Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 159


__ADS_3

Hanin tiba di villa milik keluarga Davian pada sore hari, namun ia tidak menemukan suaminya. Ia sengaja menunggu Fafa dengan menyiapkan sup hangat untuk suaminya. Cuaca di villa begitu dingin dan mulai berkabut hingga Hanin malas untuk mandi walaupun sudah tersedia air hangat.


Tak lama kemudian, Fafa datang bersama Antoni dan seorang wanita cantik. Mereka masuk ke dalam villa dengan bercanda tawa, sesekali terlihat wanita itu menepuk bahu Fafa. Dan tanpa disadari ada Hanin yang menatap tajam suaminya dari jauh.


"Eh! Sayang, kau disini." Fafa melihat istrinya dengan perasaan takut karena mata Hanin seolah ingin menerkamnya.


" Hmm..."


"Mm..., kenalkan ini Namira. Dia teman saat aku sekolah dasar dulu." ucap Fafa


"Saya Hanin, istrinya Fafa."


" Saya Namira."


Mereka makan bersama dengan sesekali Fafa melempar candaan pada Namira, hingga membuat Hanin kesal.


Inka yang selalu berada di sisi Hanin, hanya bisa sesekali menatap Antoni. Ia begitu takut saat mata mereka bertemu pandang. Dan Antoni hanya bisa membuang wajahnya ke arah lain.


* **


"Kok kamu berani bawa teman wanita ke villa ini? Apa alasannya A!" tanya Hanin setelah Namira pergi dari villanya.


"Oh, itu karena Namira ingin mengajak keluarganya liburan. Jadi, dia ingin lihat villa di sekitar sini. Villa yang bisa disewa selama satu minggu." Fafa membersihkan ranjangnya dan merebahkan diri. Ia merasa lelah karena seharian pergi ke proyek pembangunan dan rapat dengan karyawan.


" A..! Kamu tidak bohong kan?! Atau jangan - jangan kamu naksir sama dia." selidik Hanin


" Aku sedang tidak ingin ribut Nin! Lebih baik kamu buatkan aku teh hangat, kepalaku pusing."


Hanin pergi ke dapur sembari menggerutu. Ia membuatkan suaminya teh hangat dan kembali ke kamarnya.


" A... "sapa Hanin dengan manja, ia duduk di pangkuan suaminya yang sedang kerja di depan laptopnya.


" Apa? Kamu kenapa lagi? "ucap Fafa," Gimana aku mau minum teh kalau kamu duduk seperti ini,berat Nin. "


" Oh, jadi aku tidak boleh duduk di pangkuanmu lagi. Aku tambah gendut gitu! " seru Hanin dengan nada tinggi.


" Ya ampun! kamu kenapa sih! Sawan?! " Fafa menggelengkan kepala.


" Ya aku tidak bisa minum kalau kamu duduk di pangkuanku, yang ada aku keselek Nin. " Fafa mencoba menahan emosinya, entah kenapa akhir - akhir ini Hanin selalu membuatnya kesal.


Hanin cemberut dan hanya memainkan ponselnya. Ingin rasanya ia bermanja dengan suaminya dan memberitahukan bahwa dirinya hamil namun belum ada kesempatan untuk mengatakannya.


Fafa memeriksa berkasnya dan melirik istrinya yang sedang cemberut. Ia menutup laptopnya dan menarik Hanin agar duduk di pangkuannya kembali.


"Kenapa Nin? Marah sama AA? Kok wajahnya kusut gitu kayak uang kertas seribuan kembalian dari angkot." Fafa meledek istrinya.


" Jangan mulai rese deh." ketus Hanin, "Aku tidak apa-apa A!"


" Mau ke tempat wisata tidak? Besok aku libur." ajak Fafa


"Tidak mau, pasti jalan jauh."

__ADS_1


" Kalau ke curug mau? Air terjunnya segar lho."


"Tidak mau!"


" Kalau ke pulau kapuk mau? Aku bikin melayang berkali-kali." goda Fafa sembari menggulum senyum


"Tidak mau!"


"Tumben tidak mau, biasanya tanpa diminta sudah pasrah aja." Fafa tersenyum saat mengatakannya


"Ishh... AA!!" seru Hanin, " Aku sedang kesal padamu!"


"Kesal kenapa lagi, aku salah?"


"Iya kamu salah A!, Aku sudah jauh- jauh kemari karena kangen denganmu tapi kamu malah asyik-asyikan dengan wanita lain."


"Kamu kangen denganku, Sungguh?! " Fafa mengenyitkan dahi seolah tidak percaya karena baru satu hari ia pergi namun istrinya sudah merindukannya.


"Bukan aku! Tapi si kembar."


"Maksudnya si Inka?!"


"Tuh kan benar apa kataku, kamu itu memang tidak nyambung kalau urusan seperti ini." gerutu Hanin, " Aku hamil anakmu A!, bukan satu tapi dua."


