
Fafa begitu kesal karena Hanin kembali sibuk dan tidak memperhatikan dirinya. Entah mengapa Fafa merasa Hanin seorang wanita yang gila kerja. Hanin selalu pulang malam dan kurang menjaga kehamilannya.
" Jangan terlalu capek, ingat kamu sedang hamil, kandunganmu lemah Nin, kamu harus ekstra menjaganya. Lusa kita ke dokter untuk mengecek bayi kita ya."
"Aku tidak capek A, mungkin lusa aku tidak bisa ke dokter karena ada meeting dengan klien."
"Aku ingin kamu di rumah, work from home. Kamu bisa menyuruh si kribo itu untuk bolak - balik mengambil file, toh mas Raffa mengizinkanmu untuk tinggal di rumah,aku tidak suka kamu pulang terlalu malam!" protes Fafa, ia menatap Hanin dengan tatapan tidak suka karena istrinya itu selalu keras kepala.
" Aku bosan kalau harus kerja di rumah, aku ingin kerja di kantor saja A. Aku janji akan pulang sore dan memperhatikan kehamilanku. "
" Hanin, bisa tidak sekali saja kamu nurut denganku!" Fafa sedikit emosi saat ucapanya tidak di dengar oleh Hanin. "Aku ingin kamu di rumah tidak perlu kerja!"
"Masih pagi A, aku tidak ingin ribut." Hanin menyalam takzim suaminya dan pergi begitu saja. Beberapa hari ini Hanin lebih suka pergi dengan taxi agar lebih efisien waktu.
Sepanjang hari Hanin duduk di kursi kerjanya, pekerjaan minggu ini begitu berat dan melelahkan untuknya. Terkadang ia harus bolak- balik kamar mandi karena mual karena kehamilan, lidahnya terasa pahit dan ingin makan sesuatu yang segar.
"Enak, mangga nya tidak asam." Hanin memakan rujak buah kesukaanya sembari bekerja di depan laptop. Ia bahkan lupa makan nasi dan lebih memilih makan rujak.
Sore hari saat Hanin selesai meeting, ia merasa pusing dan perutnya terasa sakit seperti diremas. Hanin merasa ada yang salah dengan pencernaannya.
"Nin, kamu baik-baik saja? " Rio yang masih di ruang rapat kini melirik Hanin yang terlihat pucat dan meringis kesakitan.
"Perutku sakit kak." Hanin memegangi perutnya yang tidak nyaman.
"Nin, apa itu." Rio melihat darah segar keluar dari kaki kanan Hanin.
"Kakak... " Hanin mulai cemas, ia tidak menyangka ada darah yang keluar dari kakinya. "Tolong bawa aku ke rumah sakit."
"Iya, iya..." Rio mulai panik dan membawa Hanin ke rumah sakit.
Rio menelepon Fafa agar segera datang ke rumah sakit. Ia memberitahukan bahwa Hanin di rawat.
Fafa melihat istrinya terbaring lemas di ranjang. Ia begitu syok saat mendengar penuturan dari dokter Cindy bahwa Hanin keguguran. Calon anak yang ia idam-idamkan kini hilang begitu saja.
"Mas..." lirih Hanin, ia membuka matanya dan melihat Fafa duduk disisinya.
"Iya..." Fafa mengenggam tangan Hanin dengan lembut.
__ADS_1
" Kenapa aku disini A?" Hanin melihat kearah kanan dan kiri mencoba mengenali dimana dia berbaring sekarang.
"Di rumah sakit." Fafa mengelus rambut Hanin dengan lembut, senyuman getir terlihat dari wajah Fafa.
"Anak kita bagaimana A?"
Fafa tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia hanya diam seribu bahasa.
"AA...! Apa yang terjadi dengan anak kita A?" tanya Hanin sembari meraba perutnya yang masih terasa sakit.
" Anak kita sudah bahagia di surga." Fafa menundukan kepala
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" teriak Hanin dengan histeris, ia menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan kenyataan pahit yang baru saja menimpanya
"Itu benar Nin." Rio yang mendengar teriakan Hanin dari luar kini mulai masuk ke dalam ruang inap.
"Tidak mungkin, aku.... A.. aku..." Hanin terbata-bata tak kuasa menahan tangis.
Fafa memeluk dan mengelus punggung istrinya, mencoba menenangkan dan mengikhlaskan semua yang terjadi.
