
Malam hari Ifa dan Shafiq datang berkunjung ke rumah Davian. Mereka tidak membuat janji terlebih dahulu sehingga Navysah sedikit terkejut dengan kedatangannya. Ia tahu pasti Ifa akan membahas perjodohan anaknya dan Kinan.
Mereka duduk santai sembari menyesap secangkir kopi di halaman belakang dengan atap langit yang gelap dan berbintang. Taman yang tertata indah dengan cahaya remang yang menambah keasrian rumah dari Davian,taman hasil karya dari istrinya yang selalu hobi menanam pepohonan dan bunga kesukaannya.
"Navysah, apa kau sudah bicara dengan anakmu tentang perjodohan ini?" tanya Ifa tanpa basa - basi.
"Belum, aku tidak ingin dia tertekan fa. Raffa mau melanjutkan perusahaan Ayahnya saja aku sudah sangat bersyukur. Masalah perjodohan aku rasa biar mereka memilih pasangannya masing - masing" ucap Navysah
"Davian, mana janjimu!, dulu kau bilang akan memberikan apa pun yang aku inginkan. Dan sekarang aku ingin Raffa menjadi menantuku. Hanya dia, titik!" Ifa sedikit kesal karena Davian selalu mengulur waktu dan tidak menempati janjinya.
"Kamu itu seperti raksasa saja dan anakku seperti timun mas!" seru Davian, "Minta yang lain saja, aku tidak bisa memberikan kamu yang satu itu. Kamu bisa minta apartemen atau rumah mewah akan aku berikan"
"Nggak mau!, kamu pikir aku orang miskin. Aku cuma mau Raffa menikah dengan Kinan. Cuma dia pria yang tepat untuk anakku"
"Sudahlah mah, orang Raffa nya juga masih kecil dan belum tentu mau dengan anak kita. Kamu jangan memaksakan kehendakmu,kita sudah seperti keluarga dengan Navysah, jangan gara - gara ini kita menjadi renggang" Shafiq mencoba menenangkan istrinya, ia pun tahu Raffa hanya menganggap Kinan sebagai adiknya tidak lebih.
"Nggak mas!, perjodohan ini harus tetap dilanjutkan. Aku hanya ingin Kinan bahagia, jika dia menikah dengan Raffa. Dan sudah pasti akan menjadi menantu Navysah, dia pasti akan disayang selamanya dan aku bisa hidup dengan tenang karena dia mendapatkan pria yang baik"
" Mereka masih kecil, belum saatnya untuk menikah. Aku ingin anakku bahagia dengan pilihannya tanpa paksaan" Davian mencoba bernegosiasi dengannya.
"Tunangan saja dulu, menikah setelah Raffa pulang daripada Amerika nantinya" Ifa bersikeras dengan keinginannya. " Pokoknya hanya Raffa calon mantuku, nggak ada yang lain."
"Apa..!!" teriak Raffa, ia yang baru saja datang tidak sengaja mendengar percakapan orang dewasa yang berada di taman belakang.
" Maksud tante apa coba katakan sekali lagi padaku? " ia mencoba mencerna ucapan tante Ifa dan berharap salah pendengaran.
Ifa menghampirinya, "Raffa, tolong penuhi janji Ayahmu. Kamu harus tunangan dengan Kinan dan akan menikah setelah kamu lulus wisuda. Dulu saat mama Navysah koma, ayahmu berjanji akan memberikan apapun asal mamamu kembali sehat. Dan sekarang tante menagih janji itu" ucapnya,
"Hanya kamu yang tante inginkan untuk menjadi menantu tante bukan yang lain. Kinan pasti bahagia jika bersamamu, hanya kamu pria baik dan paling sabar dengannya"
__ADS_1
Raffa terkejut dengan permintaan tante Ifa, ia tidak menyangka akan dijodohkan dengan Kinan. "Tapi tante itu tidak mungkin, saya menganggap Kinan hanya sebagai adik tidak lebih"
Ifa memegang lengan Raffa dengan lembut, "Tante tahu itu, cinta akan datang dengan sendirinya nanti. Cobalah untuk mencintai Kinan, dia gadis yang baik dan polos. Tante tidak ingin dia salah menikah dan hanya kamu yang bisa membahagiakan dirinya. Tante ingin perjodohan ini tetap berlanjut"
Raffa melepaskan tangan Ifa dari lengannya, "Ini tidak mungkin, nggak!. Ini pasti salah. Aku tidak mau" ia berlari ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci kamarnya.
