
"Sudah - sudah tenang ibu-ibu " bu Guru mencoba mengendalikan situasi agar lebih kondusif dan sedikit tenang. "Kita bicara dari pihak bu Navysah dulu" pintanya
" Begini bu guru, saya ingin berbicara fakta di lapangan" ucap Imelda. "Saya dan Navysah sudah berbicara dengan Inha dan anak lainnya. Inha tidak mungkin meminjam buku pada temannya yang bodoh itu. Inha anak yang pintar selalu juara kelas walaupun dia seorang yang pendiam. Dan.. " belum sempat Imelda melanjutkan bicaranya, ibunya Candra langsung memotong pembicaraanya.
"Siapa anak yang bodoh yang meminjam buku itu, maksud ibu anak saya!" ucapnya tidak terima, ia langsung sewot karena anaknya dibilang bodoh.
"Sudah tahu pake tanya lagi!" ketus Imelda. "Orang yang sopan tidak akan memotong pembicaraan orang lain, bukannya ibu tadi bilang pada Navysah harus mendidik anaknya dengan sopan bukan dengan kekerasan " sindir Imelda.
Ifa dan Jasmine hanya menahan tawanya melihat ibunya Candra yang terlihat mati kutu berhadapan dengan seorang Imelda.
" Saya lanjutkan lagi "ucap Imelda, " Inha selalu juara walaupun dia pendiam dan faktanya Candra yang meminjam buku Inha namun dia tidak mengizinkan Candra untuk menyontek PR nya. Candra selalu menghina bahwa Inha bisu, lalu ia mendorong Inha sehingga terjatuh dan menangis" sambungnya lagi.
"Disini Candra sudah melakukan tiga kesalahan, pertama menyontek, kedua membully ponakan saya, ketiga ia bersikap kasar.Jadi siapa disini yang salah dalam mendidik!" Imelda melirik tajam kearah rivalnya. Bu Candra merasa tersudut dengan ucapan Imelda. Ia menahan malu atas sikap anaknya.
"Si Inka tidak terima melihat adiknya terjungkal dan menangis . Ia mencoba membela adiknya namun apa, Candra menarik kerah bajunya sehingga Inka pun harus menggigit dan menendang kaki Candra. Dan si kembar Fafa dan Alif pun datang untuk melindungi adiknya dari kenakalan si Candra. Mana ada seorang kakak tega melihat adiknya begitu menyedihkan, setiap hari dibully dan dianggap bisu karena ia tidak banyak bicara. Dan puncak dari kemarahan Alif adalah memukulnya. " Imelda menghela nafasnya.
" Ibu tahu, apa akibat dari bullyng? "tanya Imelda pada ibunya Candra, ia menatap tajam wajahnya.
" Seperti saya "ucap Imelda dengan datar." Karena dulu saya seperti Inha, pendiam dan dianggap bisu. Hanya figuran dalam kelas dianggap tidak ada dan tersisih, hinaan, cemohan, ejekan itu sudah seperti makanan setiap hari dan Lukanya membekas hingga puluhan tahun dan saya saat ini masih mengingat siapa saja mereka yang selalu menghina saya. Mungkin terlihat sepele kekerasan secara verbal namun itu sangat merusak psikis sang anak yang di bully, trauma mendalam karena perkataan yang buruk"
Bu Candra dan kelompoknya terdiam mendengar setiap perkataan Imelda, " Tunggu sebentar bu, jadi anak saya berbohong pada saya. Saya benar-benar tidak percaya,dia mengatakan pada saya kalau Inha yang jahat padanya. Dan semua anak dari temanku ini bicara kalau si kembar yang salah " ia masih tidak percaya mana yang benar dan mana yang salah. Apa dia harus percaya anak kandungnya atau ucapan dari Imelda.
__ADS_1
" Jika ibu tidak percaya dengan ucapan saya tolong ibu lihat CCTV ini " Imelda menyodorkan handphone nya, mereka melihat rekaman yang berada di sudut kelas yang merekam setiap gerak-gerik keseharian siswa di dalam ruangan. Sejak Imelda menelepon Navysah, dia bergerak cepat menghubungi asisten pribadinya untuk meminta rekaman CCTV sebagai bukti nyata tentang kejadian sebenarnya.
Wajah ibunya Candra kini berubah pias, ia tidak menyangka anaknya pandai berbohong. Selama ini Candra bersikap sopan dirumah dan selalu menuruti apa yang dimintanya. " Ya allah anakku sudah menjadi seorang pembohong, bisa - bisanya ia merubah cerita yang sebenarnya" ucapnya, "Tapi bagaimana mungkin teman lainnya ikut membuat cerita yang sama" sambungnya lagi.
Imelda memberikan rekaman kedua dari sudut luar kelas, mereka terekam sedang bergerombol seolah sedang membicarakan sesuatu dan terlihat mereka sedang menundukkan kepala dihadapan Candra.
"Ibu tidak tahu kalau Candra itu bandel dan ketua dari kelompoknya?" tanya Navysah. Dan bu Candra menggelengkan kepalanya "Setahu saya dia anak penurut dan tidak ada masalah di sekolahan.Ini pertama kalinya saya datang dengan masalah seperti ini"
"Maafkan anak saya bu Navysah, saya benar-benar tidak tahu kelakuan anak saya di luar rumah" ia menitihkan airmatanya merasa menyesal dengan sikap dan ucapannya sejak tadi. "Saya terlalu sibuk dengan dunia saya hingga anak saya kurang pengawasan. Saya kira sudah mendidik dia dengan baik namun ternyata saya salah" ucapnya.
