
Hujan deras membasahi bumi malam itu, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Fafa melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemennya, ia bersiul dengan hati gembira karena ia mendapatkan sesuatu yang indah dari sang kekasih.
"Aku akan bicara pada mama, aku akan segera menikahi Rena secepatnya." gumam Fafa, ia masih dengan senyum lebarnya.
Namun di tengah perjalanan ia hampir saja menabrak seorang wanita yang sedang menyeberang, raut wajah wanita itu tidak terlihat oleh Fafa karena rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.
" Ahhhhhhhh.... "wanita itu berteriak keras, ia terkejut saat sebuah mobil akan menabraknya.ia berjongkok dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
" ****!!!, woi... buta lu!! Kalau mau mati jangan di depan mobilku!! "teriak Fafa dengan keras. Ia begitu kesal tiba-tiba ada seorang gadis menyebrang tanpa melihat keadaan sekitar,seolah ingin bunuh diri.
Fafa memperhatikan dari dalam mobilnya, ia melihat wanita itu meringkuk di depan mobil tanpa berniat untuk pergi dari tempat itu.
"Kenapa dia malah duduk di tengah jalan, dasar wanita stres!" gerutunya. Fafa mengambil payung dan keluar dari mobilnya.
"Woi...!!, mbak kalau mau bunuh diri jangan di depan mobil mahalku! " ucapnya dengan ketus. " Pergi sana, gue mau lewat." hardik Fafa
Fafa melirik wanita itu yang masih saja meringkuk dengan menenggelamkan wajahnya di lutut. Ia begitu kesal karena ucapannya tidak digubris sama sekali.
" Halloo, anda sehat kan ya!? " Fafa mencolek bahu wanita itu hingga sang gadis menadahkan wajahnya.
"Ya ampun Janin, ngapain lu hujan-hujanan begini!?" Fafa melihat wajah Hanin yang begitu menyedihkan. "Kamu fikir ini film india ada adegan hujan - hujanan terus nangis di tengah jalan sambil jogetan.Ini sudah malam, pulang sana!" cerocosnya
Hanin tidak mengubris omelan Fafa, ia menangis keras dibawah rintikan air hujan. Ia bahkan tidak peduli ada beberapa orang yang melirik padanya.
" Fafa... huhuhu... Dia jahat padaku... huhuhu... " Hanin masih menangis keras.Ia beranjak dari tempatnya dan memeluk Fafa dengan erat.
"Eh.. Eh.., Janin apaan sih! Jangan peluk-peluk aku!" Fafa merasa tidak nyaman saat Hanin memeluknya dan menangis keras.
"Ada apa ini, kenapa mbaknya!? Kamu nabrak dia ya!?" tanya salah seorang pria yang melewati dirinya.
"Bukan bang, ini teman saya. Dia sepertinya lagi banyak masalah." ujar Fafa dengan sedikit ketakutan
"Oh..., gitu. Gue kira lu nabrak si cewek ini. Atau lu pacarnya yang mau lari dari tanggung jawab ya."
"Kagak bang." balasnya, " Ayo Nin, kita pulang." Fafa mengandeng Hanin untuk masuk ke dalam mobilnya, ia tidak ingin berlama-lama di tengah jalan dan menjadi tontonan orang sekitar.
Hanin masih terisak tanpa memperdulikan pertanyaan Fafa. Dia masih syok dengan kenyataan pahit hari ini.
Fafa selalu meliriknya tanpa bertanya lagi, karena setiap ia bertanya Hanin selalu diam tanpa kata.Ia melihat bibir Hanin yang sedikit membiru akibat kedinginan.
"Pakai ini." Fafa memberikan sebuah jaket tebal kearah Hanin. "Minum air dulu." ia memberikan sebuah botol mineral.
"Terima kasih." Hanin meneguk air di botolnya hingga habis. Ia pun menggunakan jaket Fafa agar tidak terlalu kedinginan.
