Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 25


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu namun tidak ada tindak lanjut dari kejadian tersebut, tidak ada pemanggilan maupun penghukuman untuk siswa yang terlibat dalam kasus pengempesan ban sepeda miliknya. Hanya beberapa peraturan yang kini semakin ketat, jadwal pelajaran yang semakin padat karena menjelang ujian nasional.


" Hari ini jadi kan Raff, anterin lukisan itu?" tanya Rio


"Jadi dong, aku sudah telepon bu Ria. Selepas pulang sekolah kita kesana.Pumpung malam minggu jalan ke Velodrome yuks, pasti disana rame"


"Okelah, sekarang gue free udah nggak part time lagi. Ayah betah kerja sama mama lu" ucapnya sembari mengunyah roti, bekal dari mamanya Raffa.


"Serius betah, padahal adik-adikku sangat aktif. Terkadang mama juga kewalahan menghadapi mereka" ucapnya sembari mengunyah


"Ayah sih pernah bilang, adik-adik lu memang aktif. Ayah juga harus nyiapin uang di kantongnya karena si Fafa selalu minta beli mainan. Tapi selalu diganti sama mama lu kok"


Raffa tertawa mendengar cerita dari sahabatnya"Dia itu paling unik, udah dikasih uang jajan tapi selalu bagi-bagi sama temennya. Tapi saat dia nggak punya uang, dia selalu pulang membawa banyak makanan dari rumah teman-temannya.Hobinya main keliling komplek dan makan dari rumah ke rumah, dia selalu bilang nyicipin masakan semua ibu sahabatnya mana yang paling enak, hahahaha "


"Makan lagi ini, masih ada dua" Raffa menyodorkan kembali roti bawaanya.


"Nggak ah, satu aja. Ini ada keju nya, enek aku makan ginian. Selera gue rakyat jelata, kalau kebanyakan keju bikin perut gue sawan, hehehe " kelakar nya.


Raffa hanya menggulum senyumnya, namun tidak lama kemudian Kinan duduk tepat di depannya. "Raff, malam minggu mau kemana?" tanyanya


"Kemana aja boleh"celetuk Rio


" Gue nanya Raffa bukan elu bo, dasar kribo! " seru nya


" Ngga kemana - mana"Raffa terpaksa berbohong, jika tidak sudah dipastikan Kinan akan merengek ikut dengannya.


"Nonton film yuk bentar lagi ujian sekolah sudah pasti belajar terus, aku bosen dirumah"


"Nggak ah, aku mau dirumah aja main sama adik-adik" ia masih berkilah, berusaha menghindari ajakan Kinan. Sedangkan Rio hanya menahan senyum, ia ingin tertawa keras melihat Raffa yang selalu menginjak kakinya untuk meminta bantuan agar terhindar dari Kinan.


" Kitis, mendingan lu nonton sama Bagas kan dia pacar elu ngapain minta nonton sama Raffa."


Ingin sekali Kinan mengatakan bahwa Bagas bukan pacar dia, namun diurungkan mengingat Bagas yang selalu minta tolong untuk menjadi pacarnya hingga kelulusan sekolah, karena Nuri selalu menginginkan Bagas untuk jadi pacarnya.


" Dia sibuk, pulang sekolah pokoknya aku mau ikut kamu ke mama Navysah." ia kembali ke tempat duduknya karena jam istirahat sudah berakhir.


"Sepertinya kita harus kucing-kucingan lagi sama si Kitis" bisik Rio dan dianggukan oleh Raffa.


Mereka bergegas pulang ke rumah Rio saat Kinan dipanggil ke ruang guru. Disaat ada kesempatan mereka langsung kabur menghindari si gadis cerewet itu.

__ADS_1


"Cepetan keburu ada Kinan. " Rio langsung menancapkan sepeda motor dan mereka tertawa keras membayangkan wajah Kinan yang sudah pasti cemberut karena kehilangan jejak mereka.


* **


Assalamualaikum


Walaikumm salam


Raffa dan Rio datang ke rumah bu Ria dengan membawa pesanannya.