"Serius!!!" Fafa semakin tidak percaya, "Kamu sudah cek sayang?"


"Sudah, ini hasilnya." Hanin membuka tasnya dan memberikan foto USG pada Fafa


"Pokoknya kali ini kamu harus istirahat penuh, aku tidak ingin kamu keguguran lagi." Fafa mengendong Hanin ala bridal style. Hanin tersenyum bahagia karena Fafa selalu memperlakukan dirinya dengan lembut. Satu sifat Fafa yang selalu Hanin rindukan.


"Kenapa menatapku seperti itu?! Mau dingin - dingin empuk?"


"Kamu itu A, mesum terus!"


"Tapi kamu juga suka kan."


Hanin tersenyum menutupi wajahnya dan merasa malu.


Di sisi lain,


Inka duduk di ruang tamu bersama Antoni. Dirinya merasa gugup saat Antoni memberinya segelas susu hangat.


" Minumlah, setelah itu tidur." ucap Antoni tanpa melihat kearah Inka.


" Memangnya aku anak kecil." cebik Inka, "Kakak, aku sudah dewasa umurku sudah dua puluh tahun lebih."


"Aku tidak tanya!" ucap Antoni dengan datar.


Inka mendengus kesal. Antoni pria yang jarang bicara dan tidak terlalu dekat dengan banyak wanita.


"Kak..." panggil Inka dengan lembut, namun Antoni pura-pura tidak mendengar, ia lebih memilih bermain dengan ponselnya.

__ADS_1


"Kakak!!" panggil Inka dengan keras dan akhirnya Antoni menoleh kearahnya.


"Ada apa Nona." jawab Antoni dengan sopan.


"Sudah aku bilang, panggil aku Inka bukan Nona."


"Maaf saya tidak bisa."


"Harus bisa! Ini perintah." pinta Inka


Antoni membuang wajahnya kearah lain.


"Kak." panggil Inka kembali, " Besok bisa jemput aku di kampus." Inka secara terang-terangan meminta Antoni untuk menjemputnya di kampus. Inka terpaksa menghilangkan rasa malunya karena Antoni tidak pernah melihat dirinya sebagai seorang wanita.


"Maaf Nona, saya tidak bisa."tolak Antoni," Pekerjaan saya sebagai asisten tuan Fafa bukan sopir pribadi nona. Jika Nona ingin dijemput ada Pak Ari yang siap dua puluh empat jam. "


" Aku maunya kakak yang jemput aku. "


" Maaf tidak bisa. " Antoni beranjak dari tempat duduknya dan ingin pergi ke kamarnya namun tangannya ditahan oleh Inka.


" Kakak tahu kan isi hatiku? Aku sayang sama kakak. " Inka sudah tidak punya muka, Ia mengatakan isi hatinya kali ini.


" Maaf, saya tidak pantas untuk dicintai Nona."


"Kenapa? Apa ada yang salah? Aku benar-benar suka sama kakak sejak dulu."


"Maaf Nona, saya tidak bisa membalas perasaan nona. Saya sudah menganggap nona adik saya."


"Aku tidak mau hanya dianggap adik! Aku mau jadi istri kakak!" kekeh Inka


Antoni tersenyum sesaat mendengar pernyataan Inka." Istri, berfikir untuk berpacaran pun tidak apalagi menikah." gumam Antoni dalam hati.


"Kok ketawa? Aku serius kak?"


"Kalau tiap malam masih minum susu dan cuci kaki jangan berfikiran untuk menikah! kuliah dulu yang bener, kerja keras dan sukses." Antoni menyentuh jilbab Inka dengan lembut setelah itu berjalan ke kamarnya.


" Kak, aku serius!" tegas Inka kembali.


Antoni membalikan tubuhnya, menatap wajah Inka dengan intens ." Aku tidak bisa!, aku tidak pantas untuk nona."


" Apa karena orangtuaku kaya raya hingga kamu malu bersamaku!, jawab pertanyaanku kak!" seru Inka dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak!"


"Lalu kenapa? Aku ingin kamu jujur padaku, apa alasannya." Inka begitu kesal karena Antoni menolak dirinya.


"Karena aku tidak tertarik denganmu Nona." jawab Antoni


"Oke, kalau begitu aku akan membuatmu tertarik padaku!"


"Jangan mimpi! Lebih baik kamu cuci kaki dan tidur." Antoni bergegas masuk ke dalam kamarnya, ia tidak ingin berlama-lama melihat Inka yang mulai berkaca-kaca karena penolakannya.

__ADS_1


"Aku Nur Inka Ahmad, sejak dulu selalu mendapatkan apa yang aku inginkan.Aku akan mengejarmu sampai kamu luluh denganku. Aku tidak peduli jika kamu miskin kak! karena aku suka dengan kepribadianmu." gumam Inka dalam hati.


__ADS_2