
Fafa hanya menghembuskan nafas panjangnya saat ia tidak diizinkan pulang oleh sang mertua.
Bu Ria meminta menantunya untuk menginap sementara di rumahnya, ia ingin melihat kebahagiaan anaknya bersama Fafa.
Sedangkan Navysah beserta keluarga sudah pulang setelah acara selesai dan ia tak lupa memberikan ponsel Fafa kembali.
Fafa merasa sungkan satu kamar bersama Hanin, namun saat ia berdiri di depan pintu kamar istrinya, Halwa menatapnya dengan curiga hingga akhirnya Fafa bergegas masuk ke dalam kamar.
" Ngapain disini!!" sembur Hanin, ia melirik Fafa dari kaca riasnya. Hanin yang sedang melepaskan sangulnya kini sedikit kesusahan karena banyak jepit rambut yang terselip diantara rambutnya.
"Habis mau kemana lagi, masa aku mau ke kamar Halwa." sahut Fafa sembari melepaskan sepatunya.Ia duduk di tepi ranjang dengan santai.
"Eh, eh ngapain duduk disini!" Hanin mendorong tubuh Fafa agar menjauh dari ranjangnya. "Kamu tidur disana!" ia menunjuk sofa kecil miliknya
" Eh, Janin! lu pikir gue pendek kayak lu. Mana mungkin gue tidur di sofa itu, yang ada kakiku sakit."
"Emang gue pikirin! Pergi sana!"
"Nggak mau ah!" Fafa masih menolak untuk pergi dari ranjang Hanin. " Lu tenang aja, gue nggak bakalan nyentuh lu. Jadi biarkan gue tidur disini."
"Kalau aku bilang enggak ya enggak!" kekeh Hanin. "Dan sekarang tugas lu bantuin gue lepasin ini sanggul, gue udah capek mau tidur tapi rambut palsu ini nggak mau lepas dariku." gerutu Hanin
"Yasudah sini, mana yang harus aku lepas." Fafa menyentuh rambut Hanin, ia mencoba melepaskan jepit rambut Hanin yang mengikat diantara rambutnya
"Yang ini." Hanin meraba jepit rambut yang sulit ia raih.
"Haiii...,kuntilanak pergilah ke alammu sendiri, jangan kau berubah menjadi gadis pendek yang bodoh dan menyebalkan seperti ini. Setelah ku cabut paku ini, pergilah kau kuntilanak!!" ucap Fafa sembari terkekeh, ia mencabut jepit rambut Hanin dengan kasar.
"Kampret lu!! Ngeselin banget! Emang aku kuntilanak sampai dicabut pakunya." Hanin memukul lengan Fafa dengan keras
"Bercanda Nin, gitu aja marah. " sahut Fafa kembali.
"Tapi nggak gitu juga kali, sampai bilang aku pendek dan bodoh!" ketus Hanin lagi.
" Baru beberapa jam menikah, kamu sudah bikin ribut, rasakan!" Hanin melempar benda yang mengganjal dadanya. Ia melempar tepat di wajah Fafa.
"Apa ini!?" Fafa terlihat bingung dengan sebuah benda yang berbentuk kain yang sudah digulung rapi, ia melihat benda itu dengan seksama.
"Ya ampun! jadi sapu tangan ini yang membuat dadamu besar. Pantas saja, tadi keliatan menantang dan ternyata ini semua palsu!" cibir Fafa,
"Dasar Dacil alias dada kecil!" sambung Fafa kembali
"Fafa...!!!" teriak Hanin begitu kesal mendengar ejekan Fafa, ia pergi ke toilet dengan membanting pintunya.
Fafa hanya mengedikan bahu dan tidak peduli dengan teriakan Hanin. Ia bergulung kesana kemari di ranjang Hanin sembari melihat ponselnya
"Percuma punya bini, nggak bisa disentuh dan diapa-apain." gerutu Fafa, "Eh, aku mikir apaan sih, kok sejauh itu." Fafa menggelengkan kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Awww..." rintih Hanin, ia terpeleset saat keluar dari bathroom. Ia mencoba berdiri namun kakinya terasa sakit akibat terkilir
"Fafa bantuin." pintanya, ia melihat Fafa yang hanya berguling-guling di ranjangnya dengan nyaman.
"Apaan sih, kamu bawel banget! " Fafa menghampiri Hanin dengan malas
"Bantuin aku berdiri, cepat!"
Fafa tidak ingin banyak bicara, ia langsung menggendong Hanin ala bridal. " Aku cuma minta bantuin berdiri bukan minta gendong!" sembur Hanin dengan wajah tidak suka
"Biar cepat, toh kamu ringan kayak kapas."
"Sakit Fa." Hanin memijit kaki yang sakit akibat terkilir
"Terus mau gimana?" Fafa hanya menghembuskan nafas panjangnya,
"Kamu ambil minyak kayu putih di laci itu, aku minta diurut."
"Sabar... Sabar..." gumam Fafa dalam hati, ia selalu mengingat pesan ibunya agar selalu sabar dalam menghadapi Hanin.
"Ishhh... Pelan-pelan Fa, sakit tau." Hanin meringis kesakitan saat Fafa memijit kakinya.
"Ini udah pelan Nin, kamu tahan dulu sebentar."
" Sakit...!" Hanin memukul lengan Fafa kembali.
"Sakittt....!!!" teriak Hanin sembari menjambak rambut Fafa.
"Awww... Apaan sih kamu Nin!" dengus Fafa dengan kesal. " Pelan salah, kencang salah, terserah kamu mau apa, pusing kepalaku." Ia menghidar dari Hanin dan lebih memilih menelepon Rena.
"Kok udahan?" Hanin melihat Fafa menelepon seseorang, "Kamu telepon siapa?" tanyanya penasaran
"Pacarku lah, lebih baik aku telepon dia daripada ribut denganmu." Fafa pergi ke arah balkon dan bertelepon ria. Sedangkan Hanin hanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Di luar kamar,
Halwa mendengar rintihan dan teriakan suara kakaknya, ia bergedik geli saat kakaknya berteriak Sakit. Fikirannya bertraveling kemana-mana dan membayangkan kakaknya sudah melakukan malam pertama.
" Lebih baik aku tidur dan menutup telingaku."
* **
Matahari semakin tinggi namun kedua pasangan pengantin masih tertidur dengan nyenyak. Kedua pengantin ini tertidur di tempat terpisah. Hanin di ranjang dan Fafa di sofa dengan posisi meringkuk
Fafa terbangun terlebih dahulu karena kakinya terasa kram. Ia mandi di bathroom Hanin dengan durasi yang cukup lama.
Suara gemericik air membuat Hanin merasa terganggu, ia mengerjapkan matanya dengan pelan. Ia melihat Fafa keluar bathroom hanya menggunakan handuknya.
__ADS_1
"Fafa, itu kan handuk aku. Kenapa dipakai!" sembur Hanin
"Aku enggak bawa handuk, pinjem dulu." Fafa menarik handuknya dan terlihat hanya memakai celana pendek
"Akhhh..." teriak Hanin, ia begitu terkejut karena Fafa dengan santainya menganti baju di depannya
"Apaan sih teriak mulu!" kesal Fafa, " Tiap hari seriosa terus, pegel telinga aku!"
"Kamu bisa nggak sih, ganti baju di bathroom aja!"
"Suka - suka akulah. Cepetan mandi, dasar bau!" Fafa melempar handuk ke wajah Hanin.
"Masih pagi, enggak usah bikin ribut!" Hanin bergegas masuk ke dalam bathroom dengan menggerutu.
"Sampai kapan aku akan perang urat dengan si Janin." Fafa mengusap wajahnya dengan kasar
* **
Sepasang pengantin itu turun dari lantai dua dengan menyungingkan senyum palsunya. Mereka berpura-pura bahagia dan bercanda tawa di depan orangtua Hanin dan adiknya .
"Mah, laper mah. Aku mau makan." ucap Hanin, ia melihat ibunya sedang sibuk di dapur
"Sana kamu masak, kenapa harus ibumu yang menyiapkan makanan." Fafa mendelik kearah istrinya
" Hanin tidak bisa memasak nak Fafa, ia hanya pintar makan." Bu Ria menggulum senyum
Fafa hanya menghela nafas panjangnya saat Hanin tetap saja diam di kursi tanpa membantu ibunya di dapur. Fafa berinisiatif membantu bu Ria dengan membawakan lauk dan sayur.
"Nak Fafa duduk saja, biar ibu dan bibi yang menyiapkan makanan untuk kalian."
"Biar Fafa bantu tan." ia dengan cekatan membantu bu Ria dengan sigap.
"Panggilnya mama jangan tante." pinta bu Ria
"Eh, maaf. Fafa lupa mah." bibirnya terasa kelu saat ia memanggil mertuanya dengan sebutan mama.
"Mama senang deh punya menantu seperti Nak Fafa, semoga Hanin cepat hamil, mama ingin punya cucu."
"Uhuk.. Uhuk..." Hanin tersedak saat mendengar permintaan ibunya. Fafa pun hanya melongo tanpa membalas ucapan dari sang mertua.
"Mama tenang saja, pasti mama akan cepat mendapatkan cucu. Orang tadi malem berisik banget. Sakit mas... sakit... pelan-pelan.. Akhh..." sahut Halwa, ia menirukan suara Hanin yang merintih semalaman.
" Kamu nguping ya!" Hanin menjitak kepala adiknya dengan keras, "Anak kecil tidak boleh menguping kamar orang dewasa!" sembur Hanin kembali
"Siapa yang menguping, orang kak Hanin yang teriak kenceng kok. Cie.. Cie... rambut basah berdua nih ye." godanya sembari melirik ke arah Hanin dan Fafa secara bergantian.
Fafa hanya menggulum senyum tanpa membalas gurauan dari adik iparnya.Sedangkan Hanin memasang wajahnya dengan cemberut dan sesekali melirik kearah Fafa.
__ADS_1