
Walaupun ujian nasional sudah selesai namun para siswa masih masuk sekolah dengan beberapa kegiatan yang sedikit lebih santai.
Raffa merasa tidak bersemangat untuk masuk sekolah hari ini, dia hanya nongkrong di perpustakaan, kantin dan tempat yang sedikit sepi dari lalu lalang para siswa. Kinan mencarinya di setiap sudut sekolah namun belum juga menemukannya, ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena sejak bel sekolah berbunyi wajah Raffa terlihat murung, bertanya pada Rio hanya mengedikkan bahunya.
Kinan melihat Raffa di area belakang aula sekolah,tempat yang cukup sepi untuk menyendiri. Terlihat Raffa yang sedang duduk lesehan sembari mengunyah roti coklat dan es kelapa kesukaan nya.
"Raffa, kenapa kamu murung sejak pagi?" tanyanya, ia memang belum tahu saat ini apa yang membuat temannya menjadi seorang yang pendiam.
"Kamu tidak makan di kantin?" Raffa tidak menjawab pertanyaan Kinan, ia mengalihkan pembicaraan, dan tidak ingin membahas kejadian tadi malam yang membuatnya kabur dari rumah.
"Tidak lapar" jawabannya, ia menelisik wajah Raffa yang terlihat sedikit sendu, senyuman yang biasa menghiasi dirinya kini entah kemana. "Tadi mama Navysah tanya kamu baik-baik saja nggak? Coba katakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mama bertanya seperti itu"
"Sudahlah Kinan, pergilah!" ucap Raffa, ia membuang wajahnya ke arah lainnya.
"Raffa.." lirihnya, "Katakan apa yang sebenarnya terjadi" pintanya, ia menarik lengan Raffa agar mendekat ke arahnya, namun tanpa sengaja ia melihat cairan bening di sudut mata sahabatnya.
"Bersandarlah disini, agar kamu sedikit tenang" ia menepuk bahu nya dan Raffa secara langsung menyadarkan kepalanya di bahu Kinan, mencoba mencari ketenangan disana dengan menutup matanya. Aroma bunga crysant dari parfum Kinan menyeruak di indera penciuman nya. Kinan mengelus punggung sahabatnya dengan lembut, ia yang terbiasa manja dan cerewet kini hanya diam saja. Mungkin saat ini Raffa hanya butuh tempat bersandar agar mengurangi beban masalahnya.
Dua puluh menit kemudian ia membuka matanya, ternyata Raffa tertidur saat ia bersandar di bahu Kinan. "Terimakasih Nan" ucapnya.
"Hmmm.., " ucapnya sembari menggerakkan bahunya karena pegal. "Kamu sudah merasa lebih baik" tanyanya. Dan di anggukan oleh Raffa.Kinan merapikan rambut Raffa yang terlihat acak-acakan,ia menyisir dengan tangan dan membelahnya ke arah samping. "Nah sudah Rapi, gini kan tambah ganteng" sambungnya lagi.
Raffa hanya memutar bola matanya malas, dan beranjak pergi karena sebentar lagi bel akan berbunyi.
"Eh.. kok ditinggalin sih,Raffa...!" teriak Kinan, ia kembali seperti semula menjadi cewek cerewet. Sepanjang perjalanan menuju kelas ia bergelayut manja dan tanpa henti bercerita yang tidak penting.
"Aku ikut kamu ya, ingin main ke rumah mama Navysah" ucap Kinan, ia tidak tahu kalau Raffa kabur dari rumah.
"Nggak usah, kamu sama sopir saja pulang duluan. Aku mau mampir" ucapnya, ia sengaja berbohong agar Kinan tidak ikut bersamanya.
Raffa dan Rio bergegas pergi meninggalkan Kinan yang sedang menerima telepon.
Kinan menutup telepon nya dan mencari keberadaan Raffa. "Ngeselin banget sih!, ternyata dia kabur dari rumah pantas saja mama Navysah nanyain dia terus." Ia baru saja menerima telepon dari mama Navysah yang menanyakan keberadaan Raffa, Navysah menceritakan bahwa Raffa pergi dari rumah untuk sementara.
"Aku akan mengejarnya, paling di rumah si kribo" ia berlari keluar sekolah dan meminta pak sopir menuju rumah Rio.
* **
Sebelum pulang kerumah sahabatnya, Raffa mampir membeli beberapa potong ayam goreng K*C untuk adik - adik Rio. Wajah adik Rio berbinar melihat satu box ayam goreng tepung dan beberapa kentang goreng.
__ADS_1
"Wah..., makanannya enak mas. Asyik makan ayam goreng" Caca langsung menyerobot satu chicken dan mengunyah nya dengan cepat.
"Ca, jangan malu-maluin gitu ih. Kan sering makan ayam" Berlian mengerucutkan bibirnya, ia merasa sedikit malu dengan tingkah adiknya.
"Sekarang Caca sering makan ayam sejak Ayah bekerja di rumah mas Raffa, tapi ini beda lho kak. Ini chicken yang ada di iklan televisi. Ayam yang terkenal itu kak, " sahutnya dengan polos " Kalau kak Lian nggak mau, sini buat Caca saja semuanya. Caca mau kok, hehehe"
"Caca..!!" seru bu Asti dari dapur, ia mendengarkan obrolan kedua anaknya.
"Kalau Caca suka, besok mas Raffa beliin chicken lagi buat Caca" Raffa
"Beneran mas..!!" jawabannya antusias, "Mas Raffa sering - sering nginep disini saja biar Caca sering makan enak" selorohnya. Dan Raffa hanya menggulum senyum.