"Ya ampun, Dasar onta betina! kamu beneran haus, kenapa tidak sekalian minum air hujan tadi." cibir Fafa, namun Hanin tetap diam tidak membalas seperti biasanya.
__ADS_1
"Aku lapar...beri aku makan." lirih Hanin, ia melirik Fafa sejenak dan kembali membuang wajahnya ke luar jendela mobil.
" Apalagi ini?! aku ngantuk Nin sudah malam. Aku anterin kamu pulang ya, kamu makan di rumah saja ya."
"Aku lapar banget, belum makan sejak sore masa kamu tega."ucapnya dengan wajah memelas.
Fafa hanya mendengus kesal, ia melajukan mobilnya ke tempat pedagang kaki lima di pinggir jalan.
" Nasi goreng mau? "tanya Fafa, ia tidak mungkin membawa Hanin ke sebuah restoran karena penampilan Hanin yang berantakan hari ini.
Hanin hanya menganggukan kepala," Jangan lupa minuman dan cemilannya. Itu, disitu ada minimarket. Belikan aku cemilan yang banyak. " ia menunjuk sebuah minimarket terdekat
" Ya ampun!! sudah dikasih hati minta jantung. Untung suasana hatiku sedang happy klo nggak ogah banget gue nurutin kemauan lu Nin." umpat Fafa, ia memesan nasi goreng dan pergi ke minimarket yang buka dua puluh empat jam.
" Ini, makanlah. "Fafa membawa nasi goreng dan satu kantong cemilan untuk Hanin.
Hanin terlihat begitu sangat lapar dan satu piring nasi goreng langsung licin tandas di lahapnya. Ia meneguk satu botol teh kemasan dan makan dua buah roti sandwich serta makanan ringan lainnya. Fafa melolong melihat cara makan Hanin yang tidak biasa. Tubuhnya yang kecil begitu gesit melahap semua makanan yang ia berikan.
"Coba lihat, ini punggungmu berlubang nggak sih!" Fafa mencoba meraba punggung Hanin dengan penasaran, " Jangan - jangan jelmaan kuntilanak jadi-jadian,semua makanan langsung abis tanpa sisa, dah kayak puasa tujuh hari tujuh malam saja, nggak pernah makan kamu ya! "
" Apaan sih Fa!, Jangan kurang ajar ya kamu." Hanin menyentakan tangan Fafa yang berusaha ingin menyentuh punggungnya.
"Aku heran saja, makanmu dah kayak si Inka. Kurus - kurus gentong!"
"Aku beneran lapar Fa dan emosi, kalau aku sedang stres ya gini,kalau nggak ke minum ya makan banyak." jelasnya
" Sudahlah, ayo aku anterin kamu pulang."
Fafa melajukan mobilnya kembali dan mengantarkan Hanin tepat di depan rumahnya.
"Aku kan sudah bilang, aku mau ke apartemen. Kenapa kamu anterin aku ke rumah orang tuaku!?"
Sejak perjalanan mereka selalu berdebat, Hanin ingin pulang ke apartemennya, namun Fafa malah mengantarkan dia pulang ke rumah Ayahnya.
"Bawel banget sih! kamu sedang tidak baik-baik saja makanya aku bawa ke rumah orang tuamu daripada di apartemen nanti malah minum nggak jelas, kamu itu perempuan jangan banyak minum Nin."
"Suka - suka akulah, kenapa kamu yang ngatur. Memangnya kamu siapa aku!?" Hanin yang sedang tidak baik-baik saja kini membutuhkan seseorang untuk melampiaskan kekesalannya, dan Fafa orang yang tepat untuk ia marahi karena sejak awal ia begitu cerewet dan menyebalkan.
" Aku memang bukan siapa - siapa, dan sekarang turunlah dari mobilku ini, cepat go go go pergi sana!" usirnya
"Gue nggak mau ucapin terima kasih!" Hanin membanting pintu mobil Fafa dengan kasar.
"Bodo amat! Dasar cewek stres! Nyesel gue bantuin lu..!" teriak Fafa, ia meninggalkan Hanin dan berlalu pergi.
Hanin masuk ke dalam kamarnya dan menangis kembali, ia masih belum percaya bahwa Adit bukan pria baik.
__ADS_1
"Aku akan memastikan bahwa Adit pria baik dan bisa aku pertahankan, aku akan pergi ke DF club untuk menyelidikinya.
* **
Pagi hari Kinan sudah berada di rumah mama Navysah, ia menceritakan bahwa Raffa cemburu pada bang Juna dan ia sama sekali tidak ingin mengangkat telepon dari Kinan.
"Aku harus gimana mah?"tanya Kinan," Aku tahu, aku salah. " Kinan menundukan wajahnya.
" Lain kali kamu harus lebih berhati-hati, kamu sudah menikah apalagi Juna dulu pernah ada perasaan dengan kamu Nan. Nanti mama telepon Raffa untuk menjelaskan semuanya. Tapi ini yang terakhir ya, kamu jangan sampai mengecewakan anak mama lagi. Kalau mama jadi Raffa, pastilah cemburu. Kalau kamu butuh sopir, ada pak Ari dan pak Nano, kamu bisa meneleponnya dua puluh empat jam mereka selalu siap. "
" Iya mah, Kinan tidak akan melakukannya lagi. Makasih ya mah"
Disaat mereka sedang membicarakan masalah Kinan, suara Fafa mengagetkan mereka.
" Emakkkk....!! teriak Fafa dari jauh," Fafa minta kawin mak! hihihi... "ujarnya dengan cengengesan.
" Ini lagi, pagi-pagi minta kawin! "sembur Navysah," Apaan sih Fa, nggak jelas banget. "
" Fafa beneran mah, Fafa mau nikah aja. Kata mama daripada bikin dosa mendingan nikah, iya kan. Dan sekarang Fafa mau nikah sama Rena. "
" Tapi tidak dengan Rena juga Fa,lainnya saja pasti mama langsung nikahkan kamu. " ucap Navysah," Memangnya kamu buat dosa apa sampai pengin nikah cepat sama si Rena itu!? "tanya Navysah dengan suara ketus
" Nggak bikin dosa apa - apa mah. " jawabnya dengan bohong," Biar cepet halal kan lebih enak. " Fafa tidak ingin disembur ibunya kali ini.
" Mama sayang kan sama Fafa. " Ia mengenggam tangan ibunya," Fafa beneran ingin menikah mah."
"Beneran kamu ingin menikah?" Navysah hanya mampu menghela nafas panjangnya, ia benar - benar tidak suka saat anaknya meminta ijin menikah bersama Rena.
"Kali ini Fafa beneran." ujarnya dengan yakin.
"Kerja dulu yang bener, urus perusahaan Ayah. Kamu tidak kasihan sama mas Raffa!" gerutu Kinan, ia merasa takut seandainya Fafa menikah, ia akan malas-malasan kerja di kantor dan secara otomatis Raffa akan sibuk karena mengurus dua perusahaan dan sudah pasti waktu mereka akan semakin berkurang.
" Jangan nikah dulu ya Fa. "pinta Kinan
" Aku mau nikah mba, Fafa janji setelah menikah aku akan tetap bertanggung jawab pada perusahaan. Aku akan mengurusnya dengan baik, aku akan berusaha menjadi pria yang lebih baik kok. "
" Beneran!? " Kinan seolah tidak percaya dengan mulut manis adik iparnya.
" Iya mbak, takut amat sih aku nggak kerja. Takut ya waktu bersama bang Toing berkurang, hihihi... " godanya dengan cengengesan
" Apaan sih lu Fa! " ketus Kinan
"Baiklah kalau kamu ingin menikah, mama akan fikirkan terlebih dahulu." Navysah pergi ke dalam kamarnya, ia memijit kepalanya yang sedikit pusing.
" Mama akan mengijinkan kamu menikah, tapi tidak dengan Rena. Aku harus melakukan sesuatu" gumam Navysah dalam hati, ia menelepon seseorang untuk meminta bantuan.
__ADS_1