
Raffa mengantar Kinan ke apartemen baru mereka.Sepanjang perjalanan Kinan selalu tersipu malu, ia selalu menampakan senyum dan memandang Raffa yang sedang menyetir di balik kemudi.
"Kenapa, liatin terus. Mau lagi?" godanya sembari tersenyum,ia mencium tangan Kinan dengan lembut.
"Nanti saja." Kinan tersipu malu. Kinan mengingat kejadian semalam saat dirinya dibuat melayang berkali-kali oleh Raffa. Entah kenapa energi Raffa tidak pernah habis saat menyentuhnya hingga membuat Kinan tak berdaya.
"Aku pulang malam, nanti kamu jangan lupa ambil beberapa baju untuk di apartemen. Waktu kita tidak banyak, aku ingin menghabiskan waktu sebelum pergi ke Inggris lagi, minta dijemput Pak Ari saja, jangan sendirian. Mengerti!?"
Kinan menganggukan kepalanya.
Mereka tiba di sebuah hunian apartemen yang cukup mewah. Kinan melolong melihat rumah yang akan ia tempati begitu rapi dan indah." Ini beneran rumah kita? "tanyanya
" Iya, kamu suka? "
" Suka banget!" pekiknya," Ini berkali-kali lipat luasnya dari apartemen kecilku. " sambungnya lagi." Tapi Raffa, jika kamu pergi. Aku akan sendirian disini, aku takut. "
" Kamu tidak perlu khawatir, nanti ada bibi yang akan menemanimu. Atau jika kamu mau, setelah aku pergi kamu bisa tinggal di rumah tante Ifa sementara, setelah aku pulang kita bisa bersama lagi di rumah ini. "
" Mama Ifa, panggil ibuku mama Ifa bukan tante. " gerutu Kinan
" Iya, iya aku lupa sekarang dia mertuaku, cup, cup " Raffa mencium pipi Kinan." Aku kerja dulu ya, baik-baik di rumah ya. "
" Tunggu!, ada yang salah. "pekik Kinan, ia menahan tangan Raffa sejenak. Ia mencium kedua pipi Raffa dan bibirnya serta menyalami secara takzim." Begini baru benar, seperti mama Navysah dan Ayah Davian. " Kinan selalu mencoba untuk mencontoh kebiasaan dari mama Navysah yang begitu harmonis.
Raffa hanya tersenyum saat melihat Kinan membawakan tas nya dan memeluknya dengan erat. " Sudah, aku mau kerja. Kalau kamu peluk aku seperti ini kapan aku berangkat Nan, yang ada si adek bangun minta mamam lagi, hihihi." kelakar Raffa
"Isshhh...!!,mamamnya nanti saja bilang padanya. Memangnya tidak sakit apa di colek berkali-kali. Lihat, tubuhku penuh dengan lukisanmu." Kinan memperhatikan bagian leher dan dadanya yang penuh tanda merah akibat perbuatan Raffa. " Dasar drakula penghisap darah! "
Raffa tertawa dengan julukan yang Kinan berikan untuknya.
" Aku pergi dulu, assalamualaikum. "
" Walaikumm salam, Masku" balas Kinan. Raffa tersenyum berkali-kali melihat Kinan yang memanggilnya dengan sebutan Masku.
* **
Raffa dan Rio begitu sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Rapat yang awalnya akan dibahas minggu depan, kini berubah menjadi hari ini. Raffa berharap sebelum ia pergi, semua urusan kantor terselesaikan dengan baik.
Raffa meminta pada Antoni agar mengatur jadwal Fafa dengan baik. Fafa yang biasa bekerja santai pun kini merasa kewalahan karena jadwal yang begitu padat. Ia benar - benar merasa kesal saat Antoni memintanya untuk ini dan itu, tidak ada kebebasan baginya.
Hari mulai siang namun Kinan merasa bosan berada di apartemen,ia merasa kesepian. Kinan lebih senang berada di rumah mama Navysah yang ramai.Apalagi ada duo princess yang selalu membuatnya tertawa.
__ADS_1
Kinan pun berkali-kali menelepon Raffa namun handphonenya tidak aktif. Ia berinisiatif untuk memasak dan mengantarkannya ke perusahaan Raffa.
Dan seperti sekarang, Kinan berada di lobby untuk menemui suaminya. Ia membawa beberapa bekal yang sudah dimasaknya bersama bibi. Ia bertanya pada resepsionis dimana ia bisa bertemu dengan Raffa.
Rio yang sedang berada di lantai bawah melihat seorang teman yang ia kenal. Ia menghampiri dengan sedikit berlari. "Kitis, kamu disini, ngapain!?"
"Aku bukan Kitis tapi sekarang Nyonya Raffa Raihan, hihihi." Kinan menutup mulutnya merasa geli dengan ucapannya sendiri.
" Serah lu dah!, Kimok alias Kinan semok. Cie.. Cie... mantan perawan." ledek Rio dengan cengengesan.
Ia mendapatkan cubitan bertubi-tubi dari Kinan. "Sakit Mok!, capitanmu dari dulu pedes banget kayak cabe rawit!"
"Makannya nggak usah rese!" sewot Kinan, "Yuk yo, kita ke ruangan Raffa. Aku bawa makanan untuknya."
"Aku dapat jatah nggak?!"
"Ada tapi plastiknya doang, hahaha..."
"Dasar pelit!, nggak friend lu sama gue."
"Dih!, siapa juga yang mau friend sama lu!" Kinan mencibir dengan gaya khasnya.
Kinan mulai panik saat tahu betapa banyaknya perempuan di sekitar suaminya.