"Sudahlah bu, kita sebagai orang tua pasti ada lalai nya terhadap anak.Anggap ini sebagai pelajaran, saya pun masih banyak kekurangan dalam mendidik anak. Kita harus sama-sama belajar dari kejadian ini" ucap Navysah, ia mengelus punggung bu Candra.
Disisi lain Ifa masih terniang di telinganya ucapan dari ibunya Candra "Saya sibuk dengan dunia saya hingga anak saya kurang pengawasan". Satu kalimat yang cukup menamparnya. Dia pun sibuk dengan pekerjaan terkadang pulang malam saat kedua anaknya tidur malam. Ada rasa nyeri dan perasaan bersalah terhadap Khaffi dan Kinan, mereka tumbuh dan besar dari didikan mertuanya dan terutama Navysah. Bahkan orang lain yang bukan siapa - siapa sangat protektif dan sayang pada anaknya. "Maafkan mama ya Kinan dan Khaffi, mama janji akan mengurangi kesibukan mama diluar dan meluangkan banyak waktu untuk kalian dirumah agar Kinan tidak merasa kesepian lagi, agar dia betah dirumahnya sendiri bukan dirumah Navysah" gumamnya dalam hati.
Saat bel sekolah pulang si double kembar segera menghampiri mobil yang dikendarai Mang Ari, dan terlihat dari jauh seorang yang mereka kenal memakai seragam SMA sedang tertawa dengan sopirnya.
"Mas Raffa...!!" teriak Inka yang pertama kali melihat kakaknya, ia berhamburan memeluk erat kakaknya. "Mas, Inka kangen. Mas pulang ya" ujarnya sembari bergelayut manja di lengan Raffa.
Inha berlari dan memeluk kakaknya disusul kedua kakak lelakinya. "Mas.." ucap si mungil, ia menangis memeluk Raffa.
Raffa menggendong Inha, berat badannya lebih ringan daripada si cerewet Inka. Dan Raffa lebih suka karena Inha pendiam dan tidak berisik. "Aduh, adik mas tambah berat ini" ia mencium pipi adiknya dan memutar - mutar badan Inha sehingga ia tertawa keras.
__ADS_1
"Kok Inka nggak di gendong? Inka mau juga seperti itu" ia merajuk menggerucutkan bibirnya.
"Kalau Inka berat karena kamu suka makan. Kalau Inha ringan" ucapnya terkekeh, ia mencubit pipi Inka yang sedikit berisi.
"Ah, mas Raffa nggak asyik!" cebik Inka. Dan Fafa langsung memeluk kakaknya. "Mas, kesini jemput kita kan. Mas mau pulang kerumah kan?" tanyanya dan mendapat gelengan kepala dari kakaknya. "Mas cuma mampir lihat kalian"
"Mas pulang ya, Fafa kangen nggak ada mas. Nggak bisa bobo bareng lagi. Si leon cuma makan dan tidur saja kerjaan nya" ia menceritakan keseharian kucing kesayangannya.
"Bobo sama Alif lah!" ucap Raffa, ia sengaja menggoda adiknya yang pendiam itu. Ia tahu Alif tidak akan mau tidur satu ranjang dengan Fafa yang suka ngiler dan berisik dalam tidurnya.
"Jangan harap aku tidur dengannya!" tegasnya.
"Dih..! sapa juga yang mau tidur sama kamu. Aku mendingan tidur sama Leon" sahut Fafa.
Raffa memeluk Fafa dan kemudian memeluk Alif secara bergantian .
"Sudah jangan berantem, Ayo masuk mobil disini panas"
Mereka masuk ke dalam mobil dan bercerita, bercengkrama dan tertawa di dalam mobil. Inha pun tertidur di pangkuan kakaknya. Ia merasa nyaman berada di dekat kakaknya. Inka yang selalu cerewet dan bertanya tanpa henti tentang apa yang ia lihat di youtube. Fafa selalu membujuk kakaknya untuk pulang namun selalu ditolak.
"Alif, kamu ngomong sama Mas Raffa jangan diam saja. Emang kamu mau mas Raffa nggak balik lagi ke rumah" gerutunya, ia kesal melihat sikap kembaranya yang selama ini diam, cuek tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Alif yang duduk di kursi penumpang bagian depan langsung menoleh ke belakang dan melirik kakaknya. "Kalau kak Raffa sayang sama kita semua, kak Raffa harus pulang ke rumah" ucapnya, ia langsung membuang wajahnya kearah lain. Dan duduk diam kembali di kursi mobilnya. Raffa hanya menggulum senyum, adiknya yang satu ini tidak pandai merayu. Sikapnya memang cuek namun Raffa tahu sebenarnya ia sayang pada keluarga walaupun tanpa ia katakan.
"Alif mah nggak jago merayu, masa gitu membujuk mas Raffa pulang. Payah..!! seru Fafa, ia sengaja menendang kursi Alif dari belakang karena kesal dengan sikap cuek kembaranya.