
Ia duduk di pinggir laut Ancol setelah acara pertunangannya baru saja selesai. Hembusan nafas panjang kini terus terdengar darinya. Ia memang memilih bertunangan dengan Kinan namun tidak dengan janji yang baru saja ia ucapkan didepan banyak orang.Sangat memalukan.
Kedua temannya ikut duduk dan melihat gelombang laut yang kini cukup besar, langit senja berwarna kemerahan dan tertutup awan gelap menuju peralihan waktu.Udara laut yang dingin tidak menyurutkan mereka untuk beranjak dari tempatnya, celana yang sedikit kotor karena butiran pasir laut yang kini mulai menerjang area kaki.Beberapa kaleng soda kosong sengaja ia remas seolah menunjukkan dirinya yang sedang kesal saat ini.
Ia menatap jauh dan termenung, tidak ada satu patah katapun ia lontarkan semenjak keluar dari rumah Kinan.Pikirannya terlalu kusut untuk pulang ke rumah, ingin rasanya waktu cepat berlalu agar ia secepatnya meninggalkan negara ini.
"Bingung gue lihat lu Raff, sebenarnya lu maunya apa? Disatu sisi lu mau bertunangan dengan Kinan tapi disisi lain lu ogah hidup dengannya. Gue kan sudah bilang, ujung dari pertunangan ini adalah pernikahan. Walaupun tadi keluarga Kinan terlalu berlebihan dan memintamu untuk berjanji itu wajar, mereka takut kamu akan selingkuh disana dan menyia - nyiakan perasaan anaknya yang sudah menunggumu disini" ujar Rio.
Tidak ada jawaban dari seorang Raffa, ia hanya memandangi laut yang bergelombang.
"Kalau kamu tidak yakin lebih baik mundur, jangan pernah memberi harapan palsu dengan seorang perempuan. Ingat, adik kembarmu itu juga perempuan jangan sampai dia diperlakukan tidak baik oleh laki-laki yang tidak menginginkannya." tegas Antoni, sejak acara tadi ia sempat mendengar gumaman Rio walaupun lirih, ia pun merasa sedikit aneh karena sepanjang acara Raffa hanya tersenyum terpaksa.
" Aku tahu,aku hanya terkejut saat Kinan memintaku untuk berjanji, itu bukan dirinya. Dia itu ceplas ceplos tidak akan berpikir sejauh itu." ucapnya tanpa melirik kearah Antoni.
Ia menyesap kembali sisa kaleng sodanya dan teringat beberapa minggu yang lalu ketika mama Navysah masih depresi.
~Flashback On~
Seorang anak kecil yang seumuran dengan adiknya kini diam - diam mengetuk pintu kamarnya.
" Masuk.. "ucapnya sembari terus mewarnai animasi di komputernya.
" Mas Raffa, ini aku ". Ia duduk di pinggir ranjang dan melepaskan tas sekolahnya.
" Ada apa fi, kamu main kesini. "
Ia menatap wajah adik Kinan, Khaffi Adam Shafiqri.
" Aku kesini sama nenek, baru pulang sekolah langsung kesini jenguk tante Navysah" sahutnya,
"Mas..., mm.. bisakah kau melukis ini". Ia menyodorkan sebuah foto keluarganya.
__ADS_1
Raffa menautkan alisnya karena heran, ia tidak tahu apa alasan bocah kecil ini menyuruhnya untuk melukis foto keluarganya.
"Tutup pintu kamarnya, jangan lupa dikunci " perintahnya pada Khaffi.
Ia segera menutup pintu dan menguncinya sesuai perintah.
" Wani piro ( berani berapa)?" ucap Raffa dengan tersenyum.
Ia segera membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan celengan berbentuk tabung miliknya. " Ini semua milikku, tolong lukis foto ini untukku."
Raffa hanya menggulum senyum, ia sengaja menggoyangkan celengan tabung milik Khaffi." Cuma sedikit isinya, tuh bunyi koin kan" ia mendengarkan suara gemerincing koin di dalam celengan itu.
"Hehehe, minggu lalu sudah aku belikan buku jadi tabunganku ini baru dapat sedikit" ucapnya dengan cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Khaffi, apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Cepatlah bicara." ucapnya sembari melipat tangan di dadanya.
"Mas, bisakah kau memaafkan kakakku yang cengeng itu. " pintanya, " Aku melihat kejadian saat mbak Kinan menciummu di rumah. Tolong maafkan kakakku, dia setiap hari selalu menangis. Ia rindu dengan tante Navysah tapi takut denganmu" sambungnya lagi
" Aku akan melakukan apapun agar mas mau memaafkan kakakku. Mas tahukan, mba Kinan suka denganmu. Aku tidak ingin melihat dia bersedih seperti itu "ucapnya," Aku bisa menggambar walaupun tidak sebagus mas, aku bisa komputer. Mas mau buat apa aku akan membantumu " ucapnya dengan yakin.