"Jangan gitulah, bantuin aku jaga suamiku. Yasudah, nanti aku kasih kamu makanan yang sama seperti Raffa, yang penting kamu jagain dia ya yo dari semua pelakor. Ya kan ya, mau ya!?" Kinan merengek dan bergelayut manja di lengan Rio, memintanya agar mau menuruti keinginannya. Kinan tahu, sifat Raffa yang humble, baik dan ganteng terkadang membuat banyak wanita kepincut dengannya.
" Kinan...!! "seru Raffa dengan wajah tidak suka, ia yang baru saja datang dari perusahaan Fafa melihat istrinya bergelayut di lengan Rio.
" Lagi ngapain kamu disini? " namun tatapan mata Raffa masih terus melihat tangan Kinan yang masih menempel di lengan Rio.
" A... aku bawa makanan, ini." ucap Kinan yang begitu gugup,ia menunjukan tas berisi makanan. Kinan melihat sorot mata Raffa yang kesal padanya.
Raffa berjalan cepat tanpa memperdulikan Kinan yang sedikit berlari kearahnya. Rio hanya tersenyum, ia mengikuti Raffa yang lebih dulu masuk ke dalam lift.
"Kamu marah sama aku?" tanya Kinan sembari membuka bungkusan makanan di meja kantor Raffa.
"Nggak!, aku hanya tidak suka kamu bergelayut seperti itu dengan Rio. Aku tidak suka kamu ataupun pria lain menyentuh anggota tubuhmu. Jika hanya mengobrol aku tidak masalah, tapi ingat ada batasannya karena sekarang kamu wanita bersuami."
"Iya, iya. Maaf." ucap Kinan dengan menyesal. "Tapi aku senang karena kamu cemburu begini." Kinan tersenyum sembari menarik pipi Raffa dengan gemas.
"Apaan sih!, mana ada cemburu. Aku hanya mengingatkan agar kamu tahu.Awas aja ya, kalau aku lihat kamu seperti ini lagi jangan harap aku pulang ke rumah! " ancamnya
__ADS_1
"Iya, iya. Sekarang makanlah aku sudah masak sop ayam kesukaanmu."
"Aku sudah makan, aku tidak lapar." Raffa masih mengerjakan berkasnya tanpa melihat kearah Kinan.
"Aku sudah capek masak lho mas, masa mau dibuang kan sayang."
Kinan menyuapi Raffa dengan santai, ia melirik beberapa berkas Raffa yang menumpuk di meja.
"Jangan perlihatkan keromantisan kalian pada diriku ini, bikin iri saja! " gerutu Rio, ia juga sedang menyantap makanan yang Kinan bawa.
"Jiwa jombloku meronta-ronta Kimok!" sambungnya lagi.
"Makanya kawin, cepetan!" timpal Kinan.
"Gue maunya nikah, kalau kawin yang ada gue digoreng duluan sama bapak Dewantara."
"Memangnya dia belum ngasih lampu hijau yo?" tanya Kinan
"Sebenarnya udah ngasih lampu hijau sih, Pak Dewa begitu baik dan tidak pernah memandang statusku yang cuma anak sopir. Cuma ya itu, pak Dewa ingin Hanin yang menikah terlebih dahulu. Nasib gue cinta sama si bocil anak kedua."
"Memang masih ada ya jaman sekarang anak pertama harus nikah duluan?" tanya Kinan tidak percaya.
"Kalau jodohnya lebih dekat yang anak kedua masa harus nungguin kakaknya nikah dulu,Aneh." sambungnya lagi.
" Entahlah!, kata Pak Dewa, ia takut jika Hanin dilangkah takut jodohnya jauh. Si Halwa juga masih kuliah umurnya saja baru dua puluh. Kalau Hanin sih tidak percaya yang gitu gituan, katanya kalau mau nikah sama adiknya ya nikah saja tidak perlu memikirkan dirinya. "
" Nah, bener tuh kata Hanin,gue setuju!" balas Kinan," Daripada tekdung duluan, mendingan nikah. "sambungnya lagi.
" Kinan... "seru Raffa dengan suara beratnya," Ngomong apa sih kamu Nan,jangan negatif thinking sama orang."
" Raffa, ini kenyataan. Jaman sekarang s*x bebas sudah terbiasa, bergonta - ganti pasangan tanpa alat pengaman. Terkadang ada beberapa pria yang datang ke rumah sakit dan setelah diperiksa, mereka terkena penyakit HIV/AIDS.Dan yang lebih parahnya lagi, ibu - ibu yang tidak tahu suaminya suka jajan di luar bisa tertular virus ini. Anak - anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang menderita virus ini bisa terjangkit pula. Mereka harus melakukan terapi obat dan penanganan khusus." terang Kinan," Terkadang aku merasa kasihan dengan mereka, tidak salah apa-apa tetapi mendapatkan sanksi sosial dari lingkungan sekitar, sudah banyak studi kasus seperti ini Raffa. "
" Kamu saja yang terlihat kalem sudah pernah berciuman dengan Jihan dua kali lagi, enak kan ya rasanya." sindir Kinan dengan senyuman mengejek.
" Uhuk.. Uhuk...! "Raffa tersedak saat minum, ucapan Kinan begitu menusuk dirinya.Dan Rio hanya menggulum senyum melihat dua orang pengantin baru sedang berseteru.
" Masa lalu Nan, jangan diungkit terus. "pinta Raffa.
" Iya masa lalu, sampai - sampai membuatmu selalu tersenyum saat mengatakannya. Berarti kalau aku ciuman sama abang Juna boleh kan ya!? "goda Kinan
" Aku cekik kamu Nan! " ancam Raffa, ia mendegus kesal karena Kinan mulai memancing emosinya.
__ADS_1