"Caca..!!" Rio melotot kearah adiknya,ia merasa tidak enak karena Raffa selalu memberi kedua adiknya makanan dan hadiah. " Maafin adik gue Raff" ucapnya
"Santai saja bro, gue seneng kok ada disini. Gue udah anggap mereka adik gue juga. Caca mirip sama Inka, ia selalu cerewet dan bicara apa adanya. "
Setelah mengatakan kalimat itu kini Raffa teringat dengan princess kembar yang selalu manja padanya dan kedua adik lelakinya yang selalu membuat kerusuhan dirumah." Aku kangen mereka padahal baru sehari aku pergi dari rumah "ucapnya dengan suara tercekik di tenggorokan, matanya kembali sendu
" Telepon mama lu coba tanyain keadaannya " Rio
" Aku belum berani" lirihnya, dan terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Walaikumm salam"
"Kitis, masuk sini"Rio melambaikan tangannya, ia melihat Kinan dari beberapa meter karena jarak antara ruang tamu dan ruang makan cukup dekat.
Kinan masuk dan mencium tangan ibu Rio, " Permisi tan, saya mau main disini "
" Iya, Nak Kinan jangan sungkan main disini ya. Maaf rumahnya kecil. Ayo makan bareng" bu Asti membawakan piring untuk Kinan agar makan bersama.
"Makan seadanya yah" ucapnya dengan tersenyum.
" Terimakasih bu kebetulan saya memang lapar hehehe " selorohnya
Raffa dan Rio hanya menggelengkan kepala, bisa-bisanya Kinan yang baru datang dan tanpa malu langsung melahap makanan yang disediakan bu Asti.
" Malu-maluin" bisik Raffa
"Bodo amat! Emaknya Rio yang nawarin, gue nggak minta, " lirihnya. "Kita masih ada urusan" bisik Kinan. Dan Raffa hanya menatapnya malas.
__ADS_1
* **
Siang hari di Sekolah Dasar Jakarta,
"Hei Inha!!, aku pinjam bukumu. Aku mau menyontek pekerjaan rumahmu. Sini berikan bukumu!" Candra mengambil paksa buku Inha, namun si gadis mungil itu mempertahankan miliknya.
"Cepetan..!! Kamu pelit banget sih dasar bisu!!" bentaknya.
" Si Inha bisu!" Ia mendorong Inha hingga terjatuh di lantai dan menangis karena merasa sakit jatuh di lantai.
Inka yang baru saja datang dari kantin melihat adiknya didorong teman terbandel di kelasnya. Dan ia langsung mendorong Candra dengan kuat, ia tidak terima adiknya disakiti oleh anak lain.
"Beraninya dorong Inha, siapa yang bisu! Adikku tidak bisu,kamu jangan jahat sama adik aku" teriak Inka.
"Kamu berani sama aku..!!" bentak Candra.
"Memang kamu siapa sampai aku takut denganmu" ucap Inka.
Candra langsung menarik kerah baju Inka dengan kasar, namun tanpa ia duga Inka menarik rambutnya dengan kasar. "Awww... Sakit!!" ia mencengkram tangan Inka agar tidak menarik rambutnya , namun ia kembali mendapat gigitan di tangan kanannya dan tendangan di kaki kirinya oleh Inka.
"Awww.. Sakit!!" rintihnya lagi, ia mendorong kuat Inka hingga terjengkang ke belakang.
"Teman - teman si kembar ini melukaiku" ucapnya berbohong pada beberapa teman pria satu kelompoknya.
"Benarkah" mereka berkerumun melihat tangan Candra yang terluka akibat gigitan Inka.
Anggrek yang lewat di depan kelas Inka, melihat kejadian itu. Ia langsung bergegas ke kelas lima tempat Fafa dan Alif berada, ia memberi tahukan bahwa adik mereka sedang di bully dan disakiti.
Khaffa, Khalif, Kendrew, Anggrek langsung masuk ke kelas Inka dan disusul oleh Khaffi.
Mereka melihat Inha sedang menangis.Dan Anggrek langsung menenangkan Inha dan membantu Inka berdiri.
"Kamu apakan adikku!" bentak Fafa pada Candra.
"Apa lu, berani sama aku!" ucap Candra menantang, namun dari arah lainnya ia langsung mendapat bogem mentah dari Alif yang langsung memukul tepat di wajahnya. Mereka semua yang ada di kelas langsung termenung melihat seorang Alif yang biasa cuek, pendiam begitu berani memukul Candra.
" Woooww... Alif, Awesome!! prok.. prok.. prok" Kendrew bertepuk tangan dan Khaffi ikut menimpalinya "Alif datang semua kelar"
"Candra membalas pukulan Alif dan dibantu ketiga temannya. Fafa, Kendrew dan Khaffi pun tidak mau kalah, mereka saling membela dan saling balas ke kelompok Chandra hingga akhirnya guru menghentikanya dan mereka semua masuk ke dalam ruang Bimbingan Konseling.
__ADS_1
Navysah mendapat telepon dari sekolah si double kembar dan merasa kaget dengan penuturan pihak sekolah, selama anak kembarnya sekolah mereka tidak pernah membuat masalah, walaupun Fafa yang suka pecicilan dan usil, ia tahu anaknya tidak akan memukul orang lain.Namun, besok pagi ia harus berhadapan dengan pihak sekolah. Ia hanya menghela nafas kasarnya. "Yang satu belum kelar, ada saja masalah lainnya"