aku bisa jalan - jalan di sana." kekeh Hanin


"Ya sudah terserah lu, kalau bosen kamu bisa pulang duluan."


Hanin menganggukan kepalanya dengan cepat, ini pertama kalinya ia mengikuti pekerjaan Fafa di luar kantor.


"Boleh aku tanya?"


"Apa?" jawab Fafa sambil memainkan handphonenya.


"Kamu pulang malam dan selalu sibuk, apa karena pekerjaan atau karena pacarmu itu?"


"Karena pekerjaan." sahut Fafa, Hanin sedikit lega dengan jawaban Fafa karena ternyata ia sibuk karena pekerjaan.


" Aku seolah memiliki dua istri yang harus kuberi uang belanja, jadi aku harus bekerja keras." sambung Fafa kembali


Hanin membuang wajahnya ke luar jendela, ia begitu kesal dengan jawaban Fafa yang berkata seolah memiliki dua istri.


"Brengs*k!!!, jadi dia juga menganggap wanita itu istrinya." gumam Hanin dalam hati. Ia meremas tangannya dengan erat.


Fafa kini tersenyum dengan lebar saat dia wawancarai oleh seorang host. Acara mereka diisi oleh beberapa wanita sexy dan beberapa pria dengan tubuh dan otot yang cukup besar. Hanin hanya bisa menatap dari jauh saat beberapa wanita meminta berfoto dengan Fafa, mereka tersenyum dan tertawa bersama dengan candaan yang selalu Fafa lemparkan.


"Ternyata begini kerjaan dia di luar kantor, terlalu banyak wanita yang berada di sekelilingnya, mereka sangat cantik dan sexy pantas saja si Fafa sangat menyukai wanita cantik." gumam Hanin dalam hati


"Aku juga cantik, tidak kalah dengan mereka ." lirihnya, "Eh, aku kenapa sih kok kesal begini." gerutunya


"Hanin...." sapa Khaffi sembari melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Ngapain disini, bosen gue lihat lu! Di kantor ada lu, disini juga ada lu Fi."


"Mungkin kita jodoh Nin!" goda Khaffi sembari mengerlingkan matanya.


" Gue udah nikah Fifi!" Hanin menjitak kepala Khaffi dengan gemas


"Cie... Cie... samaan kayak si Fafa panggil gue Fifi."


"Apaan sih, nggak jelas kamu!" seru Hanin dengan mata melotot. Hanin kembali melihat Fafa yang masih saja mengobrol dengan banyak wanita.


"Kenapa, cemburu lihat Fafa dengan banyak cewek?" Khaffi sekilas melirik Hanin yang selalu melihat ke arah Fafa.


"Siapa yang cemburu, itu tidak mungkin!" sanggah Hanin


"Pekerjaan Fafa memang seperti itu, kamu harus sabar melihat Fafa dengan banyak wanita cantik dan sexy."


Hanin tidak menjawab, ia hanya menghembuskan nafas panjangnya.


Fafa menghampiri Hanin dan Khaffi setelah acaranya telah selesai. Ia mengajak Hanin dan Khaffi ke sebuah foodcourt untuk menemui seseorang.


" Sayang. " sapa seorang wanita, ia memegang lengan Fafa dengan erat, " Aku kangen." ucapnya dengan manja


Hanin melirik wanita itu dengan senyum kecut, ia tidak tahu Fafa akan mengenalkannya pada Rena.


"Jangan seperti ini, ada Hanin." bisik Fafa di telinga Rena.


Rena terpaksa melepaskan tangannya dari lengan Fafa dan menatap ke arah Hanin dengan tajam.


"Saya Rena, pacarnya Fafa." ucap Rena dengan senyuman manisnya sembari mengulurkan tangan.


"Saya Hanin, istrinya Fafa." Hanin menerima uluran tangan Rena dengan senyuman manisnya


"Perang dimulai." gumam Khaffi dalam hati, ia menahan senyum karena melihat wajah ketidak sukaan Hanin pada Rena. Khaffi sudah lama bekerja di Hara dan ia pun tahu karakter dari seorang Hanin yang keras dan tak mau kalah.


"Ehem..., Ayo kita makan." Fafa berdehem untuk meredakan suasana yang sedikit tegang diantara mereka.


"Sayang, aku sudah pesankan makanan untukmu. Aku tidak tahu kalau kau akan membawa Hanin.


Mereka makan dengan tenang walaupun sesekali Hanin melirik ke arah Fafa yang terkadang mendapat suapan dari Rena.


" Biasanya kamu makan lebih banyak jika aku suapi sayang, malu ya." ucap Rena


"Cih! sayang,kepalamu peyang." gumam Hanin dalam hati


Hanin pura-pura tidak mendengar dan ia meminta izin untuk pergi ke toilet.


Hanin menghembuskan nafas panjangnya saat ia bercermin di toilet Mall. Pemandangan saat Rena menyuapi Fafa membuat dirinya kesal dan ingin sekali memaki pacar Fafa. Namun, Hanin masih mencoba untuk bersabar karena memang dirinya menjadi pihak ketiga dalam hubungan Fafa.


" Jangan berharap lebih pada Fafa, dia milikku." ucap seorang wanita yang baru saja datang dan dengan beraninya dia mengklaim bahwa Fafa miliknya.


"Aku tahu kalian menikah hanya karena kesalahan malam itu dan permintaan dari orangtua Fafa. Kapan kamu akan bercerai dengan pacarku?" sambung Rena kembali, ia tersenyum dengan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


" Apa urusannya denganmu, mau aku bercerai kek mau tidak, itu bukan urusanmu. " ucap Hanin tanpa melihat ke arah Rena. Hati Hanin begitu kesal karena Rena terang - terangan menginginkan suaminya.


"Jelas itu menjadi urusanku! Setelah kalian bercerai, kami akan menikah dan aku akan menjadi istri Fafa."


Hanin meremas tangannya dengan erat, entah kenapa ucapan Rena begitu terdengar menyakitkan untuknya.


"Jangan pernah berharap dengan suamiku, apalagi berusaha merebut Fafa dariku! Dan perlu kamu tahu, sampai kapanpun aku tidak akan bercerai dengan Fafa!" seru Hanin dengan tegas, entah darimana ia mendapat kekuatan untuk melawan ucapan Rena.


"Jangan mimpi! Fafa lebih mencintaiku, dia tidak mencintaimu. Kamu hanya status, ingat itu!" sentak Rena dengan nada tinggi, ia tak mau kalah untuk memperebutkan pacar tajirnya.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, aku pastikan Fafa akan lebih mencintaiku bukan kamu!" Hanin menatap tajam pada Rena, matanya mulai menyalang karena Rena mulai ingin berperang dengannya.


" Kita lihat saja, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, walaupun dengan cara yang kotor." bisik Rena di telinga Hanin, ia meninggalkan Hanin yang kini terdiam dengan ucapannya.


__ADS_2