"Mama...." Hanin memeluk ibunya, " Anak Hanin sudah tidak ada mah,aku begitu bodoh tidak menjaganya dengan baik." Hanin begitu menyesal dengan kecerobohanya.
"Sudah Nak, ikhlaskan semua yang terjadi. Allah tahu yang terbaik untuk kita." Bu Ria mengelus punggung anaknya agar sabar menghadapi ujian dari Allah.
" Saya permisi dulu mah, yah." pamit Fafa, ia pergi ke luar ruangan
Dan Hanin hanya melihat punggung suaminya hingga jauh.
" AA pasti kecewa padaku. "gumam Hanin dalam hati,airmatanya menetes begitu saja di sudut matanya.
Fafa duduk di sisi jalan rumah sakit, ia mencoba mencari udara segar agar fikirannya sedikit membaik. Sembari menghisap sebuah rokok ia melihat banyak kendaraan yang berlalu lalang.
" Gue cariin ternyata lu disini." Rio duduk disamping Fafa yang kini terlihat sedih.
"Pergi sana, gue lg nggak pengen adu mulut sama lu,lebih baik lu ngojek sono! " ucap Fafa dengan datar dengan sedikit bercanda. Matanya masih menerawang jauh melihat kendaraan yang melintas.
" Gue mau narik delman bukan ngojek!" timpal Rio dengan bercanda, "Aku ikut berbela sungkawa." ucap Rio dengan tulus
__ADS_1
"Hmm..." Fafa menghembuskan nafas panjangnya hingga asap rokok keluar dari hidungnya.
"Sabarlah dengan Hanin, aku akan mencoba memberi nasehat padanya agar bisa bekerja di rumah saja."
"Sudah terlambat,aku saja tidak didengar apalagi kamu." sinisnya, "Aku belum sempat melihat anakku lahir ke dunia kak." jawab Fafa tanpa melirik ke arah Rio, " Aku tidak yakin Hanin akan berubah."
Saat Rio dan Fafa mengobrol, Pak Dewa menghampiri mereka dan duduk di samping Fafa.
"Boleh Ayah duduk disini?"
"Boleh." Fafa menjawab tanpa melirik ke arah mertuanya. Pandangannya tetap ke depan dan melihat lalu lalang mobil di jalan.
"Sepertinya mereka akan bicara empat mata." gumam Rio dalam hati
"Saya permisi dulu Om." Rio merasa tidak enak hati untuk berada di sana, ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ayah minta maaf atas kesalahan anak ayah yang keras kepala."
" Sudahlah yah, ini sudah terjadi. Berulang kali Fafa ingatkan tapi Hanin tak pernah mendengarkanku."
" Hanin memang gila kerja dan ambisius." ucap pak Dewa
" Aku tahu." Fafa tersenyum kecut
" Ayah minta kamu harus lebih sabar dengan Hanin, tolong maafkan anak ayah. "
" Capek yah ngomong sama Hanin, aku sudah mengingatkan bahwa kehamilannya masih rawan dan beresiko keguguran tapi dia masih mengulangi kesalahan yang sama tanpa mempedulikan calon anaknya, baginya pekerjaan lebih penting daripada kami. "
" Maaf. " Pak Dewa menatap menantunya dengan intens." Semua ini salah ayah karena mendidik Hanin terlalu keras. Dari dulu Ayah selalu mengajarkan pada Hanin agar dia selalu menjadi juara kelas, pintar. Dia anak pertama ayah, begitu besar harapan ayah padanya. Ayah berharap dia yang akan menggantikanku di perusahaan tapi seiring berjalannya waktu ternyata Ayah salah dalam mendidik. Hanin perempuan, suatu saat akan menikah dan menjadi seorang ibu, tidak seharusnya dia mengesampingkan dirimu,maafkan Ayah jika dia bukan istri penurut untukmu Fa. Hanin anak yang baik, dia pekerja keras dan tekun, Ayah mohon maafkan dia. "
"Aku selalu sabar dengan Hanin yah, tapi aku tidak tahu sampai kapan Hanin akan memprioritaskan diriku."
"Ayah akan bicara dengan Hanin, ayah tidak ingin kalian berpisah Fa, ayah mohon." pinta Pak Dewa
" Fafa akan mempertahankan rumah tangga ini tapi Fafa tidak bisa berjanji, semuanya terserah Hanin."
Pak Dewa mengiyakan keputusan menantunya.
__ADS_1