Raffa hanya tersenyum melihat kesungguhan hati Khaffi yang membela kakaknya mati-matian agar mendapat maaf darinya. " Mas sudah memaafkan kakakmu, mas akan suruh dia datang kemari" ucapnya sembari memutar kursinya kearah komputer dan melanjutkan animasinya.
"Bisakah mas menerima perasan kakakku?" lirihnya dengan takut dan menundukkan kepala.
Raffa menautkan alisnya, memutar kembali kursinya dan menatap tajam Khaffi. "Apa maksudmu? anak kecil tidak boleh mencampuri masalah orang dewasa" tegasnya,
" Laki-laki kalau berbicara harus berani menatap lawan bicaranya. Tegakkan bahu dan pandanganmu."
Khaffi segera menegakan bahu dan pandangannya. "Mas, kau tahu kan mba Kinan selalu kemari. Ini seperti rumah kedua baginya, sedangkan aku di rumah selalu kesepian tidak ada dia dan orang tua kami yang selalu sibuk bekerja. Kau tahu kan impian mba Kinan menjadi dokter".
Dan Raffa hanya menganggukan kepala.
__ADS_1
"Tapi mas belum tahu impian dia selain itu" ucapnya, " Dia ingin menjadi menantu tante Navysah, aku pernah mendengarnya sendiri saat dia bersedih dan meracau."
Raffa hanya melongo mendengar penuturan Khaffi, Mana ada seorang gadis bercita-cita ingin menjadi menantu ibunya.Sejak dulu Kinan selalu menarik perhatian mama Navysah bahkan ia merasa tersisih karena Kinan selalu menempel dengan ibunya. Obsesi yang kelewat batas.
"Aku tahu ini terdengar aneh, mana ada cita-cita seperti itu tapi itulah kenyataannya. Mbak Kinan memang aneh, cerewet,bodoh dan cengeng. Menyebalkan bukan" serunya.
Raffa tersenyum kembali mendengar ucapan Khaffi tentang sifat kakaknya yang menyebalkan.
"Tapi dia tetap kakakku, walaupun dia bukan kakak kandungku aku tetap menyayanginya"
"Mas..., bisakah kau mengabulkan impiannya untuk menjadi menantu tante Navysah, ia sangat menyayangi tante seperti ibunya sendiri" ucapnya takut - takut, " Bagaimana kalau kita barter, aku bisa melakukan ini" ia menarik kursi Raffa dan melanjutkan untuk memberi efek warna pada gambar animasinya.
Ia melihat dengan detail setiap pewarnaan yang Khaffi beri, cukup lumayan untuk seorang anak kecil seumuran adiknya. Bahkan ini lebih rapi dari pewarnaan yang biasa Khaffa buat.
"Aku belajar ini sebulan yang lalu, biasanya aku hanya bermain game " ujarnya tanpa melihat kearah Raffa, ia tetap fokus memberi warna pada gambar.
"Gimana, apa bisa aku barter dengan ini. Perjanjian kita" pintanya, " Jangan melihat diriku yang masih dibawah umur, lihat kemampuanku ini. Aku laki-laki yang tidak akan mengingkari janji" tegasnya.
"Dia memang anak Om Shafiq, tidak akan pernah mundur sebelum berperang. Ucapannya bisa dipercaya" gumamnya dalam hati. Ia mulai berpikir kembali, disaat impian dan cita-citanya yang dulu pupus karena keadaan kini mulai terbesit keinginan kembali untuk meraihnya lagi. Kinan juga gadis yang baik dan polos, mama Navysah pun sejujurnya menginginkan dia untuk menjadi menantunya, Not bad.
Ia berpikir kembali, semuanya bisa berjalan dengan lancar jika ada Kinan di rumahnya. Hanya fokus dengan perkuliahan dan Kinan bisa menjaga keluarganya. Perkara hati bisa dia lakukan seiring berjalannya waktu. Yang terpenting dia bisa meraih impian yang selama ini ia inginkan."Dua fakultas harus aku lewati untuk impianku" gumamnya dalam hati
"Baik, aku akan mencoba mengabulkan impian kakakmu untuk menjadi menantu di rumah ini. Tapi ada syaratnya?" ujarnya.
" Apa...?"
"Kamu sekolah yang rajin, belajarlah IT dan animasi. Nantinya mas ingin membuat studio dan saat kamu dewasa, kamu harus menjalankan bisnis mas bersama Khaffa. Kamu sanggup?"
"Aku sanggup mas, aku pun menyukai IT. Aku akan belajar dengan giat,demi mba Kinan akan aku lakukan apa saja" ucapnya. " Dan tidak akan ada yang tahu tentang janji kita"
"Bagus"
__ADS_1
"Ingat, laki-laki tidak akan pernah mengingkari janji." Mereka menautkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian.