
Benar saja, Fafa menghilang dari kantor Davian. Disaat semua orang sibuk dengan rapat dan bekerja di tempatnya masing-masing, Fafa melarikan diri dari kantor.
"Sabar yah, jangan emosi. Biar Raffa yang bujuk Fafa untuk kerja lagi disini."
Davian menghela nafas panjangnya. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar Fafa menurut padanya.
Malam hari,
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam tapi Fafa belum juga menampakan batang hidungnya. Setelah tiga puluh menit Fafa pulang dengan mengendap-ngendap dan masuk ke dalam kamarnya.
"Aman..., semua orang sudah tidur." Fafa tersenyum penuh kemenangan.
"Nggak usah senang dulu. Mas masih terjaga nungguin kamu pulang." Raffa menghidupkan saklar lampu kamar Fafa.
"Eh, ada mas Raffa disini." Fafa tersenyum kikuk. "Mau dipijitin mas." Fafa segera memijit kaki Raffa agar kakaknya tidak memarahinya karena kejadian tadi siang.
"Besok kamu harus bekerja kembali, masuk ke kantor tepat waktu karena mas dan Ayah akan pergi ke rumah Kinan."
"Jadi kawin mas sama mba Kinan?"tanya Fafa," Mba Kinan cantik sih,baik, gemoy tapi.... hihihi. "Fafa terkekeh
" Tapi apa? "
" Tapi ngeselin,keras kepala, selalu menang sendiri. Apapun yang dia mau itu suatu keharusan. " terang Fafa
" Seperti kamu. "
" Nggaklah, enak aja! Masa Fafa disamain dengan mbak Kinan. "
Fafa merebahkan dirinya di samping Raffa. Dia memeluk guling kesayangan dan menutup matanya yang mulai mengantuk.
" Besok, Hanin akan menjadi asisten kamu. "
Fafa membelalakan matanya," Dia lagi! "sahut Fafa," Bukannya si pendek dan tepos itu kerja di Hara Animation, kenapa dia bisa kerja di perusahaan Ayah? "
" Mas meminta bantuannya, ia gadis yang pintar. Urusan Hara Animation itu mudah. Mas tinggal telepon teman mas langsung di ACC. " jelas Raffa," Satu lagi, jangan pangil dia tepos. Hanin lebih tua darimu dua tahun. "
" Ah, mas Raffa nggak asyik!" kesal Fafa," Memang dia tidak terlalu tinggi dan tepos kok. "gumamnya dalam hati
Raffa hanya menggulum senyum, ia berharap Fafa akan sedikit berubah dengan adanya Hanin yang tegas dalam pekerjaan.
" Fa, teman mas butuh suntikan dana untuk Hara Animation. Sahamnya, akan dijual bebas sekitar tiga persen. Apa kau tidak ingin membelinya?
" Fafa tidak berminat dengan gitu-gituan, uang Fafa ada di mama Navysah. "
" Kamu harus melek investasi, kamu akan bekerja di perusahaan Ayah jadi kamu harus tahu tentang perkembangan saham. Belajarlah.."
"Kan ada mas Raffa"
"Mas, Fafa tidak bodoh.Fafa kuliah bisnis manajemen. Fafa tahu tentang saham tapi tidak berminat untuk membelinya. Jika menurut mas, Hara Animation menguntungkan belilah sahamnya. Pakai saja uang Fafa yang ada di mama." ucap Fafa
"Beneran, kamu ikhlas uangmu mas pakai?"
"Bener mas, Fafa ikhlas pakai saja sih."
"Makasih adikku." Raffa memeluk Fafa dengan erat.
"Mas Raffa lebay."
"Biarin." Raffa tersenyum dengan sedikit lega karena adiknya mengiyakan permintaanya."Fa, hei bangun. Ngerjain Alif yuk."
Fafa menyipitkan matanya, mendengar kata ngerjain membuat dirinya bersemangat kembali. "Ayo..."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar Alif yang tidak dikunci. Kamar Alif sungguh berbeda dengan kamar Fafa. Alif anak yang rajin dan bersih, berbeda dengan Fafa yang cuek dan berantakan.
"Mirip kamar cewek ya mas." bisik Fafa
__ADS_1
"Nyalain alarmnya, taruh di telinga Alif." bisik Raffa.
Fafa melakukan sesuatu perintah kakaknya, lalu mereka bersembunyi. Raffa sengaja tiduran di samping bawah ranjang Alif dan Fafa di pojokan. Seperti biasa Fafa menggunakan kain putih agar terlihat seperti pocong untuk menakuti Alif.
Alif pria penakut dengan hal-hal yang berbau setan.
"Kring... Kring... Kring..." Alarm berbunyi sangat keras hingga Alif bangun dan terkejut. Ia mengucek matanya yang masih setengah sadar. Ia melihat seolah ada pocong di pojok kamarnya.
"Setan.....!!" teriak Alif, dia melempar bantal dan guling kearah Fafa. Dia pun tanpa sadar menyiram air minum yang ada di atas nakasnya. "Byurrr..."
Fafa basah kuyup karena tersiram air oleh Alif, ia membalas dengan melemparkan guling dan bantal ke arah Alif.
Raffa menahan senyum agar tidak kelihatan Alif.
"Setan lu!, bikin gue kaget aja. " teriak Alif, ia tidak suka dengan cara Fafa yang selalu mengerjai dirinya dengan pocong.
"Jangan marah sama gue, noh marah sama mas Raffa. Ini ide dia." Fafa menunjuk kearah kakaknya.
Raffa akhirnya keluar dari persembunyianya, ia merangkak naik dan tidur di ranjang Alif. " Bercanda lif, jangan marah sama Fafa."
Alif masih terlihat kesal. Ia kembali berbaring di ranjangnya.
Fafa segera membuka lemari Alif dan memakai kaos.
" Fa, itu baju gue. Sana ambil baju lu sendiri."
"Pelit..! Pinjam buat tidur. Aku malas jika kembali ke kamarku lagi."
"Ah!, kamu memang rese. Suka pakai baju aku kalau aku nggak di rumah kan."
Fafa tersenyum, karena pernyataan Alif memang benar.
"Besok gue balikin."
"Iya balikin tapi dicuci dulu dong, jangan asal taruh di lemari lagi. Lu rese selalu bikin lemari gue berantakan.Mana kaos yang lu pakai bau keringat, kecut lagi." ketus Alif
" Ini apa - apaan sih!, punya ranjang sendiri kenapa tidur disini semua. " kesal Alif," Sempit tau!"
" Enak yang sempit - sempit, Anget. " Fafa memeluk Raffa yang berada di tengah. Dan Raffa memeluk Alif.
Alif menahan senyum, dalam hatinya ia sangat senang karena sudah lama ia tidak tidur bersama seperti ini. Dulu mama Navysah selalu merapatkan beberapa ranjang dan mereka semua bisa tidur bersama-sama.Menyenangkan
* **
Fafa kini membaca beberapa berkas, dan dirinya merasa pusing dengan semua kontrak perusahaan yang harus dia kerjakan. Fafa menghembuskan nafasnya dan hanya memutar - mutar kursi kerjanya.
Hanin begitu jengah melihat sifat Fafa yang tidak mencerminkan jiwa pemimpin. Sejak tadi Hanin menjelaskan tentang jadwalnya pun Fafa tetap diam dan seolah mengulur waktu.
"Janin, si bodoh itu belum datang?"
"Maaf pak nama saya Hanin, bukan Janin." tegas Hanin, "Pak Alif sebentar lagi akan datang."
"Hanin dan Janin sama saja. Huruf H dan J itu tetanggaan dan hanya terpisah satu huruf yaitu I. Ngerti?"
Hanin hanya mengerucutkan bibirnya, ingin sekali rasanya ia meremas bibir Fafa yang suka bicara sembarangan.
Fafa memang sengaja tidak membawa berkas penting dan flashdisk agar dia bisa bolak-balik ke rumah dan kabur kembali. Namun, Raffa sudah mengantisipasi kelakuan adiknya yang pintar mencari alasan. Apalagi sekarang ada Hanin, ruang gerak Fafa seolah dibatasi.
"Yang jadi bos siapa disini?" tanya Fafa
"Anda pak."
"Bagus!, ternyata kamu masih sadar tidak hilang ingatan.Jadi suka-suka akulah mau panggil kamu siapa."
Hanin merasa sangat kesal, bisa-bisanya dia dipanggil Janin. Sejak dulu tidak ada yang memanggilnya seperti itu. "Sabar - sabar, kalau bukan karena permintaan mas Raffa, ogah gue jadi asisten pria sableng ini." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Janin, belikan aku makanan. Aku mau steak, jus apel,jus alpukat, siomay, kentang goreng, baso jumbo. Belikan aku semua itu. Ini uangnya." Fafa mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Ngapain kamu bengong, cepetan." Fafa melirik wajah Hanin yang diam dan membuka mulutnya.
"Apa tidak mubazir pak, itu terlalu banyak."
"Eh!, Janin.Perlu lu tahu ya, gue pusing liat beginian." Fafa menunjuk berkas kantornya. "Dan gue butuh energi lebih untuk berkonsentrasi agar otak gue kagak oleng. Salah satunya dengan makan banyak."
"Janin cepetan!"
"Baik pak." Hanin mengirimkan beberapa pesan ke seseorang dan masih setia berdiri di depan meja Fafa.
"Kok belum jalan sih!"
"Saya sudah meminta OB untuk membelikan semua makanan yang bapak inginkan."
"Oh, ya ampun. Lu benar-benar ngeselin. Dasar tepos." lirihnya
"Maaf, bapak bicara apa? Saya tidak mendengar."
"Tidak apa-apa, sekarang tugasmu kerjakan berkas ini. Aku ingin lihat, kata mas Raffa kamu wanita pintar."
"Aku benar - benar bisa gila menjadi asistennya." gumam Hanin dalam hati, ia mengerjakan tugas di sofa ruangan Fafa. Saat Hanin mengerjakan berkasnya, ia melirik Fafa yang mondar - mandir dan menggaruk pant*tnya tanpa rasa malu.
"Ya ampun, ingin rasanya ku tendang ****** itu agar dia terjun bebas dari lantai sebelas ini." gumam Hanin dalam hati.
Fafa menghabiskan semua makanan yang ia pesan tanpa menawarkan sedikit pun pada Hanin.
"Ya ampun, dia manusia apa gorila." Hanin tidak percaya semua makanan itu habis tanpa sisa. Dan Fafa merasa sangat kenyang, ia hanya bermalas-malasan di kursinya.
Alif datang membawa berkas dan flashdish, "Ini, ambilah."
Alif melihat ruangan kerja Ayahnya, tak banyak yang berubah seperti saat terakhir ia datang tiga tahun lalu.
"Belajar yang serius, jangan pinter nongkrong doang." cibir Alif
" Lu aja deh lif yang gantiin Ayah, gue mundur."
"Nggak." Alif duduk dihadapan Hanin yang sedang mengerjakan berkasnya.
"Lif, Alif.Mau yah " rengek Fafa seperti anak kecil.
Hanin terperangah, ia terkejut melihat sini lain dari Fafa yang seperti anak-anak. Dan Hanin menatap secara bergantian kedua pria yang berada di depannya.
"Tidak perlu bingung, kami memang kembar." ucap Alif, sejak tadi ia melirik dirinya dan Fafa.
" Kamu tampan." ucap Hanin tanpa sadar, ia melihat wajah Alif lebih putih dan bersih dari Fafa.
"Makasih." sahut Fafa dengan senyuman khasnya.
"Bukan elu..!" seru Hanin. Ia sangat kesal pada Fafa, entah kenapa emosinya naik sejak bekerja dengan Fafa.
Alif hanya menggulum senyum, ia tahu pasti asisten Fafa sangat kesal karena tingkah adiknya.
"Kamu harus sabar, Fafa memang begitu tapi sebenarnya dia baik." terang Alif
"Tuh dengerin perkataan Alif jelek ini, gue itu baik!"
Hanin dan Alif hanya memutar bola matanya malas.
"Yasudah, gue tidur dulu. Ntar lu bangunin gue tiga puluh menit sebelum rapat dimulai. Lu, ngerti kan Janin." Fafa bergegas masuk ke kamar pribadinya.
Hanin terlihat meremas roknya karena geram, sedangkan Alif hanya menghela nafasnya.
* **
__ADS_1
Do'ain bisa update terus biar cepet tamat๐๐, Jangan lupa like, Vote and comment. Thank you