"Silakan masuk Nak Raffa. " ia duduk tepat di hadapan sang pemilik rumah "Gimana sudah kelar lukisannya" tanya bu Ria


"Sudah bu, ini silakan dilihat" ia menepuk lengan Rio agar menyerahkan lukisannya. Rio sempat takjub dengan rumah bu Ria yang megah kini hanya melirik Raffa karena bingung apa yang dimaksud sahabatnya "Apa Raff?" tanyanya.


"Lukisan" balas Raffa


"Oh, maaf bu" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menyodorkan kearah bu Ria "Ini lukisannya"


Bu Ria melihat sebuah lukisan yang sudah di bingkai dengan frame warna hitam. Terlihat senyum simpul di bibirnya karena merasa puas dengan hasil karya Raffa. "Ini sangat bagus, ibu suka. Sketsa nya benar-benar mirip dengan aslinya "


"Mama..!!" teriak Halwa, dan diikuti Hanin yang sedang membawa buku cerita .


"Ini kak Raffa" ia menunjuk kearah Raffa, "Dan ini, mm... Siapa ya Nak kita belum kenalan" bu Ria mengenyitkan dahi karena merasa tidak tahu nama sahabat Raffa.


"Saya Rio bu"


"Oh, Kak Rio" Halwa tersenyum " Rambutnya lucu" ia terkekeh melihat rambut kribo dari Rio


"Rio mengulum senyum" Kenapa semua anak kecil selalu bilang rambutku lucu. Adik Raffa juga selalu kepo dengan rambutku"gumamnya dalam hati.


" Halwa, nggak boleh gitu Nak" seru bu Ria.


"Maaf mah," ucapnya pada sang ibu. "Maafin Halwa ya kak Rio" ucapnya pada Rio


"Iya"


"Hanin sini Nak, lihat lukisan ini bagus. Apa kamu ingin belajar melukis seperti kak Raffa ini, biar tanganmu lebih luwes dan gambar kamu bisa lebih hidup lagi" ucap bu Ria.


"Nggak ah, biar papah aja yang ajari aku" balasnya.

__ADS_1


"Tapi papah sibuk kerja, selalu pulang malam. Kamu ikut kursus animasi nggak mau gimana mau pintar"


"Hanin belum ingin kursus mah" ia cemberut jika ibunya selalu memaksa ia mengikuti kursus ataupun les lainnya. Dia hanya ingin fokus sekolah dan menjadi anak rumahan, menggambar hanya hobi saat dia merasa jenuh.


Raffa mendengar bu Ria bercerita tentang kursus animasi." Kalau Hanin mau kursus dan malas keluar lebih baik ikut kursus online saja bu, saya juga begitu jadi waktunya lebih fleksibel" ucapnya.


"Jadi kamu juga suka animasi Nak Raffa" ucap bu Ria dan dianggukan olehnya.


"Kalau Hanin mau bisa saja papahnya bawa karyawan kesini. Namun, anak ibu sepertinya kurang berminat dalam mengambar dan animasi padahal Papah dia kerja di Max Production, ibu ingin Hanin bisa seperti Ayahnya. Anak ibu keduanya perempuan, kalau tidak mereka siapa lagi yang akan menggantikan Ayahnya" ia sedikit sendu dengan suara tercekik di tenggorokan, seolah ada beban berat di pundaknya. "Nak Raffa mau ngajarin Hanin agar dia mau belajar animasi?" tanyanya.


"Mamah..! Apaan sih" cebik Hanin dengan cemberut.


"Saya sebentar lagi mau ujian sekolah bu, sepertinya belum bisa untuk ajarin Hanin" ucap Raffa dengan sopan. "Max production itu perusahaan animasi yang cukup terkenal bu, kartun si sholeh minggu kemarin baru launcing di televisi" sambungnya lagi.


"Iya betul, maka dari itu papahnya Hanin selalu sibuk. Kapan-kapan main kesini lagi Raffa sama Rio ya, jadi anak ibu ada temannya atau Hanin dan Halwa main kerumah kalian". Dan kedua lelaki tersebut saling memandang " InsyaAllah bu" ucap mereka bersamaan. "Kalau begitu kami pamit dulu" . Raffa dan Rio keluar dari rumah setelah mendapatkan amplop dari bu Ria.


Mereka berkeliling menggunakan sepeda motor Rio menuju Velodrome Internasional di daerah Jakarta Timur,dekat dengan Mall Ari*n dan LRT. Salah satu tempat penyelenggaraan cabang balap sepeda. Velodrome berstandar internasional termegah di Asia Tenggara yang memiliki kapasitas bangku penonton sebanyak tiga ribu orang. Diluar bangunan Velodrome juga terdapat area yang bisa dipakai untuk base ball dan atletik(lari).Mereka menghabiskan sore hari dengan duduk santai sembari melihat orang - orang yang sedang berolahraga di sekitaran Velodrome.


"Gue suka tempat ini" ucapnya sembari meneguk air minum


"Betul Raff, gue juga suka apalagi banyak cewek cantik yang sedang olahraga" ia melihat kesembarang arah, melihat beberapa cewek cantik yang melihat ke arahnya juga. "Ah, ternyata mereka lihat lu Raff, bukan lihat gue" ia melirik temannya yang sedang menerima telepon. "Siapa yang telepon?" tanya


"Mama Navysah, dia bilang Kinan nyariin gue, lagi ngambek dia nggak kita ajak" ia mengingat kembali sejak tadi Kinan selalu menelepon namun tidak pernah dia angkat.


"Kitis memang tukang ngambekan, mau pergi saja harus kucing - kucingan terus" ucapnya sembari melirik Raffa kembali dan terlihat panggilan dari si gadis cerewet " Tuh kan baru diomongin langsung telepon lagi"


Raffa menghembuskan nafas panjangnya dan mengangkat video call dari Kinan.


"Raffa, kamu jahaaaattt..!!" teriak Kinan dari ujung telepon. "Aku kan bilang mau ikut kamu" ucapnya lagi, terlihat wajahnya yang cemberut dan rambut yang acak-acakan "Kamu dimana!!?, Sama siapa?!!". Raffa hanya mengalihkan ponselnya kearah Rio, dia enggan bicara dengan Kinan.


"Yaelah Kitis, bawel banget lu. Takut amat Raffa ngilang. Dia sama gue" Rio mengambil alih ponsel temannya. "Kita lagi cari cewek cantik di Velodrome. Nih, lihat bening - bening kan kagak kaya lu butek, acak-acakan kayak gitu, cerewet lagi" Ia mengalihkan kamera kearah lainnya, terlihat beberapa cewek yang sedang berolahraga sembari melihat ke arahnya. "Mereka melihat kearah kami, sudah pasti mereka melihat pangeran KW disampingku ini dong" ia sengaja membuat hati Kinan cemburu.


"Nggak, mereka cuma lihat pemandangan Velodrome bukan lihat Raffa" ia mencoba menyangkal ucapan Rio,padahal dari lubuk hatinya sudah pasti para cewek itu akan melihat ke arah Raffa yang memiliki wajah tampan diatas rata-rata.


"Yaudah kalau nggak percaya, bye..!" ucapnya sembari mematikan ponsel Raffa. " Hahahaha, pasti dia nangis kejer saking keselnya sama gue"


Raffa hanya tersenyum, ia mengingat amplop yang diberikan bu Ria kepadanya. "Ya allah, dia memberiku uang yang cukup banyak" ucapnya sembari menghitung uangnya . "Dua juta bro, gila" serunya lagi. "Nih, buat lu" Raffa memberikan uang senilai lima ratus ribu untuk Rio.


"Alhamdulillah, cuma ngojekin Sultan saja aku dapat sebanyak ini. Semoga rejeki lu lancar banyak orderan jadi gue kebagian juga, hahaha" selorohnya.

__ADS_1


Dan disisi lain, si gadis manja yang cerewet kini sedang uring - uringan di dalam kamar, hatinya merasa kesal karena Rio mematikan ponselnya. " Rio bilang aku butek, kurang ajar banget belum tahu dia kalau aku ini cantik kalau sudah pakai make up. Awas aja kalau Raffa pulang aku omelin" ia meremas - remas gulingnya, terdengar suara Inka yang sama cerewet dengannya berteriak dari luar kamar.


__ADS_2