Navysah kembali pusing dengan masalah nya lagi, ia terduduk lemas di kursi sembari memijit kepalanya yang sakit. "Fa, kamu pulanglah. Aku pusing" ucapnya. Davian menatap tajam kearah Ifa karena membuat keluarganya kisruh kembali. "Kalian pulanglah, dan jangan pernah membahas tentang perjodohan lagi. Kalau kamu ingin menarik sahammu silakan Fa, aku tunggu di kantor" ia memapah istrinya ke dalam kamar.
"Davian, sampai kapanpun aku ingin Raffa menjadi menantuku, dan perjodohan ini harus dilaksanakan. Titik!" serunya, ia pergi dari rumah Davian setelah membuat keributan. Shafiq merasa tidak enak membuat keluarga Navysah kisruh kembali, jika bisa jujur ia pun menginginkan Raffa menjadi menantunya. Menurutnya, Raffa pria yang baik dan bertanggung jawab dan hanya dia yang cocok menjadi pasangan anaknya.
Navysah mencoba masuk kedalam kamar anaknya, namun pintu kamarnya dikunci dari dalam. "Raffa, buka pintunya Nak. Mama ingin bicara"
"Tok.. Tok.. Tok.."
Namun tidak ada jawaban dari dalam kamarnya. "Ya allah, apalagi ini baru tadi sore tertawa bersama kini masalah lagi" ia pergi kedalam kamarnya dan menangis,ia tidak ingin melihat anaknya bersedih dan kabur kembali.
Ia pergi sore hari setelah mendapat chat dari Antoni,ia pun mengajak Rio untuk sekalian nongkrong di Cafe ala anak muda.
Kini mereka bersama bu Rahmi pergi ke restoran D & R karena Antoni dan ibunya ingin segera mendapatkan pekerjaan. Setelah bertemu dengan Om Rayyan, bu Rahmi pergi ke rumah terlebih dahulu sedangkan mereka masih bercanda tawa bersama.
"Maafin gue ya Yo, gue sering jahat ama lu" ucap Antoni dengan menundukkan kepala. Rio sudah tahu masalah yang dihadapi keluarga Antoni saat ini dan ia pun menganggukan kepala " Udah gue maafin, kita kan teman" Rio merangkul bahu Antoni dengan erat.
"Makasih udah mau berteman dengan gue yang kayak gini" ucapnya.
"Emang lu kayak apa, kayak gini gimana?!" tanyanya. "Emang wajahmu ada yang salah atau aneh gitu hahaha.." selorohnya.
Mereka bercanda dan tertawa bersama hingga tidak terasa sudah pukul delapan malam.
Rio mengantarkan Raffa kembali ke rumah, dan ia langsung tancap gas tanpa masuk ke rumah Raffa.
__ADS_1
Terlihat sebuah mobil minibus dengan warna putih dan plat nomer yang ia ketahui bahwa sang pemilik mobil itu adalah mobil Om Shafiq, ia bergegas masuk dan mencari tamu orang tuanya.
" Mereka masih kecil, belum saatnya untuk menikah. Aku ingin anakku bahagia tanpa ada paksaan" ia mendengar ucapan Ayahnya .
"Tunangan saja dulu, menikah setelah Raffa pulang daripada Amerika nantinya" ia mendengar kembali ucapan tante Ifa yang ngotot.
Dan Ia meremas tangannya, terkejut setelah mendapat kejelasan dari apa yang ia dengar.
Ia membanting keras pintu kamarnya hingga Fafa dan Inha yang sedang bermain puzzle kini terkejut karena suara teriakan dari dalam kamar kakaknya.
"Tok.. Tok.. Mas.. Mas kenapa mas!" Fafa mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Mas Raffa kenapa mas?" tanya Inha.
"Nggak tahu, ayo kita main lagi dikamar saja" ajaknya.
" Kok Mas Raffa teriak-teriak Fa?" tanya Alif yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Makan sambal pake alu" ucap Fafa, ia mulai berpantun agar Alif kesal kembali.
"Cakep" balas Inha
"Mana kutahu" ucap Fafa cengengesan sembari mengedikkan bahunya.
"Ck..!,, sudah malam jangan buat aku kesal lagi " Alif berdecak dan kembali masuk kedalam kamarnya.
Fafa yang usil segera membuka pintu Alif dan menumpahkan semua puzzlenya di ranjang, lalu ia berlari dengan Inha masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Fafa..!!!" teriak Alif, "Rese banget sih! " Alif mulai murka kembali karena ranjangnya penuh dengan puzzle dan sudah pasti dia harus membereskannya agar bisa tidur nyenyak.
__ADS_1